Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 83 ~ Menyendiri ~


__ADS_3

Allena, Zefran, Zefano dan Keisya turun dari mobil yang diparkir agak jauh dari depan rumah karena telah dipenuhi oleh mobil para tamu undangan yang berjejer rapi. Allena menatap rumah megah bergaya klasik itu. Wanita itu melangkah dengan wajah yang murung, Zefano menarik tangan Allena lalu tersenyum padanya. Wanita itu membalas senyuman anak itu meski dengan terpaksa.


Di depannya Zefran berjalan sambil menggandeng tangan Keisya. Mereka terlihat berbincang akrab sambil tersenyum, entah apa yang mereka bicarakan.


Kakak bisa tersenyum pada Keisya tapi tidak padaku, batin Allena.


Sesampai di teras rumah, mereka langsung disambut oleh teman-teman Zefran yang telah lebih dulu datang.


Mereka saling berpelukan, cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Begitu akrab, saling bercanda dan tertawa bersama. Saat mengetahui Zefran dan keluarga datang, Frisca langsung datang menyambut. Seperti pada yang lainnya, Zefran memeluk Frisca, cium pipi kanan dan kirinya. Allena menatap wajah Zefran terlihat bahagia di hadapan mantan istrinya.


Berbanding terbalik dengan perasaan Allena saat ini. Allena merasa cemburu, hatinya terasa sakit. Sejak masuk ke mobil setelah mengambil ponselnya, Zefran tak bicara dengannya. Laki-laki itu hanya bicara pada Zefano dan Keisya. Allena merasa diabaikan, sepanjang perjalanan Zefran tak menoleh ke arahnya apalagi tersenyum padanya.


Namun, kini laki-laki itu tertawa bercanda dengan mantan istrinya. Allena tak bisa menyembunyikan hatinya yang terasa sakit. Sejak mendapat tamparan dari Zefran, wanita itu merasa jarak mereka semakin jauh. Itu membuat Allena berwajah murung di tengah pesta yang sedang berlangsung.


Allena hanya berdiri sendirian sementara anaknya bermain bersama Keisya dan suaminya berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Allena hanya bisa memandang mereka dari pojokan rumah yang besar dan menakjubkan itu.


Rumah ini megah sekali, setara dengan rumah Mommy. Mereka berkumpul, semua anak-anak dari keluarga kaya itu berkumpul dan bercanda menyisihkan orang-orang pinggiran seperti kami, batin Allena sambil memandang Rivaldo yang bermain bersama Zefano dan Keisya.


Laki-laki itu terlihat sangat merindukan kedua anak itu. Allena berjalan ke beranda samping, mencoba menikmati taman indah yang dihiasi lampu taman klasik itu.  Valendino yang duduk mengarah ke taman, tanpa sengaja melihat Allena yang berdiri termenung seorang diri.


"Zefran, kenapa tidak ajak Allena duduk di sini?" tanya Valendino.


"Oh, aku rasa dia sedang tidak ingin bergabung dengan kita," jawab Zefran.


"Tidak suka bergabung bagaimana? Dia itu bagian dari kita," jawab Valendino.


"Betul, dia itu istrimu dan adik bagi kami. Kenapa dibiarkan sendiri?" tanya Ronald.


"Apa dia sakit? Apa dia mengeluhkan sesuatu?" tanya Shinta.


"Tidak, tadi dia baik-baik saja," ucap Zefran.


"Biar aku ke sana menemaninya," ucap Shinta yang langsung meninggalkan kursinya untuk menghampiri Allena.


"Hey Allena, kenapa sendirian? Kenapa tidak ikut bergabung?" tanya Shinta begitu berdiri di samping Allena.


Allena tersenyum tipis lalu menunduk.


"Apa kamu sakit? Atau tidak enak badan?" tanya Shinta.


Allena menggeleng.


"Lalu kenapa menyendiri di sini, ayolah kita duduk bersama di sana. Lihatlah mereka tertawa, pasti sedang bernostalgia," ajak Shinta sambil menarik tangan Allena.


