Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 55 ~ Zeno adalah Zefano ~


__ADS_3

~ Kalau suka ingkar janji nanti akan ditinggal orang ~


Ucapan Zefano berkali-kali terngiang di telinga Allena membuat tangan gadis itu gemetar dan sulit memasukkan kunci mobil hingga terjatuh beberapa kali.


Jangan tinggalkan Mama nak, Mama minta maaf, Mama tidak menepati janji mempertemukan kalian, tolong beri Mama kesempatan, batin Allena.


Gadis itu menangis hingga tak mampu mengemudikan mobilnya dan memutuskan menelpon Valendino. Tak lama kemudian laki-laki itu datang dan mengetuk kaca mobil. Allena bangun dengan wajah yang bersimbah air mata.


Valendino mengantar Allena ke rumah sakit. Dokter menyatakan Zefano menderita leukemia kronis yaitu Acute Myeloid Leukemia atau AML. Dokter menyarankan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dari donor yang secara DNA paling mirip.


"Risiko untuk relapse atau kambuhnya leukemia diyakini sangat kecil bagi pasien yang sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakang," jelas dokter itu.


DNA yang paling mirip adalah saudara sekandung. Namun, Zefano tidak memiliki saudara maka donor sumsum tulang dari orang tuanya adalah yang paling mungkin. Selain itu Zefano juga bisa mendapat donor sumsum tulang dari pendonor asing namun peluang kecocokannya hanya satu di antara jutaan orang.


Allena sebagai orang tua yang dinyatakan bisa sebagai kandidat pendonor dengan cepat mengajukan diri. Allena pun melakukan proses pengambilan sampel sumsum tulang sebagai pendonor sehat yang disebut dengan harvesting


Jarum dimasukkan melalui kulit Allena hingga ke dalam tulang untuk mengambil sumsum tulangnya. Seluruh proses memakan waktu sekitar satu jam dan Allena diberi anestesi.


Namun, setelah melakukan tes didapati Allena dalam keadaan hamil. Sementara salah satu syarat donor sumsum tulang adalah tidak sedang hamil. Gadis itu langsung histeris, Allena yang merasa menjadi satu-satunya orang yang bisa menjadi pendonor justru tidak memenuhi syarat.


"Kamu harus menceritakan situasi ini pada Zefran. Satu-satunya harapan untuk menolong Zeno hanyalah ayahnya sendiri," usul Valendino.


"Bagaimana mungkin meminta bantuannya Kak, dia saja tidak mengakui Zeno sebagai anaknya. Dia meyakini DNA nya berbeda dengan Zeno bagaimana bisa menjadi pendonor?" jawab Allena yang menangis terisak-isak.


"Jika kamu teguh menyatakan Zeno adalah anaknya mungkin dia bersedia tes DNA ulang," ucap Valendino.


"Aku tak sanggup Kak, mendengar mereka menyebut Zeno adalah anak haram aku tak sanggup lagi Kak. Semua karena bayi ini, aku tidak bisa menolong Zeno karena bayi ini," ucap Allena menangis sambil memukul perutnya sendiri.


"ALLENA, APA YANG KAMU LAKUKAN?" teriak Vina.


Valendino yang tak menyangka Allena akan berbuat seperti itu hanya bisa terpaku, mematung memandang gadis yang tengah menyakiti dirinya sendiri.


"Apa dosa anak itu hingga kamu menyalahkannya. Dia anakmu juga, darah dagingmu juga. Kamu pikir Zeno akan senang jika kamu memukuli adiknya karena dirinya," teriak Vina.


Allena tersadar mendengar ucapan ibunya, satu-satunya yang bisa dilakukannya hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis hingga tubuhnya berguncang. Bu Vina langsung memeluk putrinya.


Sekian lama menangis akhirnya Allena diam bersandar pada ibunya. Tatapannya kosong, mengingat ucapan dokter yang menyarankannya segera mencari donor sumsum tulang belakang.


Sementara menunggu donor yang cocok, Zefano harus melanjutkan kemoterapi dengan dosis tinggi untuk menghancurkan sel sumsum tulang dan sel kanker yang ada serta melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi risiko penolakan sel transplantasi.


"Aku akan menyebarkan pengumuman, bagi siapa yang bersedia menyumbangkan sumsum tulang yang cocok dengan Zeno. Aku akan memberikan hadiah milyaran atau berapa pun yang dia inginkan," ucap Allena langsung bangun.


"Apa? Itu gila, akan banyak orang yang tergiur mencobanya," ucap Valendino.


