
Allena syok mendengar penjelasan dokter, meski sempat menduga sebelumnya namun Allena tetap berharap apa yang diderita Zefano bukanlah penyakit yang telah menyebabkan ayahnya pergi meninggalkan dunia.
Mendengar itu air mata Allena langsung mengalir, gadis itu syok. Hanya termangu seperti tidak sadar. Valendino berusaha menyadarkan gadis yang diam seperti kehilangan jiwa itu.
Begitu tersadar, gadis itu langsung menangis histeris. Valendino memeluk gadis yang terguncang itu dan berusaha menghiburnya. Dokter yang menyaksikan kesedihan Allena pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Allena tenanglah, kita dengarkan penjelasan dokter selanjutnya. Percayalah Dokter akan memberikan jalan yang terbaik bagi kesembuhan Zeno" ucap Valendino berusaha menenangkan Allena.
Mendengar ucapan Valendino, gadis itu langsung berusaha untuk menenangkan diri. Meski masih terisak, Allena siap mendengarkan penjelasan dokter selanjutnya.
"Kanker darah atau dikenal dengan leukemia, cukup sering dialami anak-anak. Satu di antara sepuluh ribu anak mengidap penyakit ini," jelas dokter.
Allena dan Valendino terperangah mendengar penjelasan dokter dihadapan mereka.
"Mengatasi leukemia umumnya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang belakang," lanjut dokter itu.
Allena dan Valendino saling pandang dengan wajah risau.
"Ada dua jenis leukemia yaitu akut dan kronik. Leukemia limfostik akut atau Acute Lymphoctic Leukemia disingkat dengan ALL adalah jenis kanker darah dan sumsum tulang. Lebih dari delapan puluh persen, leukemia pada anak adalah jenis ALL," sambung dokter.
"Angka kesembuhan ALL dengan kemoterapi sudah sangat baik. Mencapai tujuh puluh hingga delapan persen artinya dengan kemoterapi pasien leukemia dapat berhasil sembuh dan kondisinya kembali normal," jelas dokter.
"Benarkah dokter? Bisa disembuhkan dan kembali hidup normal?" tanya Allena tak percaya.
Dokter mengangguk, Allena menoleh ke arah Valendino yang tersenyum mendengar penjelasan dokter.
"Tapi seperti yang telah saya sebutkan tadi, leukemia ada dua jenis. Jenis yang kedua adalah Acute Myeloid Leukemia atau disingkat dengan AML. Ini jenis leukemia kronis," ucap dokter.
Allena kembali menoleh ke arah Valendino dengan wajah risau.
"Jika saat di kemoterapi penderita leukemia akut mengalami kekambuhan maka pasien termasuk jenis AML dan terapi yang dilakukan pada penderita AML adalah bone marrow transplant atau transplantasi sumsum tulang belakang," jelas dokter lagi.
"Apa? Ada kemungkinan seperti itu dokter?" tanya Allena.
"Hanya lima belas hingga dua puluh persen penderita leukemia yang berjenis AML. Kita berharap Zeno tidak termasuk dalam dua puluh persen itu," jelas Dokter.
"Ya, mudah-mudahan saja Zeno tidak termasuk berjenis AML itu," harap Allena.
Valendino mengangguk setuju.
"Sekarang kita bicarakan pilihan terapi yang bisa dilakukan untuk penanganan leukemia pada anak. Penanganan utama untuk leukimia pada anak sebenarnya adalah kemoterapi. Namun sekarang ada beberapa pilihan lain seperti terapi radiasi, terapi obat khusus untuk leukemia, imunoterapi, kemoterapi dosis tinggi dan terakhir transplantasi sel induk atau sumsum tulang. Terapi mana yang Nyonya inginkan untuk penanganan leukemia pasien Zeno?" tanya Dokter.
"Yang mana saja asalkan yang terbaik demi kesembuhan anak saya dokter," jawab Allena langsung.
