
Valendino datang dan langsung melepas rindu dengan Zefano. Kesempatan itu juga digunakan Valendino dan Dokter Shinta untuk menyampaikan niat hati mereka. Dengan malu-malu Dokter Shinta menyampaikan rencana mereka yang ingin melangsungkan pernikahan dan akan dilaksanakan dua bulan lagi.
Allena memeluk wanita yang telah dianggapnya seperti saudara kandung itu. Allena mengucapkan selamat dan mendoakan semoga niat baik dokter cantik itu berjalan dengan lancar.
Tak lama kemudian sahabat-sahabat Zefran yang lain datang. Altop dan Ronald datang bersama pasangan mereka masing-masing.
"Istriku sudah mau pulang kalian baru datang?" tanya Zefran pura-pura kesal.
"Yang penting belum terlambat 'kan?" jawab Altop sambil mengucapkan selamat pada Allena.
Begitu juga dengan Ronald dan pasangannya yang memeluk dan mencium pipi Allena.
"Kalian sudah mendengar pengumuman dari Valen?" tanya Zefran.
"Sudah dong, kami ini masih suka ngumpul, kamu saja yang tak pernah kelihatan lagi. Sejak jadi bapak yang baik ini," ucap Altop.
Zefran tertawa, laki-laki itu segera memperkenalkan Zefano pada teman-temannya.
"Wah, ganteng sekali, bisa mengalahkan papanya ini. Kalau papanya bisa dapat dua, anaknya bisa dapat empat kalau begini," ucap Ronald menyindir, membuat yang mengerti maksudnya langsung tertawa.
"Apaan sih kalian ini, dua itu dilema. Satu saja kalau ingin bahagia," jelas Zefran.
"Ya, ya, hidup ini memang tidak bisa diprediksi, sejak kenal Zefran kita tahu dia itu laki-laki yang setia. Cuma satuuuu.., satunya, tak pernah mau melirik gadis lain. Eeh.., pada akhirnya pasang dua juga," sambung Altop lalu tertawa.
"Ya, tapi akhirnya tetap saja memilih satu meski akhirnya berganti," lanjut Ronald, membuat yang hadir di situ ikut tertawa.
Allena cemberut mendengar kelakar teman-teman Zefran. Suaminya langsung merengkuh bahu wanita itu dan mencium keningnya.
"Huuu, sekarang pamer kemesraan, beberapa tahun kemudian kamu diganti Allena," ucap Altop kembali membuat semua tertawa.
Zefran hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa, kembali mengusap bahu istrinya. Zefano ikut tertawa meski tak mengerti apa yang dibicarakan.
"Kalau Zefran ajukan permohonan lagi jangan dikabulkan Allena meski dia bilang bisa adil," ucap Ronald sambil tertawa.
"Hey sudah, sudah, kalian jangan menggoda anak dan mantu Mommy terus. Giliran kalian sendiri kapan? Bisanya meledek Zefran pasang dua, kalian sendiri bagaimana? Gonta-ganti melulu," ucap Mahlika.
Zefran menjulurkan lidah pada Altop dan Ronald karena mendapat pembelaan dari ibunya.
"Aah, Mommy, godain anak baik itu seru Mommy," sahut Ronald.
"Anak baik, anak baik, dia itu sudah menjadi seorang ayah. Anaknya sudah dua, kalian saja yang merasa masih anak-anak," ucap Mahlika sambil mencubit pipi kedua sahabat Zefran itu.
Ronald dan Altop pura-pura kesakitan. Ny. Mahlika beralih menatap pasangan Ronald dan Altop.
"Kalian berdua ya, kalau masih belum diberi kepastian sama anak-anak nakal ini. Putuskan saja hubungan kalian biar mereka menyesal nanti tua hidup sendirian," lanjut Mahlika bicara pada kedua pasangan Altop dan Ronald.
Zefran dan Valendino tertawa, begitu juga Allena dan Dokter Shinta. Ny. Mahlika memberi nasehat kepada kedua putra sahabatnya itu.
Dimulai dari persahabatan anak-anaknya, para orang tua pun ikut bersahabat. Apalagi mereka berasal dari status sosial yang sama. Hobby yang sama dan kebanyakan memiliki usaha di bidang yang sama. Karena itu Ny. Mahlika menganggap ketiga sahabat Zefran seperti anak-anaknya sendiri.
