Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 111 ~ Selesai ~


__ADS_3

Zefran dan Ny. Mahlika menjenguk Allena. Suaminya itu terlihat begitu khawatir padanya, tapi Allena berkata bahwa dia baik-baik saja dan itu membuat Zefran dan Ny. Mahlika merasa lega. 


 Zulia yang menyaksikan suami istri yang saling mencintai itu berpelukan baru menyadari, wanita seperti apa Allena sebenarnya. Meneror wanita itu dengan buket bunga, mengerjainya di tempat kerjanya hingga mengakui dirinya sebagai simpanan suaminya, tetap tak menyurutkan hati Allena untuk menolong Zulia.


"Zulia! Apa kamu tidak lelah? Jika memang ada yang ingin kamu bicarakan denganku, besok datanglah ke sini. Sekarang pulang dan istirahatlah, kamu pasti lelah," ucap Allena saat Zefran telah melepaskan pelukannya.


"Apa yang ingin dia bicarakan denganmu sayang?" tanya Zefran.


"Entahlah, tadi dia datang ke kantor, katanya ingin bicara denganku," jawab Allena.


Dia bilang dia simpananmu, aku bilang seperti itu Kakak pasti kaget 'kan? Batin Allena sambil tersenyum-senyum.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Zefran.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku kerja seharian mengkhawatirkan Kakak, tapi justru aku yang membuat Kakak khawatir. Apa kaki Kakak baik-baik saja?" tanya Allena.


"Aku baik-baik saja sayang. Kalau di rasa-rasa memang masih terasa berat tapi saat panik mendengar kabar tentangmu rasanya ringan seperti bersayap bisa melayang," ucap Zefran.


Allena dan Zefran tertawa saling berpandangan. Melihat itu Zulia akhirnya mundur untuk pulang. Sepanjang perjalanan mengingat kembali kejadian yang menimpanya, hingga akhirnya menimpa Allena. Sebelum pulang sempat melirik Allena yang kesakitan saat ingin bersandar karena lupa punggungnya yang terluka.


Zefran yang juga duduk di ranjang rumah sakit itu menunjuk dadanya untuk tempat bersandar. Allena melupakan sakit di punggungnya dan tersenyum. Segera menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil memeluk sebelah tangan suaminya.


Dia tahu aku lelah karena dia juga pasti merasa lelah, batin Zulia.


Di depan pintu, gadis itu melihat Allena yang memejamkan mata sambil bersandar di dada suaminya.


Jika aku di posisinya, dan yang tertimpa dan terluka di punggung adalah aku, pada siapa aku akan bersandar? Tapi tidak! Aku tidak sepertinya. Jika aku di posisi Allena mungkin aku akan membiarkan dia tertimpa. Aku tak sebaik Allena, aku tidak akan menolong wanita yang ingin menggoda suamiku? Batin Zulia.


Satu pertanyaan kenapa dua sahabat itu saling berebut Allena pun terjawab oleh Zulia. Karena Allena suka menolong siapa saja, tak peduli teman atau musuh.


Keesokan harinya Zulia benar-benar datang. Allena meminta suaminya untuk meninggalkan mereka berdua untuk bicara.


"Tapi sayang …" Zefran khawatir meninggalkan Allena berdua dengan orang yang terlihat bermaksud buruk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak, jika telah selesai bicara aku telpon Kakak ya," ucap Allena.


Zefran mengangguk tak rela tapi juga tak bisa menentang keinginan istrinya. Tak peduli itu akan menambah panas suhu kepala Zulia, Zefran mengecup bibir wanita yang dicintainya itu sebelum keluar dari ruang rawat inap itu. Zulia hanya bisa menatap mereka.


Sepeninggal Zefran, Allena memintanya duduk di kursi samping ranjang itu. Zulia mengikuti ucapan Allena dan mulai bicara.


"Terima kasih atas pertolonganmu kemarin," ucap Zulia.


"Baiklah, ucapan terima kasihmu aku terima. Tapi sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kamu selalu mengamati kami saat di Night Club? Hingga tahu tentang dua sahabat yang memperebutkanku?" tanya Allena.


