Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 154 ~ Percaya ~


__ADS_3

Allena terbangun, setelah menyusui bayinya. Mengambil botol susu yang telah terpakai untuk dibersihkan. Wanita itu melangkah menuju dapur namun langkahnya terhenti. Allena membalik badan dan bersandar di dinding. Matanya langsung berkaca-kaca dan dadanya terasa berdenyut perih. Allena melihat Zefran dan Frisca yang sedang berpelukan.


Dengan tangan yang gemetar Allena mengusap air matanya yang mulai berjatuhan. Allena merasa Zefran dan Frisca masih menyimpan rasa. Entah mengapa berhadapan dengan wanita cantik itu, Allena merasa dirinya harus mengalah. Membiarkan mereka berbuat apa pun yang mereka inginkan meski untuk itu dia harus menahan perih di dadanya.


Sebagai orang ketiga, Allena selalu merasa bersalah pada Frisca. Wanita itu pasrah merelakan, berpura-pura tak pernah melihat kejadian itu. Berjalan perlahan kembali ke lantai atas agar Zefran dan Frisca tak menyadari kehadirannya.


"Hidup Allena!" Tiba-tiba terdengar suara sorak Frisca.


"Ya, selamanya Allena!" balas Zefran dan mereka lalu tertawa bersama.


Allena tertegun, langkahnya terhenti mendengar namanya disebut. Allena tak mengerti mengapa kedua orang itu menyebut namanya.


"Allena! Kenapa bengong di situ!" seru Rivaldo yang sedang turun dari lantai atas.


Mendengar seruan Rivaldo, Zefran dan Frisca langsung datang mendekat. Mereka heran karena ternyata Allena berada di sekitar mereka. Allena segera memalingkan wajah, menyembunyikan matanya yang masih menyisakan air mata.


"Ada apa sayang? Kamu kenapa di sini?" tanya Zefran langsung menghampiri istrinya.


"Oh, aku cuma ingin menaruh ini di dapur," jawab Allena sambil menunjukkan botol susu dan menoleh ke arah dapur.


Zefran pun ikut menoleh ke arah pandangan Allena. Laki-laki itu langsung menyadari kalau Allena pasti melihatnya dan Frisca berpelukan. Zefran langsung tersenyum sambil memeluk istrinya.


"Kenapa nggak jadi ke dapur hm?" tanya Zefran sambil mencium puncak rambut istrinya.


Belum sempat Allena menjawab, karena memang sulit baginya mencari jawaban, Frisca langsung menyahut.


"Dia pasti cemburu karena melihat kita berpelukan," ungkap Frisca begitu ringan lalu tertawa.


Allena tercengang, bolak balik menatap Frisca dan Zefran secara bergantian. Suaminya pun ikut tertawa, tak tahan melihat sikap lugu istrinya, laki-laki itu kembali mengecup puncak rambut wanita itu.


"Kami tadi membicarakanmu," ucap Zefran.


Kenapa pakai pelukan segala? tanya Allena dalam hati.


"Ya, tadi aku mencarimu. Zefran bantu mencari, ternyata kamu sedang tertidur bersama bayimu jadi kami ngobrol di sini," ucap Frisca sambil merangkul suaminya yang telah berdiri disampingnya.


Zefran pun menceritakan obrolannya dengan Frisca. Mereka mengingat masa lalu saat pertama kali bertemu hingga akhirnya resmi bercerai. Satu hal yang menjadi ganjalan bagi mereka dan mereka saling menanyakan.


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Frisca.

__ADS_1


Zefran tertawa, merasa heran dengan pertanyaan Frisca yang begitu terus terang.


"Aku sayang padamu sama seperti pada Valen, Altop, Ronald, Patrick dan semua sahabatku. Tapi aku yakin, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Sejak Valen menceritakan seperti apa hubunganmu dengan Bobby, mataku, telingaku seperti terbuka. Mungkin itu yang namanya cinta buta. Aku tahu, aku menyadari, aku merasakan kalau cintamu padaku tidaklah tulus. Setiap kali kamu dan Bobby bertengkar, kamu datang padaku. Setelah hubungan kalian membaik, kalian menjalin hubungan di belakangku. Aku … bukannya tidak tahu itu, tapi karena cintaku buta, aku sengaja menutup mataku, sengaja menutup telingaku. Aku menganggap kalau semua pikiranku itu hanyalah prasangkaku sendiri. Aku menanamkan dalam hati dan pikiranku kalau kamu setia padaku. Tapi … sejak Valen membongkar semuanya, aku sadar, apa yang aku rasakan dulu itu memang benar. Perlahan aku membuka mata, membuka telinga dan menerima kenyataan kalau kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Sejak itu, aku pun berhenti mencintaimu," papar Zefran sambil tersenyum lalu meneguk air putih di hadapannya.


"Maafkan aku."


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Zefran mengulang pertanyaan Frisca tadi.


Sontak mereka tertawa bersama, tanpa dijawab pun mereka telah sama-sama sadar dan sama-sama tahu kalau Frisca tak mencintai Zefran seperti yang semestinya. Frisca hanya ingin memiliki seseorang sebagai pelarian kekecewaannya pada Bobby.


"Lalu siapa yang kamu cintai sekarang?" tanya Frisca.


Zefran mengernyitkan dahinya, tak mengerti. Zefran yakin Frisca tahu cintanya hanya untuk Allena.


"Kamu mencintainya? Bukan cinta buta?" tanya Frisca.


