Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 98 ~ Menyusul ~


__ADS_3

Mata Zefran telah mengantuk menunggu liputan tentang peragaan busana yang diadakan di hotel bintang lima di kota Paris itu. Setelah menunggu sekian lama liputan itu tak kunjung muncul namun sekilas melihat tayangan infotainment yang menayangkan foto-foto seorang designer wanita yang digendong seorang model pria tampan yang diikuti oleh paparazzi. 


Fotografer yang mengekspos ruang-ruang pribadi para selebriti hingga menjadi konsumsi publik itu bahkan mendapatkan foto-foto Allena yang digendong seorang model tampan hingga masuk ke kamar hotel. Rasa kantuk Zefran langsung hilang, laki-laki itu semakin penasaran bahkan berdiri di depan televisi untuk meyakinkan matanya sekaligus meyakinkan hatinya pada berita itu.


Di layar kaca terlihat jelas Allena digendong oleh Robert Daniel. Foto-foto itu semakin mengundang tanda tanya tentang kedekatan Designer dan modelnya itu. Para awak media lokal pun mempertanyakan perihal pernikahan sang Designer yang dipublikasikan dalam jumpa pers sebelumnya.


Tak tahan lagi dengan berita itu, Zefran dengan cepat memutuskan untuk berangkat ke Paris. Laki-laki itu bertekad akan melakukan apa pun untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Allena.


Zefran tak bisa tidur lagi, paginya meminta Patrick memesankan tiket pesawat paling pagi yang bisa didapatnya.


"Keberangkatan 15.35 WIB, itu yang bisa kamu dapatkan. Keberangkatan jam satu sudah penuh, " ucap Patrick.


"Tidak ada yang lebih cepat dari itu, aku tidak tahan kalau menunggu hingga sore nanti," ucap Zefran sambil memijat keningnya.


"Sabar Zefran, aku yakin kamu pasti salah paham. Kamu belum percaya dengan istrimu?" tanya Patrick.


"Aku percaya dengan istriku, aku tidak percaya dengan orang-orang disekitarnya," jawab Zefran.


"Kenapa? Jika istrimu bisa percaya dengan orang-orang disekelilingmu kenapa kamu tidak bisa percaya dengan orang-orang disekelilingnya? Teman-temannya juga berhak mendapat rasa percaya darimu. Allena juga berhak memiliki teman-temannya sendiri. Saat Allena berteman dengan teman-temanmu, kamu merasa senang, kamu bahagia tapi saat dia berteman dengan teman-temannya sendiri kamu seperti kambing kebakaran jenggot," jelas Patrick.


"Dia itu wanita Patrick, dia itu lemah! Dia itu gampang dipengaruhi orang!" seru Zefran.


"Dia tidak lemah Zefran, kamu saja yang terlalu overprotektif padanya. Lebih dari lima tahun dia hidup sendiri tanpamu dan dia bisa menjalaninya dengan jujur, tidak melenceng, tidak sesat. Aku rasa kamu saja yang terlalu mengkhawatirkannya," jelas Patrick.


"Aku mencintainya Patrick, aku takut kehilangannya," ucap Zefran pelan dengan tatapan mata yang kosong.


"Kamu tidak akan kehilangannya, dia bisa menjaga diri. Kamu pernah dengan bangga cerita kalau di menolak semua pria yang mendekatinya dengan cincin pernikahan kalian. Dia akan selalu melakukan itu demi cintanya padamu," ucap Patrick.


"Apa cintanya akan tetap seperti itu padaku?" tanya Zefran sambil menatap lurus ke mata Patrick.


"Tentu saja, bahkan mungkin semakin cinta. Kalian bahkan sudah punya dua orang anak sekarang," jawab Patrick tanpa keraguan.


Zefran tertunduk.


"Aku tidak akan melarangmu ke Paris, itu hakmu ingin bertemu dengan istrimu. Tapi sesampai di sana jangan obral emosimu. Datanglah karena kamu rindu padanya," ucap Patrick.


Zefran menoleh pada Patrick dan tersenyum, terlihat hatinya yang sudah lebih tenang.


"Tapi tak ada pesawat yang berangkat lebih cepat dari ini?" tanya Zefran.


Patrick tertawa melihat Zefran yang tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya di kota Paris.


"Ada! Jam 00.10, udah berangkat tadi malam," ucap Patrick sambil tertawa.


Zefran melempar pensil ke arah sahabatnya itu, Patrick menangkapnya sambil mengencangkan suara tawanya. Sahabat Zefran itu memang selalu dapat merubah suasana hatinya. Selalu bisa diandalkan untuk bertukar pikiran, sebenarnya dapat diandalkan dalam hal apa pun.


Sore itu Zefran berangkat menuju kota Paris. Perjalanan tujuh belas jam lebih itu dilaluinya tanpa istirahat karena pikiran Zefran yang tak pernah lepas dari bayangan istrinya. Zefran tiba di Bandar Udara Paris-Charles de Gaulle keesokan harinya.

