
Zifara tengah bersiap-siap untuk menjadi model pakaian bayi lagi. Bayi kecil yang telah lincah berjalan itu terlihat bahagia dengan gaun yang cantik namun terasa nyaman baginya. Berjalan kian kemari di arena bermain yang penuh warna-warni. Allena tersenyum melihat tingkah lucu anak yang asyik bermain sendiri itu. Beberapa fotografer siap dengan kameranya dari berbagai arah dan semua tertuju pada bayi kecil yang cantik itu.
Acara peragaan busana telah di mulai namun Dr. Devan belum menampakkan puncak hidungnya. Sebentar-sebentar Allena melirik jam tangannya. Padahal tadi malam Allena telah meminta bantuan Ny. Marilyn untuk mendatangkan Dr. Devan dan laki-laki itu pun menyanggupinya. Namun, acara telah mulai sejak sepuluh menit yang lalu, Dr. Devan masih belum terlihat. Dr. Shintya hanya bisa tersenyum kecut melihat kegelisahan Allena.
"Mungkin dia tak mau lagi menemuiku. Aku terlalu lama tak memberi jawaban padanya," ungkap Shintya.
"Apa? Apa … maksudnya?" tanya Allena.
"Malam itu, saat dia datang ke rumah dan meminta aku jadi pasangannya di pesta pernikahan Rahma. Aku meminta waktu untuk menjawab, dia meminta aku memberi jawaban keesokan harinya tapi aku yang masih plin plan ... tak kunjung memberinya jawaban," tutur Shintya.
Allena mengangguk, akhirnya mengerti. Harapannya untuk menjodohkan kedua dokter itu gagal. Namun setidaknya, Shintya telah berjanji tak akan meneruskan masalah perjodohannya lagi dengan suaminya.
"Baiklah, jika seperti itu keadaannya. Mungkin memang bukan jodoh," ucap Allena sambil tertunduk.
Tiba-tiba muncul sebuah buket bunga mawar merah di hadapan Shintya. Gadis itu langsung menoleh ke samping. Allena yang melihatnya langsung tersenyum.
"Maaf aku terlambat," ucap Devan sambil tersenyum dari samping belakang Shintya.
Gadis itu terharu, dan langsung menerima buket bunga cantik itu. Dengan sigap Allena mengkode seorang fotografer untuk menangkap momen romantis itu. Terlihat dokter tampan itu memberikan alasan keterlambatannya. Dr. Shintya mengangguk sambil tersenyum lalu menunduk mencium bunga mawar dalam buket bunga di pelukannya itu.
Allena pura-pura tak melihat dan hanya sibuk memperhatikan putrinya. Tak lama kemudian fotografer meminta Allena untuk mengganti pakaian yang dikenakan Zifara dengan gaun bayi yang akan dipromosikan lainnya. Allena sibuk mengganti baju Zifara. Dr. Shintya pun datang untuk membantu.
"Sudah biar aku saja, kamu jangan tinggalkan Dr. Devan nanti disambar orang lho," ucap Allena sambil tersenyum.
Dr. Shintya pun tersenyum dengan wajah bersemu merah. Allena telah menyuruhnya pergi tapi Dr. Shintya tetap di tempatnya. Allena terpaksa mengenakan gaun Zifara dengan lebih cepat agar Dr. Shintya segera kembali ke sisi Dr. Devan.
"Aku sudah menerimanya!" ungkap Shintya akhirnya.
"Ya?" tanya Allena pura-pura tak mengerti.
"Aku sudah menerima untuk menjadi pasangannya di pesta pernikahan Rahma. Apa menurutmu, kami akan baik-baik saja?" tanya Shintya.