"Sebenarnya, jauh sebelum itu aku sudah memperhatikan mereka. Saat kami masih sama-sama kuliah, aku sudah menyukai Zefran," ucap Zulia.


Oh ternyata mereka sepantaran, tapi sikapnya kekanak-kanakan membuatku tak berpikir kalau dia wanita dewasa yang seumuran dengan Kak Zefran, batin Allena.


"Di antara ke empat sahabat itu aku paling menyukai Zefran karena inisial kami yang sama. Di setiap buku catatan kuliah ku selalu tertulis Z love Z. Aku jatuh cinta padanya, aku mabuk kepayang. Hingga bersikap seperti seorang gadis remaja yang tak pernah dewasa," ucap Zulia sambil tertunduk malu.


Allena hanya menatap wanita dihadapannya itu tanpa bermaksud menyela atau bertanya. Allena ingin wanita itu menumpahkan isi hatinya tanpa ada gangguan pertanyaan darinya.


"Berarti kamu eh.. Kakak juga kenal dengan Kak Frisca?" tanya Allena yang tak tahan untuk diam akhirnya bertanya.


"Secara pribadi aku tak mengenalnya, Frisca pemilih dalam berteman. Dia hanya berteman dengan orang tertentu saja. Tapi aku terpaksa memperhatikannya karena dia satu-satunya gadis yang menarik perhatian Zefran. Jelas aku tak sanggup melawan Frisca. Aku tak akan sanggup bersaing dengan wanita yang memiliki wibawa di kelompok persaudaraan itu. Aku hanya bisa memperhatikan mereka. Mencoba melirik sahabatnya yang lain namun tetap tak bisa beralih dari Zefran. Akhirnya aku pasrah, bahkan mendukung Frisca menjadi pendampingnya karena Frisca memang satu-satunya yang pantas untuknya," ucap Zulia tertunduk.


Begitu juga dengan Allena. Kalimat terakhir Zulia juga sempat terlintas di kepalanya saat awal pernikahannya dulu. Allena harus pasrah jika suaminya hanya mencintai istri pertamanya itu.


"Saat kamu muncul dan mulai mengacak rumah tangga dan persaudaraan mereka, aku kesal. Sangat kesal padamu karena aku merasa kamu tak pantas untuk dicintai olehnya. Tak pantas mengacaukan rumah tangganya yang telah aku ikhlaskan. Kamu tidak seharusnya muncul untuk menggantikan Frisca karena aku … aku yang lebih dulu mencintainya. Jika rumah tangganya dengan Frisca hancur harusnya akulah penggantinya bukan kamu. Tapi, aku benar-benar tak menyangka, seorang pelayan Night Club bisa menggeser kedudukan Frisca di hati Zefran. Aku kesal, setiap hari aku merasa kesal hingga akhirnya aku tak tahan lagi dan muncul di hadapan kalian," papar Zulia.


"Jika berkata tak rela, aku juga tak rela  menghancurkan rumah tangga Kak Zefran dan Kak Frisca. Di mataku mereka pasangan yang sempurna tapi takdir membawa kami bersama. Banyak kejadian, cobaan, masalah yang kami hadapi. Aku sama sepertimu, tadinya hanya ingin berdiri di sisi pernikahan mereka. Sama sekali tak ingin masuk dan berdiri di antara mereka apalagi menghancurkannya. Tapi semua berubah begitu saja, rencana tak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan," jelas Allena.


Secara detail Allena tak bisa menjelaskannya meski saat menceritakan, kembali terbayang saat pertama kali Zefran dan dirinya bertemu. Saling menyakiti, saling membenci hingga akhirnya saling membutuhkan dan saling mencintai.


"Jika menurutmu aku memang tidak pantas untuknya, aku tidak bisa memaksamu merubah pemikiranmu. Tapi apa Kak Zulia tega merusak dan menghancurkan rumah tangga kami? Jika kenyataannya sekarang dia telah memiliki dua orang anak dariku dan sekarang mencintaiku. Apa Kak Zulia masih tak rela dia memilihku?" tanya Allena dengan tulus ingin tahu isi hati Zulia.


