Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 45 ~ Berharap Kembali ~


__ADS_3

Allena menjemput Zefran yang mabuk di Night Club lalu mengantarnya ke kediaman keluarga Dimitrios. Kemudian membersihkan suaminya dari aroma alkohol di tubuhnya.


Allena hendak beranjak pulang saat Zefran bangun dan menahan tangannya. Laki-laki itu meminta maaf dan memohon agar Allena memberinya kesempatan. Rasa takut kehilangan gadis itu membuat Zefran ingin segera memilikinya lagi, merebahkan gadis itu di ranjangnya untuk melepas hasratnya. 


Namun Allena belum siap menjalin hubungan kembali dengan Zefran, gadis itu menolak dan meronta. Zefran merasa ini adalah kesempatannya memiliki Allena namun merasa sedih karena gadis itu menolaknya. Air matanya menetes, mengenai wajah Allena.


Tetes air mata Zefran membuat Allena terpaku, tidak tega menolak keinginan Zefran yang memang masih berstatus suaminya. Allena berhenti meronta dan membiarkan laki-laki itu melucuti pakaiannya. Zefran mencumbu gadis itu dengan begitu bernafsu. Melepaskan hasratnya yang telah tertahan selama lebih dari lima tahun.


Bibir, leher hingga dada menjadi sasaran ciuman Zefran. Laki-laki itu melakukan apa saja demi memberikan kepuasan pada gadis itu, Allena hingga menggigit bibir untuk menahan desahnya.


"Jangan tahan desahmu sayang, aku suka mendengarnya," bisik Zefran.


Allena memeluk erat tubuh laki-laki itu saat Zefran mempercepat ritme bercintanya, desah mereka pun terdengar saling bersahutan hingga akhirnya mencapai puncaknya. Zefran perlahan memperlambat permainannya, demi mempertahankan rasa indah itu lebih lama. 


Menatap gadis yang masih memejamkan mata itu. Allena masih belum melepas pelukannya. Zefran membiarkan gadis itu menikmati rasa yang masih tersisa. Zefran diam memandangi wajah yang dirindukannya itu sepuas-puasnya.


Allena membuka matanya, Zefran tersenyum. Perlahan mengecup kening gadis itu kemudian turun ke bibirnya. Allena kembali memejamkan matanya menikmati tarikan lembut di bibirnya. Zefran melepaskan diri dari penyatuan mereka, berbaring sejenak sambil mengatur nafas kemudian memeluk erat tubuh polos istrinya.


"Aku mencintaimu Allena, kembalilah padaku. Kita mulai hidup yang baru dengan cinta, dengan kasih sayang. Kita tahu, pernikahan kita dimulai dengan alasan yang salah. Aku sering menyakitimu, menyakiti hatimu tapi sekarang aku begitu mencintaimu. Aku ingin selamanya bersamamu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin membayar semua rasa sakitmu dengan cinta. Cinta yang sangat banyak untukmu dan anak-anak kita," tutur Zefran.


Allena diam mendengar janji-janji Zefran, laki-laki itu terus memeluknya hingga akhirnya tertidur lelap.


Menjelang pagi Allena terbangun, menatap wajah suaminya yang masih tertidur. Allena ingin menyentuh wajah itu namun Allena takut akan membangunkannya. Perlahan mengenakan pakaian dan keluar dari kamar. Berjalan tanpa suara menuruni tangga.


"Nyonya Allena!" panggil seorang pelayan.


Allena kaget dan langsung tersenyum.


"Bibi, aku sampai kaget," ucap Allena.


Bibi itu tergesa-gesa menghampiri dan tersenyum gembira.


"Apa Nyonya kembali ke rumah ini?" tanya bibi pelayan itu.


"Tidak bi, aku ke sini cuma ingin mengantar Tuan Zefran," jawab Allena.


Bibi itu tertunduk kecewa.


"Kasihan nasib keluarga ini, sejak Nyonya Allena pergi, keluarga ini menjadi suram. Nyonya besar sering mengurung diri di kamar. Ny. Frisca kadang pulang ke rumah tapi lebih sering tidak pulang. Sementara Tuan Zefran, setiap hari bersedih,  setiap malam pulang dalam keadaan mabuk," tutur bibi pelayan yang telah lama bekerja di kediaman keluarga Dimitrios itu.


"Nyonya besar marah dan tidak mengizinkan tuan masuk kerja, hasilnya semua minuman di mini bar habis dalam sekejap. Pesan minuman hingga mini bar itu penuh kembali lalu dalam sekejap habis lagi," lanjut pelayan itu sambil menunduk sedih.


Allena diam mendengarkan.


