
Allena bersandar di dada suaminya, mereka beristirahat di beranda belakang sambil menatap Zifara yang berlarian mengikuti Zefano di atas rumput taman. Sesekali anak itu terjatuh namun bangkit lagi mengejar Zefano. Tawa kedua anak itu terdengar sayup-sayup di telinga ayah dan ibunya.
Zefran mengecup puncak rambut istrinya, Allena langsung menoleh ke arah suaminya. Zefran hanya tersenyum membalas tatapan wanita cantik itu. Hari ini mereka beristirahat di rumah setelah hari-hari kemarin sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan mereka.
"Kita mau bulan madu ke mana sayang?" tanya Zefran.
Allena tersenyum, ternyata suaminya masih ingin mewujudkan niatnya membayar semua hal yang dulu sempat terlewatkan. Hal-hal yang dilakukan layaknya pasangan yang baru menikah.
"Aku ingin mengikuti keinginan Kakak membayar semua hal yang telah terlewati begitu saja. Tapi … aku takut jika semua telah kita lakukan, kita tidak memiliki apa-apa lagi untuk dinanti-nanti. Aku takut Kakak membayar semua, setelah itu Kakak pergi," jawab Allena.
"Mana mungkin aku seperti itu," ucap Zefran sambil melingkarkan tangannya di tubuh istrinya yang bersandar padanya.
"Ya, pokoknya aku ingin Kakak tetap memiliki hutang padaku. Sebagian besar sudah Kakak bayar, aku ingin hutang bulan madu menjadi hutang Kakak selamanya padaku hingga Kakak tidak bisa kabur dan selalu merasa punya kewajiban membayar hutang itu," jawab Allena.
Zefran tertawa namun pasrah jika itu keinginan istrinya.
"Meski aku melunasi semua janjiku untuk mewujudkan impian pasangan yang baru menikah. Aku tetap akan berhutang padamu, aku rasa itu tidak akan pernah bisa lunas dibayarkan," ucap Zefran.
"Hutang apa itu?" tanya Allena heran.
"Janjiku … aku berjanji akan mencintaimu selamanya, meski aku mencicilnya setiap hari. Tapi hutang yang tidak akan pernah lunas. Jadi jangan khawatir meski bulan madu kita lakukan, aku tetap punya satu hutang padamu seumur hidupku," ucap Zefran sambil tersenyum.
Allena tersenyum menatap mata suaminya, ingin mencari kebenaran ucapannya di situ. Zefran menatap istrinya dengan tatapan yang penuh cinta. Allena beralih menatap bibir Zefran, wanita itu membuka sedikit mulutnya dan bersiap menempelkannya di bibir Zefran. Laki-laki itu pun sudah bersiap menyambut kedatangan bibir manis itu.
"Ehem, ehem,"
Niat Allena batal, Zefran tersenyum sambil berpaling ke arah suara.
"Ada apa Bi," tanya Zefran pada pelayan rumahnya itu.
"Ada tamu Tuan, itu Tuan Patrick datang," jawab pelayan itu.
"Kalau begitu suruh dia ke sini saja," ucap Zefran.
Pelayan itu pun mengangguk lalu beranjak dari tempat itu. Zefran ingin melanjutkan niat mereka yang tertunda. Tapi Allena mendorongnya sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Zefran heran.
"Nanti keburu ada yang lihat," jawab Allena.
"Aah, Patrick ini menggangu saja" ucap Zefran.
Allena tertawa dan benar saja Patrick muncul tak lama setelah itu. Allena bangun dari bersandarnya di dada Zefran. Menyambut Patrick yang datang ke beranda belakang rumah mereka.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian," ucap Patrick sambil tersenyum. Allena pun ikut tersenyum.
"Ya benar, kamu sudah mengganggu kami. Tapi tidak apa-apa karena sebentar lagi kamu juga bakal sibuk dengan keluargamu sendiri," jawab Zefran.
Mereka tertawa, Patrick dipersilahkan duduk. Allena dan Zefran menunggu Patrick menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku ke sini untuk berterima kasih secara khusus pada kalian atas apa yang terjadi kemarin," ucap Patrick.
