
Devan tersenyum menatap Zefran yang menangis tertunduk di hadapannya. Seorang laki-laki yang dikenalnya begitu berani. Begitu keren, berpendirian teguh dan tak gampang tunduk oleh apa pun, siapa pun, kini menangis tertunduk dihadapannya. Memohon demi mempertahankan wanita yang dicintainya.
Zefran adalah seorang laki-laki pemberani yang rela membela seorang teman tanpa mengenal takut. Perkelahian tak pernah di elaknya jika untuk membela sahabat-sahabatnya. Seorang yang berjiwa setia kawan yang tinggi meski itu harus mengorbankan nyawanya.
Kini menangis dihadapan Dr. Devan, memohon agar sahabatnya itu tak meneruskan niatnya mengganggu rumah tangganya. Bukan Zefran tak sanggup melawan Dr. Devan tapi laki-laki itu merasa letih dengan cobaan yang menguji ketahanan rumah tangganya.
Bersaing dengan sahabatnya sendiri pernah dirasakannya bersama Valendino. Dan itu membuatnya sangat lelah. Zefran tak ingin lagi itu terjadi dengan Dr. Devan. Melawan teman sendiri lebih sulit baginya daripada melawan orang yang tak dikenalnya.
"Sekarang aku yakin kalau kamu benar-benar tidak mau kehilangan Allena. Melawan siapa pun tak pernah membuatmu meneteskan air mata. Tapi ulahmu ini justru membuat aku semakin ingin merebut dia darimu. Kamu terlihat lemah, kenapa? Takut melawanku? Apa aku lawan yang tangguh bagimu?" tanya Devan.
Zefran mengangkat wajahnya menatap laki-laki di hadapannya itu. Zefran tidak pernah takut dengan siapa pun, apa pun akan dilakukannya untuk memenangkan sesuatu tapi laki-laki itu takut jika apa yang dilakukannya sekarang justru membuatnya kehilangan Allena. Dr. Devan pun tertawa.
"Kamu ingin membunuhku? Jika kamu di penjara, apa Allena masih bisa tetap di sampingmu? Dia akan mengikutimu ke penjara? Tidak! Dia akan tetap di luar sana dan semakin banyak yang akan menggodanya," ucap Devan memanipulasi pikiran Zefran.
"Jangan lakukan itu, kamu tidak tahu penatnya hidupku menjalani hal seperti ini," ungkap Zefran.
Dr. Devan mengangguk, ucapan Zefran terdengar seperti sebuah ancaman. Laki-laki itu berniat menyudahinya.
"Menurutmu aku benar-benar akan merebut Allena darimu?" tanya Devan lagi.
"Kamu pernah mengatakan itu," jawab Zefran.
"Kata-kata yang diucapkan anak SMA, kamu sangat mempercayainya? Perkataan seorang anak remaja? Menurutmu itu adalah hal yang serius? Kamu benar-benar percaya pada ucapan anak SMA?" tanya Devan berkali-kali memastikan.
"Aku saja bisa menjaga janjiku sejak aku masih kecil. Anak SMA lebih bisa dipegang ucapannya dibanding janji seorang anak kecil. Sampai sekarang aku masih menganggap ucapanmu itu sungguh-sungguh," ucap Zefran.
"Kalau Allena belum menjadi milik siapa-siapa mungkin aku akan mengejarnya tapi dia sudah ada yang memiliki, mana mungkin aku merebutnya. Apalagi yang memilikinya sahabatku sendiri," ucap Devan.
"Jadi kamu ingin membatalkan ucapanmu waktu itu?" tanya Zefran.
"Aku sendiri sudah tidak ingat lagi dengan ucapanku waktu itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi," ucap Devan sambil tertawa.
"Mengenai Santi, kamu serius tidak ingin mencoba mengenalnya? Sebenarnya, ada cerita lain dibalik niat Allena menjodohkanmu itu," ungkap Zefran.
"Maksudmu? Cerita lain bagaimana?" tanya Devan.
"Dia … sebenarnya bukan baby sitter. Menurut Allena dia hanya gadis yang menyamar untuk … mengincarku--"
"Apa? Dia bukan baby sitter sungguhan? Dia mengincarmu?" tanya Devan tak percaya dengan ucapan Zefran.
__ADS_1
"Maaf Devan, istriku mencoba mengenalkan dia padamu dengan tujuan agar Santi merubah niatnya. Aku rasa Allena melihatmu dan berpikir kalau kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengalihkan perhatian Santi dariku," ungkap Zefran.
Laki-laki itu menceritakan kecurigaan Allena pada baby sitter yang mengasuh putri mereka. Mulai dari awal Allena memergoki baby sitter itu berkeluh kesah sendiri di kamar hingga kecurigaan Allena saat gadis itu menerima panggilan telepon.
"Jadi menurutmu, hanya aku yang bisa mengalihkan perhatiannya darimu. Maksudnya aku orang yang setara denganmu? Menarik juga? Apa aku bisa membuatnya berpaling darimu. Aku jadi merasa tertantang. Baiklah aku akan mencoba menarik perhatiannya," ucap Devan langsung.
Zefran terperangah, tak menyangka Dr. Devan justru tertarik dengan cerita itu bahkan penasaran ingin mencoba untuk menaklukkan Santi. Semua itu karena sifatnya yang selalu tak mau kalah dari Zefran. Bisa merebut perhatian gadis itu dari Zefran akan menjadi satu kebanggaan baginya.
Dr. Devan tertawa, meski Zefran telah berkeluarga, tapi tetap saja ada yang mencoba meraih cintanya. Laki-laki itu tertantang untuk mengalihkan cinta Santi seperti yang diinginkan Allena.
