Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 37 ~ Rencana ~


__ADS_3

Lakukan tes DNA, ucapan itu muncul dari mulut Zefran. Allena kecewa dan sakit hati, suaminya yang mengaku begitu mencintainya ternyata juga meragukan kesetiaannya dan yang lebih menyakitkan lagi, ucapan itu menunjukkan putranya adalah hasil dari perselingkuhan.


Zefran telah memutuskan untuk melakukan tes DNA meski Allena mengancam akan meninggalkannya. Zefran mencintai Allena, Zefran juga sangat menyayangi Zefano tapi hasutan Frisca membuatnya meragukan asal usul Zefano. Tidak peduli jika Zefano bukan darah dagingnya dia bertekad akan tetap menyayanginya namun dia ingin kepastian bukan rasa ragu sepanjang hidup terhadap Zefano. Dia ingin menghilangkan keraguan terhadap anak itu. Itu yang jadi dasar pertimbangannya melakukan tes DNA.


Allena naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Duduk di pinggir ranjang sambil menatap putranya yang tersenyum. Membalas senyum putranya dengan air mata yang terus mengalir. Zefran masuk ke kamar dan menghampiri Allena. Wanita itu langsung berdiri menghindar, berdiri di depan balkon membelakangi Zefran. Laki-laki itu menyentuh bahu Allena, kembali gadis itu menghindar dari suaminya.


"Aku tidak peduli hasilnya, aku akan tetap menyayangi Zefano," ucap Zefran membujuk.


"Aku juga sama, tidak peduli hasilnya aku akan tetap pergi dari sini," ucap Allena terisak.


"Allena--"


"Sekarang keluarlah, menjauhlah dari kami. Menjauhlah dari perempuan kotor sepertiku yang memiliki anak dari laki-laki lain," jerit Allena berdiri menjauh sambil memeluk anaknya.


"Aku tidak menuduhmu seperti itu, semua aku putuskan demi meyakinkan mereka karena aku yakin padamu. Aku yakin pada putra kita. Aku cuma tidak ingin Mommy dan Frisca mengusik masalah ini suatu saat nanti," ucap Zefran.


"Bohong! Kakak juga meragukan aku. Aku tidak peduli pikiran mereka, aku tidak peduli mereka percaya atau tidak, yang aku perlukan cuma kepercayaan dari Kakak. Rasa percaya dari ayah kandungnya sendiri," ucap Allena sambil menangis memeluk anaknya.


Zefran memeluk istrinya dan mencium puncak kepalanya.


"Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku juga sangat menyayangi Zefano," bisik Zefran.


"Itu sebelum Kakak melihat bukti-bukti dari Nyonya Frisca," ucap Allena serak.


"Tidak, hingga detik ini aku masih tetap mencintai kalian. Sampai kapan pun aku akan tetap mencintai kalian," bisik Zefran lagi.


Allena terdiam, Zefran menangkup wajah istrinya dan menyatukan bibir mereka. Perasaan takut kehilangan Allena semakin dirasakannya saat istrinya itu mengancam akan meninggalkan rumah. Zefran tidak ingin Allena pergi darinya, Zefran tidak sanggup berpisah dari Allena.


Membuat Zefran ingin meraih hati Allena kembali, membuat wanita itu jatuh cinta lagi. Zefran semakin membenamkan bibirnya di bibir Allena. Deru nafas Zefran yang memburu membuat Allena terlena menikmati ciuman Zefran yang begitu menggebu. Hingga laki-laki itu tidak tahan lagi lalu meraih Zefano dari pelukan Allena dan meletakkannya di box bayi.


Kamu di sini dulu ya sayang, batin Zefran sambil memasang baby gym.


Mainan gantung yang menjuntai itu membuat Zefano asyik menjangkau dan menggenggamnya. Suara, bentuk, warna dan tekstur pada baby gym membuat Zefano langsung fokus ingin meraba apa yang ada di hadapannya.


Zefran membelai pipi Zefano yang telah asyik bermain. Allena berdiri di samping suaminya ikut menatap bayi mereka.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" bisik Zefran.


"Apa?"


"Bagian kamu di sana," ucap Zefran sambil mengalihkan pandangannya ke ranjang.


Allena ikut menoleh ke ranjang dengan ekspresi bingung. Zefran langsung mengarahkan wajah istrinya itu ke hadapannya dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu.


Zefran memeluk erat Allena dan menikmati lembutnya semua yang ada di dalam rongga mulut Allena. Mencari dan menemukan rasa manis di dalamnya. Deru nafas Zefran menyapu wajah Allena membuat gadis itu pasrah saat Zefran melepas satu persatu apa yang melekat di tubuhnya.


