Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 123 ~ Pengalaman ~


__ADS_3

Zefran berencana pulang lebih awal. Meskipun di hadapan Allena dia telah bersikap wajar, namun di hatinya masih menyimpan rasa penasaran hingga membuat laki-laki itu tidak fokus bekerja. Ingin segera sampai di rumah dan melihat apa kegiatan istri dan anak-anaknya saat ini.


Dan benar saja, saat sampai di ruang bermain anak-anak, Zefran melihat Zefano mengajak Allena untuk kembali bermain di taman bermain komplek.


"Mama nggak usah ikut ya Nak, Zeno pergi bersama Kak Santi dan Zara saja ya," ucap Allena menolak ikut dengan putranya.


"Tapi Kak Santi harus jaga Zara nanti Zeno sendirian. Zeno mau ditemani Mama," tanya Zefano.


"Kalau begitu jangan ke sana. Bermain di sini saja sama adek Zara ya," ucap Allena.


"Tapi Zeno udah janji sama Zia Ma, kita harus main di sana," ajak Zefano.


"Ya sudah kalau begitu pergilah, tapi Mama nggak bisa ikut," jawab Allena.


"Tapi Zeno ingin sama Mama, kalau Zeno sendirian nanti di culik gimana?" tanya Zefano.


"Zeno jangan bicara seperti itu! Mama sudah bilang Mama nggak bisa ikut. Kalau begitu Zeno juga nggak boleh ke sana!" bentak Allena yang tak bisa menahan tangisnya lagi.


Allena sedih karena tak bisa mengikuti keinginan anaknya. Sebuah keinginan sederhana, sekedar menemani anaknya bermain. Tapi dia juga tak ingin kejadian kemarin terjadi lagi. Bertemu dengan duda yang membuatnya dituduh oleh suaminya.


Zefano menangis dibentak oleh ibunya. Selama ini Allena tak pernah sama sekali meninggikan suaranya pada Zefano apalagi memarahi anak itu. Allena sedih lalu mencoba membujuk anaknya tapi Zefano justru menepis tangan ibunya.


Allena bersedih hingga menangis terisak-isak. Zefano berlari ke luar ruangan dan langsung disambar oleh ayahnya. Allena berlari mengejar dan melihat Zefano sudah dalam gendongan ayahnya.


"Zeno kenapa marah-marah sama Mama?" tanya Zefran.


"Zeno ingin main di taman Pa, tapi Mama nggak mau temani Zeno. Mama malah suruh Zeno main di rumah saja," jelas Zefano.


"Ya sudah! Kalau gitu Papa yang temani Zeno gimana?" tanya Zefran.


Zefano mengangguk dan kembali tersenyum namun saat Allena mendekat, senyum anak itu langsung menghilang. Allena merasa anaknya masih membencinya. Zefran mengerti dilema yang dirasakan Allena. Istrinya tak mau menemani Zefano karena dia ingin menghindar dari prasangka buruk darinya.


Allena menangis melihat Zefano yang memalingkan wajah darinya. Zefran tak suka Zefano bersikap seperti itu.


"Papa mau temani Zeno tapi Zeno harus minta maaf dulu sama Mama," ucapnya sambil menepuk punggung anaknya agar segera menoleh pada ibunya.


Zefano akhirnya menoleh pada Allena meski wajahnya masih cemberut.


"Lihatlah Mama jadi menangis karena Zeno. Mama itu orang yang paling sayang sama Zeno tapi kenapa justru Zeno yang bikin hati Mama sedih?" tanya Zefran.


Zefano masih menunduk dengan wajah cemberut.


"Ayo sekarang minta maaf sama Mama, sayang Mama dulu baru kita berangkat," ucap Zefran.


Zefran mendekatkan Zefano pada Allena, anak itu meminta maaf lalu mencium kedua pipi ibunya. Allena tersenyum begitu juga dengan Zefran. Laki-laki itu melepas jas dan dasinya. Mengeluarkan kemejanya dari balik celananya dan menggulung lengan panjangnya hingga ke siku.


"Ayo kita berangkat!" ajak Zefran sambil menggandeng putranya.


Zefano mengangguk, baru saja melangkah, Zefran menghentikan langkahnya lalu berbalik menghampiri istrinya yang sedang mengambil jas yang ditinggalkan Zefran. Laki-laki itu memeluk wanita cantik itu dan mencium bibirnya.


"Aku pergi sebentar ya sayang," ucap Zefran pamit pergi.