"Apa yang bisa kumengerti dari pembicaraan mereka. Mereka sedang bernostalgia, membicarakan kenangan-kenangan mereka. Aku tidak termasuk di dalamnya. Aku tidak ada artinya berada di sana. Lihatlah kalian semua adalah anak-anak dari keluarga kaya sementara aku …, sudahlah biarkan aku di sini," ucap Allena yang tersenyum pahit dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Allena …,"


"Kak Shinta, kembali saja! Tak perlu hiraukan aku, aku akan di sini sampai pulang nanti," ucap Allena.


"Apa yang terjadi Allena? Katakan padaku? Apa kalian sedang ada masalah? Kalian bertengkar? Kalian …,"


"Tidak ..., tidak terjadi apa-apa, aku hanya merasa tidak pantas bergabung di sana,"


"Allena!"


Tidak ada yang mengajakku, tidak ada yang peduli padaku. Lalu tiba-tiba teringat padaku? Seperti apa rasanya sejak tadi diabaikan lalu tiba-tiba teringat ada seseorang yang bernama Allena di sini? Merasa kasihan pada wanita yang termangu sendirian karena terlanjur diabaikan? Tidak usah Kak Shinta, tidak usah pura-pura peduli padaku ...," 


"Lebih baik aku di sini saja, aku tidak nyaman bergabung dengan kalian," ucap Allena lalu memalingkan wajahnya menghadap ke taman.


Dokter Shinta tidak bisa membujuk Allena, dokter cantik itu merasa khawatir pada kesehatan mental Allena. Dokter Shinta kembali ke meja di mana Zefran dan lainnya berkumpul. Wanita itu langsung mengajak Zefran bicara empat mata.

__ADS_1


Dengan heran Zefran mengikuti Dokter Shinta berdiri agak jauh dari teman-temannya.


"Ada apa Shinta?" tanya Zefran heran.


"Aku yang ingin bertanya padamu, ada apa dengan Allena? Kenapa dia seperti itu?" tanya Shinta.


"Apa maksudnya? Kenapa dia? Dia tidak apa-apa," jawab Zefran.


"Tidak apa-apa? Lihatlah dia menyendiri," ucap Shinta.


"Ya mungkin dia lagi ingin sendiri, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya," ucap Zefran.


"Kamu tidak peduli lagi padanya," ucap Shinta.


"Tidak peduli bagaimana? Dia itu istriku mana mungkin aku tidak peduli padanya," jawab Zefran.


"Apa kalian sedang ada masalah? Katakan yang jujur" ucap Shinta.


Zefran menghela nafas lalu memandang Allena yang berdiri sendiri di beranda samping sambil menatap taman. Laki-laki itu akhirnya mengangguk.


"Kemarin kami memang ada masalah, aku bahkan menamparnya tapi aku sudah meminta maaf padanya. Lalu apa lagi masalahnya?" tanya Zefran bingung.


"Sepertinya belum tuntas Zefran, masalahnya masih tersisa. Aku melihat matanya yang berkaca-kaca, dia merasakan sedih yang tidak bisa diucapkannya. Zefran, kita tahu dia baru saja melahirkan dan dia langsung menghadapi kenyataan anaknya yang hilang. Aku takut ini bukan lagi sekedar baby blues syndrome yang terjadi empat belas hari pertama pasca melahirkan, dia telah melewati masa itu tapi gejalanya masih terlihat. Aku merasa takut karena jika gejala baby blues syndrome masih dialami lebih dari empat belas hari itu dikhawatirkan akan mengarah pada kondisi Postpartum Depression," ucap jelas Shinta.


"Apa itu? Aku tidak mengerti?" tanya Zefran merasa mulai ikut khawatir.


"Baby blues ditandai dengan perubahan emosi yang cukup signifikan pasca melahirkan. Perubahan emosi itu terlihat dari naik turunnya emosi, rasa sedih, mudah lupa, sensitif, dan stress. Postpartum depression adalah fase lanjutan dari baby blues syndrome. Seorang ibu dengan postpartum depression kesulitan merasa bahagia, atas kelahiran bayinya, sering muram, bahkan kehilangan minat untuk mengerjakan aktivitas sehari-hari bahkan bisa menghindari bayinya. Aku takut postpartum depression membuatnya kehilangan kemampuan mengasuh bayinya.…,"


"Itu dialaminya saat Zeno hilang, dia sama sekali tidak mau mengurusi bayinya," jelas Zefran.