Dalam waktu singkat Allena telah berada di bawah  suaminya.


Aku membutuhkanmu Allena dan aku juga ingin kamu selalu membutuhkan aku. Aku akan membuatmu tak ingin jauh dariku. Allena, aku akan membuatmu tidak bisa melepaskan diri dariku, ucap Zefran dalam hati.


Desah nafas mereka terdengar silih berganti, sahut menyahut, terengah-engah hingga tiba saatnya Zefran mempercepat ritme permainannya. Laki-laki itu semakin menguatkan pelukannya. Allena pun tanpa sadar memeluk tubuh suaminya erat, seolah-olah ingin mempertahankan rasa yang telah dicapainya. Tak ingin laki-laki itu segera mengakhirinya, membuat Zefran tersenyum sambil mencium pipi wanita cantik itu.


Senyum Zefran bertolak belakang dengan ekspresi di wajah Frisca. Langkahnya terhenti dan langsung menoleh ke arah pintu kamar Allena. Wanita itu terperangah dan semakin kesal saat mendengar desah kedua orang itu semakin keras terdengar.


Awas kamu Allena, mencoba menguasai Zefran dengan permainanmu. Aku tak akan membiarkan Zefran jatuh dalam genggamanmu. Lihatlah, setelah ini Zefran akan mencampakkan kamu dan menendangmu keluar dari rumah ini, jerit hati Frisca.


Wanita itu masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Menciptakan suara keras yang mengagetkan kedua orang yang saling menatap sambil mengatur nafas itu.


"Tidak apa-apa, jangan pikirkan dia," ucap Zefran melihat ekspresi Allena yang berubah risau.

__ADS_1


Zefran masih di posisinya, ingin lebih lama menguasai wanita yang dicintainya itu. Laki-laki itu kembali menyentuh leher Allena dengan bibirnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu Allena, kamu adalah milikku selamanya," bisik laki-laki itu di telinga Allena.


Ungkapan Zefran yang menunjukkan dirinya begitu mengharapkan Allena membuat hati wanita itu melayang. Di dalam hati membalas ucapan Zefran dengan jawaban yang sama.


Aku juga tidak ingin melepaskanmu sayang, aku ingin menjadi milikmu selamanya, bisik hati Allena.


Allena mengusap titik-titik peluh di punggung suaminya, Zefran menatap lembut wanita itu sambil tersenyum. Perlahan mengecup bibir Allena berkali-kali. Allena tertawa melihat tingkah suaminya. Apa yang dilakukan Zefran sekejap membuat Allena melupakan kesedihannya.


Wanita polos itu memang sangat mudah dikuasai Zefran. Tapi siapa yang bisa bertahan dengan rayuan Zefran? Tanpa melakukan apa-apa, pesona laki-laki itu sanggup membuat wanita mana pun tak ingin melepaskan pandangan darinya.


Gayanya yang elegan, tampangnya yang luar biasa tampan dengan balutan jas yang berharga selangit, membuat para wanita rela memutar tubuh seratus delapan puluh derajat mengikuti langkah kaki laki-laki itu.


Menatap Zefran yang melintas saja membuat khayalan para wanita melayang jauh demi merasakan sensasi semalam bersamanya. Lalu bagaimana wanita polos seperti Allena lepas dari jeratan pesonanya?


Laki-laki yang telah sah sebagai suaminya meminta untuk tidak meninggalkannya, bertekad memilikinya selamanya. Bagaimana bisa Allena melepaskan diri dari perangkap cinta Zefran selain laki-laki itu sendiri yang ingin melepaskannya. Dan Zefran adalah pecinta sejati, sekali mencintai laki-laki itu selamanya ingin memiliki.


Zefran dan Allena kaget saat tiba-tiba mendengar suara Zefano menangis. Zefran langsung melepaskan pelukannya. Allena ingin bangkit tapi Zefran menghalangi, menahan wanita itu untuk tetap di ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.


Laki-laki itu mengecup kening Allena sekilas lalu bangkit, mengenakan celananya. Bertelanjang dada mendekati box bayi Zefano dan menggendong bayi itu.


"Apa yang terjadi? Apa yang membuat jagoan kecil ini menangis?" tanya Zefran sambil menggendong Zefano ke kamar mandi.


Allena tidak bisa tinggal diam, segera melilitkan kain putih pelapis selimut itu di tubuhnya dan segera menghampiri Zefran yang telah meletakkan Zefano di meja wastafel. Laki-laki itu berteriak tertawa saat membuka popok Zefano yang telah penuh.


