Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 54 ~ Ingkar Janji ~


__ADS_3

Zefran membaca lembaran kertas yang ditaruh Allena di meja. Laki-laki kaget hanya dengan membaca beberapa judul saja.


"Patrick tolong selidiki ini," ucap laki-laki itu dan langsung berlari meninggalkan meeting mengejar Allena.


Namun, gadis itu tidak terlihat lagi. Timbul kecemasan di hatinya bahwa apa yang terjadi sekarang ini dapat mengganggu rencananya bersatu lagi dengan Allena. Zefran mengejar Allena hingga ke parkiran tapi gadis itu tetap tak terlihat lagi.


Di mana kamu Allena, tolong dengarkan penjelasanku, batin Zefran.


Zefran mencoba menghubungi tapi jelas tak diangkat. Laki-laki itu memutuskan mencari ke kantor Allena namun tetap tak ditemukannya. Seorang gadis memberitahu kalau Allena ada di rooftop gedung.


Setelah berterima kasih pada gadis itu, Zefran pun mengejar istrinya di rooftop gedung perusahaan fashion itu. Zefran tertegun saat melihat istrinya sedang duduk termenung menatap langit.


"Sayang, kita harus bicara," ucap Zefran.


Menyadari Zefran datang, Allena langsung menghapus air mata dan memalingkan wajahnya. Zefran duduk di samping Allena dan menatap gadis yang menatap ke arah lain itu.


"Aku benar-benar tidak tahu tentang berita itu. Patrick sedang mencari tahu siapa yang menyebarkannya. Sayang, kamu tidak menuduhku menyebarkan berita itu kan?" tanya Zefran sambil meraih tangan Allena dan mengecup punggung tangan itu.


Menempelkan punggung tangan itu di pipinya. Allena memejamkan matanya membuat air matanya mengalir deras. Zefran mengarahkan dagu gadis ke arahnya. Terlihat mata dan hidung yang memerah karena menangis. Zefran meraih tubuh gadis itu dan mendekapnya dalam pelukannya.


"Hal yang tidak aku sukai adalah membuatmu menangis karena itu percayalah, bukan aku yang menyebarkan berita itu," ucap Zefran sambil memejamkan matanya mendekap erat tubuh istrinya.


"Aku tahu," ucap Allena dengan suara serak.


"Lalu, kenapa kamu justru menyalahkanku?" tanya Zefran.


"Semua terjadi karena Kakak menceraikannya. Dia menyerangku karena menganggap akulah yang menyebabkan perceraian kalian. Tidak masalah jika dia menghinaku atau merendahkanku, aku tidak peduli tapi ini menyangkut anakku. Aku tidak ingin anakku tahu kalau dia tidak diakui oleh keluarganya. Bagaimana perasaannya mengetahui ibunya memaksa meminta pengakuan dari keluarga ayahnya? Aku tidak mau itu terjadi, lebih baik kita bercerai dan tidak memiliki hubungan apa-apa lagi daripada anakku dituduh sebagai anak yang tidak diinginkan. Anak yang tidak diakui oleh keluarga ayahnya," jelas Allena menangis.


Zefran tercenung, tiba-tiba merasa dirinya begitu egois. Dia hanya merasa apa yang dilakukan Frisca hanya berimbas pada dirinya yang membuat Allena kesal dan ingin berpisah darinya tanpa sedikit pun memikirkan perasaan anak itu.


Sementara bagi Allena perasaan anak itu di atas segalanya. Dia tidak peduli dengan pernikahannya asalkan anaknya tidak tersakiti. Zefran menangkup wajah istrinya.


"Maafkan aku, aku janji, berita itu akan segera berhenti. Zefano tidak akan mengetahui tentang itu. Allena tolong, jangan hukum aku karena sesuatu yang bukan kesalahanku. Meminta berpisah dariku adalah hukuman terberat bagiku, aku tidak sanggup menjalaninya Allena. Jangan hukum aku seperti itu," mohon Zefran.


"Kakak mungkin ini yang terbaik. Jika kita berpisah tidak ada lagi yang akan menggangguku dan anakku," ucap Allena.


"Tidak, tidak, tidak, aku tidak setuju, aku akan melakukan apa pun untuk menghentikan Frisca tapi aku tidak akan menceraikanmu demi apa pun. Kalau perlu aku akan mengancam menyebar rekaman videonya jika dia masih mengganggu kehidupan kita," ucap Zefran panik dengan keputusan Allena.


