
Allena menunggu di gerbang taman kanak-kanak, dimana Zefano bersekolah. Nomor satu yang ingin dilakukannya setelah berkumpul bersama keluarganya adalah menjemput putranya di sekolah. Saat Rahma bercerita Zefano sangat ingin dijemput oleh ibunya, saat itulah keinginan Allena semakin kuat untuk kembali ke tanah air.
Berjalan mondar-mandir sambil tersenyum pada ibu-ibu wali murid yang juga sedang menunggu. Tak lama kemudian bel pun berbunyi, pintu gerbang dibuka. Allena mulai mencari-cari, semakin bingung karena begitu banyak anak-anak yang terlihat sama.
Bagaimana ini? Seramai ini, besar badan mereka pun rata-rata sama? Oh, kalau aku lupa wajah anakku bagaimana? Saat di rumah aku yakin itu anakku tapi di sini begitu banyak anak-anak dari jauh mereka terlihat sama. Zeno, di mana dia? batin Allena.
Allena sibuk melihat anak-anak dengan seragam yang sama. Berjalan dan berlari bersamaan membuatnya kesulitan melihat satu persatu. Hingga gadis itu merasa ada yang menarik ujung blouse-nya. Allena menoleh dan langsung tersenyum.
Benar apa yang pikirkannya, dia tidak bisa melihat satu per satu hingga Zefano lah yang akhirnya menemukannya. Zefano langsung memeluk ibunya.
"Mama, makasih sudah jemput Zeno," ujar Zefano.
"Mulai sekarang Mama yang akan jemput Zeno. Sekarang ayo kita jalan, tunggu taksi di depan," ucap Allena sambil menggandeng tangan anaknya.
Zefano mengangguk lalu berjalan sambil sebentar-sebentar menoleh ke arah ibunya.
"Kenapa lihat-lihat Mama terus?" tanya Allena sambil tersenyum.
"Mama Zeno cantik, Zeno senang dijemput Mama," jawab Zefano.
"Oh ya, tapi kita jalan kaki ke depan apa Zeno tidak lelah?" tanya Allena.
Zefano menggeleng, dari gerbang sekolah mereka harus berjalan kaki menuju jalan besar. Rata-rata dari wali murid menjemput anak mereka dengan menggunakan mobil pribadi.
Jalan menuju sekolah itu cukup jauh dari jalan besar hingga akhirnya Allena memutuskan untuk menggendong Zefano. Allena berhenti lalu duduk berjongkok.
"Ayo naik di punggung Mama," ucap Allena.
"Nggak mau, nanti Mama capek," tolak Zefano.
"Sejak berangkat ke Paris hingga Zeno sebesar ini Mama tidak pernah lagi menggendong Zeno. Sekarang izinkan Mama menggendong Zeno ya? Atau maunya digendong seperti bayi?" tanya Allena yang langsung menyambar tubuh anak itu dan langsung menggendong di depan seperti bayi.
"Nggak mau, Zeno malu. Gendong di belakang aja," pilih Zefano.
Akhirnya anak itu bersedia digendong belakang oleh ibunya. Dari belakang memeluk ibunya erat lalu mencium pipinya, Allena tertawa.
"Kita beli mobil untuk antar jemput Zeno yuk, jadi kita tidak kepanasan jalan kaki mencari taksi," usul Allena sambil berjalan pelan.
"He-eh, Zeno juga nggak boleh main diluar lagi, Bu guru bilang nanti kepanasan bisa mimisan lagi," cerita Zefano.
"APA? Zeno mimisan?" tanya Allena panik.
Zefano mengangguk, Allena panik. Mimisan adalah hal yang paling di takutkannya, masih terbayang jelas dalam ingatannya, ayah Allena yang dulu sering mengalami mimisan hingga akhirnya meninggal karena penyakit yang dideritanya.
"Kita ke dokter ya sayang?" tanya Allena panik.
"Tadi udah ke dokter kok Ma, diajak sama Bu guru," jawab Zefano.
"Benarkah? Ke dokter beneran?" tanya Allena.
"Iya, Mama, di rumah sakit" jawab Zefano.
"Lalu apa kata dokter?" tanya Allena semakin panik.
"Anak-anak nggak boleh main di luar rumah kelamaan. Cuacanya sedang panas, kalau kelamaan kepanasan bisa mimisan," ucap Zefano meniru ucapan dokter spesialis anak yang dikunjunginya bersama guru wali kelasnya.
"Oh begitu. Baiklah, kalau gitu kita tunggu taksi di sana ya sayang. Kita beli mobil baru sekarang, nanti Zeno yang pilih ya," ucap Allena sedikit lega.
"Asyiiik!!!" teriak Zefano.
