Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 104 ~ Menolak ~


__ADS_3

Allena yang masih bertahan di hotel mengisi hari-harinya dengan membuat sketsa design fashion. Jika telah selesai Allena akan mengirim rancangan melalui e-mail kemudian melakukan meeting secara online.


Sesekali menoleh pada Zefano yang tengkurap di atas ranjang sambil menonton tayangan televisi. Tangannya terus mengelus-elus Zifara seolah-olah ingin adik perempuannya itu tetap tenang dan tidak menangis.


Saat breaking news segera bermain dengan bayi mungil itu. Menggelitik bayi itu hingga tertawa-tawa. Tawa Zifara sangat lucu hingga Allena pun terpancing untuk menoleh ke arah mereka. Namun saat matanya singgah ke tayangan televisi, Allena terkejut. Allena mengenali mobil yang sangat mirip dengan milik suaminya.


Mobil itu mengalami kecelakaan dan pengemudinya dalam keadaan kritis.


Tidak! Bukan mobil Kak Zefran, tidak mungkin hanya Kak Zefran yang memiliki mobil seperti itu. Tapi mobil itu memang sangat mahal, tak banyak yang memilikinya, batin Allena semakin ketakutan.


Segera wanita itu mengambil ponsel yang tersimpan di dalam travel bag-nya. Terlihat jumlah panggilan yang hingga ribuan. Jantungnya berdebar-debar kencang. Melihat siapa saja yang telah menelpon. Kebanyakan dari suaminya namun belakangan justru nomor telpon Rahma yang lebih banyak muncul.


Allena segera menelpon adik angkatnya itu.


"Kak … Kak Allena," ucap Rahma.


Rahma belum bercerita apa-apa namun dari suaranya yang menangis. Allena langsung berpikiran telah terjadi hal yang buruk. Wanita itu segera membawa kedua anak-anak menuju parkiran hotel. Allena segera melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit yang di sebutkan Rahma sambil berkendara.


Allena segera menambah kecepatan laju mobilnya begitu Rahma menyebutkan nama sebuah rumah sakit. Zefano ya heran hanya bisa mengikuti ibunya. Berlari-lari menuju ke ruang intensif sebuah rumah sakit.


Begitu sampai di sana Rahma langsung mengambil alih Zifara. Allena terpaku menatap suaminya yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Sejumlah alat kesehatan menempel di sekujur tubuhnya. Allena menangis tersedu-sedu di samping ranjang suaminya.


"Maafkan aku Kak, maafkan aku," ucap Allena berkali-kali sambil menggenggam erat tangan laki-laki itu.


Berapa kali pun Allena meminta maaf namun laki-laki tetap masih belum terbangun. Allena menangis sejadi-jadinya, menyesali perbuatannya yang pergi dari rumah. Tak lama kemudian Allena jatuh pingsan.


Semua yang hadir di ruangan itu langsung mendekati, Altop dan Valendino mengangkat tubuh Allena dan membaringkannya di sofa.


"Sebaiknya kita pesan ruang rawat untuk Allena," ucap Valendino.


Para sahabat telah berkumpul, sejak mendapatkan panggilan telepon dari pihak rumah sakit. Mereka saling memberitahu hingga akhirnya berkumpul di rumah sakit itu.


Mereka akhirnya meminta ruang rawat inap untuk Allena. Rahma dan anak-anak Allena menunggui wanita itu. Entah sudah berapa lama Allena jatuh pingsan. Namun, saat terbangun wanita itu melihat ruangan putih disekelilingnya.

__ADS_1


Allena melihat Zefran berdiri di depan pintu, Allena segera berlari menghampiri suaminya.


"Kak mau kemana? Tunggu aku!" seru Allena sambil berlari di lorong rumah sakit itu. 


Allena merasa langkahnya sudah sangat cepat namun, tetap saja tak bisa menjangkau Zefran. Wanita itu berusaha menggapai laki-laki itu, namun tak kunjung tergapai. Langkah Allena semakin berat, wanita itu hanya bisa memanggil-manggil. Namun laki-laki itu terus berjalan lurus ke depan hingga tak terlihat lagi oleh Allena.


Allena menjerit sekencang-kencangnya lalu terbangun dari pingsannya. Napas Allena terengah-engah. Seperti setelah berlari jauh.


"Kenapa Kak? Kak Allena istirahat saja," ucap Rahma sambil menggendong Zifara.


"Kakak harus ke ruangan Kak Zefran, Rahma," ucap Allena lalu turun dari ranjang rumah sakit itu.