Allena merenggangkan pelukannya dan menatap Zefran.


"Kakak tidak boleh mengancam apalagi menyebarkan rekaman itu. Kakak bisa di penjara, mungkin saja dia melakukan ini agar Kakak terpancing untuk menyebarkannya. Hidup kita semua bisa hancur jika Kakak melakukan itu. Kakak bisa menjadi pelaku pengancaman, pencemaran nama baik dan terjerat pasal UU ITE," jelas Allena.


Zefran memejamkan mata, baru menyadari solusi yang dipilihnya adalah sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku, aku tidak berpikir jernih. Saat melihatmu menangis aku tidak bisa berpikir dengan baik. Rasa yang timbul hanyalah emosi karena aku tidak mau kamu tersakiti," sahut Zefran.


"Karena itu biarlah tetap seperti ini, aku tidak ingin dia menyerangku dan anakku lagi. Tinggalkan aku, carilah wanita yang lain" ucap Allena melepaskan pelukannya.


"Tidak! Aku tidak setuju, kamu pikir mudah menemukan orang yang bisa kucintai? Tidak! Aku tidak akan melepasmu dan tidak akan menceraikanmu!" teriak Zefran.


"Tentu bisa, apa Kakak lupa? Dulu aku adalah orang yang Kakak benci, jika seorang yang dibenci bisa menjadi orang yang dicintai tentu dengan mudah Kakak bisa menerima gadis lain," ucap Allena.


"TIDAK! TIDAK! TIDAK! Aku tidak akan melepasmu. Jika kamu belum siap hidup bersama lagi denganku, aku akan sabar menunggumu tapi aku tidak akan menceraikanmu apalagi mencari penggantimu," ucap Zefran sambil berdiri.


Zefran beranjak dari tempat itu dengan tergesa. Allena memandang punggung laki-laki yang pergi dengan emosi itu. Tiba-tiba langkah Zefran terhenti, laki-laki itu berbalik lalu berdiri di hadapan Allena.


Zefran menarik kedua lengan gadis itu hingga berdiri di hadapannya. Allena bingung dengan tingkah Zefran. Laki-laki itu kemudian memeluknya.


Setelah duduk di mobil aku akan menyesal jika tidak melakukan ini, batin Zefran.


Kemudian membenamkan bibirnya di bibir lembut istrinya. Mempererat pelukannya dan semakin menyesap lembut bibir gadis itu. Menikmati ciuman lembut itu kemudian merenggangkan pelukannya. Mencium kening Allena kemudian berlalu dari tempat itu.


Di kantornya Zefran menemui Patrick dan bertanya tentang berita yang beredar di dunia Maya mengenai istrinya.


"Saya sudah meminta pemblokiran situs yang menyebarkan berita itu dan telah menemukan orang yang menyebar berita," jelas Patrick.


"Siapa? Apakah Frisca?" tanya Zefran.


"Bukan, hanya mahasiswa yang dibayar olehnya. Anak itu bersedia menghapus postingan setelah saya nyatakan bahwa berita itu bohong dan dia bisa terancam pasal pencemaran nama baik," jawan Patrick.


"Terima kasih Patrick, kamu menangani semuanya dengan baik. Aku sangat berterima kasih padamu," ucap Zefran.


"Sudahlah, aku tidak akan ada di sini jika bukan karena bantuanmu," balas Patrick sambil tersenyum.


"Oh ya, meeting hari ini?" tanya Zefran baru teringat kalau dia telah meninggalkan meeting begitu saja.


"Aku mengumpulkan semua laporan dan meletakkannya di mejamu. Jika ada hal yang ingin kamu tanyakan bisa panggil orangnya langsung atau kita adakan meeting ulang," jelas Patrick.


"Baiklah, aku akan membaca laporannya dulu," pilih Zefran.


"Sebenarnya tidak ada masalah, aku sudah membaca laporan mereka. Jika kamu tidak ada waktu hanya beberapa hal kecil yang menurutku harus dikaji ulang dan aku sudah memberinya tanda," sambung Patrick.


"Terima kasih Patrick, jika memang tidak ada masalah aku ingin keluar sebentar mengunjungi seseorang," ucap Zefran.


Patrick mengangguk, Zefran teringat jadwal kemoterapi Zefano yang tadinya berbarengan dengan jadwal meeting. Laki-laki itu akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Zefano.