"Ya ampun, hingga seperti itu? Dan kita mengabaikannya tanpa menyarankannya menemui psikolog?" tanya Shinta.


"Karena itu sekarang kamu abai dengan perasaannya?" tanya Shinta.


"Apa? Abai? Apa maksudmu?" tanya Zefran dengan wajah risau bercampur kesal.


"Gejala postpartum depression bisa dialami paling sedikit satu bulan dan bertahan hingga satu tahun setelah melahirkan. Kamu harus lebih memperhatikan perasaannya dalam kurun waktu itu. Dia akan mudah emosi, merasa sedih dan sensitif. Hindarilah masalah-masalah rumah tangga yang membuatnya menjadi stress," ucap Shinta memberi nasehat.


"Aku tahu, tapi kadang-kadang masalah muncul. Aku sendiri merasa tidak mampu mengatasinya dan bahkan lebih sering menyalahkannya," ucap Zefran menyesal.


"Aku telah bicara dengannya dan aku melihat gejala postpartum depression itu padanya. Seorang ibu yang mengalami postpartum depression merasakan malu, bersalah, dan penurunan kepercayaan diri, merasa harga dirinya rendah, merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik," tutur Shinta.


"Merasa malu?  Bersalah? Merasa harga dirinya rendah? Mengalami penurunan kepercayaan diri? Itu tidak mungkin, kenapa dia harus merasakan itu? Dia istri seorang CEO dan dia sendiri juga seorang designer terkenal. Tidak mungkin dia tidak percaya diri," ucap Zefran.


"Kamu pikir kenapa dia menyendiri seperti itu? Aku mengajaknya bergabung tapi apa yang dikatakannya, dia merasa dirinya tidak ada artinya bergabung dengan kalian karena kalian semua adalah anak-anak dari keluarga kaya," jawab Shinta.


"Ya ampun kenapa dia bisa berpikiran seperti itu?" tanya Zefran dengan wajah kesal bercampur risau.


"Aku sudah bilang dia mengalami postpartum depression hingga dia menjadi sangat sensitif. Lagi pula sejak kalian datang aku merasa kalau kamu memang mengabaikannya. Kenapa? Jangan katakan kalau kalian baik-baik saja dan jangan katakan kalau kamu sengaja mengabaikannya?" tanya Shinta.


"Itu karena tadi … dia … dia membuatku kesal, dia tidak mau menyentuh ponselku hingga aku selalu kehilangan ponselku," jelas Zefran.


"Apa? Apa maksudmu? Tidak menyentuh ponselmu? Kamu melarangnya menyentuh ponselmu? Kamu menyimpan rahasia di ponselmu?" tanya Shinta bertubi-tubi.


"Tidak bukan begitu, ini karena kecemburuanku jadi berimbas kemana-mana," ucap Zefran.


"Sekarang kamu masih marah padanya?" tanya Shinta lagi.


"Tidak, ya …. sedikit," jawab Zefran sambil menunduk.


"Aku ingin kamu menyelesaikannya segera. Aku takut perasaan lelah terus menerus yang dirasakannya, membuatnya berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri atau bayinya," papar Shinta.

__ADS_1


Zefran mengangkat kepalanya menatap wajah Dokter Shinta. Matanya terbelalak, Zefran tidak menyangka kalau Dokter Shinta bisa berpikir sejauh itu terhadap kondisi istrinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Jika aku bertanya dia tidak akan menjawabnya. Dia pasti berkata kalau dia baik-baik saja," ucap Zefran.


"Allena memang seperti itu, dia lebih suka memendam kesedihannya sendiri. Kamu harus membuatnya emosi, sampai dia tidak tahan lagi dan akhirnya meluapkan emosinya," usul Shinta.


"Apa? Berarti aku harus membuatnya marah? Gila! Usul apa itu? Bagaimana kalau kami tidak mampu mengatasinya? Rumah tangga kami bisa bubar," ucap Zefran keras hingga membuat tamu di sekitarnya menoleh.


