
Allena dan yang lain tertawa melihat tingkah kedua anak itu yang saling menyuapi roti secara berbarengan. Mereka pun langsung menyerbu makanan yang telah disiapkan Dokter Shinta. Dalam situasi seperti itu, makan bersama setelah lelah berenang, makan apa pun menjadi terasa nikmat.
Mereka makan sambil tertawa bersama. Allena juga menjanjikan seragam pengantin untuk kedua sahabatnya itu. Kayla lalu meninggalkan piring makannya lalu berjalan mengelilingi tikar piknik untuk mendekati Allena. Gadis itu memeluk Allena dari belakang.
"Terima kasih Kak," ucap Kayla dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa gadis-gadis ini begitu terharu diberi hadiah gaun pengantin oleh Allena?" tanya Altop.
"Bukan hanya gaun pengantin Kak, ucapan terima kasihku untuk segalanya. Jika Kak Allena tak menyarankan ide itu, hingga kini aku belum tentu mendapat kepastian. Menunggu itu melelahkan Kak, apalagi menunggu kepastian dari hati yang tak terlihat," sambung Kayla.
Allena mengangguk, lalu menepuk tangan yang melingkar di dadanya itu.
"Aku ikut sedih jika melihat ada yang bersedih. Aku juga ikut gembira jika kalian bahagia. Kayla, sejak kamu diajak oleh Kak Ronald beberapa kali aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari kami. Meski sebelumnya kita tak saling bicara karena kita yang masih sama-sama canggung. Acara berkumpul seperti ini memang bisa menciptakan rasa dekat di hati, kebersamaan yang dilakukan hingga berjam-jam memang menimbulkan rasa kedekatan. Untuk itu terima kasih untuk Kak Frisca yang telah mengundang kita berkumpul di sini," jelas Allena.
Mereka pun serentak berterima kasih pada Frisca. Karena serentak mereka pun tercengang lalu kembali tertawa. Allena menepuk tangan Kayla dan memintanya kembali melanjutkan makannya. Gadis itu kembali duduk di posisinya tadi di sebelah Ronald. Bersandar sejenak pada laki-laki itu lalu melanjutkan makannya.
Sorenya mereka bersiap-siap untuk pulang, Allena mengajak Keisya untuk menginap di rumahnya meninggalkan Rivaldo dan Frisca berdua saja di Villa. Memberi mereka kesempatan untuk berbulan madu berdua saja. Sesampai di rumah mereka beristirahat. Allena segera menaruh Zifara di ranjang bayinya.
Posisi Allena saat menaruh bayi itu selalu menjadi favorit Zefran. Laki-laki itu segera memeluk istrinya dari belakang.
"Kamu luar biasa sayang, aku tak menyangka pelayan Night Club yang aku nikahi dulu ternyata wanita yang spesial," bisik Zefran.
Allena membalik badannya menghadap ke arah suaminya.
"Kenapa Kakak pikir begitu?" tanya Allena.
"Karena kamu menyelesaikan masalah dalam kelompok persaudaraan kami," jawab Zefran.
"Mana mungkin aku bisa menyelesaikan masalah? Aku hanya ingin membantu apa yang ingin mereka wujudkan. Apalagi Kayla curhat padaku, aku hanya memberi sedikit ide," jawab Allena sambil tertawa kecil.
"Meski kamu tidak terima tetap saja bagiku kamu wanita yang spesial," ucap Zefran.
"Kalau itu aku mau, aku mau menjadi spesial bagimu. Tentu saja aku ingin menjadi yang spesial bagi Kakak, aku justru sedih jika Kakak menganggap wanita lain yang spesial," ucap Allena.
"Aku tak mungkin lakukan itu, ada wanita luar biasa di sisiku, bagaimana aku bisa menganggap wanita lain itu spesial?" tanya Zefran.
"Kalau aku tidak luar biasa lagi, Kakak akan mencari wanita lain yang lebih spesial?" tanya Allena.
"Tidak akan, aku mencintaimu apa adanya. Seperti apa pun dirimu," bisik Zefran sambil membenamkan bibirnya ke dalam bibir wanita yang dicintainya itu.
Allena membalas ciuman manis suaminya dan melingkarkan tangannya di punggung laki-laki itu. Zefran merasakan sentuhan Allena, membuat laki-laki itu tak bisa menahan diri. Segera Zefran merebahkan istrinya di ranjang. Mencium leher wanita itu sambil melepas satu persatu kancing blouse wanita itu.