Allena tertawa, mereka pun menunggu taksi di sebuah halte. Allena tersenyum melihat Zefano yang terlihat ceria namun dalam hati gadis itu masih tersisa rasa khawatir.
Sebaiknya besok aku tanyakan pada gurunya, batin Allena.
Gadis itu membuka tas sekolah Zefano lalu mengambil bukunya. Mengipaskan buku itu ke arah putranya, anak itu langsung tertawa.
"Kenapa Zeno di kipas Ma?" tanya Zefano.
"Karena kamu tidak boleh kepanasan," jawab Allena.
__ADS_1
"Nanti Mama capek," ucap Zefano lagi.
Allena menggelengkan kepala.
"Tidak Pangeran Zeno, hamba tidak merasa capek," ucap Allena.
Zefano tertawa mendengar suara Allena yang dibesarkan seperti seorang pengawal. Allena terpana menatap anaknya yang sedang tertawa.
Senyummu, tawamu mirip sekali dengan Papamu, juga matamu, hidungmu, semua mirip dengannya. Apa aku yang berlebihan karena masih memikirkannya? Hingga kamu terlihat begitu mirip dengannya? batin Allena.
Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya saat melihat taksi melintas. Segera memberhentikan taksi dan melaju ke sebuah dealer mobil. Seperti janjinya pada Zefano, anak itu diminta untuk memilih warna yang disukainya.
"Yang ini," teriak Zefano sambil kedua tangannya mengarah pada sebuah sedan sport berwarna merah maroon.
"Kenapa Zeno pilih warna ini?" tanya Allena.
"Karena warnanya cantik seperti Mama," teriak Zefano lagi.
Marketing dealer mobil itu tersenyum mendengar jawaban Zefano.
"Itu kan om itu tertawa Mama jadi malu," ucap Allena.
"Bukan begitu Nyonya, anak Nyonya ini benar. Mobil ini sangat cocok dengan Nyonya, sama-sama cantik. Anak Nyonya pintar kalau jadi marketing pasti handal karena pintar merayu," jawab marketing itu sambil tersenyum.
Allena ikut tersenyum, mereka pun sepakat memilih sedan sport berwarna merah maroon itu. Setelah menerima surat pemesanan kendaraan mereka pun pulang.
"Kapan mobilnya boleh dibawa pulang?" tanya Zefano.
"Nanti mobilnya akan diantar ke rumah kita, sayang," jawab Allena.
"Ooh, kalau sudah diantar ke rumah, kita jalan-jalan ya Ma," ajak Zefano.
"Tentu dong, kita jalan-jalan kemana saja Zeno mau," ucap Allena.
Zefano tertawa riang sambil bertepuk tangan. Di dalam taksi Allena meminta Zefano tidur di pangkuannya.
"Tentu sayang," jawab Allena sambil menyisir helaian rambut Zefano dengan jemarinya.
Allena memang ingin mengisi hari-harinya bersama putranya. Setelah sekian tahun berpisah, Allena memiliki banyak impian bersama putranya. Berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata, menginap dan bersenang-senang bersama Zefano, ibunya dan juga Rahma.
Keesokan harinya Allena meminta izin bertemu dengan guru kelas Zefano dan menanyakan mengenai peristiwa mimisan yang dialami anaknya.
"Benar Bu, kami membawanya ke dokter tapi kata dokter tidak apa-apa karena cuaca sekarang ini memang sangat panas. Sementara anak-anak sangat senang bermain di luar ruangan. Jika terjadi hal seperti itu biasanya kami akan langsung membawa mereka ke dokter untuk diperiksa," jelas guru wali kelas itu.
"Takutnya ada apa-apa, kadang anak-anak ini bermain hingga terjatuh atau bahkan berkelahi. Lalu terluka tapi tidak berani mengadu, jadi kami selalu membawa mereka periksa ke dokter," sambung guru itu.
"Dengan cuaca panas seperti ini anak-anak memang rentan mimisan, dalam minggu ini saja sudah tiga anak yang kami antar ke dokter. Kepala sekolah sampai-sampai mengeluarkan larangan untuk keluar kelas saat jam istirahat. Kami jadi memberikan permainan dan hiburan di dalam kelas saja Bu," jelas guru wali kelas Zefano.
Allena tersenyum lega dan berterima kasih pada guru wali kelas itu. Dalam hatinya bersyukur karena menurut dokter, Zefano hanya mimisan biasa.
Seperti janjinya pada Zefano, saat libur tiba dan mobil yang mereka pesan telah datang, Allena pun mengajak keluarganya berjalan-jalan. Allena mengantar kemana pun Zefano ingin pergi seolah-olah ingin menebus hari-hari yang telah terlewati saat mereka hidup terpisah.
"Kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Vina sambil membelai rambut putrinya yang rebah di pangkuannya.
