
Allena tak sanggup meninggalkan Zefran dalam keadaan terpuruk seperti itu. Ditambah lagi Zefran yang seperti putus asa dengan hidupnya. Zefran merasa akan membuat Allena menyesal hidup bersamanya. Namun Allena meyakinkan suaminya bahwa dirinya tak akan menyesal hidup bersama laki-laki yang telah memberinya dua orang anak itu.
Zefran pasrah, laki-laki itu akhirnya membalas pelukan Allena. Wanita yang sangat mencintainya itu lebih menguatkan pelukannya. Air mata Allena mengalir namun merasa bahagia. Allena masih memiliki kesempatan hidup bersama dengan cinta sejatinya.
Allena setia menemani suaminya menjalani pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan lanjutan seperti foto rontgen, MRI, dan CT scan untuk mengetahui penyebab kelumpuhan itu.
"Tuan Zefran mengalami cedera tulang belakang. Terdapat kerusakan pada sumsum tulang belakangnya hingga menyebabkan kehilangan fungsi sensorik dan motorik pada tungkai bawah. Akibatnya Tuan Zefran mengalami kelumpuhan pada kedua kaki," jelas dokter setelah melihat hasil pemeriksaan.
Zefran tertunduk sedih, begitu juga dengan kedua orang tuanya, Ny. Mahlika dan Bu Vina. Bahkan para sahabat yang ikut mendengarkan penjelasan dokter itu tak bisa berkata-kata. Semua hanya diam dengan raut sedih mendengar penjelasan dokter itu.
Zefran menitikkan air mata dan disaksikan oleh Allena. Wanita itu justru terlihat tegar, Allena ingin menjadi kekuatan bagi Zefran. Wanita itu merangkul bahu suaminya dan mengusap punggung laki-laki itu. Zefran menoleh pada Allena, wanita itu justru tersenyum sambil menghapus air mata laki-laki yang dicintainya itu.
Allena berbisik pada Zefran.
"Aku akan selalu menemani Kakak menjalani pengobatan, aku yakin Kakak bisa sembuh," bisik Allena untuk menguatkan hati suaminya.
Antara percaya dan tidak, Zefran percaya Allena akan setia menemaninya namun kurang percaya bisa sembuh seperti sediakala.
"Untungnya kerusakan sumsum tulang belakang tuan Zefran hanya terjadi di sebagian kecil hingga kemungkinan masih bisa di sembuhkan. Setelah mengobati penyebab kelumpuhan maka Tuan Zefran perlu melakukan latihan pada anggota gerak yang mengalami kelemahan di bagian fisioterapi," jelas dokter itu.
"Jadi masih bisa disembuhkan dokter?" tanya Altop dengan semangat yang dibalas dengan anggukan oleh dokter itu.
Zefran menoleh pada istrinya, Allena tersenyum menatap suaminya. Entah sugesti atau karena doa dari wanita itu. Apa yang diucapkan Allena benar-benar terjadi. Zefran masih bisa disembuhkan. Namun selama itu Zefran harus menjalani serangkaian pengobatan dan latihan.
Sesuai dengan perintah dokter, Allena dengan ketat menjaga suaminya. Zefran harus istirahat dengan cukup meski untuk itu Allena harus ikut tidur di samping suaminya.
"Jangan tinggalkan aku," ucap Zefran saat Allena memintanya untuk tidur.
"Aku tidak akan meninggalkan Kakak," ucap Allena.
Tapi ucapan saja tidak cukup, Zefran masih menggenggam tangan wanita yang dicintainya itu. Allena akhirnya naik ke atas ranjang rumah sakit itu dan ikut rebah di samping suaminya. Zefran melingkarkan tangannya ke tubuh wanita itu kemudian memejamkan matanya.
"Aku rindu anak-anak," ucapnya sambil memejamkan matanya.
"Besok aku akan meminta Rahma, mengantar mereka ke sini," ucap Allena.
"Terima kasih sayang," ucap Zefran lalu mengecup puncak rambut istrinya.
Zefran mulai diam hingga tertidur, laki-laki itu hanya bisa tertidur jika telah memeluk Allena. Wanita itu tersenyum, berharap semua akan berjalan lancar untuk kedepannya. Demi suaminya Allena menginap di rumah sakit untuk mengurus segala keperluannya.
