Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 78 ~ Direstui ~


__ADS_3

Frisca mengajak Rivaldo berkenalan dengan ayah dan ibunya. Namun, kedua orang tua Frisca justru menentang hubungan mereka. Tn. Adams meminta agar putrinya tidak mudah jatuh cinta dan lebih berhati-hati agar tidak mudah percaya pada laki-laki yang hanya ingin memanfaatkannya.


Mendengar ucapan Tn. Adams, Rivaldo langsung pergi meninggalkan ruangan. Frisca turun dari ranjangnya, sambil menarik tiang infusnya, wanita itu jalan tertatih mengejar Rivaldo.


"Frisca! Mau ke mana kamu?" tanya Adams dengan nada yang keras.


Wanita itu tidak peduli dia tetap saja berjalan keluar menyusul Rivaldo. Tn. Adams ingin mengejar namun Ny. Mahlika segera menghalangi.


"Apa-apaan kamu Ika, biarkan aku mengejar putriku!" seru Adams.


"Biarkan dia pergi menyusul laki-laki itu. Frisca putrimu tidak akan ada di hadapanmu kini jika bukan karena pertolongan laki-laki itu. Perlu kamu ketahui, Frisca menculik cucuku dan membawanya hidup terlunta-lunta di jalanan. Dia yang menolong Frisca di masa pelariannya. Dia yang menampung Frisca saat penyakitnya kambuh. Putrimu telah pasrah dengan penyakitnya, jika bukan karena laki-laki itu yang memberikan dukungan untuk kesembuhannya. Frisca tidak memiliki semangat hidup lagi jika bukan karena dorongan laki-laki itu yang nekat menjual rumahnya demi biaya pengobatan putrimu," jelas Mahlika.


"Tapi mungkin saja dia melakukan itu karena dia tahu, Frisca adalah pewaris kekayaan keluarga Adams," sahut Widya.


"Dia tidak mengenal Frisca sebelumnya, dia tinggal di luar daerah dan hanya sibuk dengan usaha dagangannya. Setahu dia, Frisca hanyalah wanita miskin yang terlunta-lunta dan putus asa karena penyakitnya. Hanya itu Frisca di matanya dan dia tulus menolong Frisca hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Anakku dan menantuku yang menceritakan semua ini padaku," jelas Mahlika.


Ny. Widya memandang suaminya dengan ekspresi yang masih ragu.


"Bagaimana ini Dad?" tanya Widya.


"Jika kalian menghalangi hubungan mereka, aku takut Frisca akan meninggalkan kalian demi laki-laki itu. Frisca telah menjadi orang yang berbeda sejak bertemu dengannya. Apa kalian ingin kehilangan putri kalian yang cuma satu-satunya itu demi status sosial? Frisca telah merasakan hidup bahagia dengannya meski hanya hidup sederhana. Frisca akan rela kehilangan segalanya demi laki-laki itu," jelas Mahlika dengan sungguh-sungguh.


Kedua orang tua itu akhirnya tertunduk. Ny. Mahlika adalah mantan besannya dan dia adalah orang yang terpercaya. Di dunia bisnis, wanita itu sangat di hormati, hingga akhirnya menyerahkan posisi CEO pada putranya. Nama besar Nyonya itu bahkan menjadi modal bagi rekan-rekan bisnisnya dalam meraih kepercayaan saat melakukan kerja sama.


Ny. Mahlika tidak akan sembarangan membela dan memuji orang jika bukan seperti itu keadaan yang sebenarnya. Ny. Mahlika adalah orang yang dapat dipercayai. Akhirnya orang tua Frisca memutuskan membiarkan putri mereka mengejar Rivaldo.


Sementara itu suara Frisca yang memanggil Rivaldo, hanya diabaikan oleh laki-laki itu.


Tidak Frisca, kembalilah pada keluargamu, aku rasa apa yang kita rasakan hanyalah cinta sesaat. Suatu saat nanti kamu akan menyesal memilihku. Kembalilah, apa yang dikatakan keluargamu memang benar. Menjauhlah dari laki-laki yang tidak memiliki apa-apa sepertiku ini, batin Rivaldo.


"Valdo!" panggil Frisca.


Meski lemah, Frisca tetap saja berjalan mengikuti laki-laki itu. Namun, Rivaldo bertekad tidak akan mempedulikan Frisca. Laki-laki itu memilih melepaskan wanita itu demi kebaikan Frisca sendiri. Rivaldo merasa Frisca hanya akan menderita jika tetap hidup bersamanya.


"Valdo!" panggil Frisca sekali lagi.


Kembali terdengar suara Frisca memanggil di lorong rumah sakit itu. Namun, tetap saja laki-laki itu melangkahkan kakinya semakin menjauh. Rivaldo bahkan mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Valdo … aah …."


"Awas Nyonya, hati-hati!" seru seorang perawat.


Terdengar bunyi Frisca yang terjatuh, Rivaldo menghentikan langkahnya dan reflek menoleh. Laki-laki itu tak bisa tak peduli melihat Frisca yang terduduk di lantai. Laki-laki itu kembali dan berlari menghampiri wanita yang menolak diajak Suster untuk kembali ke ruang rawat inapnya itu.


"Kenapa kamu mengikutiku?" teriak Rivaldo dengan mata yang berkaca-kaca.


Frisca langsung memeluk Rivaldo, laki-laki itu langsung mendorong tubuh Frisca namun wanita itu erat memeluknya.