"Papa, pengobatan Zeno selesai. Mama janji, kami akan pindah ke rumah Papa Zeno. Akhirnya kami bisa bertemu dan bersama lagi," cerita Zeno dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

__ADS_1


"Benarkah? Papa ikut senang mendengarnya. Tapi, Papa belum bisa berkumpul dengan istri dan anak Papa. Karena ada masalah dan kami belum bisa menyelesaikannya" ucap Zefran dengan raut wajah sedih.


"Papa bersabar ya, nanti pasti bisa berkumpul lagi," ucap Zefano tersenyum sambil menggenggam tangan Zefran.


Zefran memandang anak yang selalu membuat hatinya terasa hangat itu.


"Papa senang pengobatan Zeno berakhir, semoga Zeno selalu sehat ya. Sebenarnya Papa juga sedih karena tidak bisa bertemu dengan Zeno lagi. Tapi tidak apa-apa yang penting Zeno bahagia," ucap Zefran.


Zefano tersenyum, mereka pun  berbincang-bincang, hari itu menjadi hari perpisahan bagi mereka. Zefran berharap anak itu bahagia bersama kedua orang tuanya dan dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak itu.


Zefran kembali ke kantornya dengan perasaan senang bercampur sedih. Kembali menjalani hari-harinya yang sendiri tanpa Allena dan Zefano yang dikenalnya sebagai Zeno.


Di kala senggang Zefran tetap mengunjungi gadis yang dicintainya. Setiap saat membujuk Allena untuk kembali padanya. Sebulan berlalu namun Allena masih belum mau memenuhi permintaannya.


Hari ini kembali laki-laki itu mengetuk pintu kantor Allena untuk menemui gadis yang selalu dirindukannya itu. Belum sempat Zefran mengetuk pintu tapi pintu itu telah terbuka.


"Aku harus pergi Kak, maaf," ucap Allena setelah rasa kagetnya hilang.


Zefran hanya bisa memandang gadis yang berlari keluar dari gedung itu. Air mata Allena mengalir di sepanjang langkahnya menuju parkir gedung. Mengeluarkan kunci mobil dengan tangan yang gemetar hingga akhirnya menjatuhkannya.


Allena terduduk di samping mobilnya yang parkir sambil terus menangis. Teringat kembali apa yang diucapkan Zefano sebulan yang lalu.


"Mama, bukannya kita pindah ke rumah Papa?" tanya Zeno sambil digendong Valendino.


Valendino yang berkunjung ke rumah Allena hari itu meminta ikut mengantar Zefano untuk pemeriksaan rutinnya. Laki-laki itu melihat Allena tertunduk tak bisa menjawab pertanyaan putranya.


"Hey, kamu sudah berjanji harusnya ditepati," ucap Valendino pada Allena yang diam.


Allena masih memilih diam, mereka duduk di kursi tunggu pasien menunggu giliran pemeriksaan Zefano. Tiba-tiba ponselnya bergetar, gadis itu segera menerima panggilan telepon itu.


"Maaf aku tidak bisa, aku sedang memeriksakan kesehatan anakku," ucap Allena.


Valendino yang mendengar Allena menolak permintaan penelepon hingga beberapa kali itu akhirnya menemui.


"Pergilah, biar aku yang menemani Zeno," ucapnya sambil menurunkan ponsel di telinga Allena.


Allena tidak enak hati namun Valendino tetap memaksa.


"Tidak apa-apa, aku tidak ada kegiatan. Aku bisa menemani Zeno sampai pemeriksaannya selesai," ucap Valendino.


"Tapi..," 


"Sudahlah pergi sana, kamu cuma mengganggu acara dua pria tampan ini saja," ucap Valendino sambil tersenyum.


Akhirnya Allena menerima permintaan penelepon dan berpamitan pada Zefano. Laki-laki kecil yang tampan itu mengangguk mengizinkan. Allena pun pergi ke acara yang telah dijanjikannya sebulan yang lalu.


Zefano mengangguk sambil mengerucutkan mulutnya.


"Tidak bisa dipercaya, sifat yang buruk," ucap Zefano.


"Hey, jangan berkata seperti itu. Mamamu mengabaikan janjinya demi Zeno. Zeno adalah yang terpenting dalam hidupnya. Semua ditinggalkannya jika sudah menyangkut Zeno bahkan mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi Zeno. Jadi jangan salahkan dia, Mamamu tidak menepati janji bukan kehendaknya. Uncle Val menyesal mengucapkan kata-kata tadi padamu hingga Zeno jadi salah paham," jelas Valendino yang takut Zefano salah paham pada ibunya.


