
Proses persalinan selesai dan Allena telah di pindahkan ke kamar perawatan. Tiara menggendong dan menimang bayi Allena yang telah tertidur lelap.
"Bayimu ganteng sekali Allena, lihatlah masih bayi saja hidungnya sudah mancung begini," ucap Tiara sambil mencium pipi bayi Allena.
Tak puas-puasnya Tiara mencium pipi bayi mungil itu.
"Aku suka sekali wangi bayi, rasanya ingin aku bawa pulang," ucap Tiara sambil tertawa dan terus menciumi pipi bayi itu.
Allena tersenyum mendengar ucapan pemilik toko bunga itu. Valendino kembali masuk ke ruang perawatan Allena. Langsung tersenyum saat menatap bayi Allena yang di gendong Tiara. Lama laki-laki itu menatapnya.
"Tuan Valen mau menggendongnya?" tanya Tiara.
"Saya? Apa mungkin saya bisa? Bolehkah Allena?" tanya Valendino gelagapan karena tidak menyangka akan ditawari menggendong anak dari wanita yang dicintainya itu.
Allena mengangguk sambil tersenyum. Tiara langsung menyerahkan bayi itu perlahan pada Valendino.
"Wah tuan Valen sudah pantas menjadi seorang ayah, segeralah menikah tuan!" seru Tiara.
"Benarkah saya bisa menjadi seorang ayah?" tanya Valendino sambil menatap bayi di gendongannya itu.
Perlahan laki-laki itu mendekatkan wajahnya dan mencium pipi bayi itu. Allena tersenyum melihat Valendino yang begitu menikmati mencium pipi bayinya. Namun, senyum itu hanya sekilas setelah itu senyum Allena yang tadinya mengembang perlahan menghilang. Wanita itu sedih karena hingga kini suaminya sendiri masih belum melihat bayinya. Jangankan mencium atau menggendong bahkan melihatnya pun belum. Valendino melihat kesedihan gadis itu.
"Aku sudah menghubungi Zefran, mungkin sebentar lagi dia akan datang," ucap Valendino.
Melihat Valendino yang telah mulai biasa mengendong bayi. Tiara berniat untuk kembali ke toko bunga.
"Tuan Valen masih ingin menggendong bayinya? Nanti bisa menaruhnya di ranjang bayi?" tanya Tiara.
"Sepertinya bisa, kenapa mbak?" tanya Valendino.
"Jika rasanya sudah bisa saya ingin pamit kembali ke toko. Tidak ada yang bisa menggantikan Allena jadi saya harus buka toko sendiri. Takutnya, nanti kalau Allena ingin menyusui bayinya, tidak ada yang membantu Allena membawakan bayinya," tutur Tiara.
"Tidak apa-apa Mbak, tidak usah khawatir. Saya bisa bantu Allena," sahut Valendino yakin.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya. Allena, Kakak balik ke toko dulu ya." Pamit Tiara.
"Terima kasih banyak Kak, maaf aku sudah merepotkan Kak Tiara," ucap Allena merasa tidak enak hati.
"Apaan sih kamu ini, kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri kok," ucap Tiara sambil tersenyum.
Pemilik toko bunga itu menepuk pipi Allena dan mengucapkan selamat atas kelahiran bayinya. Pemilik toko bunga itu kemudian pamit pulang. Tinggal Allena dan Valendino yang berada di ruangan. Ada perasaan aneh yang timbul dalam situasi itu. Valendino merasa canggung melihat Allena yang tersenyum sambil menatapnya menggendong bayi mungil itu.
"Kamu ingin menyusuinya?" tanya Valendino memecah suasana.
"Dua atau tiga jam lagi Kak," jawab Allena karena baru selesai menyusui sesaat setelah melahirkan.
"Oh, lihatlah dia tampan sekali persis seperti Zefran," ucap Valendino sambil duduk di ranjang rumah sakit itu dan mendekatkan bayi Allena pada ibunya.