"Jangan Kak, Kak Allena masih lemah. Wajah Kak Allena begitu pucat. Sudah istirahat di sini dulu," ucap Rahma lagi.


Rahma tak ingin kakak yang disayangi itu kembali jatuh pingsan namun Allena tak bisa dihentikan. Karena Allena merasa sangat menyesal. Wanita itu menganggap dirinya lah yang menyebabkan suaminya kecelakaan.


"Biarkan aku Rahma, biarkan aku menemui suamiku. Ini salahku Rahma, aku harus meminta maaf padanya. Dia marah padaku, dia mengabaikanku, meski aku telah berteriak memanggilnya tapi dia tidak peduli padaku. Dia hanya berjalan menjauh dariku. Biarkan aku menemuinya Rahma. Aku ingin minta maaf padanya," ucap Allena.


Rahma panik, wanita yang telah dianggap seperti kakaknya itu tak mau mengindahkan larangannya. Sementara dia sendiri harus memegang Zifara di sebelah tangannya.


"Tidak Rahma, biarkan aku pergi. Tolong jaga anakku ya!" ucap Allena.


Allena berlari ke ruangan Zefran, saat kembali masuk ke sana. Sebuah yang berkumpul di ruangan itu menatapnya heran.


"Allena kenapa kesini? Kamu harus istirahat. Tubuhmu lemah, ayolah Allena. Biar kami yang menjaga Zefran. Kamu istirahat saja di ruangan rawatmu," ucap Valendino.


Allena tak peduli, wanita itu masih terus melangkah mendekati ranjang rumah sakit Zefran. Menatap laki-laki itu dan kemudian memanggil-manggil suaminya.


"Kak, ini aku istrimu. Maafkan aku Kak. Bangunlah! Marahi aku, lakukan apa yang Kakak mau," ucap Allena lalu tertunduk di ranjang rumah sakit itu.


"Aku mohon," lanjut Allena sambil menggenggam tangan suaminya.


Allena menunduk sambil terus memanggil-manggil suaminya. Tangannya tak lepas menggenggam tangan laki-laki itu. Terlihat Dr. Shinta yang mendekati Allena dan langsung mengusap-usap punggung wanita itu.

__ADS_1


"Kak Shinta, bagaimana ini?" tanya Allena setelah melihat orang yang sedang memberinya dukungan itu.


"Bersabarlah, kita berdoa semoga Zefran bisa melewati masa kritisnya," ucap Shinta sambil terus mengusap bahu sahabatnya itu.


Allena kembali beralih menatap Zefran.


"Kak, bangunlah, ini aku Allena. Aku sudah kembali, aku sudah kembali Kak. Bangunlah! Lihatlah aku," ucap Allena .


Namun Zefran masih saja tak menjawab, Allena tertunduk di ranjang rumah sakit itu dan menangis sesenggukan.


"Allena … istriku?" tanya Zefran lemah sambil berusaha menatap Allena yang tertunduk.


Semua orang yang berada di situ langsung menatap ke arah Zefran yang tiba-tiba sadar dan langsung berkata-kata.


"Kakak! Maafkan aku," ucap Allena.


"Tidak Allena, aku lah yang harus meminta maaf," jawab Zefran dengan nada suara yang lemah napas yang berat.


Belum sempat Allena menjawab, dokter datang dan langsung memeriksa Allena. Wanita itu segera ditarik mundur untuk membebaskan dokter memeriksa keadaan Zefran. 


Dokter itu mengangguk-angguk dan menyatakan keadaan Zefran telah mulai stabil. Semua yang mendengar ucapan dokter itu terlihat bahagia.


"Dokter kenapa dengan kakiku? Kenapa aku tidak merasakan sesuatu?" tanya Zefran.


Laki-laki itu ingin bergerak untuk duduk, namun kakinya tak mampu di gerakkan. Bahkan menggerakkan jari-jarinya saja Zefran tak mampu. Dokter kembali melakukan pemeriksaan terhadap kaki Zefran.


"Maaf tuan sepertinya tuan telah mengalami kelumpuhan,"


Semua orang di ruangan itu terkejut tak kepalang. Termasuk Zefran yang bertanya dan ingin tahu. Allena langsung memeluk Zefran. Namun laki-laki itu langsung mendorong Allena hingga terhuyung ke belakang.


Zefran menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sementara Allena kembali teringat akan mimpinya. Zefran membencinya, menyalahkannya hingga akhirnya mengabaikannya.


...~   Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2