"Cintaku pada Allena itu bukan cinta buta, tapi justru cinta yang melihat. Aku melihat kebaikan, ketabahannya, kesabarannya, ketulusan hatinya, kehangatannya, kelembutannya, kecantikannya. Aku melihat segalanya, aku ingin semua itu menjadi milikku selama-lamanya. Apa itu mustahil?" tanya Zefran.


Frisca menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak mustahil. Karena tujuan kalian sama, sama-sama ingin memiliki selamanya. Dia juga inginkan kamu selamanya," jawab Frisca.


"Kenapa begitu yakin?" tanya Zefran.


"Menangis, bersabar dan pasrah menerima apa saja yang ditimpakan padanya, bukan berarti dia itu wanita yang lemah. Tapi justru wanita yang kuat. Dia bersabar menerima segala deritanya, menanggung beban derita itu dan tetap bertahan. Jika dia wanita yang lemah, dia pasti sudah menyerah dan pergi. Dia sudah berpaling darimu dan mencari cinta yang lain. Tapi tidak! Karena dia wanita yang kuat, dia mempertahankan cintanya padamu. Melawan badai yang menerjang keutuhan rumah tangga kalian sekuat tenaga. Dia itu wanita yang sangat kuat bukan?" tanya Frisca sambil menoleh pada Zefran.


Laki-laki itu pun mengangguk. Frisca kembali mengungkap pemikirannya.


"Kalau aku jadi dia, aku sudah pasti menyerah. Aku sudah mencari pelarian cinta yang lain. Benar kan?" tanya Frisca.


"Benar!" jawab Zefran cepat lalu tertawa.


"Kamu akan selalu mencintainya?" tanya Frisca yang dibalas anggukan oleh Zefran.


"Kamu janji?" tanya Frisca yang langsung membuat Zefran heran.


"Kenapa kamu begitu peduli?" tanya Zefran.


"Karena aku … terlalu banyak dosa padanya. Begitu banyak hingga aku bingung bagaimana cara menghapus dosaku itu satu persatu. Aku tidak yakin bisa terhapus dengan mudah. Tapi saat aku meminta maaf padanya, dia dengan mudah memaafkan aku. Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuknya adalah melindunginya. Aku akan melindunginya agar dia tidak terluka olehmu. Kalau kamu macam-macam, aku akan membuat perhitungan denganmu," ucap Frisca sambil mengepalkan tangannya.


Zefran tertawa. "Baiklah! Aku setuju, jika aku macam-macam, tolong ingatkan aku ya!" tanya Zefran sambil tersenyum.

__ADS_1


Frisca pun tertawa kemudian mengangguk. "Benar! Kalau kamu macam-macam akan aku pukul kepalamu agar cepat sadar. Itu tugas seorang sahabat 'kan?" tanya Frisca.


"Ya! Itu memang tugas seorang sahabat," jawab Zefran.


"Sekarang boleh aku memelukmu sahabat?" tanya Frisca sambil merentangkan tangannya.


Zefran tersenyum kemudian menyambut pelukan Frisca. Wanita itu berkata-kata dengan pelan pada Zefran


"Kamu sayang Allena, aku juga sayang Allena. Kita sahabat yang sama-sama sayang Allena. Selamanya kita sayang Allena," ucap Frisca lalu diam dalam pelukan Zefran.


Zefran terdiam, dalam hatinya mendukung ucapan Frisca. Dia pasti akan selalu menyayangi ibu dari anak-anaknya itu. Akan selalu berusaha untuk membahagiakannya. Melindungi, mencintai sepenuh jiwanya. Frisca, mengangkat wajahnya demi menatap wajah Zefran yang seperti termenung.


"Hidup Allena!" teriak Frisca mengagetkan Zefran.


Mereka tertawa. "Ya, selamanya Allena!" balas Zefran dan mereka kembali tertawa bersama.


Namun sekarang yang dipeluk Zefran bukan lagi Frisca. Wanita itu telah berada dalam pelukan suaminya. Sementara Zefran telah memeluk istri yang dicintainya. Menceritakan pembicaraan antara mereka agar Allena tak salah paham.


"Dia bilang akan memukul kepalaku jika aku menyakitimu," ucap Zefran pada Allena seolah-olah mengadu.


Allena tersenyum, lalu menoleh pada Frisca yang bersandar pada suaminya.


"Pukulnya jangan ragu-ragu Kak, yang keras saja. Sekalian balaskan dendamku," ucap Allena sambil tersenyum.


"Apa?" 


Zefran kaget, niatnya ingin mengadu tapi Allena justru mendukung Frisca. Allena tersenyum, Zefran pun tertawa. Mereka pun tertawa bersama-sama. Tak lama kemudian Frisca pamit pulang. Zefran, Allena dan Zefano melambaikan tangan di atas teras. Zefran memeluk istrinya dari belakang sambil terus menatap ke arah mobil yang membawa Frisca melaju pelan ke luar gerbang.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Zefran.


Allena menoleh ke arah suaminya. 


"Maafkan aku Kak, aku salah paham. Tad–"


Zefran langsung mengecup bibir istrinya. Tak mengizinkan wanita itu bicara lebih banyak lagi. Zefran mengerti apa yang dirasakan istri tercintanya itu.


"Cuma kamu wanita yang aku cintai sekarang hingga selamanya," bisik laki-laki itu lagi.


Allena tersenyum lalu mengangguk, dalam hati wanita itu berjanji tak akan mencurigai hubungan Zefran dan Frisca lagi.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2