"Kalau tidak takut kalian ini malu, sudah Mommy jewer kalian sejak tadi," ucap Mahlika.
"Ah, Mommy nggak adil. Dari tadi cuma kami yang dimarahi. Itu Valen juga belum menikah, kenapa Mommy tidak marahi juga?" tanya Ronald cemberut manja yang memang seorang anak bungsu di keluarganya.
"Dia itu dua bulan lagi akan menikah, kalian tahu itu dan detik ini dia sudah punya pasangan. Kalau kalian mana?" tanya Mahlika.
"Ini," tunjuk mereka serentak sambil menunjuk pasangan masing-masing.
"Memangnya Mommy percaya, sekarang mereka, dua hari lagi atau mungkin besok orangnya sudah lain lagi. Kalau Zefran dan Valen sudah jelas, mereka tidak suka gonta-ganti," tutur Mahlika membela Valendino dan putranya.
"Kalau Valen 'kan belum kejadian menikahnya. Kalau Zefran, itu sudah gonta-ganti," balas Altop sambil menunjuk Allena.
"Hey.., Zefran itu Mommy yang suruh, kamu mau nyalahin Mommy. Minta dijewer kamu di depan pacarmu," ucap Mahlika sambil membesarkan matanya.
"Nggak Mommy, ampun Mommy," ucap mereka tertawa sambil memegang kedua telinga mereka.
"Nggak Mommy, ampun Mommy," celetuk Zefano mengulang ucapan kedua sahabat Zefran sambil memegang telinganya dan tertawa.
Semua mata beralih pada anak itu, Altop dan Ronald membesarkan mata mereka menatap Zefano. Semua tertawa, suara kecil Zefano menirukan ucapan Altop dan Ronald terdengar sangat lucu.
Kedua sahabat Zefran itu langsung mengejar Zefano yang langsung sembunyi di belakang ayahnya. Mengintip dari balik paha ayahnya sambil tersenyum.
"Serahkan dia padaku atau aku obrak-abrik.., eh.., eh..,"
"Apa?" tanya Zefano pada Ronald.
Semua tertawa mendengar tantangan Zefano. Ronald kebingungan akhirnya memutuskan langsung mengejar Zefano. Ronald menangkap anak itu dan mengangkat tubuhnya. Zefano tertawa, seperti biasa anak itu mudah akrab dengan siapa saja meski baru dikenalnya.
"Hey, sekarang sudah masuk jam makan siang. Ayo kita cari makan dulu, makanan yang enak-enak tapi tidak boleh untuk anak-anak. Cuma untuk orang dewasa," teriak Altop, gilirannya menggoda Zefano.
"Mana ada makanan kayak gitu," balas Zefano terpancing.
"Ada, khusus untuk orang dewasa, anak-anak tidak boleh ikut makan," balas Altop.
Zefano langsung menoleh pada ayahnya, meminta pendapatan laki-laki itu sambil memajukan bibir bawahnya. Zefran tertawa lalu menggendong putranya.
__ADS_1
Mereka pun makan siang bersama di restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Semua ikut kecuali Rahma yang ingin menemani Allena. Meski gadis itu diminta untuk bergabung tapi dia lebih suka bermain bersama Zifara dan Allena.
Setelah makan siang bersama, mereka pamit melanjutkan pekerjaan masing-masing. Begitu juga dengan Ny. Mahlika, Bu Vina dan Rahma yang membawa Zefano ikut pulang bersama mereka. Tinggallah Zefran sendiri menemani istrinya, menyuapi wanita itu yang juga harus makan siang.
"Aku bisa makan sendiri Kak," ucap Allena.
"Oh ya, dua hari ini kamu makan selalu aku suapi. Jika tidak disuapi, makanan itu hanya diam terpampang manis di tempatnya. Sekarang kamu minta makan sendiri?" tanya Zefran.
Allena tersenyum.
"Jangan senyum-senyum, kamu tahu senyum kamu itu menghanyutkan. Membuat dua sahabat bisa saling bermusuhan, malapetaka," ucap Zefran.
Allena langsung mencubit lengan suaminya dengan ekspresi kesal lalu kembali tersenyum dengan kepala yang dimiringkan. Zefran mendekati istrinya dan menatap wajah cantik itu dari dekat.
