
Sesampai di rumah Allena meminta putranya untuk mandi dan beristirahat.
"Mama kalau Keisya libur sekolah boleh menginap di sini?" tanya Zefano sambil mengenakan piyama tidurnya.
"Boleh sayang, kapan pun Keisya mau menginap di sini, boleh saja. Tak mesti menunggu libur sekolah," jawab Allena.
"Oh, ya tapi kalau nggak libur berarti harus berangkat sekolah dari sini," tanya Zefano lagi.
"Nggak masalah Mama juga mau mengantar Keisya ke sekolah. Keisya itu sudah seperti keluarga kita, sudah seperti putri Mama juga," ucap Allena.
"Ya Ma, nanti kalau Keisya tanya lagi. Zeno bilang sama Keisya kalau boleh nginap di sini kapan aja," ucap Zeno.
"Ya, sekarang Zeno istirahat ya sayang, tadi seharian kita bermain di cafe Papanya Keisya. Nanti waktunya makan malam Mama panggil Zeno ya," ucap Allena.
"Ya Ma," jawab Zefano
Zefano beristirahat di ranjangnya, Allena mengecup puncak rambut putranya. Tiba-tiba Zefano menangkup wajah Mamanya.
"Kenapa Nak?" tanya Allena.
"Mama baik sekali, kata Keisya Mama cantik dan baik. Mama suka menolong Papa Keisya, Keisya bilang kalau sudah besar ingin seperti Mama," jelas anak itu.
"Oh, Mama nolong Papa Keisya karena mama memang bisa melakukannya. Jika kita mampu mengerjakannya kenapa kita tidak bantu?" tanya Allena sambil tersenyum karena kedua tangan putranya masih menempel di pipinya.
"Ini, juga ingin bantu Mama tapi kata Om Valdo, Zeno masih kecil," ucap Zefano.
"Berarti Zeno juga anak yang baik, ganteng dan suka menolong. Kalau Zeno sudah besar sedikit lagi Zeno boleh bantu-bantu. Tapi karena sekarang Zeno masih kecil, tugas Zeno adalah belajar. Kalau bantu orang belajar itu baru boleh malahan bagus," jelas Allena.
Zefano tersenyum.
"Om Dion juga rajin, suka bantu-bantu. Ganteng lagi, kalau segede Om Dion. Zeno boleh bantu?" tanya Zefano.
"Boleh karena memang sudah mampu untuk menolong," jawab Allena.
"Om Dion malah tolong selamatkan kita, seperti superhero ya Ma," ucap Zefano sambil tersenyum.
Allena mengangguk, Zefano tersenyum dan mulai beristirahat. Wanita itu kembali mengecup pipi anaknya kemudian keluar dari kamar Zefano.
Allena pun menatap putrinya yang tertidur sejak di perjalanan pulang tadi. Setelah merapikan selimut Zifara, Allena merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Belum lama memejamkan mata, tiba-tiba Allena merasakan bibirnya di sentuh. Wanita itu langsung membuka matanya. Terlihat Zefran yang sedang mengecup bibirnya.
"Capek sayang? Apa ingin di pijat?" tanya Zefran.
__ADS_1
"Sedikit capek tapi tapi tidak usah dipijat karena Kakak juga pasti lelah," ucap Allena.
Zefran merebahkan diri di samping Allena. Laki-laki itu langsung menarik wanita yang dicintainya itu untuk bersandar di dadanya.
"Aku yang berdiri sepanjang hari saja rasanya begitu lelah, bagaimana kamu yang harus melayani pengunjung itu. Berjalan kian kemari sambil membawa nampan berisi makanan. Terus terang melihatmu hilir mudik saja mata dan kepalaku sudah terasa capek," ucap Zefran. Allena tertawa.
"Kalau begitu harusnya mata dan kepala tidak harus mengikuti kemana langkahku," jawab Allena.
"Aku harus lihat, aku takut istriku di ganggu orang. Nanti dikira pelayan beneran lagi," jawab Zefran yang membuat Allena kembali tertawa.
