
Zefran telah menetapkan tanggal resepsi pernikahan mereka. Laki-laki itu juga meminta personal assistant-nya, Patrick. Untuk mengurus segala keperluan penyelenggaraan resepsi pernikahan itu kecuali untuk dokumentasi.
Zefran telah mempercayakan Adit untuk urusan dokumentasi pernikahan mereka. Adit pun dengan senang hati menerima permintaan Zefran. Laki-laki yang sedang berada di London itu meminta waktu untuk kembali ke tanah air.
"Apa aku tidak mengganggu jadwalmu?" tanya Zefran.
"Kak, aku sudah bilang kalau untuk Kak Allena, jadwal apa pun bisa diatur ulang," jawab Adit sambil tertawa.
Mendengar itu Zefran merasa lega, laki-laki itu tinggal memberi tahu Allena kalau dia telah menjadwalkan acara resepsi pernikahan mereka.
"Kamu telah menyiapkan gaun pengantin untuk resepsi pernikahan kita sayang?" tanya Zefran pada Allena yang sedang asyik melukis sketsa design busana di beranda belakang.
Allena terlihat kaget dengan pertanyaan Zefran.
"Aku sudah menetapkan tanggal resepsi pernikahan kita. Aku juga telah menghubungi Adit. Dia bersedia bertanggung jawab untuk dokumentasinya," ucap Zefran sambil duduk di samping Allena setelah melepas jas dan dasinya.
Allena menatap suaminya itu lekat-lekat.
"Kenapa sayang? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Zefran.
"Sebenarnya tak perlu lagi mengadakan resepsi itu. Bagaimanapun juga kita telah menikah, tanpa resepsi itu pun aku tetap adalah istri Kakak," ucap Allena.
"Aku tahu, tapi aku ingin berlaku adil padamu. Aku harus mempersembahkan pesta terbaik untuk pengantinku dan aku belum melakukan itu padamu. Kita tidak punya foto prewedding, kita tidak punya foto resepsi pernikahan, juga tidak punya foto kenangan bulan madu. Kita tidak punya apa-apa yang bisa kita ceritakan pada anak-anak kita sebagai bukti kita menikah karena cinta," jawab Zefran panjang lebar.
Allena tersenyum mendengar ucapan manis suaminya. Wanita itu mengusap pipi laki-laki yang dicintainya itu. Zefran mendekat dan mencium pipi istrinya.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Zefran masih menyentuhkan bibirnya ke pipi wanita itu.
Membuat Allena kegelian, Zefran memeluk istrinya dan wanita itu meletakkan buku sketsanya di meja. Fokus membalas pelukan suaminya sambil memandang hijaunya taman belakang yang indah itu.
Zefran mengecup puncak rambut istrinya dan menempelkan pipinya di puncak kepala wanita itu. Mereka memejamkan mata sambil menikmati tiupan angin yang lembut. Mereka benar-benar tertidur sambil berpelukan di beranda itu hingga tiba-tiba Zifara berjalan mendekat dan memanggil Allena.
Allena terbangun dan langsung tertawa. Langsung menggendong putrinya yang datang membangunkannya.
"Datang-datang langsung gangguin Papa," ucap Zefran sambil meraih putrinya dari pangkuan istrinya.
"Cemburu ya Mamanya peluk Papa? Ingin dipeluk juga ya?" tanya Zefran.
Bayi empat belas bulan itu pun tertawa saat di goda ayahnya.
"Waktu foto prewedding, kita bawa anak-anak?" tanya Allena.
__ADS_1
"Ya jangan dong sayang, mana ada foto prewedding bawa anak-anak. Memangnya kita duda dan janda, yang masing-masing punya anak dan baru bertemu?" tanya Zefran lalu tertawa.
Mengingat duda, Allena ingin bertanya apakah Zefran juga ingin mengundang Zacko. Tapi wanita itu urung bertanya karena tak ingin membuat masalah baru. Sebenarnya Allena tak peduli dengan laki-laki itu.