"Jangan menggodaku, kamu baru saja melahirkan. Kamu harus kasihan padaku," bisik laki-laki itu.
Kemudian langsung menyatukan bibirnya di bibir Allena. Berhari-hari Zefran menatap Allena yang hanya diam seperti mannequin cantik di atas ranjang rumah sakit. Sekarang wanita itu telah berani menggoda suaminya. Zefran bersyukur istrinya telah pulih seperti semula. Kembali ke dunia nyata dan sekarang membalas ciumannya.
"Aku merindukanmu, apa kamu tahu itu?" tanya Zefran berbisik.
Meski Allena ada dihadapannya namun jiwa wanita itu melayang entah kemana. Zefran hanya bisa menahan kesedihannya sendiri. Kehilangan putranya sekaligus kehilangan semangat hidup istrinya.
"Aku tahu, maafkan aku," bisik Allena sambil membelai kedua pipi suaminya.
"Setelah ini kamu harus membalas kebaikanku," ucap Zefran.
"Berarti nggak ikhlas, berbuat baik pakai ditagih-tagih," jawab Allena.
"Biar saja, salahmu sendiri, kenapa selalu menggodaku," ucap Zefran pelan.
Kemudian memeluk istrinya erat dan kembali menyatukan bibir mereka. Terdengar lenguhan mereka yang bersahut-sahutan. Namun, hanya bisa sampai di situ. Zefran tertunduk di dada Allena sambil menangis merengek karena hasratnya yang tak bisa terlampiaskan. Allena tertawa melihat suaminya yang bertingkah seperti anak kecil.
Zefran menemaninya malam itu di rumah sakit. Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit itu.
"Sudah siap-siap?" tanya Shinta yang muncul tiba-tiba.
"Oh, Dokter Shinta. Ya, aku siap-siap dulu sementara Kak Zefran mengurus administrasi," jelas Allena.
"Mau aku bantu?" tanya Shinta sambil tersenyum.
Allena menggeleng.
"Cuma pakaian sendiri. Aku ini bukannya mau pindah rumah. Tak banyak barang-barang yang harus dibereskan," ucap Allena.
"Oh ya, Dokter Shinta, tolong sampaikan terima kasihku yang sangat besar untuk suster yang menemukan Zeno. Kemarin aku lupa mengucapkannya, karena terlalu bahagia jadi lupa segalanya. Dalam waktu dekat Mommy ingin merayakan kelahiran putri kami, tolong suster itu diundang juga ya," pinta Allena.
"Siap Nona Allena," ucap Shinta sambil tersenyum.
"Aku harap, aku bisa membantu dalam persiapan pesta pernikahan kalian," ucap Allena sambil meraih kedua tangan Dokter Shinta.
"Tidak perlu, kami akan menggunakan jasa wedding organizer yang handal, kamu tidak perlu khawatir. Kamu pasti akan sibuk mengurusi bayimu, tugasmu sekarang adalah menikmati peranmu sebagai ibu yang baik bagi Zeno dan Entun," ucap Shinta.
"Yah, kok Entun lagi sih?" tanya Allena dengan wajah memelas.
Dokter Shinta tertawa, lalu memeluk wanita yang baru melahirkan bayi itu.
"Terima kasih Allena, mengenalmu seperti menemukan keluarga baru yang hangat," ucap Shinta pelan.
"Aku pun seperti itu Dokter Shinta, mengenalmu serasa memiliki kakak perempuan yang tak pernah kumiliki. Tapi, ngomong-ngomong tahu dari mana soal Entun?" tanya Allena penasaran.
Dokter Shinta kembali tertawa.
"Entun itu adalah topik pembicaraan yang paling seru saat makan siang kemarin. Zefran menceritakan betapa terkejutnya kamu saat putri cantikmu diberi nama Entun oleh ibumu. Zeno sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar nama adiknya lucu seperti itu," jelas Shinta.
"Oh ya ampun, awas kak Zefran, beraninya meledekku di depan semua orang," ucap Allena.
Dokter Shinta tertawa melihat ekspresi marah Allena.
"Kamu itu makin marah, semakin cantik jangan-jangan Zefran melakukan itu karena ingin melihat wajah cantik istrinya kalau lagi marah. Zefran itu sangat mencintaimu, terlihat jelas kalau dia sangat gembira melihat istrinya telah pulih seperti semula. Ngomong-ngomong jika kamu menganggapku seperti kakakmu, jangan panggil aku Dokter Shinta lagi," ucap Shinta.