"Baiklah, pilihan terapi paling utama untuk mengatasi leukemia adalah dengan kemoterapi. Seperti yang sudah saya jelaskan jika jenis leukemia yang diderita Zeno adalah ALL maka kemoterapi pasien leukemia dapat berhasil sembuh dengan kondisi yang kembali normal," ucap Dokter itu.
Mendengar ucapan dokter hati Allena sedikit lega, Dokter pun menyusun jadwal kemoterapi Zefano dan akan memberitahukan pada Allena nanti. Allena mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kesiapan fisik dan mental serta kondisi prima sangat diperlukan saat memulai terapi penyembuhan itu.
Setelah mendengarkan pengarahan dari dokter, Allena dan Valendino pun kembali ke kamar rawat inap Zefano. Anak itu langsung tersenyum menyambut mereka.
"Udah selesai ya Ma?" tanya Zefano.
"Ya, sayang," ucap Allena langsung duduk di ranjang Zefano dan memeluk erat putranya.
Valendino tersenyum sambil menggeser overbed table di mana hidangan makan siang Zefano telah selesai disantapnya.
"Apa kata dokter Ma? Zeno sakit apa?" tanya Zefano.
Allena melepas pelukannya dan menatap sedih wajah anaknya. Perlahan mata itu berkaca-kaca, Allena tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Gadis itu hanya bisa terus menatap wajah Zefano. Setiap kali akan membuka mulutnya, gadis itu urung menjawab hingga akhirnya air matanya mengalir.
Zefano kembali menghapus air mata itu. Melihat itu, Valendino membantu menjawab pertanyaan Zefano.
"Nama leukemia tapi kata dokter kalau anaknya kuat, patuh sama ucapan dokter dan orang tuanya. Anak-anak yang terkena sakit itu biasanya sembuh dan bisa sekolah lagi," jelas Valendino.
"Benarkah? Zeno bisa ke sekolah lagi?" tanya Zeno.
Valendino mengangguk sambil duduk di ranjang Zefano berhadapan dengan anak itu. Menoleh pada Allena yang masih sibuk menghapus air matanya. Namun, sekuat apa pun dia mencoba tenang. Air matanya terus saja mengalir sementara Valendino berhasil mengalihkan perhatian Zefano dengan pertanyaannya.
"Tapi ngomong-ngomong Zeno ini patuh nggak ya? Makan siangnya dihabiskan atau nggak ya?" tanya Valendino sambil menoleh pada piring di atas overbed table.
"Haaa, ternyata masih ketinggalan brokolinya, ayo di makan sampai habis," ucap Valendino sambil mengambil piring bersisa brokoli itu.
"Itu sengaja Zeno sisain buat Uncle Val, Uncle Val kan suka brokoli?" ucap Zefano.
Valendino memalingkan wajahnya sambil berkata pelan.
"Kata siapa aku suka brokoli?" ucap Valendino dengan gigi yang bertaut.
Allena dan Zefano tertawa melihat ekspresi Valendino yang dibuat seakan-akan kesal.
"Ayo makan, sayuran brokoli kan bergizi?" ucap Zefano sambil tertawa menutup mulutnya.
Allena kembali tertawa, saat Valendino menatap brokoli seperti menatap obat yang terasa pahit. Zefano mengambil garpu dan menusukkan brokoli itu kemudian menyuapi Valendino.
"Tolong, aku dipaksa makan brokoli," ucap Valendino sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
Valendino teringat sesuatu.
"Oh ya, untuk Mama saja, Mama sangat suka brokoli lagi pula Mama Zeno juga belum makan siang," ucap Valendino sambil menunjuk.
Zefano beralih ke arah mamanya dan menyuapi ibunya itu. Allena memakan brokoli yang disodorkan Zefano.
"Kak Valen, Kakak belum makan siang kan? Kakak pergilah makan siang dulu" usul Allena.