Gadis ini terlihat seperti pemberani tapi sepertinya penakut juga. Dia berani datang dan menyamar di rumah kami tapi dalam hubungan laki-laki dan perempuan dia seperti sangat lugu. Dia pasti tak pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya, batin Allena.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tapi aku hanya bisa berusaha mempertahankan apa yang aku sayangi. Berusaha menggapai apa yang aku inginkan dan menghargai apa yang aku miliki. Jika sudah seperti itu masih tak berhasil aku tak bisa apa-apa lagi, mungkin hanya bisa pasrah. Tapi setidaknya aku tak merasa takut dan tidak akan merasa menyesal karena aku telah berusaha melakukan yang terbaik," jelas Allena.
Dr. Shintya mengangguk lalu tersenyum. Gadis itu pun melangkah mendekati Dr. Devan yang menunggunya sambil tersenyum.
Gadis itu masih gamang dengan hubungan baru. Selama ini hanya fokus menyukai Kak Zefran. Mudah-mudahan hatinya bisa menetap pada Dr. Devan, begitu juga sebaliknya, batin Allena.
Allena kembali melepaskan Zifara di arena bermain itu. Kali ini Zifara mengenakan gaun berwarna putih. Sesekali Zifara mendekati Allena mengajaknya bermain bersama.
"Sepertinya dia mulai bosan main sendiri Kak," ucap seorang fotografer.
__ADS_1
"Aduh bagaimana ini? Biasanya betah main berlama-lama," ucap Allena.
"Mungkin waktu dulu itu ramai anak-anak jadi dia juga merasa ada teman bermain," ucap fotografer itu.
Mereka tak bisa memaksakan Zifara untuk tetap bermain jika mulai bosan. Kembali Zifara menarik ibunya untuk masuk ke arena bermain.
"Sepertinya dia masih ingin bermain tapi tak mau sendiri," ucap fotografer lainnya.
"Bagaimana kalau di temani ibu dan bapaknya. Jadi terkesan seperti keluarga kecil yang sedang bermain bersama," ucap fotografer lainnya.
"Aku? Ikut ke sana?" tanya Allena langsung tak percaya diri.
Melambaikan kedua tangannya untuk menolak.
"Bukannya Kak Allena pernah jadi model gaun pengantin," ucap fotografer itu.
"Itu karena terpaksa, fotografer-nya habis-habisan mengarahkan gayaku. Janganlah, hanya akan merepotkan saja. Lagipula tak ada bapaknya untuk konsep keluarga kecil itu," jelas Allena.
"Itu, tuan tampan itu. Bukannya Kak Allena kenal dia?" tanya fotografer itu.
"Oh itu? Dia keponakan Mommy Marilyn, tapi … bagaimana kalau tuan itu dan nona disampingnya itu saja yang jadi keluarga kecilnya?" tanya Allena.
Fotografer itu mengangguk, melihat itu segera Allena menemui kedua orang yang sedang asyik berbincang-bincang itu. Allena menjelaskan situasinya. Awalnya Dr. Devan menolak tapi Allena memohon.
"Tak usah melihat kamera, cukup menemani Zifara bermain saja," pinta Allena.
"Ayolah!" mohon Allena.
Terlihat kembali Zifara yang melangkah ke arah mereka. Allena segera mendorong Dr. Shintya ke dalam arena bermain. Begitu juga Dr. Devan, karena masih ragu-ragu akhirnya Allena juga mendorong dokter tampan itu ke dalam arena bermain. Benar saja, saat ada yang menemaninya bermain Zifara kembali asyik bermain di sana.
Sebuah pemandangan yang indah, ibu, ayah dan bayi tertangkap dalam kamera fotografer.
"Apa Ny. Marilyn akan setuju? Jika kedua orang itu termasuk di dalamnya?" tanya Allena.
"Kami sudah mendapat beberapa foto untuk di ajukan. Jika yang ini lolos akan lebih bagus," ucap fotografer itu.
"Oh syukurlah," ucap Allena.
Allena pun mengganti baju lain yang akan diperagakan oleh Zifara. Sementara menunggu, terlihat Dr. Shintya dan Dr. Devan yang akrab berbincang-bincang. Semakin lama semakin akrab hingga cenderung mesra. Allena tersenyum melihat perkembangan hubungan mereka yang cukup pesat.