Zefran tertunduk malu, dilihat oleh para tamu. Dokter Shinta tersenyum, terlihat jelas kalau Zefran tidak ingin berpisah dengan istrinya.


"Jika tidak diatasi, dia akan tetap seperti itu, dia akan memendam kesedihannya sendiri," ucap Shinta.


"Ok! Baiklah! Akan aku coba, tapi apa pun kejadiannya nanti, kamu harus ikut bertanggung jawab," ucap Zefran.


"Ok! Asal kamu beritahu seperti apa hasilnya," ucap Shinta.


Dokter Shinta tersenyum saat melihat Zefran yang melangkah menghampiri istrinya. Dokter cantik itu memperhatikan dari tempatnya. Valendino datang dan bertanya padanya.


"Nanti aku ceritakan!" ucap Shinta.


Wanita itu masih sibuk memperhatikan apa yang diperbuat Zefran. Dan terlihat Allena yang menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu meraih tangan istrinya dan berusaha mengajaknya memasuki ruangan. Allena seperti terpaksa mengikuti laki-laki itu.


"Kita pulang sebentar lagi, sekarang duduklah di sini!" seru Zefran sambil menepuk kedua bahu istrinya memintanya untuk duduk.


Allena terpaksa duduk di samping suaminya. Ronald dan Altop tersenyum padanya dan Allena membalas senyumannya. Dokter Shinta dan Valendino pun kembali duduk di posisi mereka. Allena menoleh pada Rivaldo yang baginya termasuk orang yang dikucilkan oleh kelompok keturunan keluarga kaya itu.


"Rivaldo sangat kangen dengan kedua anak itu, sejak tadi dia menunggu kedatangan mereka. Benarkan Top?" tanya Frisca pada Altop.


"Hmm … kita ini seperti tidak ada arti baginya. Ngobrol, bercanda sejak tadi di sini, begitu datang kedua anak itu, kita langsung ditinggalkan," ucap Ronald.


Mereka tertawa, berbanding terbalik dengan Allena yang masih terlihat murung bahkan semakin merasa bersalah.


Aku salah menilai, aku pikir mereka yang mengucilkan Kak Valdo, batin Allena.


Zefran menoleh pada istrinya lalu tersenyum, Allena membalas senyuman itu meski senyum yang dipaksakan.


"Allena, kamu kelihatan gemuk sekarang? Sepertinya Zefran membuat hidupmu bahagia sekali," ucap Ronald yang berniat menyapa.


Allena tertunduk, perubahan bentuk badan merupakan hal yang paling sensitif bagi perempuan apalagi bagi Allena yang bekerja dilingkungan wanita-wanita yang bertubuh ideal. Zefran langsung memeluk istrinya.


"Meski gemuk tapi masih tetap cantik 'kan?" ucap Zefran yang seolah-olah membela tapi menyetujui ucapan Ronald.


Allena menahan sesak di dadanya, Dokter Shinta memperhatikan tingkah Allena yang berkali-kali menghela nafas. Zefran menoleh pada istrinya.


"Mungkin kamu harus mengkonsumsi lebih banyak brokoli agar tetap ideal seperti Frisca," ucap Zefran.


Sontak Allena menoleh ke arah laki-laki itu. Tadi saat Zefran menyetujui ucapan Ronald hatinya sudah merasa sakit, ditambah lagi sekarang Zefran membandingkannya dengan Frisca. Allena benar-benar merasa sakit hati.


Allena menoleh pada teman-teman Zefran yang tertawa setelah mendengar ucapan laki-laki itu. Mereka pun ikut menambah kata-kata pada Allena.


"Yang dikatakan suamimu itu benar, meski bertambah gemuk tapi kamu masih tetap cantik. Big is beautiful," sambung Altop dan yang lain tertawa.


"Asal jangan keterusan, nanti Zefran nggak kelihatan kalau berdiri dibelakangmu," sahut Ronald.


Semuanya kembali tertawa, Allena tidak tahan lagi. Wanita itu berdiri dan menatap suaminya.


"Jadi ini tujuannya aku di ajak ke sini? Agar teman-teman Kakak semuanya menertawakanku?" ucap Allena pada Zefran dengan mata yang telah berkaca-kaca.


Allena membanting serbet di tangannya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2