"Kamu sendiri juga belum makan siang," ucap Valendino.
"Kalau gitu Mama sama Uncle Val makan siang dulu," ucap Zefano.
"Gimana Allena? Ayo kita makan siang dulu?" tanya Valendino.
Allena menoleh pada anaknya, Zefano mengangguk. Allena tersenyum, gadis itu setuju untuk makan siang di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari situ.
"Zeno jangan kemana-mana, tunggu Mama ya, Mama cuma sebentar," ucap Allena pamit yang dibalas anggukan oleh Zefano.
Begitu Mamanya pergi, Zefano langsung keluar untuk menemui Zefran. Anak itu tersenyum saat melihat Zefran yang sedang menyantap makan siangnya. Zefran langsung memanggil Zefano masuk saat melihat anak itu berdiri mengintip di balik pintu.
"Kenapa berdiri di situ, ayo kemari," ajak Zefran.
Anak itu langsung duduk di balik overbed table Zefran.
"Zeno sudah makan?" tanya Zefran yang dibalas dengan anggukan.
"Oma nggak datang ya Pa?" tanya Zeno.
"Datang tapi sekarang pulang dulu untuk istirahat dan makan siang," ucap Zefran sambil menyantap makan siangnya.
"Papa juga nggak suka brokoli?" tanya Zefano saat melihat laki-laki itu menyisihkan brokoli.
"Zeno suka?" tanya Zefran.
"Nggak suka juga," ucap Zefano.
"Wah kita sama, ternyata ada juga yang sama seperti Papa, tak suka makan brokoli," ucap Zefran.
"Tapi Mama Zeno suka brokoli," jawab Zefano.
"Istri Papa juga suka brokoli, jika makan brokoli dia bisa menghabiskan banyak," jawab Zefran tersenyum.
"Sama seperti Mama, kalau Zeno makan yang menghabiskan brokoli Zeno selalu Mama tapi sekarang Zeno kasih sama Uncle Val," ucap Zeno.
"Uncle Val, siapa itu? Pacar Mamamu," tanya Zefran sambil tertawa.
"Oh, teman," ulang Zefran.
"Papa masih lama menginap di sini?" tanya Zefano.
"Besok lusa Papa boleh pulang tapi masih harus ke rumah sakit untuk rawat jalan," ucap Zefran.
"Rawat sambil jalan-jalan," ucap Zefano tertawa.
Zefran juga ikut tertawa.
"Kalau Zeno kapan boleh pulang ke rumah?" tanya Zefran.
"Zeno masih lama, Mama bilang harus jalani pengobatan dulu," ucap Zefano sedih.
"Pengobatan? Zeno sudah tahu penyakitnya?" tanya Zefran sambil menyudahi makan siangnya.
"Namanya leukemia," jawab Zefano setelah mengangguk.
"Leukemia?" ulang Zefran dengan ekspresi kaget.
Laki-laki itu langsung menggeser overbed table dan meraih Zefano dalam pelukannya.
Malang sekali nasibmu nak, di usia yang masih begitu kecil kamu harus menerima cobaan ini, Mamamu pasti sangat sedih mengetahui kenyataan ini, batin Zefran.
"Kamu harus kuat ya, Zeno anak yang baik. Pasti Tuhan sayang dan menyembuhkan sakit Zeno," ucap Zefran menguatkan hati Zefano.
Laki-laki itu menangkup wajah tampan anak itu, hatinya langsung merasa dekat dan sayang pada Zefano. Zefran tidak tahu kenapa tapi sejak bertemu Zefano. Zefran selalu merindukan kedatangan anak itu.
Ingin berbincang dengannya, mendengar ceritanya dan tertawa bersamanya. Saat Zefano tidak berkunjung ke kamarnya hati Zefran terasa sepi.
"Setelah keluar dari rumah sakit ini, Papa akan mengunjungi Zeno. Jadi Zeno harus semangat menjalani pengobatan ya," ucap Zefran.