Persiapan resepsi pernikahan telah dimulai, Patrick telah menunjuk wedding organizer yang akan mengatur terselenggaranya resepsi pernikahan atasannya yang akan dilaksanakan semeriah mungkin. Allena merasa canggung dengan pilihan konsep resepsi pernikahan yang terlihat begitu mewah.
"Kenapa sayang, bukannya wanita itu suka dengan pernikahan yang mewah?" tanya Zefran.
"Bukan begitu Kak, cuma … kita ini sebenarnya telah lama menikah dan telah memiliki dua orang anak, untuk apalagi pesta pernikahan yang meriah. Kita ini bukan pasangan yang masih muda," bisik Allena.
"Tapi kamu ini muda sayang, masih pantas untuk menjadi pengantin. Jangan pikirkan kita yang telah punya anak-anak, anggap ini pernikahan kita saat awal bertemu. Karena ini yang harusnya aku lakukan dari dulu saat aku memutuskan menikah denganmu," ucap Zefran pelan sambil menangkup wajah istrinya.
Allena pasrah, Zefran telah menyatakan perasaan menyesalnya karena tak melakukan resepsi pernikahan saat mereka menikah dulu. Dan laki-laki itu sekarang ingin membayar semuanya. Zefran sangat ingin memperkenalkan Allena pada semua orang yang kenal dengannya bahwa Allena lah istrinya yang sah sekarang ini.
Cita-cita laki-laki itu ingin menatap Allena mengenakan gaun pengantin seperti gaun para pengantin yang sesungguhnya. Bukan dengan gaun pengantin yang pestanya diadakan dengan terpaksa dan mendadak.
Zefran bahkan membeli cincin baru untuk resepsi pernikahan kali ini.
"Bukannya kita telah memiliki cincin kawin untuk apalagi Kak?" tanya Allena.
"Itu cincin yang dibeli dan dipilih oleh Mommy, sedangkan aku tidak melakukan apa pun. Sekarang aku membeli dan memilih sendiri cincin kawin yang ingin aku serahkan padamu. Kamu tetap boleh mengenakan cincin yang lama tapi setidaknya dalam hidupku aku harus membeli sendiri cincin kawin untukmu. Apa kamu tidak suka modelnya? Kita bisa ganti sesuai keinginanmu," ucap Zefran.
"Aku suka, apa pun yang Kakak pilihkan untukku," jawab Allena.
Kata-kata manis dari Allena membuat Zefran tak tahan ingin mengecup bibir wanita cantik itu.
"Apa kamu tahu, aku selalu ingin mengecupmu sampai-sampai aku takut kamu bosan dengan kelakuanku," ucap Zefran.
"Mana mungkin aku bosan, itu adalah wujud cinta Kakak padaku, aku selalu menginginkannya," jawab Allena sambil tersenyum.
"Ooh, manis sekali," Zefran kembali mengecup bibir manis istrinya.
Berdua mereka menggoda putri kesayangan mereka.
Persiapan resepsi pernikahan sudah hampir rampung. Undangan pun telah disebar. Pesta yang mengundang banyak sekali tamu itu hingga direncanakan akan dilakukan di sebuah ballroom hotel bintang lima yang paling luas.
Zefran mengundang seluruh karyawan perusahaannya tak terkecuali. Laki-laki itu ingin semua orang di perusahaannya tahu siapa istrinya sekarang ini. Zefran juga mengundang seluruh pekerja, model atau pun para designer perusahaan fashion Ny. Marilyn tak terkecuali.
Zefran tentu mengundang para sahabatnya dan juga warga perumahan di rumah mertuanya. Zefran tak ingin melewatkan satu pun orang yang kenal dengannya.
Pesta pun digelar, Allena telah siap dengan gaun pengantinnya. Allena dirias dengan sangat cantik, semua yang melihatnya menunggu di ruang rias terkagum melihat kecantikan Allena yang cantik seperti bidadari.