"Kak Valdo sangat mencintai Kak Frisca ya Kak? Kak Valdo sungguh-sungguh mencintainya. Aku senang melihat Kak Frisca yang bahagia karena cinta Kak Valdo yang sangat tulus padanya. Kak Valdo juga begitu memanjakan Kak Frisca. Kak Valdo hebat, Kak Frisca beruntung bisa bertemu dengan Kak Valdo," tutur Allena.
"Aku iri dengan Valdo," ucap Zefran tiba-tiba.
"Apa? Kenapa?" tanya Allena langsung terduduk.
"Kenapa begitu terkejut?" tanya Zefran sambil mengusap lengan istrinya.
"Kenapa? Apa ... Kakak iri sama Kak Valdo karena Kakak cemburu? Kakak cemburu karena Kak Valdo yang membahagiakan Kak Frisca?" tanya Allena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Zefran pun ikut duduk di hadapan istrinya.
"Iya! Aku iri, aku cemburu karena dari tadi kamu memuji Valdo terus," jawab Zefran.
"Iya, Kak Valdo sangat mencintai Kak Frisca. Kak Valdo memanjakan Kak Frisca, Kak Frisca beruntung bisa bertemu dengan Kak Valdo. Kak Valdo … Kak Valdo … Kak Valdo. Suami mana yang tidak iri istrinya memuji suami orang terus? Kenapa kamu begitu memujanya? Apa kamu suka padanya?" tanya Zefran.
"Apa?" tanya Allena dengan air mata yang mulai menumpuk.
Melihat itu Zefran langsung memeluk istrinya sambil tersenyum.
"Aku iri, aku cemburu bukan karena Frisca. Aku cemburu karena istriku yang begitu mengagumi dia. Apa aku kurang memanjakanmu, apa aku kurang mencintaimu? Apa kamu tidak beruntung bertemu denganku?" tanya Zefran bertubi-tubi.
"Bukan begitu, aku hanya ikut senang Kak Frisca bertemu dengan Kak Valdo. Aku lega Kak Frisca bisa bahagia setelah melepas Kakak. Aku tidak bermaksud membandingkan Kak Valdo dengan Kakak," jawab Allena dengan nada sedih.
"Aku tahu! Aku cuma bercanda. Tapi jangan terlalu sering memuji dia ya, nanti aku benar-benar cemburu," ucap Zefran sambil mengecup puncak rambut istrinya.
Allena mengangguk sambil tersenyum, air matanya yang terlanjur menetes di hapus oleh Zefran. Laki-laki itu lalu memeluk istrinya erat.
"Aku minta maaf sayang," ucap Zefran tiga-tiba.
"Untuk apa?" tanya Allena pelan.
__ADS_1
"Untuk ucapanku di hadapan Dion waktu itu. Hari ini aku baru tahu kalau demi membayar hutang, kamu hampir menikahi laki-laki tua beristri empat. Aku pikir kamu hanya sekedar ingin mendapatkan uang untuk membayar hutang tanpa ancaman di paksa menikah. Di hadapan Dion yang mengetahui cerita itu aku justru mengungkitnya. Sekarang aku baru sadar bagaimana sedihnya kamu saat masalah itu diungkit-ungkit. Hidupmu pasti sangat ketakutan terancam dinikahi oleh orang yang tidak kamu cintai. Maafkan aku ya sayang," ungkap Zefran sambil memeluk erat istrinya.
Zefran membenamkan wajah istrinya di dadanya dan mengecup puncak rambutnya. Allena tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Kalau aku tahu kamu mengalami semua itu. Aku mungkin akan sama seperti Dion, bersimpati padamu. Tak akan tega mengungkit cerita itu. Siapa yang akan tega melihat gadis secantik dan sebaik kamu harus menikah dengan bapak-bapak beristri banyak? Tapi dibalik semua cerita sedih itu aku bahagia karena akhirnya kamu memutuskan menikahiku di banding menikah bapak tua itu," jelas Zefran.