Wanita di hadapan Allena itu tercenung. Sepengetahuannya dulu, Allena membuat Zefran menderita karena kehadirannya. Perpecahan persaudaraanya dengan Valendino, perusak rumah tangganya dengan Frisca. Tapi kenyataan yang dilihatnya kemarin mereka terlihat bahagia bersama. Zefran bahagia bersama Allena , Zefran sangat mengkhawatirkan Allena. Zefran terlihat sangat mencintai Allena dan Zefran telah memiliki putra-putri dari Allena. Mengingat itu akhirnya Zulia mengangguk.

__ADS_1


"Aku mengikhlaskan kamu menjadi wanita yang dicintainya. Karena kamu memang pantas untuk dicintainya. Maafkan aku yang mencoba menghancurkan kebahagiaan kalian," ucap Zulia akhirnya.


"Terima kasih Kak Zulia, aku doakan semoga Kak Zulia juga segera menemukan cinta sejati Kak Zulia. Menurutku cinta sejati itu tidak hanya cinta yang diperjuangkan tapi bisa dengan menerima cinta yang datang. Aku tidak yakin wanita secantik Kak Zulia tak ada cinta yang datang. Tapi mungkin karena terlalu fokus memperjuangkan cinta Kak Zefran hingga Kak Zulia mengabaikannya. Padahal mungkin saja itu adalah cinta sejati Kak Zulia. Biasanya cinta sejati itu ingin kita bahagia meski tak bersamanya, dia akan selalu mendukung meski dihatinya bersedih … tak adakah orang seperti itu? Yang selalu berada di sisimu? Orang yang paling ingin melihat Kak Zulia bahagia? Orang yang …"


"Benarkah seperti itu? Dia yang selalu mendukungku, yang selalu berada di sisiku dan yang paling ingin aku bahagia. Benarkah dia cinta sejatiku?" tanya Zulia tiba-tiba yang dibalas dengan anggukan oleh Allena.


Zulia langsung berdiri dari kursinya dan memeluk Allena. Wanita itu hingga menjerit sakit karena Zulia yang lupa hingga menyentuh luka Allena. Wanita itu meminta maaf dan berterima kasih pada Allena kemudian mohon pamit pulang.


"Terima kasih Allena," ucapnya sekali lagi sebelum menghilang di balik pintu.


Zulia pergi, Zefran langsung masuk ke ruangan. Allena heran karena suaminya yang langsung datang tanpa di telepon.


"Kamu pikir aku akan benar-benar membiarkanmu berdua saja dengannya? Aku tidak akan meninggalkanmu, aku hampir saja masuk saat mendengar kamu menjerit sakit. Untung saja dia buru-buru minta maaf hingga akhirnya aku tahu kalau kalian tengah berpelukan," ucap Zefran.


"Kalau begitu Kakak tahu dong kalau Kakak punya penggemar," ucap Allena menggoda suaminya.


"Memangnya aku artis punya penggemar?" tanya Zefran.


"Bukan penggemar itu, tapi wanita yang diam-diam mencintai Kakak," ucap Allena tersenyum menggoda.


"Tidak perlu senyum-senyum seperti itu. Apa kamu tidak lihat sendiri seperti apa suamimu ini? Aku yakin tidak cuma dia sendiri yang diam-diam mencintaiku, lebih banyak lagi. Jadi kamu harus lebih berhati-hati, jika tidak aku bisa direbut oleh mereka," ucap Zefran.


"Iih sombongnyaaa!" jerit Allena.


Zefran tersenyum dan mencium pipi Allena tentu bukan di sisi yang sakit. Zefran semakin kagum pada istrinya yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit orang yang membenci dan ingin merusak rumah tangga mereka.


"Kalau ada lagi yang seperti itu aku tak sanggup lagi mengurusnya, capek! Kak Zefran aku serahkan saja pada mereka," ucap Allena.


"APA?" 


Allena tertawa mendengar kepanikan Zefran. Laki-laki itu pun akhirnya tertawa. Biasanya Zefran akan mendorong tubuh Allena dan langsung menghadiahkan ciuman hangat di bibir wanita itu tapi kini, Zefran justru menariknya hingga Allena jatuh menimpanya namun tetap menghadiahkan ciuman hangat ke bibir wanita yang sangat dicintainya itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2