
Kejadian tertukarnya cincin itu membuat Zefran sangat marah. Hingga suara bentakannya bergemuruh di seluruh ruangan itu. Zefran menganggap apa yang terjadi telah mengacaukan acara resepsi pernikahannya yang sangat di nanti-nantikannya.
Zefran berharap semua berjalan dengan sempurna. Namun saat melihat istrinya dengan susah payah mencoba menyelipkan cincin di jari manisnya. Emosinya memuncak. Patrick akhirnya mengakui kesalahannya karena telah mencoba memakai cincin atasannya itu.
Rahma merasa lebih bersalah lagi, karena semua kesalahan itu berawal dari perbuatannya yang ingin mencoba cincin itu. Gadis itu sangat sedih karena Zefran membentak Patrick yang mengakui kesalahan yang diakibatkan olehnya.
Zefran melepas cincin yang hanya bisa masuk seujung jari manisnya itu lalu meraih tangan Patrick dan meletakkannya di telapak tangan personal assistant-nya itu.
"Kamu ingin cincin ini? Ambillah!" ucap Zefran masih dengan suara keras namun tak sekeras tadi.
"Tuan …" ucap Patrick dengan mata yang berkaca-kaca.
Patrick merasa menyesal, kesedihan terbesarnya adalah membuat atasan yang sangat dihormatinya itu merasa kecewa padanya. Selama ini Patrick tak pernah sekalipun berbuat kesalahan. Laki-laki itu justru menjadi tempat mengadu Zefran dalam segala masalah di perusahaan mau pun masalah pribadi.
"Kak, sudahlah aku tidak tahan lagi melihatnya. Nanti aku ikutan menangis, riasanku bisa rusak," ucap Allena pada suaminya.
Wanita itu sama sekali tak melakukan apa-apa untuk menghibur Rahma. Hanya meminta suaminya untuk menghentikan kemarahannya. Mendengar ucapan Allena, Zefran kembali menatap Patrick.
"Aku bilang ambillah cincin itu, karena kami punya cincin sendiri," ucap Zefran sambil mengambil sebuah cincin dari dalam saku jasnya.
"Kalian suka cincin itu 'kan?" tanya Allena.
Patrick dan Rahma serta para tamu undangan terbengong-bengong mendengar percakapan suami istri itu.
"Ini kesempatanmu untuk melamar Rahma. Kalau ini tidak berhasil, aku tidak punya ide lagi menyatukan kalian," ucap Zefran sambil tersenyum pada Patrick.
"Kak Patrick, cepatlah minta Rahma untuk menjadi istrimu. Cincinnya ada ditanganmu, ini kesempatanmu Kak, semangat!" ucap Allena sambil tersenyum.
Patrick terperangah, begitu juga dengan Rahma. Allena berjalan mendekati adik perempuannya itu lalu mengusap punggungnya sambil tersenyum. Memeluknya dan menghapus air matanya. Kontan ruangan menjadi riuh, para tamu undangan baru sadar Zefran dan Allena sedang mengerjai sahabatnya itu.
Mata Patrick yang tadinya berkaca-kaca justru meneteskan air mata. Laki-laki itu menunduk dan segera menghapus air matanya.
"Kak Zefran sengaja menghadiahkan cincin itu untuk kalian, sedangkan aku akan menghadiahkan seragam pengantin nantinya tapi dengan syarat, saat ini juga Kak Patrick harus melamar adikku Rahma," jelas Allena sambil tersenyum
"Ooh rupanya Tante Rahma dan Om Patrick kena prank," teriak Zefano dari meja makan tamu.
Semua yang mendengar ucapan lugu anak itu langsung tertawa. Suasana menjadi lebih santai, mereka lega, kebanyakan dari mereka mengurut dada dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Patrick menatap cincin yang ada telapak tangannya itu. Zefran menepuk lengan Patrick untuk memberi dukungan pada sahabatnya itu. Zefran mengepalkan tangan untuk memberinya semangat. Patrick tertawa tertahan melihat tingkah Zefran yang terlihat sangat santai jauh dari sikap wibawa yang biasa ditunjukkannya saat di kantor.
Patrick beralih menatap Rahma, gadis itu telah terlihat lebih tenang. Rahma sempat tertawa tertahan saat Zefran menggodanya, meledeknya dengan mengusap-usap kepalan tangannya di mata. Allena juga ikut tertawa melihat Zefran yang meledek Rahma.
Allena memeluk Rahma, sementara gadis itu berusaha menghapus air matanya. Patrick melangkah ke hadapan Rahma. Menoleh pada Allena yang berdiri di samping Rahma seolah-olah meminta izin pada wanita itu. Allena mengangguk menjawab tatapan mata Patrick. Laki-laki itu segera menyodorkan kotak cincin itu pada Rahma yang masih menyisakan isak tangis.
"Rahma, maukah … kamu … menikah denganku?".
"MAUUUU!" jawab Zefano dari meja makan tamu.
Patrick langsung menoleh ke arah suara, semua tertawa melihat respon cepat Zefano menjawab. Patrick tertawa menunduk. Laki-laki itu pun ingin mengulang sekali lagi ucapan lamarannya.
"Rahma …"
"Aku mau!" jawab Rahma langsung.
Patrick terpana, semua tertawa melihat Rahma yang menjawab dengan cepat sebelum Patrick selesai mengucapkan kata-kata lamarannya. Allena hingga menutup mulutnya yang ternganga. Rahma berlari memeluk Patrick. Laki-laki itu termangu, Rahma menangis haru di pelukan Patrick.