Selain istirahat yang cukup Zefran juga menjalani latihan anggota gerak yang mengalami kelemahan di bagian fisioterapi. Allena mendorong kursi roda suaminya sesuai dengan jadwal latihannya. Di pagi hari mengajak laki-laki itu berjemur di taman. Saat senggang seperti itu, Zefran melatih bagian tubuh yang lemas secara perlahan dibantu istrinya.
__ADS_1
"Kamu juga makan sayang," ucap Zefran saat melihat Allena ingin menyuapinya.
Allena hanya mengangguk, lalu kembali menyuapi suaminya itu. Zefran menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa makan sendiri, sekarang ambillah makananmu, kita makan sama-sama," ucap Zefran yang melihat istrinya hanya sibuk mengurusinya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Bisa makan sendiri? Iihh, sombongnya, mandi sendiri bisa nggak?" tanya Allena sambil meletakkan makan siang yang diberikan untuk penunggu pasien itu di atas overbed table.
Zefran hanya tersenyum, laki-laki itu bukannya tidak bisa mandi sendiri meski dia harus menggunakan kursi roda ke kamar mandi. Tapi bukan itu alasannya, tepatnya laki-laki itu lebih suka dimandikan istrinya. Zefran akan mengajak istrinya bermesraan di bawah siraman shower hingga mereka akhirnya mandi bersama.
"Terima kasih sayang dan maafkan aku," bisik Zefran.
Setiap malam saat menatap Allena yang tertidur disampingnya. Membelai pipinya yang putih, lembut dan halus. Zefran akan berusaha mengecup pipi putih itu lalu kembali tersenyum memandanginya.
"Kamu pasti lelah mengurusku bukan? Aku justru tidak tahu diri mengganggu tidurmu. Allena, bagaimana cara aku membalas kebaikanmu?" tanya Zefran masih dengan suara berbisik.
"Aku bersyukur ucapan Ronald menjadi kenyataan, saat pertama kali kamu jatuh dalam pelukanku. Anak itu berkata kalau kamu juga akan menjadi istriku. Jika aku tahu betapa bahagianya memilikimu aku tidak akan bersikap jahat padamu. Terima kasih sayang karena kamu hadir dalam hidupku," bisik Zefran lagi.
Aku harus berusaha mengendalikan rasa cemburuku. Aku harus percaya kalau Allena setia padaku. Meski aku memintamu pergi, meski aku merasa tak pantas untukmu, meski aku hanya akan merepotkanmu tapi kamu tetap bertahan di sisiku. Allena, aku benar-benar laki-laki yang tak tahu diri jika masih menyakitimu, batin Zefran.
Laki-laki itu mencium telapak tangan istrinya sambil memejamkan mata. Tak bosan-bosannya Zefran bersyukur karena memiliki Allena. Sebentar-bentar mencium pipinya, lalu kening, lalu bibirnya.
"Kakak, kenapa belum tidur?" tanya Allena akhirnya dengan nada orang mengantuk.
"Jangan seperti anak kecil, pura-pura tidur. Kenapa Kakak bangun, bukannya Kakak harus cukup istirahat?" tanya Allena.
Zefran masih pura-pura tidur, Allena akhirnya menggelitik Zefran.
"Sudah! Sudah! Ampun!" ucap Zefran meminta Allena menghentikan gelitikannya.
Namun Allena tetap menggelitik laki-laki itu.
"Ini hukumannya karena mengganggu tidurku hemm.. aku jadi tidak bisa tidur lagi. Sekarang terimalah pembalasanku," ucap Allena terus saja menggelitik meski Zefran telah meminta ampun.
Tanpa sadar laki-laki itu duduk bersila sambil menangkap tangan istrinya.
"Aku sudah menangkap tanganmu. Kamu sudah tidak bisa apa-apa lagi, kamu …"
"Kak!" seru Allena sambil melihat kedua kaki Zefran.
Laki-laki itu ikut melihat.
__ADS_1
"Ya, kalau efek obatnya habis kakiku terasa sakit, rasanya nyeri dan ototnya terasa kaku. Makanya suka terbangun tengah malam karena merasakan sakit. Aku harus meminum obat anti nyeri dan relaksan otot yang diberikan dokter untuk menghilangkan rasa …"
"Bukan itu," ucap Allena sambil menggelengkan kepalanya.