"Kembalilah Frisca! Jangan ikuti aku. Aku tidak pantas untukmu, apa yang dikatakan orang tuamu itu benar. Kamu harus menjauhi laki-laki yang tidak memiliki apa-apa sepertiku. Aku tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupmu. Maafkan aku yang telah berkhayal terlalu tinggi bisa hidup bersamamu. Padahal kita berasal dari dunia yang berbeda. Kembalilah Frisca! Aku ikhlas, aku akan tetap bahagia jika melihatmu bahagia," tutur Rivaldo yang mulai menitikkan air mata.


Frisca menggelengkan kepalanya kuat dan masih memeluk laki-laki itu erat.


"Kalau kamu pergi, aku ikut denganmu. Aku tidak mau hidup tanpamu dan Keisya," balas Frisca sambil sesenggukan.


"Jangan menentang orang tuamu. Kamu bisa kehilangan segala-galanya," ucap Rivaldo.


"Aku tidak peduli, aku telah merasakan hidup bersamamu dan itu tidak apa bagiku. Aku tidak peduli harus kehilangan segalanya. Valdo, kamu dan Keisya adalah segalanya bagiku," ucap Frisca sambil menangis tersedu-sedu.


"Tapi …"


Frisca langsung mengangkat wajahnya, menoleh ke arah ayahnya yang tersenyum sambil mengangguk ke arahnya. Frisca menoleh kembali ke arah Rivaldo dan tersenyum. Namun, terlihat raut wajah laki-laki itu yang masih bingung, ekspresi apa yang harus ditunjukkannya. Bahagia atau sedih karena hatinya yang masih merasa bimbang.


"Kami telah mendengar semua cerita tentang hubunganmu dan putri kami. Maafkan kami, harusnya kami berterima kasih padamu tapi kami justru menyakiti hatimu," ucap Widya yang juga telah berdiri di samping mereka.


"Ayo Nak, kita kembali ke kamar," ajak Adams.


Frisca kembali menoleh pada Rivaldo dan menganggukkan kepalanya untuk mengajak laki-laki itu. Rivaldo akhirnya memutuskan kembali ke ruang rawat inap mewah itu. Laki-laki itu segera menggendong Frisca untuk kembali ke kamarnya. Ny. Widya membantu mendorong tiang infus putrinya.


"Jangan lakukan ini lagi, berjalan keluar padahal kamu masih lemah," ucap Rivaldo sambil menggendong Frisca.


"Aku akan lakukan ini jika kamu meninggalkanku. Aku akan terus mengikutimu," ucap Frisca.


Rivaldo tersenyum dan mereka pun sampai ke ruang rawat inap yang mewah itu. Sesampai di kamarnya itu Tn. Adams mengajak Rivaldo berbincang-bincang di balkon Sementara itu Frisca berbincang dengan ibunya.


Melihat semua kembali berbaikan, Ny. Mahlika pun pamit pulang. Nyonya itu kembali ke rumah dan menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit pada Allena. Wanita itu bersyukur karena Ny. Mahlika mampu menggugah hati orang tua Frisca untuk menerima Rivaldo.

__ADS_1


Cerita Ny. Mahlika membuat mood wanita itu kembali membaik setelah mendengar cerita dari salah seorang pelayan itu yang memilih bercerai karena hadirnya orang ketiga dalam rumah tangganya membuat Allena merasa tersindir dan langsung berkecil hati.


Allena memeluk ibu mertuanya dan mencium pipi wanita tua yang masih terlihat cantik itu.


"Terima kasih Mommy," ucap Allena.


"Mereka yang bersatu, kenapa kamu yang senang?" tanya Mahlika.


"Saya ingin Kak Frisca hidup bahagia Mommy. Jika tidak, saya akan selalu merasa bersalah," jawab Allena.


Frisca adalah istri pertama yang harus tersingkir karena kehadirannya dalam rumah tangga mereka. Nasib yang sama yang dialami oleh pelayan yang bercerita tadi. Namun saat mengetahui Frisca telah menemukan kebahagiaannya, Allena pun merasa ikut bahagia.


Ny. Mahlika pamit ke kamarnya dan Allena juga kembali ke lantai atas. Menatap kedua anak kecil dan seorang bayi yang tertidur setelah lelah bermain. Di ruang bermain itu Allena kembali melanjutkan membuat design sketsa busananya.


Saking bahagianya Allena, membuat wanita itu dengan mudah merancang hingga beberapa busana. Sambil tersenyum dengan lincahnya tangan Allena menorehkan guratan di atas kertas putih itu. Hingga tanpa terasa hari telah menjelang sore.


"Di sini kalian rupanya, wah ada apa ini? Main perang kertas?" tanya Zefran yang melihat begitu banyak kertas yang diremas berserakan di lantai.


"Suamiku," sapa Allena langsung tersenyum.


Allena meletakkan kertas sketsanya dan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Tak peduli dengan rasa heran suaminya yang melihat sekeliling ruangan dengan kertas yang begitu banyak berserakan.


"Ada apa ini, kenapa ceria sekali?" tanya Zefran.


"Aku mencintaimu," ucap Allena sambil tersenyum.


"Apa yang terjadi? Biasanya kamu begitu pelit mengucapkan kata-kata itu tapi hari ini, sudah dua kali aku mendengarnya," ucap Zefran sambil menangkup wajah istrinya.


"Aku akan mengatakannya lima kali sehari, setiap hari," ucap Allena yang membuat Zefran tertawa.


"Jangan terlalu berlebihan nanti kalau tidak terbukti aku akan menuntutmu," ucap Zefran.


"Lakukan saja," balas Allena dengan hati yang bahagia.


"Bagaimana kalau lakukan ini saja," ucap Zefran dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir wanita cantik itu.


Tak peduli apa alasan yang membuat istrinya terlihat begitu bahagia, Zefran hanya ingin menikmati kebahagiaanya bersama wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2