Zifara dapat menyelesaikan pemotretan dengan beberapa gaun untuk dipromosikan. Allena sangat bahagia semua rencananya berjalan dengan lancar. Zifara berhasil, perjodohan Dr. Shintya dan Dr. Devan pun berhasil.
"Putrimu hebat ya. Cantik, fotogenik dan lucu," ucap Devan sambil mencubit lembut pipi halus Zifara.
__ADS_1
"Maaf anda siapa ya?" ucap Allena dengan wajah sok serius.
Dr. Devan langsung tertawa. "Maaf dari tadi aku tidak menyapamu. Aku lihat kamu begitu sibuk, aku jadi lupa menyapa dan mengabaikanmu. Jangan marah ya, apa kamu cemburu sayang?" tanya Devan.
"Excuse me?" tanya Allena seperti salah dengar.
Dr. Devan tertawa, Dr. Shintya pun datang menghampiri mereka. Gadis itu ingin membantu Allena menggendong Zifara. Namun Allena menolaknya karena melihat Dr. Shintya juga sedang menggendong buket bunga besar.
"Tidak usah Shintya, kenapa sih masih ingin berperan sebagai baby sitter?" tanya Allena.
"Mungkin sudah terbiasa?" jawab Shintya sambil tersenyum.
"Sudah cukup, tugasmu sudah selesai. Mulai sekarang kamu dipecat," ucap Allena yang membuat Dr. Devan tertawa.
Dokter tampan itu tertawa karena ucapan Allena. Wanita itu telah tahu kalau Dr. Shintya bukan seorang baby sitter dan sekarang wanita itu dengan tegas memecatnya. Hal yang perlu diucapkan Allena karena Dr. Shintya tak sungguh-sungguh seorang baby sitter.
"Aku harus lebih tegas dokter, jika tidak Dr. Shintya tetap merasa harus menjaga putriku," jelas Allena untuk menghentikan tawa Dr. Devan.
Dr. Devan pun meredakan tawanya, lalu meraih Zifara.
"Kalau aku menggendongnya apa jadi baby sitter juga?" tanya Devan.
"Ya, tapi akan segera aku pecat. Aku tak sanggup membayar baby sitter lulusan fakultas kedokteran," jawab Allena.
Kembali Dr. Devan tertawa begitu juga Dr. Shintya. Dr. Devan melirik pada Dr. Shintya.
"Jika aku tahu dia juga seorang dokter, aku tidak akan menerimanya. Tapi anggap saja ini sebuah jalan untuk mempertemukan kalian," ucap Allena.
Semua tersenyum, mereka menyelesaikan hari dengan sempurna. Semua berjalan dengan lancar. Allena dengan semua rencana-rencananya. Setelah selesai mereka pun bersiap-siap pulang ke rumah.
"Apa tidak ikut dengan Dr. Devan?" tanya Allena karena melihat Dr. Shintya melangkah bersamanya.
"Ya, aku akan pulang bersamamu," jawab Shintya.
"Tak ingin lebih lama dengan Dr. Devan?" tanya Allena sambil tersenyum yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Dr. Shintya.
"Dia akan kembali ke rumah sakit," jawab Shintya yang dibalas dengan anggukan oleh Allena.
Mereka masuk ke mobil, Zifara digendong oleh Dr. Shintya. Allena hendak membantu Dr. Shintya dan Zifara mengenakan seat belt.
"Aku rasa dia masih menyukaimu," ucap Shintya pelan nyaris tak terdengar.
"Apa?" tanya Allena saking tak percaya.
__ADS_1
Allena tertegun, bahkan terhenti memasang seat belt. Allena menyesal mengucapkan itu, begitu pelannya suara Dr. Shintya hingga dia harusnya bisa berpura-pura tak mendengar. Kini dia bingung harus menjawab atau berkomentar apa. Meski tak yakin Dr. Devan sungguh-sungguh menyukainya. Tapi tingkah dan ucapan Dr. Devan di masa lalu memang mengisyaratkan seperti itu.
...~ Bersambung ~...