Namun baru beberapa kancing itu terlepas, suara ketukan pintu terdengar. Tak cukup hanya suara ketukan, terdengar suara anak-anak kecil yang memanggil. Allena tersenyum pada suaminya, Zefran terkulai di dada istrinya, Allena tertawa.
Tak lama kemudian Zefran membukakan pintu. Terlihat dua anak itu telah berdiri di depan pintu.
"Ada apa sayang?" tanya Zefran.
"Zeno mau bobok sama Mama dan Papa," ucap Zefano dengan tatapan yang memelas.
Zefran tersenyum dan mempersilakan anak-anak itu masuk. Zefano langsung berlari naik ke atas ranjang namun Keisya hanya diam di depan pintu sambil mendongakkan kepalanya menatap Zefran. Laki-laki itu tersenyum.
"Keisya kenapa diam di situ? Ayo masuk sayang," ajak Zefran.
Mendengar ucapan Zefran, Keisya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar. Allena yang duduk di atas ranjang langsung membentang tangannya. Keisya langsung menghambur ke dalam pelukannya. Zefran tersenyum pada Allena dan ikut naik ke atas ranjang.
Mereka tidur berempat, Keisya memeluk Allena dan Zefano memeluk Zefran.
"Tak biasanya mereka minta tidur bareng begini," ucap Zefran dengan suara pelan.
__ADS_1
"Mungkin karena habis jalan-jalan Kak, pikiran mereka masih berkecamuk dengan suasana di Villa, jadi mereka susah tidur," jawab Allena hampir berbisik.
"Tapi sekarang aku yang susah tidur," ucap Zefran berbisik agak mendekat Allena.
Wanita itu tersenyum, Allena memiringkan tubuhnya menatap suaminya. Zefran pun memiringkan tubuhnya menatap istrinya. Mereka hanya bisa saling bertatapan, terpisah oleh Zefano dan Keisya yang tidur di antara mereka. Zefran tersenyum dan memejamkan matanya. Begitu juga dengan Allena.
Wanita itu sudah berada antara lelap dan tidak, membuka matanya dan menoleh pada suaminya yang telah berada di belakangnya. Zefran membangunkan Allena dengan mengecup belakang leher wanita itu.
"Aku masih tak bisa tidur," bisik Zefran.
Allena otomatis menoleh pada Keisya yang telah tidur nyenyak di sampingnya. Perlahan wanita itu bangun dan turun dari ranjang. Zefran mengajak istrinya ke kamar lain. Begitu masuk kamar laki-laki itu langsung menghempaskan istrinya ke ranjang.
Dalam waktu singkat telah melepas semua yang melekat di tubuh mereka. Zefran memeluk istrinya dan membenamkan bibirnya ke bibir manis beraroma vanilla itu. Desah nafas pelan terdengar, namun akhirnya menjadi lenguhan yang panjang.
"Terima kasih sayang," bisik Zefran di antara deru nafasnya yang masih terengah-engah.
Laki-laki itu berbaring di samping Allena, dengan cepat tangannya menarik tubuh wanita yang dicintainya itu dan memeluknya. Zefran tak bisa tidur tanpa memeluk tubuh orang terkasihnya itu. Sekejap saja mereka telah tertidur lelap.
Keesokan harinya, mereka masih menikmati hari libur. Allena duduk di beranda belakang rumah sambil menatap Keisya dan Zefano yang berlarian di antara pohon buah-buahan.
"Sebagian impian Mommy menjadi nyata," ucap Mahlika sambil duduk di samping Allena.
"Apa itu Mommy," tanya Allena.
"Menatap cucu yang berlarian di antara pohon buah-buahan itu," jawab Mahlika.
"Cuma sebagian? Lalu sebagiannya lagi apa Mommy?" tanya Allena.
"Menatap Daddy yang semangat memetik buah yang mereka inginkan. Mommy berkhayal anak-anak itu dengan suaranya yang ramai menunjuk buah-buah matang sambil melompat-lompat menunjuk buah yang mereka inginkan," tutur Mahlika.
"Karena itu Mommy menanam macam-macam pohon buah-buahan di taman belakang ini?" tanya Allena.