"Lalu harus panggil apa?" tanya Allena.
"Panggil Kak Shinta sama seperti Frisca, sebaik mulai sekarang jangan panggil dia Nyonya lagi. Aku rasa dia lebih suka kalau kamu memanggilnya Kak Frisca," jelas Shinta.
"Baik Kak Shinta, oh ya, kapan kita menjenguk Kak Frisca?" tanya Allena.
"Aku sudah menjenguknya tadi, dia sudah memulai pengobatannya. Dalam waktu dekat akan dilakukan operasi pengangkatan rahimnya. Kamu istirahat dulu di rumah, kamu pasti sangat rindu rumah 'kan? Setelah menemani Zeno sekian bulan sekarang giliran kamu melahirkan. Nanti aku tanyakan jadwal operasinya, saat itu kita datang bersama-sama menjenguknya, bagaimana?" tanya Shinta.
"Baiklah, Kak Shinta," jawab Allena.
Zefran datang dan langsung terkejut melihat Dokter Shinta yang sedang berbincang dengan istrinya.
"Dokter Shinta," sapa Zefran.
"Sudah beres? Apa kalian berangkat sekarang?" tanya Dokter Shinta.
__ADS_1
"Ya, kami akan pulang sekarang. Kalau ada waktu ajaklah Valen mampir ke rumah. Zeno pasti akan merindukanmu," ucap Zefran.
"Baiklah, terima kasih sudah menawariku. Tadinya aku berpikir bagaimana kalau aku kangen sama anak itu? Aku jadi bingung memikirkannya," sahut Shinta.
"Datanglah! Aku akan senang sekali jika Kak Shinta datang berkunjung," ucap Allena penuh semangat.
"Kak Shinta?" tanya Zefran yang dibalas anggukan sambil tersenyum oleh Allena.
Setelah berbincang sebentar, Zefran pun mulai membawakan barang-barang Allena dibantu Dokter Shinta. Sementara Allena berjalan sambil menggendong bayinya. Dokter Shinta mengantar Allena dan Zefran hingga ke area parkir mobil.
Beberapa hari kemudian Ny. Mahlika mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran cucu keduanya. Tak lupa Zefran mengundang sahabat-sahabatnya berikut orang tua mereka.
"Allena! Florist favoritku," panggil Rosita.
Ibunda Valendino itu mengenal Allena saat dirinya masih menjadi seorang florist. Allena langsung mendatangi dan mencium takzim punggung tangan nyonya berwajah lembut itu. Sekilas teringat lagi saat Allena masih berharap hidup bahagia bersama Valendino. Namun, saat melihat wanita cantik di samping Valendino, Allena sadar akhirnya mereka bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.
"Sekarang Allena sudah menjadi perancang busana terkenal Mommy," ucap Valendino.
"Mommy tahu, bahkan Mommy punya beberapa koleksi busananya," ucap Rosita.
"Oh ya, apa kamu juga merancang untuk ibu-ibu seusia Mommy?" tanya Valendino.
Allena mengangguk.
"Waktu itu aku ingin memberi sesuatu untuk Mommy, aku berpikir untuk memberi rancanganku. Saat itu aku langsung merancang design bertema Mommy Elegan untuk ibu-ibu seusia Mommy dan Ny. Rosita," jelas Allena sambil tertawa.
"Oh ya, lalu bagaimana responsnya?" tanya Valendino.
"Mereka sangat menyukainya dan menyambut rancangan itu dengan semangat yang luar biasa karena merasa mendapat perhatian untuk mereka yang tak lagi muda. Padahal nyonya-nyonya kaya justru lebih banyak di usia mereka," jelas Allena.
"Tentu saja, hanya kita yang buru-buru menyerahkan posisi puncak pada putra kita yang masih tergolong muda, itu kerena mereka memang berkompeten dan pantas menduduki jabatan itu," balas Rosita.
"Ya benar Nyonya," jawab Allena sambil tersenyum.
Ny. Rosita meminta izin untuk menengok bayi perempuan Allena. Wanita itu menunjuk pada ranjang bayi yang didekorasi indah dengan bunga-bunga segar yang cantik. Ny. Rosita bergegas mendatangi.
"Akhirnya aku bisa menyapa Dokter Shinta" sapa Allena sambil merentangkan tangannya.