Allena ikut tertawa, terpesona melihat usaha Zefran mengganti popok anaknya. Membuang popok yang kotor, membersihkan Zefano dengan air hangat di wastafel dan memasang popok baru yang telah disiapkannya.


"Meskipun kamu ganteng seperti Papamu, kalau sudah besar jangan jadi playboy ya," ucap Zefran pada Zefano sambil mengatur letak popoknya.


"Ganteng? Percaya diri sekali," ucap Allena sambil mencebik.


"Bagaimana lagi kalau semua orang berkata seperti itu. Ya, terpaksa diterima dengan senang hati," ucap Zefran.


"Tak ada satu pun justru aku yang menjadi korban dua orang wanita," jawab Zefran.


"Apa?"


"Akulah yang terjerat cinta dua orang wanita," jawab Zefran lagi.


Allena menatap tak percaya pada Zefran. Laki-laki itu tersenyum melihat ekspresi tak percaya Allena.


"Sejak kecil aku sudah dilarang Mommy berhubungan dengan perempuan. Dilarang mengenal perempuan apalagi pacaran. Semua itu demi janji Mommy untuk menjodohkan aku dengan putri sahabat Mommy yang bernama Allena. Waktu itu aku belum tahu nama gadis itu," ucap Zefran sambil tersenyum pada Allena.


Allena balas tersenyum. "Lalu?"


"Aku benar-benar patuh pada perintah Mommy. Dalam hatiku telah ditanamkan rasa bahwa aku, hatiku adalah milik gadis bernama Allena itu. Tapi, saat pesta penyambutan anggota baru fraternity, aku berkenalan dengan Frisca. Dia jatuh di pelukanku persis seperti kamu jatuh ke dalam pelukanku waktu itu." Cerita Zefran sambil tersenyum menoleh pada Allena. Allena kembali membalas senyum Zefran.


"Dia jatuh dalam pelukanku satu kali dan seterusnya aku yang jatuh dalam pelukannya. Hingga akhirnya aku mengabaikan janji Mommy. Saat itu aku berpikir bodohnya aku melepaskan gadis secantik Frisca demi seorang gadis yang belum pernah aku lihat satu kali pun. Akhirnya aku tidur dengannya, saat kembali ke Indonesia aku mengenalkannya pada Mommy. Mommy marah besar tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya aku menikahinya, andai aku tahu gadis yang dijodohkan denganku itu adalah kamu mungkin kejadiannya akan berbeda," ucap Zefran.


Laki-laki itu merapikan baju bayi Zefano.


"Tapi aku tidak boleh menyesali, ini adalah keputusanku sendiri, salahku sendiri. Tapi untungnya Mommy masih mau melanjutkan perjodohan itu iya kan?" tanya Zefran.


Allena tersenyum membalas pertanyaan Zefran.


"Nah, sudah selesai sekarang giliran Mama yang bertugas," ucap Zefran menyerahkan Zefano pada Allena.


Wanita itu langsung menggendong Zefano ke kamar. Duduk di pinggir ranjang dan langsung menyusui Zefano. Zefran duduk di sebelah Allena, terpana mengamati Zefano yang begitu kuat menyusu. Allena menoleh menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Kamu seksi sekali saat menyusui," bisik Zefran. Allena tersenyum.


"Allena si Mama seksi," bisik Zefran sambil menempelkan bibirnya ke bibir Allena.


Allena membalas ciuman Zefran membuat laki-laki itu kembali ingin menguasai bibir Allena. Gadis itu membalas ciuman itu sambil membelai pipi suaminya. Zefran menangkup wajah wanita itu dan membenamkan bibirnya lebih dalam.


Berhenti berciuman saat nafas mereka sesak. Zefran melepaskan ciumannya dan menoleh pada bayi Zefano yang masih asyik menyusu kemudian beralih menatap Allena.


"Hebat sekali cewek satu ini, melayani dua cowok sekaligus," ucap Zefran lalu tertawa.


Allena juga ikut tertawa. "Harus bagaimana lagi, dua-duanya menginginkan aku," ucap Allena.


"Sombong sekali, Zefano kita balas dia suatu saat nanti ya," ucap Zefran sambil mencubit lembut pipi Zefano.


Allena tertawa, menatap wajah laki-laki yang sedang menggoda anaknya. Membelai lembut pipi suaminya. Setitik bening menetes di sudut matanya. Rasanya tidak rela kehilangan semua itu, laki-laki yang begitu dicintainya, ayah dari bayinya.