"Baiklah aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya darimu," ucap Devan akhirnya.
"Apa maksudmu?" tanya Zefran.
"Seperti yang diinginkan Allena, aku akan membuat Santi jatuh cinta padaku agar rumah tanggamu aman," jawab Devan.
"Apa?" tanya Zefran tak percaya namun Dr. Devan malah tertawa.
"Ya Zefran, aku akan mencoba mendekatinya," ucap Devan.
"Jadi ini sebuah rencana? Kamu ingin dia menyukaimu demi apa?" tanya Zefran.
"Tentu saja untuk melanjutkan persaingan masa lalu. Aku akan membuat seseorang yang cinta setengah mati padamu, menjadi jatuh cinta padaku," ucap Devan sambil tersenyum.
"Ya coba-coba pacaran. Kalau cocok, lanjut. Kalau tak cocok ya putus," ucap Devan.
Zefran ternganga, tak percaya dengan jalan pikiran laki-laki dihadapannya itu. Allena menjodohkan mereka bukan untuk coba-coba tapi berharap mereka benar-benar saling jatuh cinta.
"Aku penasaran, sudah berapa banyak gadis untuk proyek cinta coba-coba dalam hidupmu?" tanya Zefran heran.
Mengingat profesi dan tampang Dr. Devan, pasti banyak yang menyukainya.
"Aku sudah malas menghitungnya," jawab Devan lalu tertawa.
Zefran pun ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemungkinan dia hanya ingin coba-coba dengan istriku. Dia mungkin tidak sungguh-sungguh ingin mengejar Allena, batin Zefran.
"Tapi jika itu adalah Allena, aku tidak akan coba-coba," ucap Devan pelan setelah puas meredakan tawanya.
__ADS_1
"Apa?"
"Allena itu punya sesuatu yang sangat memikat hati. Wajahnya cantik tentu saja tapi ada yang lebih dari itu. Senyumnya, adalah senyum pemikat hati. Pasti banyak pria yang mendekatinya. Seandainya dia belum jadi istrimu, akan aku rebut dia darimu. Kita akan selamanya menjadi rival untuk memperebutkannya. Jadi waspadalah! Jika aku tahu dia kosong sebentar saja, aku akan datang untuk menaklukkannya," ucap Devan panjang lebar lalu tertawa.
"Aku tidak akan melepaskannya jadi tidak perlu berharap padanya," ungkap Zefran sambil tersenyum.
Kali ini Zefran bisa tersenyum karena setelah mendengar ucapan Dr. Devan yang menyatakan tidak akan mungkin merebut wanita yang telah menjadi memiliki sahabatnya sendiri. Mereka mengakhiri pembicaraan dengan perasaan lega. Zefran telah yakin kalau Dr. Devan tak akan menggoda istrinya selagi Allena masih terikat pernikahan dengannya.
Zefran pulang lebih cepat hari ini, hatinya tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya. Tapi saat memarkirkan mobilnya, Zefran tak melihat mobil Allena. Laki-laki itu segera meraih ponselnya. Zefran menggelengkan kepalanya karena lupa menyalakan ponselnya kembali setelah pembicaraannya dengan Dr. Devan.
Seperti yang di perkirakannya, Allena mengirim pesan kalau hari ini masuk kerja. Zefran menghela napas namun tak menyesali niatnya untuk pulang lebih cepat. Laki-laki itu melepas jas hitamnya dan menyisakan kemeja putih yang telah dikeluarkan dari balik celananya.
Dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan beberapa kancing baju yang telah dilepas. Zefran melangkah santai ke dapur. Minum air putih dingin yang diambilnya dari dalam lemari pendingin.
"Tuan sudah pulang? Apa mau dibikinkan makanan?" tanya seorang pelayan menawarkan.
Zefran yang sedang minum hanya melambaikan tangannya.
"Nyonya Allena keluar?" tanya Zefran berbasa-basi.
"Ya Tuan."
"Nyonya besar?"
"Biasa, ke organisasi apa ya?" ucap pelayan itu balik bertanya.
Zefran tertawa, laki-laki itu maklum karena ibunya mengikuti banyak organisasi wanita. Pelayan itu tidak akan sanggup mengingat jadwalnya satu persatu.
"Anak-anak?" tanya Zefran lagi.
"Biasa Tuan, sama Santi di ruang bermain," jawab pelayan itu.
Laki-laki itu naik ke lantai atas di mana anak-anaknya sedang bermain sambil belajar.
"Sulit Mom, Kak Zefran itu sangat mencintai istrinya. Semua ini salah Mommy karena telat memberitahuku tentang perjodohan itu." Terdengar pembicaraan dari dalam ruangan itu.
Zefran urung masuk ke ruangan itu. Hanya bisa terpaku mendengarkan pembicaraan Santi yang terdengar seperti sedang menelpon seseorang.
Benar apa yang dikatakan Allena, dia bukan baby sitter sungguhan. Perjodohan? Jadi benar ada perjodohan lain selain dengan Allena? Oh untung saja Mommy-nya terlambat memberitahu. Kalau dia yang datang duluan, Mommy mungkin bersedia menerima dia untuk dijadikan istriku, batin Zefran yang tak rela membayangkan dirinya menjadi suami Santi.
__ADS_1
Laki-laki itu urung masuk ke dalam ruang bermain anak-anak. Akhirnya kembali ke kamarnya, merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Apa yang diucapkan istrinya benar dan wajar jika Istrinya merasa khawatir. Zefran akhirnya memaklumi, jika Allena akhirnya memutuskan mencari cara untuk mengalihkan cinta Santi pada Dr. Devan.
...~ Bersambung ~...