Allena mengusap lengan ibu mertuanya yang tiba-tiba menjadi murung.
"Khayalan kami terlalu jauh, Daddy menanam pohon-pohon itu beberapa tahun setelah kami menikah. Tapi saat melihat Zefran yang berlarian di antara pohon-pohon yang baru ditanam itu, khayalan kami sudah terbang jauh hingga sampai ke cucu," ucap Mahlika sambil tertawa kecil.
Sedih bercampur senang menceritakan itu pada Allena. Sedih karena tak bisa menikmati kebahagiaan memiliki cucu bersama suaminya dan senang karena khayalannya menatap cucu yang berlarian di taman itu bisa terwujud.
Ny. Mahlika menoleh pada Allena yang ikut menatap Zefano dan Keisya yang sedang asyik berkejar-kejaran di antara pohon buah-buahan itu. Nyonya itu mengusap lengan Allena membuat wanita langsung kembali menoleh pada ibu mertuanya.
"Terima kasih Allena, telah mewujudkan sebagian khayalanku itu," ucap Mahlika sambil menatap Zefano lalu beralih pada Zifara.
"Ini bukan karena aku sendiri Mommy, ini kuasa Tuhan yang memberiku kepercayaan melahirkan anak-anak ini," ucap Allena.
Ny. Mahlika mengangguk.
"Tapi jika tidak ada niat memilikinya bagaimana bisa terwujud? Kamu bersedia memenuhi keinginan kami memiliki keturunan darimu dan Tuhan merestuinya maka semua terwujud. Frisca diam-diam tak ingin memenuhi keinginan kami dan Tuhan pun merestui, maka tak terwujud. Semua itu tergantung niat juga, karena itu Mommy berterima kasih padamu karena bersedia memenuhi keinginan kami memiliki keturunan darimu," ucap Mahlika sambil mencubit kecil dagu Allena.
Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk.
Tak lama kemudian Zefran datang dan langsung merebut Zifara dari pangkuan Allena lalu di samping wanita cantik itu.
"Sini sama Papa, tuan putri Papa yang cantik," ucap Zefran sambil mengangkat putrinya hingga bayi itu seolah berdiri di atas pahanya.
Ny. Mahlika dan Allena tersenyum melihat pemandangan ayah dan bayinya itu. Terlihat Zefran memang sangat menyukai anak kecil. Kesempatan santai itu digunakan Allena untuk memberitahukan kalau dirinya berencana untuk ke Paris. Mengikuti event di sebuah majalah mode internasional.
"Rancanganku telah ku kirimkan dan mereka menyetujui. Aku berencana berangkat ke Paris minggu depan Kak. Bersama asisten-ku dan juga modelku. Apa aku boleh berangkat Kak? Mommy?" tanya Allena meminta izin.
"Kalau Mommy mengizinkan saja, apa pun demi kesuksesanmu akan Mommy dukung," jawab Mahlika langsung.
__ADS_1
Berbeda dengan Zefran, laki-laki itu sudah tahu kalau hari itu akan terjadi. Allena akan meminta izin untuk berangkat ke Paris dan meninggalkannya. Semua itu sudah direlakan oleh Zefran kecuali satu. Keberangkatan Allena bersama model tampan itu.
Meski telah sempat berbincang dan mencoba percaya kalau perasaan Robert Daniel dan Allena hanya sebatas teman tapi tetap saja membuat laki-laki itu khawatir.
Manusia bisa berubah, dia juga manusia, bisa saja dalam perjalanan kali ini timbul rasa cinta di antara mereka, batin Zefran.
Allena mengusap lengan suaminya karena laki-laki itu belum memberikan jawabannya. Zefran menoleh dan menatap wajah Allena.
Kalau boleh tidak mengizinkan aku pilih tidak mengizinkan. Tapi kamu pasti merasa sedih dan Mommy pasti menyalahkanku yang tidak mendukung karirmu, batin Zefran.
Laki-laki itu akhirnya mengangguk, tak berminat menyatakan dukungannya. Karena dalam hatinya sama sekali tak mendukung istri yang dicintainya itu bepergian bersama pria tampan lain.
Allena bahagia meski tahu suaminya tak rela. Namun anggukan dari suaminya itu sudah cukup membuatnya bahagia. Dan untuk menunjukkan itu Allena mencium pipi suaminya. Allena tak biasa menampilkan adegan mesra di depan orang jika bukan Zefran yang melakukan dia tak akan berani berinisiatif sendiri.