Allena mengajak keluarganya menginap di sebuah hotel mewah di sebuah tempat wisata. Rahma dan Zefano telah tidur pulas karena kelelahan bermain sementara dirinya dan Bu Vina masih terjaga.
"Allena tidak tahu apa status pernikahan Allena sekarang ini. Kami hanya berpisah tanpa ada kata cerai. Lagipula tidak terpikirkan untuk menikah lagi. Sekali saja sudah cukup apalagi Allena sudah memiliki Zeno. Tidak ada lagi yang Allena inginkan selain menjalani hidup bahagia seperti sekarang ini," jawab Allena.
"Kamu masih mencintai suamimu, iyakan?" tanya Vina.
Allena menitikkan air mata, hingga saat ini Allena belum bisa melupakan suaminya. Meski silih berganti laki-laki yang datang dan menyatakan cinta padanya, gadis itu tanpa berpikir panjang akan langsung mengangkat jari manisnya.
Memandang cincin kawin yang terselip di jari manis gadis itu otomatis akan membuat laki-laki mana pun akan mundur dengan perasaan kecewa.
"Maafkan Allena Bu, Allena masih belum bisa melupakannya," ucap Allena sambil menghapus air matanya.
Bu Vina mengangguk, sedikit pun ibu itu tidak ingin memaksakan kehendaknya. Apa pun yang Allena inginkan Bu Vina akan pasrah karena Allena sendiri yang akan menjalaninya.
Setelah puas mengisi hari libur bersama keluarganya Allena kembali disibukkan dengan pekerjaan. Hari ini gadis itu datang ke perusahaan fashion milik Ny. Marilyn.
__ADS_1
"Akhirnya putri kesayanganku datang," ucap Marilyn sambil memeluk dan mencium kedua pipi Allena.
Ny. Marilyn telah menganggap Allena seperti putrinya sendiri. Beberapa kali datang ke Paris dan menemui Allena. Gadis itu selalu membuat Ny. Marilyn kagum akan hasil rancangannya. Event-event peragaan busana yang diikuti Allena selalu mendapatkan applause dari para pengunjung acara.
Dan Allena tidak pernah lupa mengucapkan terima kasihnya pada Ny. Marilyn sebagai orang yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi sukses seperti sekarang ini.
Nama Ny. Marilyn semakin harum di dunia fashion. Setiap kali orang-orang di dunia fashion yang bertemu dengannya akan selalu berkata anak asuhan Nyonya satu itu sangat berbakat.
"Bagaimana sudah puas bermain dengan putramu?" tanya Marilyn.
Allena mengangguk dengan yakin sambil tersenyum.
"Sudah siap untuk tenggelam lagi di dunia fashion?" tanya Marilyn sambil tertawa.
Allena balas tertawa, gadis itu mengerti apa yang dimaksudkan Ny. Marilyn. Allena jika sudah mulai mengerjakan sesuatu sangat fokus dan tidak ingin diganggu oleh apa pun. Allena seperti tenggelam di dunianya sendiri.
"Bagaimana dengan persiapan peragaan busana kali ini? Ingat ini pertama kalinya kamu mengadakan di sini. Nama yang sudah di kenal orang akan dibuktikan dengan mata kepala mereka sendiri. Kamu harus bisa membuat mereka takjub dengan karyamu," nasehat Marilyn.
"Siap, Madam Marilyn" ucap Allena sambil tersenyum.
Ny. Marilyn tertawa sambil mengusap rambut Allena penuh kasih sayang. Nyonya itu seperti ibu di dunia kerja bagi Allena. Di setiap kesempatan selalu menghubungi Nyonya itu untuk dimintai pendapatnya. Ny. Marilyn merasa Allena benar-benar anak yang patuh, hormat dan berbakti padanya.
Menghembuskan nafas berat lalu meninggalkan gadis itu dengan tugas-tugas yang harus diselesaikannya setelah menepuk bahu Allena. Gadis itu mulai melihat persiapan peragaan busananya, memilih model-model yang cocok sesuai tema peragaan busana kali ini.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, di sebuah hotel bintang lima. Pertama kalinya Allena akan memperagakan hasil rancangannya di negerinya sendiri.
Pagi itu saat sarapan Frisca sudah wanti-wanti agar suaminya pulang tepat waktu agar bisa menemani di acara yang telah ditunggu-tunggunya.
"Kenapa aku harus ikut? Kamu bisa pergi bersama dengan teman-temanmu," sahut Zefran.
"Ini keinginanku sekarang, biasanya kamu senang mengantarku belanja gaun-gaun kenapa sekarang kamu berubah? Lagi pula ini kesempatanku untuk membeli gaun indah hasil rancangannya sebelum perutku membesar," ucap Frisca.