Gadis itu mengambil bayinya dari gendongan Valendino. Tersenyum manis menatap bayinya yang sedang menggeliat itu. Valendino terpana menatap Allena yang tak lepas memandang bayinya itu.
Andai kita satu keluarga, aku, kamu dan bayi kita. Tidak ada lagi hal yang membahagiakan selain bisa berkumpul bersama denganmu, batin Valendino.
Tanpa disadari Valendino mendekatkan wajahnya ke wajah Allena. Gadis itu kaget dan memundurkan wajahnya. Tepat saat itu Zefran masuk dan menatap langsung adegan Valendino yang ingin mencium istrinya.
Zefran yang sudah menahan hati sejak menerima telepon dari Valendino. Akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Segera meraih kerah kemeja Valendino dan melayangkan pukulan ke wajah laki-laki itu. Valendino jatuh ke lantai, Allena menjerit menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Valendino berdiri perlahan sambil mengusap sudut bibirnya yang pecah berdarah.
Allena gemetar, air matanya mengalir, wanita itu bahkan tidak berani menatap wajah suaminya. Apalagi meminta Zefran untuk menghentikan pukulan ke wajah Valendino. Allena menoleh ke arah Patrick, laki-laki itu hanya diam membiarkan dengan wajah murung.
Allena tidak tahan melihat adegan pemukulan tanpa balasan dari Valendino. Akhirnya meminta suaminya itu untuk menghentikan tindakan kekerasan yang tak seimbang itu. Valendino hanya diam, sama sekali tidak membalas. Sementara Zefran memukul seperti orang yang kesetanan.
"Sudah Kak, hentikan!" ucap Allena dengan suara yang gemetar.
Suara Allena tidaklah keras namun berhasil menghentikan aksi kekerasan itu. Zefran menoleh ke arah istrinya. Allena menangis ketakutan sambil memeluk bayinya.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak tega melihat kekasihmu disakiti? Tidak ingin melihatnya kesakitan? Kamu lebih suka melihat suamimu yang tersakiti. Lebih suka jika aku menderita karena sakit hati?" tanya Zefran berteriak sambil menepuk keras dadanya sendiri.
Allena menggelengkan kepalanya kuat.
"Aku tidak akan membebaskanmu, selamanya kamu akan terikat denganku. Kamu tidak akan bisa hidup bersamanya sampai kapan pun!" teriak Zefran menunjuk pada Valendino lalu meninggalkan ruangan itu.
Allena menangis sesenggukan melihat kemarahan suaminya. Satu-satunya penyebab yang dia tahu hanyalah karena Valendino yang terlihat seperti akan menciumnya. Allena tidak sadar kekesalan Zefran lebih dari itu. Zefran seperti tidak dianggap sebagai seorang suami bagi Allena yang memilih di temani laki-laki lain saat melahirkan.
Mendapati Allena hanya berdua dengan Valendino dan bayinya membuat laki-laki itu semakin kalap hingga terlintas dipikirannya bahwa Valendino memang ayah dari bayi yang dilahirkan Allena. Namun, Zefran bertekad tidak akan melepaskan Allena agar bebas bersatu dengan Valendino. Dia ingin tetap mengikat gadis itu dan membuatnya hidup menderita bersamanya.
Zefran memilih kembali ke rumah dan mengamuk di dalam kamar Allena. Merasa lelah, laki-laki itu berbaring terlentang lelah di atas ranjang setelah mengobrak-abrik isi kamar. Memandang langit-langit kamar, setitik bening mengalir ke samping matanya.
Tega sekali kamu melakukan ini padaku, aku memang bukan suami yang baik. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk mencoba dan berusaha menjadi suami untukmu. Kamu membuat aku seperti laki-laki yang tidak berguna. Aku benci padamu Allena, teganya wanita sepertimu melakukan ini padaku, batin Zefran.