"Tapi terima dulu cincinnya," ucap Patrick yang bingung dengan cara melamar yang tak biasa ini.
Allena yang tersenyum sambil bersandar pada suaminya, segera memberikan cincin longgar tadi pada gadis itu. Rahma pun menyelipkan cincin pemberian Allena di jari manis Patrick. Seseorang dari belakang meneriakkan untuk mencium, Patrick dengan malu-malu mencium kening Rahma.
Rahma menerima ciuman itu sambil memejamkan mata. Setelah selesai Patrick menatap lekat wajah gadis manis itu. Rahma kembali memeluk calon suaminya. Semua bertepuk tangan, suasana jadi terasa lega setelah mengalami ketegangan saat drama prank dari Zefran dan Allena tadi.
Resepsi pernikahan Allena dan Zefran pun kembali di lanjutkan. Zefran menyelipkan cincin di jari manis Allena begitu juga sebaliknya. Dilanjutkan dengan acara pemotongan kue pengantin. Allena dan Zefran melakukannya bersama-sama. Adit tak lupa mengacungkan jempol setiap kali berhasil menangkap momen-momen berharga itu.
Acara resepsi pernikahan itu berhasil digelar dengan bonus acara pertunangan Patrick dan Rahma. Mereka melakukan foto bersama, para pengatin dan juga calon pengantin.
Zefran mengajak istrinya berkeliling menemui orang-orang perusahaannya. Secara khusus mengenalkan istrinya pada karyawan-karyawan perusahaannya itu. Allena menyambut jabat tangan para karyawan itu dengan hangat. Mereka pun kagum dengan sikap istri CEO mereka yang sangat ramah itu.
"Terima kasih Kak," ucap Rahma memeluk Allena saat mereka kembali bertemu.
Zefran pun berpelukan dengan Patrick. Laki-laki itu tertawa mengingat Patrick yang tadi sempat menangis.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kamu bisa iseng juga," ucap Patrick pada Zefran.
"Hey, kamu itu sekarang sudah jadi calon adik iparku. Sopan sedikit sama kakak iparmu," ucap Zefran yang menandakan kalau laki-laki itu telah menganggap Rahma seperti adik perempuannya sendiri.
__ADS_1
"Maaf Kak Zefran," jawab Patrick langsung.
Mereka berempat tertawa, mendengar panggilan Patrick yang terdengar aneh.
"Sudah! Sudah! Batal, tak usah pakai kakak, aku jadi merasa cepat tua kalau kamu panggil aku begitu," ucap Zefran.
Mereka pun kembali tertawa, Allena dan Zefran berterima kasih pada Patrick yang telah mengurus penyelenggaraan pesta resepsi pernikahan mereka hingga terselenggara acara dengan sukses.
Acara dan rencana-rencana telah tercapai dengan sempurna. Seperti biasa, setelah acara usai Zefran dan Allena berkumpul dan berbincang dengan para sahabat. Kali ini Patrick dan Rahma pun diajak. Sahabat-sahabat Zefran turut mengucapkan selamat atas pertunangan Patrick dan Rahma. Setelah puas berbincang mereka pun pamit pulang.
Begitu sampai di kamar, Allena langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Zefran tersenyum dan mendekati istrinya. Melepas sepatu wanita itu dan mengangkat kaki istrinya ke atas ranjang.
Zefran perlahan mendorong tubuh istrinya hingga laki-laki itu bisa membuka resleting gaun pengantin istrinya.
"Aku paling tidak suka mendengar bunyi gaun pengantin, lebih baik tidak memakai apa-apa daripada memakai gaun berbunyi ini saat tidur," bisik Zefran saat perlahan menurunnya gaun itu hingga lepas dari tubuh Allena.
Wanita itu tersenyum, teringat dulu Zefran juga menyuruhnya mengganti gaun nikahnya dengan piyama tidur biasa namun yang tersedia hanya lingerie di walk in closet. Zefran mencari-cari sesuatu yang bisa di pakai Allena. Sesuatu yang tidak membuatnya tergoda oleh gadis itu hingga akhirnya Zefran mendapatkan kimono handuk untuk Allena.
"Kalau sekarang aku tak perlu mencari kimono. Aku lebih suka kalau kamu tak memakai apa-apa," bisik laki-laki itu.
Allena tersenyum sambil menangkup wajah suaminya. Zefran mencium pangkal leher Allena dan beralih mencium bibir wanita itu.
"Ayo kita lakukan malam pertama," ajak Zefran sambil tersenyum.
"Malam pertama setelah punya anak dua?" tanya Allena yang masih tertawa.
"Hey, kita ini baru selesai resepsi pernikahan," ucap Zefran.
"Lalu?" tanya Allena.
"Habis resepsi pernikahan itu harusnya malam pertama," bisik Zefran menggoda.
"Aku bersedia malam pertama kapan pun bersama Kakak. Tidak harus setelah resesi," jawab Allena sambil tersenyum.
Mendengar ucapan istrinya, Zefran langsung membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya. Perlahan dan lembut mereka menikmati ciuman itu hingga akhirnya berubah menjadi ciuman yang menggebu. Zefran dan Allena melepaskan hasrat cinta mereka seolah-olah malam itu adalah malam pertama mereka
...~ Bersambung ~...
__ADS_1