"Ini kesempatanmu atau perutmu yang akan membesar sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehadiranku di sana," ucap Zefran sambil menyantap sarapannya.
Ny. Mahlika hanya diam mendengar perdebatan putra dan menantunya. Semakin terlihat jelas jika sikap Zefran telah berubah pada Frisca. Jika dulu laki-laki itu menyanjung Frisca, patuh dan selalu menuruti keinginan istrinya namun sekarang sikapnya telah berbeda. Entah apa yang membuat laki-laki itu bersikap seperti itu.
Sejak kehilangan Allena, laki-laki itu bersikap dingin pada istrinya karena merasa penyebab kepergian wanita yang dicintainya adalah karena istri pertamanya itu.
"Pokoknya jika kamu tidak menjemputku, aku akan pergi sendiri tapi kamu sudah harus berada di hotel itu! Atau aku akan pulang ke rumah orang tuaku" ucap Frisca memaksa.
Ancaman Frisca cukup membuat Zefran tidak tenang. Meski hatinya berat namun akhirnya mobil sport itu tetap membawanya ke parkir basement hotel bintang lima itu.
Berjalan memasuki lift menuju lobby hotel dan bertanya pada resepsionis di mana peragaan busana itu diselenggarakan. Resepsionis memberi petunjuk, Zefran kembali berjalan menuju lift. Terkejut saat melihat sosok yang mirip dengan Allena berada dalam lift yang pintunya hampir tertutup.
Zefran berusaha mengejar bahkan memanggil nama istri mudanya itu namun wanita itu tidak mendengarnya dan terus membiarkan pintu lift tertutup. Zefran terlambat, laki-laki itu merasa sangat menyesal.
Itu Allena, aku yakin itu Allena. Mirip sekali meski penampilannya berbeda tapi aku yakin itu adalah dia, dan gerak-gerik tubuhnya aku tahu itu adalah dia. Itu adalah istriku, kenapa dia ada di sini? Ada urusan apa dia di sini? Oh tidak, jangan sampai dia menjadi wanita…, tidak dia tidak seperti itu. Tapi apa yang di lakukannya di sini. Apa dia bekerja di hotel ini? Tidak mungkin, dia cuma tamatan SMA, pekerjaan apa yang bisa dilakukannya di hotel bintang lima ini dengan penampilan seperti itu? jerit hati Zefran.
Begitu banyak pikiran dan pertanyaan di benaknya. Begitu pintu lift terbuka, Zefran langsung masuk dan menekan nomor lantai yang dituju. Zefran sampai di lokasi acara peragaan busana. Tak perlu mencari-cari Frisca. Wanita itu langsung menghampirinya dan mengajak Zefran bergabung bersama teman-temannya.
Teman-teman Frisca menyalami Zefran. Semua teman Frisca mengagumi ketampanan laki-laki itu. Frisca merasa sangat bangga namun Zefran menanggapinya dengan datar-datar saja.
Pikirannya masih melayang pada sosok Allena yang tadi dilihatnya. Berkali-kali Zefran melirik kesana ke mari demi mencari gadis yang masih dicintainya itu.
Hingga akhirnya peragaan busana pun dimulai. Frisca dan teman-temannya terlihat begitu antusias membahas detail busana yang sedang diperagakan. Beberapa gaun telah menjadi incaran mereka sementara pikiran Zefran melayang pada kejadian di depan lift.
Di penghujung peragaan, pembawa acara memperkenalkan designer yang merancang peragaan busana kali ini dan memintanya tampil untuk menyapa para hadirin.
"Terima kasih kepada para hadirin yang telah datang ke acara ini, mari kita sambut perancang dari busana-busana berlabel ZENO'S. Beri tepuk tangan pada designer cantik kita…, Allen-Rose," teriak pembawa acara.
Semua yang hadir di ruangan itu langsung berdiri dan bertepuk tangan saat Allena muncul dengan gaun rancangannya yang sangat indah. Berjalan dengan anggun di panggung catwalk. Seorang model langsung menyerahkan buket bunga pada Allena.
Allena yang tak kalah cantik dari para model itu berdiri sambil melambaikan tangannya kepada para hadirin. Tersenyum pada Frisca dan Zefran yang tercengang tak percaya. Tak cukup membuat mereka berdua terperangah. Seorang top model pria tampan berwajah bule naik ke atas panggung.
Membuat para model wanita diatas panggung seperti mendapat surprise hingga terperangah menutup mulut mereka dengan kedua tangan. Tak menyangka bisa menginjak panggung yang sama dengan seorang top model dunia papan atas.
Robert Daniel memberi buket bunga yang indah pada Allena, memeluk dan mencium kedua pipi gadis itu. Membuat darah Zefran mendidih, mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan ruangan itu
...~ Bersambung ~...
__ADS_1