Tapi Allena telah memutuskan akan keluar dari rumah itu jika tes DNA tetap dilakukan. Meski Zefran terlihat begitu mencintainya dan menyayangi putranya. Tapi tuduhan Zefran dan keluarganya sangat merendahkan harga diri Allena.


Keesokan harinya Frisca menunggu di lantai bawah dengan tatapan yang tajam mengiringi setiap langkah kaki Allena.


"Ayo sarapan dulu Frisca, kenapa menunggu sampai seperti itu?" ucap Mahlika.


"Aku takut dia lari dari rumah ini sebelum membuktikan kebenaran atas penipuannya pada keluarga ini," ucap Frisca sambil duduk di meja makan.


"Jaga mulutmu Frisca!" ucap Zefran yang turun dari lantai atas bersama Allena dan Zefano.


Keluarga kecil yang mesra ini sudah muncul, baiklah untuk sementara puaskanlah hatimu bersama Zefran karena sebentar lagi kamu akan keluar dari rumah ini. Kamu sendiri yang bilang akan keluar dari rumah ini apa pun hasilnya, dasar bodoh. Aku tidak perlu khawatir dengan hasil tes DNA anakmu karena kamu tetap akan keluar dari rumah ini seperti ucapanmu, batin Frisca.


Allena menyapa Ny. Mahlika, ibu mertuanya itu membalas dengan ekspresi yang datar. Rahma membantu menggendong Zefano selama Allena sarapan pagi. Allena merasakan suasana yang canggung selama sarapan pagi itu. Sikap Ny. Mahlika telah berubah meski tes DNA belum dilakukan. Menunjukkan setengah hatinya telah percaya dengan bukti-bukti yang dibeberkan Frisca kemarin.


Berbeda dengan Zefran yang terlihat biasa, laki-laki itu begitu yakin apapun hasilnya dia tidak akan membiarkan Allena pergi dari rumah itu. Melihat itu Frisca berpikir di dalam hati.


Tapi jika hasil tes DNA itu positif, Zefran adalah ayah kandung anak itu, apa mungkin Mommy akan membiarkan perempuan itu membawa satu-satunya keturunannya? Bisa-bisa Mommy menghalangi perempuan itu pergi. Oh ya ampun, hasilnya harus negatif. Agar perempuan itu keluar dari rumah ini, hasil tes DNA itu harus negatif, jerit hati Frisca sambil menatap tajam wajah Allena.


Setelah sarapan mereka pergi bersama-sama ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan Allena duduk termenung. Zefran mengintip wanita itu yang duduk di bangku belakang dari spion tengah. Laki-laki itu melihat Allena yang menitikkan air mata sambil membelai pipi bayinya.


Berbeda dengan Allena yang termenung karena merasa seperti seorang tertuduh yang akan di interogasi. Frisca termenung karena teringat pembicaraannya dengan sahabatnya Shinta.


"Kamu serius memaksanya melakukan tes DNA, bagaimana jika anak itu benar-benar anak Zefran. Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri," ucap Shinta melalui sambungan telepon.


"Karena itu tolong aku, bagaimana prosedurnya agar proses pemeriksaan ini bisa kamu awasi?" tanya Frisca.


"Kenapa aku harus ikut campur?" tanya Shinta.


"Ingat, aku pernah meminta bantuanmu? Inilah saatnya," ucap Frisca sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Baiklah, datanglah ke rumah sakit. Konsultasikan dulu dengan dokter atau dokter spesialis genetika. Nanti akan diambil satu atau kombinasi dari sampel biologis seperti rambut, kulit, cairan tubuh atau swab dari bagian dalam pipi. Tapi yang paling sering digunakan itu sampel darah putih karena memiliki inti sel dan itu yang paling akurat. Terserah kamu ingin menyerahkan sampel yang mana," jelas Shinta.


"Baik, kami akan konsultasi ke dokter dulu," ucap Frisca.


"Sampel yang diambil nanti akan dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Aku yang akan melakukannya jika itu bisa membuatmu tenang," lanjut Shinta.


"Terima kasih sahabatku tapi berapa lama hasil tes bisa kami dapatkan?" tanya Frisca sambil mondar-mandir menatap ke luar jendela.


"Perlu waktu beberapa minggu untuk mendapatkan hasilnya," ucap Shinta.


"Apa? Selama itu?" tanya Frisca.


"Ya, kamu harus bersabar menunggu hasilnya ya," ucap Shinta.

__ADS_1


Frisca menutup sambungan ponselnya dengan rasa kecewa karena wanita itu tidak bisa segera mengusir Allena secepatnya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2