"Kami justru ingin minta maaf karena apa yang kami lakukan kemarin sudah menguras perasaan Kak Patrick," jawab Allena.
"Sebenarnya saat persiapan acara itu rampung, tak ada lagi yang kami pikirkan selain kamu yang masih belum bisa menetapkan hatimu. Allena yakin kalau kamu menyukai Rahma. Jadi aku ingin membuktikannya sekaligus ingin membantumu. Aku tidak ingin hidup bahagia sendiri dengan keluargaku sementara kamu masih saja tetap melajang," ucap Zefran panjang lebar.
Patrick tersenyum sambil menunduk, rasanya tak percaya atasan sekaligus sahabatnya itu begitu perhatian dengan statusnya. Patrick tak berpikir kalau Zefran juga akan memikirkan masalah pribadinya.
"Allena sangat sayang dengan adiknya, dia juga kasihan melihatmu masih tetap sendirian. Allena itu jika sudah menerima kebaikan orang dia akan mencari-cari cara untuk membalas budimu," ucap Zefran.
"Apa yang aku lakukan untukmu, Allena? Aku tidak melakukan apa-apa padamu?" tanya Patrick pada Allena.
"Kakak yang mengurus semuanya hingga acara resepsi pernikahan kami berjalan lancar. Aku juga baru tahu kalau dulu yang mengatur acara pernikahan kami dulu juga Kak Patrick. Aku belum membalas apa pun untuk pertolongan Kakak pada kami," jelas Allena.
__ADS_1
"Tapi aku memang ditugaskan untuk itu, jadi aku memang harus mengerjakannya. Allena, kamu tidak punya hutang budi apa pun padaku," jawab Patrick sambil tersenyum.
"Tetap saja Kak, Kak Patrick sudah melakukan tugas dengan baik dan itu bukannya tidak melelahkan. Untuk itu aku ingin membalas kebaikan Kak Patrick. Kami ingin Kak Patrick bahagia bersama dengan orang yang Kakak cintai. Apalagi aku tahu kalau Kakak dan Rahma saling menyukai, kami tentu tak bisa tinggal diam melihat hubungan Kak Patrick yang masih belum ada kejelasan," tutur Allena.
"Terima kasih Allena, tanpa bantuanmu nasibku akan sama seperti cinta pertamaku. Terpendam begitu saja, tak berani untuk mengungkapkannya," jawab Patrick sambil tersenyum simpul.
"Kak Patrick punya cinta pertama? Kalau begitu Kakak harus melupakannya. Jangan sakiti hati adikku karena cinta pertama Kak Patrick yang tak kesampaian. Jika tahu seperti itu, aku akan pastikan Kak Patrick menyelesaikan cinta pertama Kak Patrick dulu," ucap Allena dengan wajah yang risau.
"Kenapa begitu? Kamu khawatir sekali, seperti paranoid dengan cinta pertama," ucap Zefran.
"Ya Kak, cinta pertama itu adalah cinta yang paling berkesan. Hati itu ibarat sehelai kertas yang masih putih, cinta pertama itu goresan pertama dalam lembaran kertas putih itu. Dan goresan itu tetap ada meski goresan lain datang berkali-kali," ucap Allena.
Patrick tersenyum, mendengar Allena mengibaratkan hati seseorang seperti sebuah lukisan sketsa. Laki-laki itu pun akhirnya mengungkapkan pemikirannya.
"Kamu benar karena cinta pertama itu adalah sebuah harapan. Seperti satu goresan pada selembar kertas putih. Terselip sebuah harapan akan menghasilkan lukisan yang sempurna. Tapi kamu lupa, goresan pertama itu hanya untuk memunculkan niatmu untuk mulai melukis. Sementara goresan terakhirmu adalah goresan untuk menyempurnakan lukisanmu," ucap Patrick sambil tersenyum.
"Kamu tidak akan menang melawannya," bisik Zefran pada Allena.
Allena menoleh pada suaminya.