__ADS_1


Allena mengangguk, sambil tersenyum. Lega karena Zefran bisa mengatasi masalah itu. Senyumnya mengembang melihat suaminya mau menemani putra kesayangannya dan lebih bahagia lagi ketika melihat Zefano melambaikan tangan padanya. Allena senang karena Zefano tak lagi marah padanya.


Sesampai di sana Zefran langsung di kenalkan pada Zacko.


"Pa, ini Papanya Zia," ucap Zefano mengenal orang tua dari teman barunya.


Mereka pun berkenalan dan duduk di bangku taman di mana kemarin Zacko bertemu dengan Allena.


"Mamanya tidak datang?" tanya Zacko pada Zefano dengan sikap yang biasa.


Zefano hanya menggeleng, namun Zefran yang menjawab kalau Allena tak bisa menemani Zefano karena memiliki pekerjaan.


"Oh, apa dia memang seperti itu?" tanya Zacko.


"Maksudmu?" tanya Zefran tak mengerti maksud ucapan Zacko.


"Mamanya Zeno. Dia begitu tertutup, tidak mau bicara sama sekali. Hanya diam saja, padahal dia seorang designer 'kan? Di tuntut untuk mengenal banyak orang tapi kenapa dia begitu tertutup? Maaf aku membicarakan istrimu," tanya Zacko.


"Allena tidak bicara sama sekali? Dia tidak berkenalan denganmu?" tanya Zefran.


"Jadi namanya Allena? Jangankan berkenalan, menoleh ke arahku saja tidak. Dia begitu pendiam hingga tadinya aku mengira dia bisu. Maaf Zefran, aku tidak bermaksud apa-apa," jelas Zacko.


Zefran tercenung mendengar ucapan Zacko.


Allena tidak berbohong, dia benar-benar tidak kenal dengan laki-laki ini. Allena ternyata mengabaikannya, batin Zefran.


"Aku dengar Zia tidak lagi bersama Mamanya, apa itu benar?" tanya Zefran.


"Tidak dia tidak cerita apa-apa, Zeno yang cerita kalau Zia tidak punya Mama lagi karena tinggal bersama orang lain. Apa kalian bercerai?"  tanya Zefran.


Zacko mengangguk dengan ekspresi yang berubah menjadi sedih laki-laki itu membenarkan cerita Zefano.


"Ya benar, aku telah bercerai dengan istriku. Sudah cukup lama, tapi tak lebih lama dari masa pacaran kami," ucap Zacko sambil tersenyum.


Zefran tak mengerti maksud ucapan Zacko.


"Kami pacaran sejak SMP, bayangkan saja! Sejak masih begitu muda kami sudah bersama. Sebelas tahun masa pacaran dengannya tapi hanya bisa bertahan lima tahun menikah dengannya. Semua karena kesalahanku yang terlalu mengekangnya. Terlalu mencintainya hingga membuat tertekan. Aku terlalu posesif, terlalu pencemburu hingga akhirnya dia tidak tahan lagi hidup bersama denganku. Dia jatuh cinta dengan teman kerjanya, hanya seorang karyawan biasa. Laki-laki itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku tapi dia bisa memberikan sesuatu yang tak bisa kuberikan pada istriku sebuah kepercayaan. Ya ampun ... aku kehilangannya justru karena terlalu takut kehilangannya. Akhirnya dia berselingkuh dan dengan berani mengakuinya. Aku tidak bisa menerima itu hingga akhirnya menceraikannya," jelas Zacko.


Zefran tercenung mendengar cerita laki-laki yang baru dikenalnya itu. Zacko menoleh pada Zefran.


"Sayangi istrimu dengan mempercayainya, itu membuatnya merasa nyaman dan bahagia bersamamu. Maaf jika aku seperti menggurui. Aku hanya ingin berbagi pengalamanku agar kamu jangan sampai sepertiku. Aku yakin kehilangan Allena pasti akan sangat berat bagimu," ucap Zacko sambil tersenyum.


Zefran tercenung, apa yang diucapkan Zacko memang benar. Zefran tidak akan sanggup kehilangan Allena. Dan pengalaman rumah tangga Zacko justru sama seperti yang dilakukannya pada Allena.


"Apa kamu selalu terbuka seperti ini pada orang yang baru di kenal?" tanya Zefran.


"Tidak! Tentu saja tidak, hanya saja saat melihat Allena, aku teringat istriku. Dia berusaha untuk menjaga dirinya dari laki-laki yang mencoba mendekatinya. Begitu tertutup demi menghindar dari prasangka buruk yang justru datang dari suaminya sendiri. Apa kamu juga sepertiku? Terlalu mencintai Allena hingga selalu mencurigainya?" tanya Zacko.