"Semua ini juga karena Mommy yang tanpa diminta langsung melunasi hutang itu. Mau tidak mau aku harus menikahi Kakak," ucap Allena.
"Apa tadinya kamu mau dinikahi rentenir itu?" tanya Zefran dengan senyum di bibirnya.
"Tidak juga, aku selalu menolaknya tapi tetap tak bisa melunasi hutang itu. Akhirnya aku memilih jadi istri kedua daripada jadi istri kelima," ucap Allena sambil tersenyum menatap suaminya.
"Oh, syukurlah perawan cantik ini masih bisa diselamatkan daripada jatuh ke tangan rentenir tua itu. Dion bahkan ingin menggalang dana untuk membebaskan kamu dari hutang itu. Beruntungnya aku, Mommy melunasi hutang itu hingga aku yang akhirnya menikahi wanita cantik ini," tutur Zefran sambil memeluk istrinya erat
Allena tersenyum bahagia karena ditakdirkan menikah dengan laki-laki yang dipeluknya ini. Karena meski dulu menolaknya tapi ternyata sekarang Zefran justru sangat mencintainya.
Hanya sesaat bisa berpelukan seperti itu karena setelah itu Zefran segera merebahkan istrinya di ranjang dan mulai menyatukan bibir mereka. Allena bahagia membalas pelukan dan ciuman hangat suaminya. Tiba-tiba Zefran melepaskan ciumannya.
"Aku benar-benar tidak bisa membayangkan jika bapak tua itu yang memeluk dan menciummu. Aah ... aku benar-benar kesal membayangkannya," ucap Zefran.
"Jangan dibayangkan, lagi pula itu tidak terjadi," ucap Allena.
"Apa Dion tahu seperti apa tampang rentenir itu? Kalau tahu dia juga pasti sangat kesal melihatnya, pasti tidak rela membayangkan kamu di gumul laki-laki tua itu makanya dia berusaha untuk membantumu membayar hutang itu," jelas Zefran lagi.
"Kakak! Sudah, jangan dibayangkan lagi, aku tidak suka mengingatnya!" jerit Allena memohon.
"Baiklah sayang, sekarang ambil hikmahnya saja. Sekarang kamu adalah milikku. Tak ada yang boleh merebut dan menyentuhmu selain aku," ucap Zefran.
Allena mengangguk sambil tersenyum. Zefran melanjutkan keinginannya melepas hasratnya pada wanita yang dicintainya itu. Allena menyambut ciuman hangat dari suaminya dan membalas ciuman lembut yang semakin lama semakin menggebu itu.
Keesokan harinya Zefran berangkat kerja dengan wajah yang ceria. Di atas teras, sebelum berangkat laki-laki itu memeluk istrinya erat.
"Aku jadi malas bekerja kalau di antar olehmu seperti ini," ucapnya sambil mencium pipi istrinya lama.
"Oh ya? Dulu sepertinya Kakak tidak suka aku antar hingga ke teras ini? Aku tak digubris sama sekali," ucap Allena.
"Itu menurutmu karena aku tidak pernah diantar seperti ini sebelumnya. Oleh Frisca atau siapa pun, meski terlihat tak peduli tapi dalam hati sangat senang diperhatikan seperti ini. Aku merasa kesal saat hari itu kamu berangkat lebih pagi dan tidak ada yang mengantarku berangkat kerja. Rasanya seperti ada rasa yang hilang, itu yang membuatku semakin hari semakin jatuh cinta padamu," ungkap Zefran.
Sebuah ungkapan hati Zefran yang tak pernah disangka-sangka oleh Allena. Wanita itu merasa apa yang dilakukannya selama ini adalah sia-sia, mengantar suami yang tak peduli padanya saat berangkat kerja.
Namun kini, Allena baru mengetahui bahwa yang dilakukannya justru tidak sia-sia bahkan memberi kesan di hati Zefran hingga membuat laki-laki itu semakin jatuh cinta padanya dan tak bisa kehilangannya lagi.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...