__ADS_1


Dari Bandar udara internasional utama Prancis itu, Zefran segera menuju ke hotel di mana Allena menginap. Setelah memesan kamar di hotel yang sama dengan istrinya, Zefran berencana ingin mencari wanita yang dicintainya itu.


Setelah meletakkan kopernya di kamar segera laki-laki itu mencari Allena. Zefran keluar dari lift yang membawanya turun ke lantai dasar, baru saja meraih ponselnya untuk menelpon Allena, Zefran mendapati pemandangan yang tak disukainya.


Allena datang bersama Robert Daniel dengan mengenakan gaun pesta. Terlihat wanita cantik itu tersenyum dan tertawa bersama model tampan itu. Tanpa menunggu aba-aba, Zefran langsung mendatangi mereka dan menghadiahkan bogem mentah ke arah wajah Robert Daniel.


Allena menjerit, hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Namun jerit Allena itu tak menghentikan Zefran melayangkan tinjunya. Tak tahan melihat perkelahian tak seimbang itu Allena maju menghalangi suaminya.


"KAK! KAKAK INI KENAPA? TIBA-TIBA MUNCUL DAN LANGSUNG MEMUKULI KAK ROBERT," teriak Allena panik sambil merentangkan tangannya melindungi Robert Daniel.


Kalau Allena hanya berteriak mungkin Zefran tak akan menghentikan pukulannya. Namun wanita yang dicintainya itu justru berdiri di hadapannya untuk menghalanginya.


"Minggir kamu!"  bentak Zefran.


"Nggak! Kakak harus tenang dulu!" ucap Allena.


"AKU BILANG MINGGIR!" teriak Zefran menggema di lobby hotel itu.


"Kamu ini kenapa? Apa tidak bisa berlaku seperti orang yang beradab?" tanya Robert Daniel tak tinggal diam.


"Apa katamu?" tanya Zefran masih dengan suara tinggi.


"Kenapa tidak bicara dulu! Kenapa langsung main pukul? Aku bahkan tidak tahu apa kesalahanku," ucap Robert Daniel sambil  mengusap sudut bibirnya yang pecah karena berdarah.


"Kamu tidak tahu kesalahanmu?" tanya Zefran sambil menatap model tampan itu dan beralih menatap Allena yang berdiri di hadapannya dengan tubuh yang gemetar.


"Kamu telah lancang membawa istri orang masuk ke kamar hotel," ucap Zefran.


"Jangan menyangkal! Aku lihat sendiri kamu menggendong Allena masuk ke kamar hotel, berita itu tersebar! Apa kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu!" bentak Zefran.


"Kamu sudah gila!" ucap Robert Daniel.


"APA?" teriak Zefran bertanya namun bersiap-siap menghujamkan pukulan lagi ke wajah tampan model itu.


"Allena mabuk, tak sadarkan diri. Tentu saja aku membawanya ke hotel karena dia memang menginap di hotel! Apa aku harus bawa dia ke apartemenku? Apa aku harus membawa istrimu menginap di apartemenku? Apa itu maumu?" tanya Robert Daniel dengan suara keras seperti menantang.


Mendengar tantangan itu Zefran bersiap hendak melayangkan tinjunya kembali. Meski Allena menghalanginya, laki-laki itu seperti tidak peduli lagi. Allena bahkan di dorong ke pinggir hingga terjatuh. Zefran yang kalap masih ingin menghadiahkan layangan tinju ke wajah laki-laki yang dibencinya itu.


Untung saja Adit segera datang dan langsung menarik tangan Zefran. Jika tidak tinju laki-laki itu sudah singgah kembali ke wajah model tampan itu.


"Sudah Kak, ayo ikut aku. Jika terus seperti ini Kak Zefran bisa diusir dari sini. Ayo ikut denganku!" ucap Adit yang langsung membawa Zefran keluar dari lobby itu.


Sekilas Zefran menoleh ke belakang, terlihat Allena yang mendekati Robert Daniel dan menyentuh luka di bibir laki-laki itu dengan sapu tangannya. Hati Zefran terasa sakit namun dia terpaksa ikut karena melihat security hotel yang bersiap mendatanginya.


Allena menoleh dengan tatapan sendu pada suaminya yang berjalan ditarik Adit. Mereka saling menatap sendu. Hingga Zefran menghilang dibalik pintu kaca yang berputar itu.


Adit mengajak Zefran duduk di sebuah bar. Laki-laki itu duduk tertunduk dengan menjambak rambutnya sendiri. Zefran menangis, dia tak tahan mengingat tatapan Allena yang menatapnya dengan sedih. Dia tak tega membuat wanita itu bersedih seperti itu.