"Harusnya Kakak mendukungku," ucap Allena pura-pura merajuk.
"Kenapa harus mendukungmu? Aku setuju dengan pemikiran Patrick. Cinta pertama itu mungkin cinta yang berkesan tapi cinta terakhir itu adalah cinta sejati. Sayang, kamu ingin menjadi cinta yang berkesan atau cinta yang sejati?" tanya Zefran.
Allena mencubit pinggang suaminya karena menyangkut pautkan dengan dirinya. Zefran justru tertawa karena kegelian. Patrick ikut tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Pokoknya Kak Patrick harus janji tidak akan menyakiti hati Rahma," ucap Allena akhirnya.
Tapi yang menjawab justru Zefran.
"Mana mungkin dia ingin menyakiti Rahma. Rahma itu calon istrinya kalau niatnya pasti ingin membahagiakan Rahma, tak tahu bagaimana akhirnya nanti," ucap Zefran yang meragukan.
"Tuh 'kan?" tanya Allena.
"Iya Allena, aku janji tidak akan menyakitinya. Karena dia satu-satunya gadis di hatiku sekarang dan selamanya," ucap Patrick.
"Ma, temani Zeno main di taman yuk!" tanya Zefano yang tiba-tiba datang dan langsung mengajak Allena.
Wanita itu bingung untuk menjawabnya.
"Pergilah sayang, temanilah Zeno," ucap Zefran.
"Tapi."
"Tidak apa-apa, aku percaya padamu. Duda itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Aku tidak takut bersaing dengannya," ucap Zefran sambil tersenyum.
Allena terperangah, Patrick heran dan bertanya.
"Duda?" tanya Patrick.
"Ada duda yang terpesona dengan Allena," ucap Zefran.
"Apa?"
"Kakak,"
Patrick dan Allena bergantian merespon. Patrick kaget karena Zefran yang begitu santai menyampaikan ucapan itu karena setahunya Zefran adalah seorang yang pencemburu. Sementara Allena tak ingin masalah itu diungkapkan Zefran pada Patrick.
Patrick akhirnya tertawa, sementara Allena masih bingung untuk menjawab ajakan Zefano.
"Pergilah! Tidak apa-apa. Aku percaya padamu, lagi pula aku sudah mengenalnya," ucap Zefran sambil mengangguk.
Mendapat izin dari Zefran, Allena pun pamit menemani Zefano bermain di taman komplek. Anak itu saking senangnya langsung melompat-lompat dan melambaikan tangan pada Zefran dan Patrick. Patrick membalas lambaian tangan anak tampan itu.
__ADS_1
"Kamu sudah banyak kemajuan, sudah mulai percaya pada istrimu," ucap Patrick.
"Sekarang aku sadar, masalah justru timbul karena kurangnya rasa percaya," ucap Zefran.
Patrick mengangguk dan bersyukur karena Zefran telah banyak berubah. Terlihat lebih bisa mengendalikan dirinya, mengurangi sifat posesifnya pada Allena. Mereka melanjutkan pembicaraan sementara Allena telah melangkah bersama Zefano dan Santi yang menggendong Zifara.
Saat tiba di taman, Zefano langsung bermain bersama Zefania. Begitu melihat Allena, Zacko langsung pamit meninggalkan ibu-ibu yang sedang berbincang dengannya.
"Halo Allena," sapa Zacko langsung duduk di samping Allena.
"Tahu namaku dari siapa?" tanya Allena merasa penasaran.
"Suamimu yang beritahu aku, kami sudah berbincang akrab di sini. Aku pikir kamu tidak akan ke sini lagi. Kamu takut suamimu marah jika kamu berteman denganku ya?" tanya Zacko.
Allena cuma diam menunduk. Sekarang suaminya seperti tidak masalah jika Allena mengenal Zacko. Tapi Allena tetap saja merasa takut.
"Setiap kali melihatmu, aku teringat istriku," ucap Zacko lagi.
Allena langsung menoleh dengan tatapan heran.