"Justru itu, banyak yang mencoba akan lebih banyak peluang. Mungkin ada salah satu dari mereka yang memiliki kecocokan sumsum tulang dengan Zeno. Semakin banyak yang memeriksakan diri akan semakin banyak kesempatan untuk menemukan sumsum tulang yang cocok Kak," ucap Allena nekat.


Allena segera menghubungi Assistant-nya dan meminta menyebarkan pengumuman. Dia tidak ingin tinggal diam dan lebih lama lagi melihat Zefano menderita.


"Aku akan menemanimu menemui Zefran jika kamu tidak percaya diri menghadapinya," ucap Valendino membujuk.


Kak Valen tidak tahu, mereka menolak mengakui anakku justru karena kedekatan kita. Mereka hanya akan menertawakan usaha Kakak membujuk Kak Zefran. Kak Valen juga akan dihina nanti, jerit hati Allena.


Gadis itu nekat menyebarkan pengumuman tentang pencarian sumsum tulang yang cocok untuk Zefano. Seperti yang diucapkan Valendino, dengan nominal yang menggiurkan itu begitu banyak orang yang mencoba melakukan pengambilan sampel sumsum tulang dan Allena membayar usaha mereka yang datang untuk mencoba.


Namun begitu banyak calon pendonor yang datang namun tak ada satu pun yang cocok dengan Zefano. Gadis itu masih menemani orang yang akan diambil sampel sumsum tulangnya.


"CUKUP ALLENA, CUKUP.., sampai kapan kamu akan seperti ini. Sekarang ikut denganku menemui Zefran," teriak Valendino menarik tangan Allena.

__ADS_1


Gadis itu menghentakkan tangannya hingga terlepas.


"Kakak pikir cuma sekali aku mencoba meyakinkan mereka kalau Zeno adalah anaknya? Kakak pikir cuma sekali ini dia meragukan kesetiaanku. Dia menuduhku tidur denganmu. Apa kakak tahu itu? Laki-laki yang aku cintai menuduhku tidur dengan sahabatnya sendiri dan menuduhku melahirkan anak hasil perselingkuhan, apa kakak tahu bagaimana rasanya itu?" tanya Allena sambil menghapus dengan kasar air matanya yang mengalir deras.


Valendino termangu, Zefran memang pernah menuduhnya seperti itu tapi tidak pernah menyangka kalau tuduhan Zefran adalah sungguh-sungguh. Valendino tidak menyangka Zefran berpisah dengan Allena juga berkaitan dengan dirinya.


"Aku bertekad tidak akan membiarkan mereka bertemu dengan anakku. Karena sakit hati aku bertekad tidak akan membiarkan mereka mengenal keturunannya sendiri!" teriak Allena.


"Karena sakit hati kamu tega melihat anakmu menderita. LIHAT ZENO, LIHAT.., dia terbaring lemah dan semakin lemah. Kita harus segera mencari donor yang tepat untuknya! Kita harus segera menemui Zefran. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya, kita temui dia sekarang atau kita bisa terlambat Allena," teriak Valendino sambil menarik tangan Allena dan membawanya mendekati ranjang Zefano.


Allena menangis menatap anaknya yang terbaring sambil memejamkan mata. Wajah anak itu semakin terlihat tirus, matanya cekung, rambutnya semakin menipis. Badannya kurus, bibirnya kering dan pucat.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi ada donor yang cocok denganmu," bisik Allena sambil membelai rambut Zefano.


"KAMU SUDAH GILA," teriak Valendino tidak tahan melihat sikap Allena.


Gadis itu menatap wajah anaknya dengan tatapan sayu. Merasa stress saat melihat rambut Zefano yang terselip di jari-jarinya. Setiap kali Allena membelai rambut anak itu, Allena mendapati segumpal rambut menempel di jarinya.


Setelah itu dia akan menangis sambil tersenyum namun terkadang tertawa lalu menangis. Bu Vina dan Rahma berusaha membujuk gadis itu. Allena akhirnya terduduk di kursi samping ranjang pasien sambil menggenggam tangan anaknya.


Zeno tidak akan meninggalkan Mama kan? Meski Mama orang yang suka ingkar janji tapi Zeno tidak akan meninggalkan Mama kan? Ya kan? bisik hati Allena.


Valendino yang tak sanggup lagi menatap Zefano akhirnya memilih duduk di bangku taman dan menangis tertunduk sambil menarik kasar rambutnya. Dokter Shinta yang kebetulan lewat di pinggir taman melihat Valendino. Gadis itu langsung menghampiri dan bertanya.