"Ya Papa," jawab Zefano.
Anak itu memeluk Zefran, merasa senang saat mendengar laki-laki itu akan mengunjunginya. Zefran membalas pelukan Zefano dengan erat. Lalu mencium puncak rambut anak itu.
Kenapa tiba-tiba aku teringat pada Zefano? Sudah sebesar apa dia sekarang? Jika aku bisa menyayangi Zeno, tentu aku juga bisa menyayangi anak kandung istriku. Kenapa dulu aku meragukan untuk hidup bersamanya? Tidak, bukan aku yang ragu. Tapi Allena, dia tidak sanggup jika hidup bersama suami yang menolak anaknya. Padahal kita belum mencobanya Allena. Aku mungkin bisa menerima anak itu, kenapa kita tidak mencobanya? batin Zefran.
"Papa kenapa?" tanya Zefano heran melihat Zefran yang begitu lama mencium kepalanya.
__ADS_1
"Papa kangen sama istri dan anak Papa," jawab Zefran.
"Mudah-mudahan bisa cepat bertemu ya," jawab Zefano.
"Ya, bertemu dan berkumpul kembali," ucap Zefran.
Zefano mengangguk, memeluk laki-laki itu lagi kemudian pamit kembali ke kamarnya. Meski sedih dan kecewa tapi Zefran akhirnya membiarkan Zefano pergi.
Setelah memberitahu nomor kamarnya, Zefano mengecup pipi Zefran. Kemudian melangkah pergi sambil melambaikan tangan dengan tersenyum.
Anak itu kembali melewati taman rumah sakit dan duduk di bangku taman. Melihat ke kanan dan kiri seperti mencari-cari.
Sementara itu Allena dan Valendino menikmati makan siang mereka. Valendino bertanya apakah Allena akan menceritakan penyakit Zefano pada Zefran.
"Zeno tidak diakui oleh keluarga itu, aku rasa mereka tidak akan peduli," jawab Allena.
"Menurutku tidak seperti itu, Zefran tidak mungkin menolak anaknya sendiri. Itu hanya kesalahpahaman dan kamu terlalu dendam padanya," ucap Valendino.
"Kakak tidak dengar sendiri ucapan Nyonya Frisca? Dia mengatakan anakku anak haram dan Kak Zefran sama sekali tidak menyangkalnya," ucap Allena emosi.
"Aku rasa yang beranggapan seperti itu cuma Frisca, aku tidak yakin Mommy dan Zefran juga berpikiran seperti itu," ucap Valendino.
"Kenapa tidak? Mereka melihat sendiri hasil tes DNA yang negatif. Tentu saja mereka juga berpikiran begitu, mereka hanya tidak mengucapkannya," jelas Allena dengan wajah cemberut.
"Tes DNA? Kalian melakukan tes DNA? Hingga seserius itu?" tanya Valendino.
"Ya, seserius itu, seserius itu mereka menuduhku berselingkuh hingga mengandung anak dari laki-laki lain," ucap Allena kesal.
"Aku pikir semua itu karena hasutan Frisca, perempuan itu melakukan apa saja untuk menguasai pikiran Zefran. Bahkan Zefran menuduhku berselingkuh denganmu dan berkata kalau Zeno itu adalah anakku. Bukankah itu gila? Dia tidak serius dengan tuduhan itu kan?" tanya Valendino.
Memang seperti itu kejadiannya, aku tidak mungkin cerita kalau kita dituduh berselingkuh. Tidak mungkin cerita kalau aku dituduh tidur denganmu dan mengandung bayimu, apa yang ada dalam dipikiranmu nanti? batin Allena.
"Tapi jangan khawatir, Zefran telah memutuskan untuk menceraikan Frisca," ucap Valendino kembali lanjut menyantap makan siangnya.
"Apa?" tanya Allena kaget.