Namun kali ini demi menunjukkan rasa bahagianya, Allena berani mencium suaminya di depan mertuanya. Hal itu juga terasa aneh bagi Zefran namun justru sangat terasa baginya kebahagiaan Allena karena mendapatkan izin darinya.
Ny. Mahlika hanya tersenyum melihat kemesraan putra dan menantunya itu. Namun dalam hati sangat bahagia melihat kemesraan anak-anaknya itu.
"Bagaimana dengan Zifara?" tanya Mahlika.
"Terpaksa ikut denganku Mommy, kami mungkin lebih dari seminggu di sana. Bagaimana dengan ASI-nya?" tanya Allena.
"Kalau menurut Mommy, Zara di tinggal saja, biar Santi yang mengurusnya, mengenai ASI-nya dia bisa mencoba susu formula. Zara udah cukup gede kan sayang? Sebentar lagi juga sudah boleh makan makanan pendamping ASI. Jika bawa Zara nanti kamu tidak fokus bekerja. Daripada bekerja setengah-setengah, hasilnya pun dapat setengah. Lebih baik bekerja full hingga hasilnya bagus dan kamu tidak sia-sia meninggalkan suami dan anakmu," ucap Mahlika memberi nasehat.
Allena menoleh pada suaminya.
"Semua terserah padamu, kalau ikut ucapan Mommy ayok, ikut pendapatmu sendiri, ok," jawab Zefran.
Allena terdiam bingung, sebenarnya dia telah bersiap-siap untuk segala keperluan Zifara karena tak mungkin baginya meninggalkan Zifara yang akan merepotkan orang-orang di rumah. Namun apa yang diucapkan Ny. Mahlika juga benar, jika membawa bayi, Allena mungkin tidak akan fokus bekerja.
Ny. Mahlika melihat keraguan itu, terlihat setuju dengan usulan ini namun tak berani meminta bantuannya.
"Mommy akan full jaga Zara bersama Santi di rumah. Mommy janji tak akan keluar rumah sekejap pun untuk kegiatan apa pun selain mengawasi Santi mengasuh Zara," ucap Mahlika meyakinkan wanita itu agar tak lagi ragu-ragu.
"Tapi itu akan merepotkan Mommy, aku jadi tidak enak hati Mommy," ucap Allena pelan.
"Jangan pikirkan itu, Mommy dengan senang hati melakukannya kok. Bahkan bahagia bisa main bersama Zara seharian," ucap Mahlika.
"Sungguh Mommy, Mommy nggak merasa keberatan?" tanya Allena.
"Sungguh, demi kesuksesan putri Mommy. Mommy akan senang melakukannya," ucap Mahlika mengangguk untuk lebih meyakinkan hati Allena.
Wanita itu kembali menoleh pada suaminya, laki-laki itu hanya tersenyum. Dalam hatinya berkata terserahlah, aku pasrah. Dan muncul di wajahnya dalam bentuk senyuman setengah ikhlas.
"Kamu telah memberikan segalanya bagi Mommy. Kebahagiaan bagi keluarga ini. Giliran Mommy memberi sedikit kebahagiaan untukmu. Mommy juga ingin membalasnya. Jadi jangan ragu-ragu, Mommy bahagia bisa menjaga putrimu," ucap Mahlika lagi.
"Tidak akan merepotkan Mommy?" tanya Allena.
"Repot yang menyenangkan, kamu juga pasti merasa begitu 'kan? Menjaga bayi itu merepotkan tapi membahagiakan," ucap Mahlika sambil tersenyum.
Allena mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk Ny. Mahlika.
"Terima kasih Mommy," ucap Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
Allena tak menyangka akan merasakan kasih sayang begitu besar dari Nyonya kaya itu. Dulu merasa pernikahannya hanya untuk melengkapi kebahagiaan keluarga itu. Allena merasa Ny. Mahlika tak akan pernah menganggap dirinya menantu yang sebenarnya.
Namun itu pemikiran Allena yang salah, Ny. Mahlika sungguh-sungguh mengharapkan Allena sebagai menantunya. Namun, masalah yang timbul dalam keluarga itu membuat Ny. Mahlika tak bisa menunjukkan rasa sayangnya pada menantunya itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1