"Kalau begitu semua salah Zeno, Mama jadi orang yang tidak menepati janji karena Zeno," ucap Zefano menunduk.


"Bukan begitu juga, kadang orang harus memilih yang terpenting baginya dan mengabaikan lainnya. Semua orang memang begitu karena setiap orang memiliki prioritas dalam hidupnya. Sesuatu yang paling penting akan mengalahkan pilihan lainnya. Orang akan mengabaikan hal lain demi hal yang terpenting dalam hidupnya. Kamu adalah hal yang terpenting dalam hidup Mamamu," jelas Valendino.


"Semua orang seperti itu?" tanya Zefano yang dibalas dengan anggukan oleh Valendino.


Membuat hati anak itu menjadi lega karena menganggap itu bukan kesalahannya. Zefano pun melakukan pemeriksaan dan Dokter menyatakan tubuh Zefano telah bebas dari penyakit kanker darah. Hari itu dua laki-laki tampan itu berjalan dengan bahagia setelah mendengar penjelasan dari dokter.


"Gimana kalau kita rayakan?" tanya Valendino yang langsung dibalas anggukan kuat oleh Zefano.


"Zeno..,"


Mereka menoleh, Zefano langsung berlari ke arah Dokter Shinta. Anak itu langsung memeluk dan mencium pipi Dokter cantik itu.


"Kamu ini benar-benar bikin iri, beruntung sekali.  Anak kecil memang selalu menang," gerutu Valendino sambil menghampiri.


Dokter Shinta tersipu.


"Uncle kita ajak Dokter Shinta ya!" ucap Zefano.


"Boleh tapi apa dia mau?" tanya Valendino sambil menoleh ke arah lain.


"Dokter Shinta ayo ikut kami merayakan Zeno yang sembuh dari leukemia," ajak Zefano.


"Benarkah? Zeno sudah mendapat hasilnya?" tanya Shinta yang dibalas anggukan oleh Zefano.


"Tapi Dokter Shinta ada kerjaan," ucap Shinta murung.


"Apa mengerjakannya lama?" tanya Zefano.


"Tidak sih cuma..," 


"Kalau gitu kita tunggu," ucap Valendino sambil duduk di kursi pengunjung.


Dokter Shinta terpaku mendengar ucapan  Valendino yang bersedia menunggunya.

__ADS_1


"Bagaimana Dokter Cantik?" tanya Zefano lagi.


"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar ya," ucap Shinta yang gelagapan kembali ditanya Zefano.


Gadis itu langsung berlari sekencang-kencangnya ke laboratorium dan menyelesaikan tugas yang tadi memang sedang dikerjakannya.


Tahu begini aku selesaikan dari tadi, oh.., kenapa sifatku begini, suka menunda-nunda segala hal, batin Shinta menyesal.


Gadis itu segera menyelesaikan tugasnya, mengirim laporannya dan segera menyambar tasnya berlari keluar dari lab namun kembali lagi karena lupa melepas jas lab-nya.


"Maaf, apa kelamaan?" tanya Shinta dengan nafas yang tersengal-sengal.


Valendino tersenyum, lalu menggeleng.


"Kita kemana?" tanya Valendino.


"Taman hiburan!!" teriak Zefano.


Valendino menoleh pada Dokter Shinta untuk meminta pendapatnya. Gadis itu hanya mengangguk sambil terus mengatur nafasnya. Valendino menoleh ke arah lain dan tersenyum. 


Mereka pun bermain ke taman hiburan merayakan kesembuhan Zefano. Mencoba berbagai wahana bersama.


Dokter Shinta yang merasa takut pada ketinggian. Tidak berani menatap apa pun di sekelilingnya hingga membuat Zefano tertawa. 


"Aku tidak berani melihat," ucap Shinta sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat wahana bianglala itu membawa mereka ke ketinggian lima puluh meter.


Valendino memeluk gadis yang ketakutan itu.


"Kalau begitu pejamkan saja matamu," ucap Valendino sambil mendekap Dokter Shinta dalam pelukannya.