Zefran memejamkan matanya, rasa kecewanya sangat besar. Tubuh dan jiwa letih, sahabat dan istrinya tega menginjak harga dirinya sedemikian rupa seperti menganggapnya tak ada. Suami yang tidak dianggap, tidak berguna dan tidak ada artinya, Zefran letih mengamuk hingga akhirnya tertidur.
Sementara itu Allena yang menangis menatap luka bekas pukulan yang dilayangkan suaminya. Valendino mendekat, gadis itu menutup matanya, air mata Allena mengalir deras. Allena tidak sanggup melihat luka di wajah Valendino. Laki-laki itu memeluk dan mengecup puncak rambut gadis itu.
"Jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa. Wajar jika Zefran begitu marah padaku, aku telah merebut posisinya hari ini. Harusnya dia yang menemanimu, harusnya dia yang merasakan cemas menunggu kelahiran bayinya, harusnya dia orangnya. Aku telah merebut kesempatan itu, wajar jika dia membenciku," ucap Valendino dengan suara pelan.
Allena tidak bisa berkata apa-apa, gadis itu hanya menunduk sambil memeluk bayinya. Terbayang sikap Zefran yang akan berubah terhadapnya nanti.
"Aku keluar sebentar, kamu tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri?" tanya Valendino.
"Maaf Kak, aku sangat menyesal. Kakak telah menolong membawaku ke rumah sakit tapi justru mendapat perlakuan seperti ini. Maafkan aku," ucap Allena akhirnya berusaha berani menatap wajah Valendino.
Laki-laki itu tersenyum lalu mengiris menahan sakit.
"Pergilah obati luka Kakak, maaf aku tidak bisa bantu mengobatinya," ucap Allena.
"Tenang saja, ini rumah sakit. Aku bisa meminta perawat mengobati lukaku," ucap Valendino berusaha untuk tersenyum.
Allena mengangguk, Valendino pun pergi mencari perawat yang bisa membantunya mengobati luka. Sementara itu Allena menatap wajah bayi yang baru dilahirkannya dan menangis. Seorang perawat masuk dan membantu Allena menaruh bayinya di box bayi.
Menjelang malam Allena duduk termenung seorang diri, menatap keluar melalui jendela kaca. Berharap akan melihat suami dan keluarganya datang mengunjungi. Sendirian di ruang perawatan itu menunggu. Hari yang harusnya bahagia karena bayi yang ditunggu-tunggu telah lahir. Namun, tidak ada satu pun kunjungan dari keluarganya. Ny. Mahlika yang tidak melihat Allena sejak sore tadi akhirnya bertanya pada putranya.
Melihat Zefran yang menyantap makan malamnya seperti tidak berselera.
"Di rumah sakit!" jawabannya singkat.
"Apa? Di rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?" tanya Mahlika semakin merasa heran.
"Dia melahirkan," ucap singkat Zefran.
"APA?" teriak Ny. Mahlika dan Frisca serentak.
"Lalu kenapa kamu di sini? Kenapa tidak menemaninya di rumah sakit? Kasihan dia sendirian," ucap Mahlika kesal melihat sikap putranya yang tak acuh.
Ada bajingan itu di sana, kenapa aku harus menemaninya? batin Zefran sambil terus menyantap makan malamnya perlahan.
Ny. Mahlika dan Frisca saling bertatapan heran melihat sikap Zefran. Laki-laki itu yang seharusnya menemani istrinya seperti tidak bahagia menyambut kelahiran anaknya.
"Kalau begitu Mommy akan ke rumah sakit setelah makan malam ini. Apa kalian mau ikut?" tanya Mahlika.
Tak ada yang menjawab, Zefran seperti enggan untuk pergi membuat Frisca merasa heran dan akhirnya memutuskan menemani Ny. Mahlika menjenguk Allena.
Sesampainya di rumah sakit, Ny. Mahlika merasa bahagia saat melihat bayi yang tertidur di ruangan perawatan Allena itu. Segera menggendong dan menciumnya. Kemudian merasa heran karena melihat Allena yang hanya ditemani Valendino.