__ADS_1


Dia telah bertekad untuk bersikap tenang. Namun, saat melihat Allena datang dengan senyum bahagianya bersama laki-laki yang dibencinya itu membuat amarahnya memuncak. Segala yang dilihatnya di layar kaca kemarin terpampang jelas kembali di pelupuk matanya. Membuat laki-laki itu kalap dan langsung menghajar model tampan itu.


Adit hanya diam, membiarkan laki-laki itu menangis sambil menenangkan dirinya. Kemudian menyodorkan minuman ke arahnya. Adit berharap dengan begitu hati Zefran akan terasa sedikit tenang.


"Kita baru kenal Kak, ini baru pertemuan kita yang kedua kali. Tapi aku telah banyak tahu tentang Kak Zefran. Kak Allena selalu bercerita tentang laki-laki yang dicintainya pada kami ….."


Zefran mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Adit.


"Satu-satunya hal pribadi yang dibicarakan dengan kami cuma tentang Kak Zefran. Selama lima tahun belajar sambil bekerja, satu-satunya nama laki-laki yang disebut Kak Allena cuma nama Kak Zefran. Karena itu meski belum bertemu langsung dengan Kakak, saya sudah mengenal Kak Zefran…."


Zefran mengarahkan tubuhnya ke arah Adit. Mendengar cerita Adit tentang istrinya, Zefran tanpa sadar ingin mendengarkan dengan serius.


"Kak Allena selalu memuji Kak Zefran, suaminya adalah seorang CEO yang tampan, baik hati, cerdas, dan sayang padanya. Kak Allena bertahan hidup keras hingga mencapai puncak suksesnya hanya dengan bayangan Kak Zefran di hatinya…"


"Benarkah?" tanya Zefran dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Mengenai berita yang disiarkan itu, malam ini kami bahkan telah mengkonfirmasikan kebenarannya. Kemarin malam, Kak Zefran pasti telah tahu? Kak Allena berhasil menjadi runner-up. Itu sebuah pencapaian yang luar biasa bagi kami. Mengingat saingan kami adalah para designer papan atas. Kami sangat bangga dan terlalu senang. Rasanya tak cukup hanya dengan mengucapkan kata-kata selamat pada Kak Allena," jelas Adit.


Laki-laki itu meneguk minumannya dan meminta Zefran juga meminum minumannya.


"Kami memaksa Kak Allena untuk merayakannya. Pencapaian seperti ini tak sering terjadi karena itu kami mengajaknya untuk merayakannya. Kak Allena sudah bilang kalau dia tidak bisa minum tapi para crew dan kontestan yang lain, juga memintanya untuk minum. Demi kesopanan dan menjaga perasaan yang hadir, Kak Allena minum satu gelas kecil saja. Tapi itu membuatnya tak bisa bertahan. Kak Allena mabuk dan jatuh pingsan," jelas Adit.


Zefran masih menatap lekat laki-laki muda di hadapannya itu. Berharap Adit akan melanjutkan ceritanya.


"Kak Allena sudah seperti adik perempuan bagi Kak Robert. Kedekatan mereka memang selalu jadi perbincangan. Tapi kami, orang-orang yang dekat dengan mereka tahu pasti seperti apa hubungan mereka. Kak Robert tak mungkin memandang Kak Allena sebagai seorang wanita," sambung Adit.


Zefran menatap Adit dengan wajah yang bertanya-tanya.


"Ini, rahasia bagi kami, orang-orang terdekat Kak Robert," ucap Adit terhenti seperti berpikir-pikir.


"Apa? Rahasia apa? Tolong katakan padaku?" tanya Zefran melihat Adit yang bimbang untuk bicara.


"Aku tidak tahu, apa aku pantas bicarakan hal ini?" tanya Adit ragu-ragu.


"Tolonglah Adit jangan membuatku penasaran. Jangan membuat aku salah paham lagi," ucap Zefran panik bahkan hingga mengguncang-guncang tubuh Adit.


"Kak Robert itu seorang …., aahh, pokoknya, Kak Robert itu tak mungkin menyukai Kak Allena. Justru yang kami khawatirkan adalah Kak Zefran," ucap Adit masih penuh tanda tanya bagi Zefran.


"Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit Adit atau aku hancurkan wajah tampannya itu sekarang juga…,"


"Dia gay …,"


"Apa? Kamu? Jangan mencari alasan…,"


"Ini bukan alasan, ini sebenarnya. Kak Robert memang seorang gay," ucap Adit akhirnya dengan pasti dan lancar.


Zefran terperangah, benar-benar tak percaya. Namun Adit tak terlihat seperti sedang bercanda. Zefran terguncang dengan kenyataan itu, sekali lagi menuduh istrinya tanpa dasar yang jelas.

__ADS_1


Zefran tak menyangka. Robert Daniel yang seorang model pujaan dengan wajah tampan, tubuh tinggi kekar, terlihat sangat jantan, justru tak memberi kesempatan bagi wanita untuk mendapatkan cintanya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2