Zefran merasa tak mengerti dengan apa yang di maksud Allena.
"Kakak sudah bisa menggerakkan kaki? Kakak tidak lumpuh lagi?" tanya Allena.
Zefran pun tercengang, tanpa sengaja dengan mudah laki-laki itu bersila. Meski terasa sakit namun gerakan itu seperti hal yang biasa baginya hingga laki-laki itu lupa kalau tadinya dia mengalami kelumpuhan.
"Aku akan panggil dokter," ucap Allena hendak turun dari ranjang rumah sakit itu.
"Besok saja, biarkan dokter-dokter itu beristirahat. Bukan sesuatu yang kritis bukan?" tanya Zefran.
Allena mengangguk, lalu tersenyum menatap suaminya. Zefran juga menatap wajah cantik di hadapannya itu namun dengan tatapan yang berbeda. Tatapan penuh rindu, setelah sekian lama Allena menghilang dari hidupnya. Kini wanita yang dicari-carinya itu telah berada di hadapannya.
Perlahan Zefran mendekatkan wajahnya. Allena reflek melingkarkan tangannya di leher laki-laki tampan itu.
Allena memejamkan mata menerima ciuman lembut Zefran hingga akhirnya laki-laki itu merebahkan istrinya di ranjang rumah sakit. Ciuman demi ciuman pun dilakukan, mata, pipi, puncak hidung, semua menjadi sasaran ciuman Zefran.
Tak hanya di wajah, ciuman Zefran pun menjalar hingga ke belakang leher dan bahu Allena. Allena melenguh nikmat saat ciuman laki-laki itu turun lebih ke bawah.
"Kak, apa bisa? Apa tidak sakit?" bisik Allena sambil menikmati ciuman Zefran di lehernya.
"Kakiku masih terasa sakit tapi ada yang lebih sakit jika kamu menolakku," ucap Zefran kemudian menyesap bibir manis Allena.
Seperti dejavu, ucapan Zefran saat dirawat di rumah sakit karena peristiwa penusukan terhadapnya oleh Bobby. Saat itu Allena belum bisa menerima kehadiran Zefran lagi dalam hidupnya setelah pergi selama bertahun-tahun ke Paris. Allena mulai menerima Zefran kembali setelah laki-laki itu mengalami peristiwa penusukan dan mengalami kritis.
"Aku harus berada di ambang maut untuk mendapatkan cintamu lagi?" tanya Zefran.
Allena menggelengkan kepalanya.
"Kakak sudah mendapatkan cintaku sejak pertama kali Kakak menyentuhku," bisik Allena sambil menangkup wajah laki-laki yang dicintainya itu.
Zefran tersentuh mendengar ucapan Allena.
Tapi kamu sudah mendapatkan cintaku sejak pertama kali bibirku menyentuh bibirmu, batin Zefran.
Kembali terbayang saat Allena membawanya jatuh ke atas sofa di tengah ruangan walk in closet. Mengusap bekas bibir Allena seolah jijik hanya untuk mengalihkan pikiran gadis itu. Karena Zefran dengan wajah yang telah bersemu merah tak kuat lagi menahan debaran di dadanya. Bersikap kejam dan dingin hanya untuk mengaburkan perasaannya yang selalu berdebar saat melihat dan berada di dekat gadis itu.
"Aku jatuh cinta padamu sejak bibirku menyentuh bibirmu. Dan kamu merasa sedih karena kejadian itu, tapi ketahuilah sejak saat itu aku selalu ingin menciummu," bisik Zefran mengakui setelah sekian tahun menikah.
__ADS_1
Allena tersenyum, lalu membenamkan bibirnya ke bibir laki-laki tampan itu. Zefran yang telah lama menahan hasratnya kembali melancarkan aksi bercintanya, nafas mereka memburu, desah Allena dan Zefran terdengar saling tak mau kalah. Zefran tersenyum menatap istrinya yang memejamkan mata menikmati permainan cintanya. Hasrat mereka yang telah lama tertahan akhirnya terlampiaskan.
...~~~ Bersambung ~~...