"Zefran sudah kemari kan? Dia tahu kalau anaknya telah lahir, lalu kenapa dia tidak di sini menemanimu?" tanya Mahlika.
Nyonya itu merasa heran karena justru Valendino yang sendirian menemani Allena.
"Aku akan pulang Mommy jika Zefran datang untuk menemani istrinya," ucap Valendino yang sadar melihat wajah heran Ny. Mahlika.
__ADS_1
Frisca yang melihat keanehan itu akhirnya menyimpulkan kalau luka di wajah Valendino adalah luka bekas pukulan Zefran. Wanita langsung angkat bicara.
"Dia sudah ke sini tapi pergi lagi karena melihatmu ada di sini? Kenapa bukan Zefran yang menemani istrinya di sini? Kenapa justru kamu Valen? Apa bayi ini anakmu?" tanya Frisca.
Ny. Mahlika kaget mendengar ucapan Frisca yang dinilai begitu lancang menuduh. Dan tentu saja Valendino juga protes dengan ucapan Frisca.
"Jangan menuduh seperti itu, aku di sini karena menunggu Zefran datang dan menemani istrinya. Katakan ini padanya, jika dia sudah tidak peduli lagi pada istrinya, ceraikan saja dia," ucap Valendino kesal.
"Kak!" ucap Allena tidak setuju dengan ucapan Valendino.
"Sebenarnya ada apa ini? Mommy benar-benar heran. Zefran telah mengetahui kelahiran bayinya sejak tadi tapi justru diam dan tidak memberitahu kami. Dia hanya diam di rumah sementara kamu ada di sini menemani istrinya. Valen, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mahlika pada Valendino yang juga telah dianggap seperti anaknya sendiri.
Valendino dan Allena tertunduk, laki-laki itu akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu Ny. Mahlika bingung harus bicara apa. Mencoba di posisi Zefran, Nyonya itu merasa wajar jika Zefran merasa marah tapi Valendino pun tidak bisa disalahkan.
"Ini kesalahpahaman, situasi yang membuatmu lupa mengabarkan Zefran. Mommy bisa memahami kalau kamu juga dalam keadaan cemas dan panik," ucap Mahlika sambil memandang bayi dalam gendongannya.
"Zefran tak memberi kesempatan bagiku untuk menjelaskannya" ucap Valendino.
Frisca menatap Valendino dan Allena bergantian.
Wajar saja Zefran merasa kesal, ternyata istrinya melahirkan ditunggui oleh selingkuhan istrinya. Jangan-jangan bayi itu memang bayi Valen karena itu dia begitu cemas menunggu Allena melahirkan bayinya, batin Frisca.
"Mommy akan menceritakan ini pada Zefran dan memintanya datang menemani Allena. Sekarang pulanglah Valen, kamu juga pasti lelah menunggui Allena seharian," perintah Mahlika.
Valendino menoleh ke arah Allena, gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Aku akan pulang setelah Zefran datang," ucap Valendino.
"Jangan! Tidak perlu. Jika masih melihatmu, Mommy yakin Zefran tidak akan mau datang ke sini. Sebaiknya kamu pulanglah biar nanti Mommy yang menyuruh Zefran untuk menggantikanmu menemani Allena. Sudah menjadi tugasnya menemani istrinya di rumah sakit," jelas Mahlika.
Valendino akhirnya setuju, laki-laki itu pun pamit pulang. Tak lama kemudian Ny. Mahlika dan Frisca pun kembali ke kediaman Dimitrios. Ny. Mahlika berjanji akan menyuruh Zefran untuk datang menemani Allena. Gadis itu berterima kasih pada ibu mertuanya itu.
Seperti janjinya, Ny. Mahlika langsung mencari putranya yang duduk termenung di balkon kamarnya. Ny. Mahlika menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, laki-laki itu diam tertunduk.