__ADS_1
Ucapan kagum para tamu undangan akan kecantikan pengantin wanita itu sampai hingga ke telinga Zefran, laki-laki itu tak sabar ingin melihat pengantinnya. Namun, Zefran bertahan tak ingin mengintip Allena sebelum acaranya dimulai.
"Tuan Patrick!" panggil Allena saat melihat personal assistant suaminya lewat di depan ruang rias pengantin itu.
"Nyonya? Ada perlu apa memanggil saya?" tanya Patrick.
"Maaf jika saya merepotkan, saya ingin Tuan Patrick yang membawakan cincin ini untuk suami saya," ucap Allena.
"Oh, saya?" tanya Patrick tak yakin.
Allena mengangguk sambil menyodorkan kotak berisi cincin kawin itu.
"Mau 'kan? Tuan Patrick? Jika mau, nanti berdirilah di dekat suamiku, jadilah pendampingnya," ucap Allena.
Patrick termangu, dari sekian banyak sahabat Zefran yang begitu dekat dengannya bahkan telah seperti saudara baginya, Allena justru meminta Patrick untuk menjadi pria pendamping atasannya itu.
"Apa saya pantas Nyonya?" tanya Patrick.
"Tentu Tuan pantas," jawab Allena.
"Nyonya, tolong jangan panggil saya Tuan, saya tidak pantas," ucap Patrick akhirnya.
"Baiklah kalau begitu aku panggil Kak Patrick saja, tapi Kak Patrick juga panggil aku Allena saja. Aku … tahu arti Kak Patrick bagi suamiku bukan hanya sekedar personal assistant, tapi sudah lebih seperti sahabat dan saudaranya sendiri," ucap Allena.
Patrick tersenyum sambil menunduk.
"Ya, Zefran memang sering jadikan aku sahabat dan teman curhatnya," ucap Patrick mengakui.
"Kalau begitu, Kak Patrick juga sama seperti Kakak-kakak yang lain. Jadi tolong ya pegang cincin ini, jadilah teman pendampingnya nanti. Kak Zefran pasti senang kalau Kak Patrick bersedia," ucap Allena sambil menyerahkan kotak cincin itu.
Patrick akhirnya menerima kotak cincin itu sambil tersenyum. Menurutnya Allena sama seperti Zefran, seseorang yang tidak suka membeda-bedakan orang. Patrick akhirnya bersedia memenuhi permintaan Allena. Wanita itu pun pamit kembali ke ruang rias namun langkahnya terhenti.
"Kak, nanti kalau melihat adikku Rahma, tolong suruh dia ke sini ya Kak," pinta Allena.
Patrick mengangguk, Allena pun tersenyum lalu kembali ke ruang rias. Sementara menunggu acara dimulai, di layar besar di tayangkan foto-foto prewedding Allena dan Zefran. Para tamu berdecak kagum melihat tayangan-tayangan romantis itu. Mereka seperti melihat pasangan selebriti yang ingin menikah atau sebuah cuplikan tayangan film.
Zefran tersenyum malu saat beberapa tayangan mendapat tepukan tangan karena begitu terlihat romantis. Sambil menunggu acara dimulai Zefran pun ikut melihat tayangan yang dibuat oleh sang fotografer andalan Zefran. Adit bahkan menayangkan adegan yang pernah direkamnya waktu Allena dan Zefran berciuman saat menunggu foto prewedding Frisca.
Zefran termangu menatap dirinya sendiri yang mencium Allena dengan penuh cinta. Sangat terlihat jelas laki-laki itu begitu mencintai istrinya. Tayangan romantis itu mendapat applaus yang luar biasa dari para tamu undangan. Zefran tertunduk malu namun sangat bahagia akhirnya memutuskan mengadakan resepsi pernikahan mereka yang telah tertunda selama hampir delapan tahun.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1