Zefano tertawa, Valendino langsung menyilangkan jari telunjuknya di bibir. Zefano tertawa dengan menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Kamu sudah punya jawabannya?" bisik Valendino pada Shinta yang menenggelamkan wajahnya di dada laki-laki itu.


"Bisakah mengulang pertanyaanmu, aku tidak yakin dengan pertanyaannya?" tanya Shinta.


"Maukah kamu jadi pacarku?" tanya Valendino sambil menatap gadis yang bersandar di dadanya.


Hening sesaat, Valendino dan Zefano menunggu.


"Kamu tidak mendengar degup jantungku karena menunggu jawabanmu?" tanya Valendino sambil tersenyum.


"Aku mau, aku mau jadi pacarmu," jawab Shinta langsung.


Valendino langsung memeluk Dokter Shinta sambil mengucapkan terima kasih. Zefano tersenyum, Valendino meminta anak itu menutup matanya, Zefano patuh. Valendino merenggangkan pelukannya.


"Apa sudah berhenti?" tanya Shinta masih memejamkan mata.


"Belum, tetap pejamkan matamu!" ucap Valendino sambil mengangkat dagu Dokter Shinta.


Laki-laki itu membenamkan bibirnya di bibir gadis itu. Dokter Shinta yang terkejut reflek membuka mulutnya. Membuat Valendino mendapat kesempatan menyusupkan lidahnya dan bermain-main di rongga mulut gadis itu. Valendino memeluk dan mencium Dokter Shinta sementara gadis itu menikmatinya.


Malamnya Zefano menceritakan keseruan acara mereka pada ibunya.


"Uncle Val dan Dokter Shinta udah pacaran?" tanya Allena.


"Ya, coba Mama ikut merayakan. Tapi Mama tidak bisa karena harus menepati janji kalau tidak, bisa ditinggalkan orang. Uncle Val bilang kalau suka ingkar janji nanti akan ditinggal orang," ucap Zefano.


Teringat ucapan Zefano membuat tangan Allena gemetar. Gadis itu sulit memasukkan kunci mobil hingga terjatuh beberapa kali. Merasa menyesal karena hingga kini Allena masih ingkari janji mempertemukan Zefano dengan ayahnya.


"Kak, Zeno jatuh pingsan. Dia di rumah sakit. Aku tidak bisa menyetir ke sana," ucap Allena menangis tersedu-sedu.


"Tunggu di sana," ucap Valendino segera mengejar Allena yang syok dan hanya bisa bersandar pada kemudi mobilnya.


"Hal yang kita takutkan terjadi, Zeno termasuk dalam dua puluh persen penderita Acute Myeloid Leukemia atau AML. Jalan satu-satunya adalah melakukan transplantasi sumsum tulang belakang," ucap Dokter saat Allena dan Valendino menanyakan kondisi kesehatan Zefano.


Allena terkejut saat mendengar penjelasan Dokter dan lebih terkejut lagi saat dokter menjelaskan bahwa Zefano membutuhkan pendonor dari keluarga, khususnya saudara kandung. Karena kemungkinan perbandingan kesuksesannya adalah 25%.


"Tapi Zeno anak tunggal Dokter," jawab Allena sambil menangis.


"Zeno bisa mendapat donor sumsum tulang dari pendonor asing tapi peluang kecocokannya sangat sulit didapat hanya satu di antara jutaan orang," jelas Dokter.


"Apa kami keluarganya tidak bisa menjadi pendonor dokter?" tanya Allena mengusulkan dirinya dan ibunya.


"Syarat pendonor berusia antara 18-44 tahun berarti yang bisa menjadi pendonor hanyalah ayah dan ibunya," jawab Dokter itu.


Allena dengan cepat mengajukan diri, gadis itu pun menjalani serangkaian tes. Ditemani Valendino, Allena mendengar penjelasan hasil tes yang telah dilakukannya.


"Kami telah melakukan tes dan hasilnya ibu tidak bisa menjadi pendonor," ucap Dokter.


"Kenapa Dokter? Apa maksud Dokter? Saya ini ibu kandungnya, kenapa saya tidak bisa menjadi pendonornya?" teriak Allena panik dengan air mata yang langsung mengalir.


"Karena wanita hamil tidak bisa menjadi pendonor. Sebaiknya ibu segera menghubungi ayah kandung Zefano"


Allena terperangah, air matanya mengalir semakin deras. Allena menutup mulutnya dengan kedua tangannya sekuat tenaga untuk menahan isak tangisnya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2