"Masih saja memanggil Dokter Shinta," ucap Shinta sambil cemberut namun tetap membalas pelukan Allena.
"Oh maaf, habisnya sudah kebiasaan sih," balas Allena.
"Kelihatannya kamu begitu akrab dengan calon mertuaku?" tanya Shinta berpura-pura cemburu.
"Ny. Rosita dan teman-temannya langganan saat aku bekerja di toko bunga. Beliau sangat suka buket bunga bikinanku. Nyonya Rosita itu sangat baik, beliau pasti akan menyayangi Kak Shinta," jelas Allena sambil berjalan mendekati ranjang bayinya.
"Oh ya ampun lihat! Cantiknya anak ini!" seru Rosita saat Allena dan Dokter Shinta mendekat.
"Ya Mommy, sangat menggemaskan," jawab Shinta.
"Kamu jangan sampai menunda kehamilanmu ya, Mommy sengaja datang ke sini bersamamu agar kamu melihat sendiri anugerah yang diberikan Tuhan pada sebuah keluarga. Bukan apa-apa Allena, Mommy khawatir, anak-anak jaman sekarang, suka menunda memiliki momongan dengan alasan yang bermacam-macam. Ingin puas pacaran sesudah menikah-lah, sibuk dengan karir-lah, tinggal orang tua yang gigit jari menunggu kelahiran cucu yang kunjung datang," ucap Rosita begitu berapi-api.
Allena tertawa, tak menyangka Ny. Rosita bisa begitu cerewet.
"Dengarkan permintaan Mommy Kak, jangan ditunda!" seru Allena.
"Ya, masih beruntung Jeng Ita sudah punya calon mantu, lah kami ini masih di awang-awang," sela seorang ibu-ibu yang datang bersama ibu-ibu lain.
Mereka adalah ibunda dari Altop dan Ronald, mereka sudah mengenal Allena karena ikut hadir di pernikahan mereka. Namun, Allena tidak mengingat mereka. Allena juga mencium takzim punggung tangan kedua ibu itu.
"Itu! Lihat saja mereka masih saja tertawa-tawa seperti anak remaja," tunjuk Ibunda Ronald.
"Tenang Tante, di sini juga diundang banyak model, mereka tinggal pilih mana yang mereka suka," ucap Allena.
"Justru itu yang Tante takutkan, para model itu harus menjaga badannya, bagaimana bisa mengharapkan kelahiran bayi dari mereka," ucap Ibunda Altop.
Allena dan yang lainnya langsung tertawa, namun memang benar Allena mengundang teman-temannya dari perusahaan fashion Ny. Marilyn. Dan tak lama kemudian mereka berdatangan hampir bersamaan. Ruangan itu dipenuhi dengan wanita-wanita cantik dan laki-laki tampan.
Allena langsung menyambut Ny. Marilyn yang berjalan anggun dengan gaunnya yang indah.
"Selamat ya sayang, Mommy kangen, setiap hari menunggumu aktif lagi di kantor," ucap Marilyn.
"Terima kasih Mommy," balas Allena.
Ny. Marilyn begitu menyayangi Allena seperti putrinya sendiri. Begitu juga bagi Allena, wanita itu sangat menyayangi dan menghormati wanita yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi seorang perancang busana yang sukses.
Semua mata tertuju pada mereka yang baru saja datang. Para model dengan penampilan yang jelas berbeda, cantik dan elegan. Mereka langsung menarik perhatian para tamu pesta itu. Berbisik sambil memandang kagum pada kecantikan dan penampilan mereka.
Para tamu wanita langsung ternganga menatap seorang model pria yang sangat tampan. Menatap dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tak sedikit dari mereka yang langsung mengarahkan kamera ponsel ke arahnya.
Robert Daniel langsung menghampiri Allena. Memeluk wanita cantik itu dengan pelukan yang hangat dan mencium kedua pipinya. Semua terpana melihat tingkah laki-laki itu. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga iri melihat sikap mesranya pada Allena.
Perhatian Zefran dan teman-temannya yang tadi terpusat pada model-model cantik itu, kini beralih pada sikap mesra yang ditunjukkan Robert Daniel pada Allena. Tanpa sadar Zefran mengepalkan tangannya, tak tahan melihat sikap mesra model tampan itu pada istrinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1