"Valen, kenapa? Ada apa?" tanya Shinta heran melihat Valendino yang menunduk menangis.


Valendino mengangkat wajahnya menatap Dokter Shinta. Laki-laki itu langsung memeluk dokter cantik yang telah menjadi kekasihnya itu.


"Zeno, kondisinya semakin memburuk, aku takut dia tidak bisa bertahan," ucap Valendino terisak.


"Apa maksudmu? Kenapa kondisi Zeno memburuk? Bukankah dia telah sembuh? Bukankah kita merayakan kesembuhannya waktu itu?" tanya Shinta dengan nada yang semakin tinggi.


"Leukimianya kambuh, dokter bilang dia harus mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang tapi dia tidak mendapatkan donornya," jelas Valendino sambil tertunduk melepaskan pelukannya.


"Tidak ada pendonor? Kenapa? Bukankah dia masih memiliki orang tua? Ayahnya oh tidak, dia bilang dia tidak memiliki ayah sejak kecil. Tapi dia masih memiliki ibunya. Lalu kenapa tidak melakukan pencangkokan sumsum tulang itu?" tanya Shinta panik.


"Ibunya sedang dalam keadaan hamil. Dokter tidak bisa menjadikannya pendonor," jawab Valendino.


"Hamil? Bagaimana bisa? Bukannya ayah Zeno telah tiada?" tanya Shinta heran.


"Ayah Zeno masih hidup tapi dia tidak mengakui anaknya. Ayah Zeno tidak mengakui anak itu karena hasil tes DNA-nya yang negatif. Satu-satunya yang kami lakukan sekarang hanyalah mencari pendonor asing yang sumsum tulangnya cocok dengan Zeno. Sekarang kondisinya bertambah parah aku tidak sanggup menyaksikannya" jelas Valendino sambil meneteskan air mata.


"Kenapa tidak memberitahuku? Kenapa tidak secepat memberitahuku. Aku juga sayang sama Zeno. Aku juga ingin berada di dekatnya," teriak Shinta menangis lalu berlari mencari ruang rawat inap Zefano.


Valendino berjalan mengikuti, Dokter itu bertanya pada suster jaga di mana ruangan Zefano. Valendino langsung memberitahunya. Dokter Shinta kembali berlari mencari nomor kamar yang disebutkan Valendino.


Segera gadis itu masuk dan memanggil nama Zeno. Allena yang duduk tertunduk di samping ranjang itu langsung mengangkat wajahnya dan berdiri menatap Dokter Shinta.


Dokter Shinta terpaku menatap wajah yang tak pernah dilupakannya itu. Dokter itu menitikkan air mata saat mengingat seorang gadis yang berjalan sambil menggendong bayinya enam tahun yang lalu.


Gadis yang berjalan sedih mengikuti Zefran dan Frisca yang melangkah di depannya. Dokter Shinta yang bersembunyi di balik tiang menatap lekat wajah gadis yang terlihat pasrah dan mengalah itu berjalan pelan sambil menunduk di selasar rumah sakit.


Dia, bukankah dia istri muda Zefran? Bukankah dia wanita yang menggendong bayi waktu itu? Aku tidak akan melupakan wajah itu, aku tidak akan melupakan wajah sedihnya yang berjalan di belakang mengikuti Zefran dan Frisca hari itu. Hari saat pengambilan sampel untuk tes DNA Zefano? Zefano? batin Shinta yang berteriak.


Gadis itu terhuyung saat menatap wajah Allena. Tiba-tiba dokter itu berlari keluar ruangan dan menatap papan nama yang tergantung di samping pintu.


Zefano? Zefano Dimitrios? Zeno adalah Zefano? Aku tidak akan pernah lupa dengan nama itu. Zefano, Zefano, jerit hati Shinta.

__ADS_1


"Ada apa Shinta?" tanya Valendino heran melihat ekspresi Shinta yang panik.


"Zefano? Apa Zeno adalah Zefano? Apa wanita itu adalah istri Zefran?" tanya Shinta dengan air mata yang mengalir semakin deras.


"Ya benar, Zefano adalah nama lengkapnya," ucap Valendino.


Dokter Shinta menutup mulutnya yang ternganga. Menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang mengalir semakin deras. Valendino heran melihat sikap Dokter Shinta yang terlihat panik.


Dokter itu tidak tahan hingga akhirnya berlari meninggalkan Valendino.