Zefran termangu, ingin menyangkal tapi menyadari apa yang diucapkan Zacko memang benar dilakukannya. Laki-laki itu belum sempat menjawab saat beberapa ibu-ibu datang menghampiri mereka.


"Wow Zack, kamu bawa teman? Apa duren juga?" tanya seorang ibu yang dikenalnya bernama Mery.

__ADS_1


Zacko tertawa lalu mengenalkan Zefran pada ibu-ibu itu.


"Oh, keluarga Dimitrios? Aku kenal dengan Ny. Mahlika, aku dengar-dengar putranya sangat tampan. Ternyata memang benar, tapi jarang berkumpul dengan orang-orang komplek sini ya?" tanya Mery.


"Ya, karena kesibukan. Aku tidak sempat menyapa warga komplek sini," jawab Zefran.


"Tidak apa-apa, tapi kalau ada kesempatan sering-seringlah berkumpul. Di sini tidak hanya anak-anak yang bisa berkumpul dan bermain tapi para orang tuanya pun bisa saling mengenal. Kalau ingin joging pagi atau sore juga bisa di sini," ucap ibu yang bernama Anty.


Zefran mengangguk dan berjanji akan lebih sering menemani putranya bermain.


"Anaknya yang ganteng itu kan? Mirip sekali denganmu, sama-sama ganteng. Kalau istrimu yang kemarin datang ke sini ya?" tanya Mery lagi.


"Ya, benar," jawab Zefran sambil tersenyum.


"Benar kalau begitu, dia cantik dan sangat ramah. Ada yang bilang dia designer ternama. Aku sampai tidak percaya karena dia terlihat begitu sederhana, sama sekali tidak terkesan glamor. Dia senang memberi, kemarin bahkan membagikan es krim pada anak-anak. Pokoknya dia orang yang ramah sekali," jelas Anty.


"Oh ya? Aku nggak kebagian Bu Anty?" tanya Zacko sambil tersenyum.


"Kamu kemarin datangnya telat. Sudah habis acara bagi-baginya," ucap Mery.


Zacko tertawa dan menoleh pada Zefran yang juga tersenyum.


"Ternyata dia ramah pada ibu-ibu tapi sombong padaku. Mungkin dia takut jatuh cinta padaku barangkali?" tanya Zacko bercanda.


Bu Mery dan Bu Anty langsung meminta Zefran maklum atas ucapan Zacko.


"Zack ini selalu tebar pesona tapi giliran orang suka malah ditolak. Dia ini aneh omongannya, jangan di masukan ke hati," ucap Mery lagi.


Zefran mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun berbincang-bincang tentang segala hal. Anak-anak, bisnis hingga hobi. Zefran jadi memiliki teman di sekitar rumah.


"Kita bertetangga sudah sangat lama tapi baru sekarang saling mengenal. Aku rasa masa mudamu tidak di sini?" tanya Zacko.


Zefran mengangguk dan bercerita kalau dia mengambil kuliah di luar negeri. Zacko juga bercerita tentang masa mudanya yang mengambil kuliah di kota lain dan baru menetap kembali di rumah keluarganya setelah berpisah dengan istrinya.


Hari semakin sore dan Santi mengingatkan tuannya untuk kembali pulang. Laki-laki itu pun pamit pada Zacko, dan berjanji akan lebih sering menemani putranya bermain di taman komplek itu.


Saat tiba di rumah Zefran langsung menemui istrinya dan memeluknya erat.


"Kamu jadi idola ibu-ibu sekitar sini, mereka menanyakanmu," ucap Zefran.


"Mana mungkin aku menjadi idola, aku baru pertama kali bertemu dengan ibu-ibu itu. Nama-namanya saja aku tidak hafal," balas Allena.


"Kamu boleh jadi idola para ibu-ibu tapi jangan jadi idola para bapak-bapak ya? Cukup bapak satu ini saja yang kamu izinkan jadi penggemarmu," ucap Zefran sambil memegang dadanya.


"Baiklah, aku memang cuma butuh satu penggemar saja," ucap Allena sambil tersenyum.


Zefran tertawa dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir indah istrinya. Hari ini Zefran membuktikan sendiri istrinya yang selalu menjaga dirinya demi menjaga cinta mereka.


Hari ini Zefran juga belajar dari pengalaman Zacko, bagaimana cara menjaga keutuhan rumah tangga dengan cara mencintai yang dilandasi rasa percaya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2