"Datanglah ke sana, lihatlah istri dan anakmu. Allena tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Dia dalam kesakitan karena akan melahirkan. Mommy yakin sepanjang rasa sakitnya dia selalu mengingatmu, hanya saja tidak bisa bertanya atau pun bicara. Mommy yakin dia hanya berharap kamu ada di luar menunggu kelahiran bayimu. Mommy sendiri merasa kasihan padanya, dia pasti kecewa karena tidak melihatmu di sana," jelas Mahlika memberi pengertian pada putranya.
"Bagaimana kalau bayi itu memang anak Valen? Karena itu dia berada di sana menunggu kelahiran bayinya," ucap Zefran pelan.
Laki-laki itu seperti lelah kehabisan tenaga setelah mengamuk di kamar Allena.
"Mommy tidak yakin kalau Allena bisa berbuat seperti itu dan Valen juga bukan orang yang tega melakukan hal itu pada Allena. Dia terlihat sangat menghormati Allena dan Valen tidak ingin membuat Allena terlihat buruk di hadapanmu. Tapi jika kamu melepas Allena, Mommy yakin Valen dengan senang hati menerimanya. Jangan sampai itu terjadi jika kamu sudah mencintainya pertahankan dia," saran Mahlika.
"Mommy berkata seperti itu karena takut kehilangan bayi itu. Mommy terobsesi memilikinya hingga membuat Mommy yakin kalau bayi itu memang anakku," sahut Zefran.
"Coba lihat bayi itu, dia sangat mirip denganmu. Kamu belum melihat bayimu kan?" tanya Mahlika.
"Aku terlanjur sakit hati," jawab Zefran.
"Mommy mengerti perasaanmu, Mommy sudah menyuruh Valen pulang. Tadinya dia akan pulang setelah melihatmu datang tapi Mommy pikir kamu akan semakin kesal jika datang ke sana masih melihat Valen. Sekarang Allena sendirian, dia pasti sangat mengharapkan kamu datang. Anakku, jangan biarkan pikiran buruk menguasaimu," ucap Mahlika sambil mengangguk.
Nyonya itu ingin anaknya segera mengakui bayinya dan kembali berkumpul bersama. Berusaha meyakinkan putranya bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Ny. Mahlika tersenyum lega saat melihat Zefran melajukan mobilnya keluar dari gerbang kediaman mereka.
Semoga tidak ada halangan bagi mereka untuk bersatu kembali, kasihan Allena. Setelah melahirkan, dukungan dari suami sangat diperlukan. Jika dia bersedih dia bisa mengalami depresi, itu sangat berbahaya bagi seorang wanita yang baru melahirkan, batin Mahlika.
Kekhawatiran Ny. Mahlika sangat beralasan, setelah melahirkan seorang wanita rentan terserang baby blues syndrome. Akibat perubahan hormon di dalam tubuh yang bisa mempengaruhi perasaan.
Zefran berjalan pelan menuju ruang perawatan Allena. Menatap melalui lobang kaca di pintu rawat inap istrinya. Terlihat Allena yang tengah menyusui bayinya sambil sesekali menghapus air matanya.
Tolong jangan bohong Allena, rasanya menyakitkan jika sesuatu yang begitu diharapkan ternyata hasil dari sebuah kebohongan. Akuilah kebenarannya, itu lebih baik, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan menerima anak itu karena dia adalah anakmu, anak dari wanita yang aku cintai. Tapi aku mohon jangan bohongi aku, batin Zefran.
Perlahan mendorong pintu ruangan dan berdiri di samping ranjang istrinya. Allena mengangkat wajahnya, air matanya langsung mengalir di kedua pipinya.
"Maafkan aku."
__ADS_1
Hanya itu yang bisa diucapkan Zefran, laki-laki itu langsung membenamkan bibirnya di bibir Allena. Sesungguhnya dia merasakan rindu yang sedalam-dalamnya pada wanita itu. Rindu yang dirasakannya setiap kali hatinya menjauh dari Allena.
...~ Bersambung ~...