"Bukannya aku menganggapmu adalah istriku tapi saat melihat sikapmu yang terlalu kaku pada laki-laki, membuat aku teringat pada istriku. Namanya Cindy, kami pacaran sejak kami masih duduk di bangku SMP," jelas Zacko.
Allena terperangah tak percaya, cinta yang telah terjalin sudah begitu lama, bisa berakhir dengan perpisahan. Tanpa disadari Allena, mengekspresikannya rasa tak percayanya dengan mulutnya yang terbuka.
"Kamu manis sekali dengan mulut terbuka. Zefran pasti suka membuatmu terkejut, jika eskpresimu semanis itu," ucap Zacko sambil tertawa.
Allena segera menutup mulutnya.
"Kenapa kalian berpisah padahal sudah pacaran begitu lama?" tanya Allena akhirnya untuk menghilangkan kecanggungan karena ekspresi terperangahnya yang jelas-jelas terlihat oleh Zacko.
"Karena aku terlalu pencemburu, aku rasa dia letih karena aku selalu curiga padanya," jelas Zacko dengan wajah murung.
"Tidak bisa kembali lagi bersamanya?" tanya Allena.
"Dia sudah berselingkuh dan aku rasa dia sudah menikah dengan laki-laki itu," ucap Zacko dengan wajah yang menunduk.
"Dia hanya dituduh berselingkuh atau benar-benar berselingkuh?" tanya Allena.
Setelah mendengar sifat Zacko yang pencemburu, Allena merasa, mungkin saja telah terjadi salah paham. Sementara Zacko tercenung mendengar pertanyaan Allena.
"Aku rasa dia benar-benar berselingkuh, dia bahkan mengakuinya," ucap Zacko pelan.
"Jawaban yang tidak pasti, berarti hanya sekedar tuduhan," ucap Allena langsung.
"Apa?" tanya Zacko.
"Apa pernah menyaksikan sendiri? Dari ucapanmu tersirat ketidakpastian. Dan dia mengakui berselingkuh pasti karena letih dengan sikap cemburumu itu," jelas Allena.
"Menurutmu seperti itu?" tanya Zacko sambil menoleh pada Allena.
Ya, karena aku pernah mengalaminya, rasa letih dicurigai membuatku ingin lari. Tapi pergi bukan berarti rasa cintaku pada suamiku menghilang. Aku hanya ingin istirahat dari dari segala tuduhan-tuduhan, batin Allena yang bisa mengerti perasaan istri Zacko.
"Sayang sekali, cinta kalian yang di pupuk sekian lama akhirnya berpisah begitu saja. Aku rasa tidak mudah menghilangkan perasaan yang sudah begitu mendalam. Jika bukan karena terlalu sakit hati, dia tidak akan meninggalkanmu" sambung Allena.
Zacko kembali termenung, menatap lurus ke arah ibu-ibu yang sedang menemani putra putrinya bermain. Lalu menatap Allena, Zacko merasa baru kali ini bisa membicarakan tentang istrinya dengan begitu terbuka dengan seseorang.
Allena seperti seseorang yang bisa memahami perasaan istrinya sementara selama ini ibu-ibu yang mendengar ceritanya justru malah mendukung dan menghiburnya karena memilih untuk berpisah.
Allena menunduk, menatap daun-daun yang berjatuhan di ujung kakinya. Sementara Zacko termenung memikirkan ucapan Allena. Tiba-tiba Zacko melihat sesuatu yang bergerak mendatangi. Allena mengangkat wajahnya, wanita itu kaget. Zacko dan Allena melihat bola kaki yang melayang ke arah Allena.
Reflek laki-laki itu melindungi Allena dengan memeluknya. Punggung Zacko telak terkena bola kaki itu, Allena kaget.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zacko dengan posisi yang masih memeluk Allena.
__ADS_1
Allena yang tadinya reflek menunduk kini mengangkat wajahnya, membuat wajah mereka menjadi begitu dekat. Sementara tak jauh dari taman itu, Zefran melangkah hendak menyusul Allena dan anak-anaknya. Zefran terkejut karena harus melihat Zacko yang sedang memeluk dan menatap istrinya.
...~ Bersambung ~...