"Ya, hari di mana kamu di usir oleh Frisca, Zefran menceritakan tentang Bobby yang telah menusuknya di Night Club malam itu," cerita Valendino.
"Siapa itu Bobby?" tanya Allena.
"Selingkuhan Frisca, bahkan ayah dari anak yang dikandung Frisca saat ini," terang Valendino.
"Apa? Nyonya Frisca selingkuh? Jangan sembarangan menuduh. Aku tahu bagaimana rasanya jika dituduh seperti itu. Rasanya sangat sakit, Kak Zefran tidak boleh lagi menuduh istrinya sembarangan seperti itu," ucap Allena tidak setuju dengan sikap Zefran.
"Harusnya kamu senang karena Frisca diceraikan oleh Zefran. Bukannya dia membencimu?" tanya Valendino.
"Meski kami tidak saling menyukai tapi aku tetap tidak setuju kalau Kak Zefran sembarangan menuduh lagi," ucap Allena risau.
"Bukan sembarang tuduh Allena, Bobby sendiri yang mengungkapkannya," ucap Valendino.
"Tapi bisa jadi Bobby itu ingin memfitnah Nyonya Frisca," ucap Allena.
"Kenapa kamu justru membela Frisca?" tanya Valendino.
"Bukan membela tapi aku tidak ingin ada yang menjadi korban fitnah lagi," jelas Allena.
"Bukan korban fitnah tapi Bobby sendiri yang menunjukkan rekaman adegan bercintanya dengan Frisca. Bahkan mengakui kalau bayi yang di kandung Frisca saat ini adalah bayinya," jelas Valendino sambil tersenyum.
Allena terperangah, tidak menyangka kalau Frisca bisa berbuat seperti itu. Frisca menuduhnya berselingkuh tapi justru dia sendiri yang melakukannya.
Valendino menceritakan detail kejadian di Night Club pada Allena. Sejak Allena datang ke rumah sakit menjenguk Zefran. Allena sama sekali tidak menanyakan sebab suaminya terluka, gadis itu terlalu cemas akan keselamatan Zefran hingga tidak peduli apa yang menjadi penyebabnya.
Allena dan Valendino kembali ke ruang rawat inap Zefano setelah selesai menyantap makan siang bersama. Berjalan sambil tertawa saat Valendino menceritakan Zefano yang membuatnya malu di depan seorang dokter wanita di rumah sakit itu.
"Malu? Harusnya berterima kasih pada Zeno karena sudah memberi sinyal pada dokter itu kalau Kakak masih single," protes Allena.
"Allena?"
Allena dan Valendino kaget saat mendengar seseorang memanggil Allena. Serentak mereka membalik badan menoleh ke arah suara. Terkejut saat melihat Zefran yang berdiri menatap mereka.
"Kalian bersama? Dari mana?" tanya Zefran dengan nada yang pelan.
Allena dan Valendino saling berpandangan dan gelagapan.
"Dari mana? Tentu saja dari rumah, aku sengaja mengajak Allena menjengukmu," jawab Valendino sambil tersenyum.
"Lalu kalian mau kemana? Kamarku ada di situ," tanya Zefran kemudian menunjuk arah di belakangnya.
"Oh, aku lupa, aku memang sulit mengenali arah di rumah sakit. Kamu sendiri mau ke mana?" tanya Valendino berjalan mendekati Zefran.
"Aku ingin ke ruang rawat inap seorang kenalan, dia seorang anak kecil. Aku berencana menjenguknya di ruangannya," jelas Zefran sambil menatap Allena.
"Apa kamu jadi ke sana sekarang?" tanya Valendino.
Zefran menatap Allena, gadis yang dirindukannya ada di depan mata. Laki-laki itu bingung, ingin mengajak Allena menjenguk Zefano atau kembali ke kamarnya dan memeluk gadis yang dirindukannya itu sepuas-puasnya.
__ADS_1
...~~~ Bersambung ~~...