Akulah penyebabnya, aku yang menyebabkan Zeno menderita. Aku yang menyebabkan anak itu tidak mengenal ayahnya. Aku yang menyebabkan dia tidak bisa mendapatkan sumsum tulang dari ayahnya sendiri. Aku penyebab penderitaannya, Zeno maafkan dokter jahat ini. Dalam sehari kamu bisa menghilangkan penderitaanku selama bertahun-tahun. Tapi aku, dalam sehari justru membuatmu menderita selama bertahun-tahun, maafkan aku Zeno, Zefano, Zefano maafkan aku Zefano, jerit hati Shinta yang menangis sambil berlari ke kantornya.


Valendino yang khawatir pada kekasihnya mengikuti kemana pun langkah kaki gadis itu berlari. Valendino penasaran dengan perubahan sikapnya saat mengetahui nama Zeno adalah Zefano.


Dokter Shinta sampai di ruang kerjanya dan langsung mengobrak abrik isi laci meja kerjanya. Mengeluarkan amplop yang bertahun-tahun telah disimpannya.


Terlintas kembali bayangan saat dirinya menunjukkan amplop itu ke hadapan Frisca. 


~ "Aku tidak butuh itu, aku ingin kamu membuatkan hasil tes yang baru," sahut Frisca ~


Dokter Shinta mengeluarkan dokumen identifikasi tes DNA itu memejamkan matanya kemudian menatap kembali nama bayi yang tertera di situ. Dengan pasti bahwa probabilitas Zefran Dimitrios sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios adalah >99.99 %. 


Zefran Dimitrios sebagai terduga ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis dari Zefano Dimitrios.


Dokter Shinta menangis membacanya dan kaget saat tiba-tiba Valendino berdiri di hadapannya. Dengan tangan yang gemetar gadis itu menunjukkan hasil tes DNA itu pada Valendino. Laki-laki itu membaca dan menatap heran pada Dokter Shinta.


"Ini hasil tes yang asli, istri Zefran, Frisca yang memintaku merubahnya enam tahun yang lalu," ucap Shinta masih tak bisa menahan tangisnya.


"Apa? Jadi hasil tes DNA-nya telah dipalsukan?" tanya Valendino.


"Maafkan aku," ucap Shinta dan langsung terduduk di lantai.


Valendino menatap gadis yang menangis sesenggukan itu, ingin bertanya lebih lanjut namun akhirnya memutuskan untuk berlari menemui Zefran.


Dengan kecepatan tinggi laki-laki itu segera mengemudikan mobilnya hingga akhirnya memasuki gedung perkantoran milik keluarga Dimitrios. Menerobos masuk begitu saja melewati sekretaris yang mencoba menghalanginya.


"Ini, hasil tes DNA anakmu yang asli. Enam tahun yang lalu hasil tes ini dimanipulasi atas permintaan Frisca," ucap Valendino langsung meletakkan lembaran dokumen identifikasi tes DNA itu.


Zefran meraih lembaran kertas, membacanya dan terkejut.


"Kamu yakin sekarang? Apa kamu belum yakin anak Allena adalah putra kandungmu sendiri?" tanya Valendino sambil menitikkan air mata.


Zefran berdiri menatap sahabatnya yang menangis.


"Tolonglah dia, tolonglah anakmu. Dia sedang sekarat, anakmu menderita leukemia. Dia butuh sumsum tulang belakangmu. Jika tidak, Zeno tidak bisa diselamatkan lagi," teriak Valendino.


"Apa? Zeno? Zeno itu anakku?" tanya Zefran.


"Zefano memanggil dirinya dengan sebutan Zeno, ya.., Zeno adalah Zefano" ucap Valendino.


Mendengar itu Zefran langsung berlari keluar dari ruang kerjanya dan segera memacu mobilnya ke rumah sakit. Kembali terbayang senyum anak itu yang begitu bahagia saat mengetahui dirinya akan segera bertemu dengan Papanya.


Pelukan hangat, rasa rindu dan sayangnya pada Zefano yang tak bisa dijelaskan dari mana asalnya sekarang telah terjawab. Zefano yang dikenalnya dengan nama Zeno ternyata adalah anak kandungnya sendiri.


Bersama Valendino, laki-laki itu berlari menemui putranya. Segera memasuki ruangan di mana Zefano dirawat. Zefran terpaku saat melihat Zefano berbaring dengan mata yang terpejam di kelilingi para dokter dan Allena yang menangis di samping ranjangnya.


...~  Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2