"Ny. Frisca melihat suaminya yang menghabiskan waktu dengan mabuk tapi dia tidak peduli. Kerjanya pergi bekerja pulang membawa belanjaan lalu pergi lagi. Kadang pulang kadang tidak pulang,"


"Tuan Zefran seperti tidak peduli lagi pada Ny. Frisca padahal Ny. Frisca sedang mengandung anaknya tapi entah kenapa baik Nyonya besar maupun Tuan Zefran seperti tidak peduli lagi dengan impian mereka ingin memiliki keturunan,"


"Keluarga ini pernah bahagia, saat tuan Zefano lahir. Namun hanya sekejap, kebahagiaan di rumah ini hanya singgah sekejap. Saya pikir Nyonya Allena akan kembali ke rumah ini. Menyelamatkan keluarga yang hampir hancur ini," pinta bibi itu pada Allena.


"Aku tidak bisa Bi, aku belum bisa," ucap Allena menitikkan air mata.


"Kenapa?," tanya bibi itu.


"Aku takut, takut tersakiti lagi," jawab Allena.


Bibi itu mengangguk.


"Bibi tidak tahu darimana asal petaka di rumah ini. Nyonya besar adalah orang yang baik, tuan Zefran juga orang yang baik tapi entah kenapa mereka menjadi orang yang menderita. Kadang mereka tidak berselera makan. Apalagi tuan Zefran, entah kapan makan di rumah," ucap bibi itu tersenyum kecut.


Bibi itu mencurahkan kesedihannya melihat penderitaan penghuni rumah itu. Allena mendengarkan dengan hati yang terenyuh.


Setelah Allena pamit pulang, Zefran turun dan bertanya pada para pelayan.


"Bi, apa tadi lihat Ny. Allena di sini?" tanya Zefran ragu.


"Ya, tuan. Tapi sekarang sudah pulang, Ny. Allena bahkan memasak bubur jagung asparagus untuk tuan," jawab bibi itu sambil tersenyum.


"Benarkah? Dia benar-benar ada di sini?" tanya Zefran tidak yakin namun tersirat kebahagiaan di wajahnya.


Bibi itu kembali mengangguk sambil tersenyum.


Ternyata benar, aku benar-benar bersamanya tadi malam. Rasanya terlalu indah hingga aku mengira itu hanya mimpi. Ternyata dia benar-benar ada di sini bahkan menyiapkan sarapan untukku, batin Zefran berbunga-bunga.


"Aku bersiap-siap dulu bi, nanti aku akan sarapan," sambungnya sambil tersenyum riang.


Berlari ke lantai atas untuk membersihkan diri. Membuka kran shower dan merasakan air hangat yang mengaliri tubuhnya. Zefran senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Hatinya berbunga-bunga, harinya terasa indah.


Mudah-mudahan kejadian tadi malam membuat Allena memaafkanku dan mau kembali padaku, batin Zefran.


Laki-laki itu segera bersiap-siap dengan setelan jas yang rapi kemudian turun untuk sarapan bubur yang di buatkan isterinya.


"Nyonya Allena berbincang dengan bibi di sini, sebelum pulang Nyonya Allena ingin membuatkan sarapan untuk tuan. Tadi sudah bibi panaskan lagi," ucap bibi pelayan sambil meletakkan semangkuk sup jagung asparagus lengkap dengan suwiran ayam dan sambal botol.


Zefran terlihat begitu senang memandangi sarapan buatan istrinya.


"Bi, doakan semoga Nyonya Allena mau kembali ke rumah ini lagi ya?" pinta Zefran.


"Ya tuan, tentu Bibi doakan," jawab bibi itu sambil tersenyum.


"Mommy mana Bi? Tidak sarapan sekalian?" tanya Zefran.

__ADS_1


"Kemarin sore Nyonya besar berangkat ke Seoul Tuan," jawab Bibi itu.


"Oh, sayang sekali, jika tidak Mommy bisa mencoba masakan Allena," ucap Zefran lagi.


Bibi itu mengangguk sambil tersenyum, melihat tuan mudanya yang makan dengan lahap. Pelayan tua itu terharu menatap pemandangan yang telah jarang terlihat di rumah itu.


Zefran melahap sarapan itu sambil tersenyum-senyum. Zefran seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. Sebentar-bentar tersenyum lalu menghayal lagi. Menjalani hari-harinya dengan lebih ceria.


Masuk kantor dan bekerja dengan lebih semangat membuat Patrick heran namun ikut merasa senang. Saat jam istirahat Zefran memilih mengunjungi perusahaan fashion di mana istrinya bekerja. Melihat dari jauh kesibukan Allena yang sedang memberi arahan terhadap rancangannya atau sedang memantau busana yang telah jadi. 


Hanya melihat gadis itu dari jauh saja membuat laki-laki itu tersenyum melanjutkan harinya. Menatap Allena seperti menambah kekuatan baginya untuk menjalani hidup dengan lebih semangat. Kadang Allena yang tiba-tiba melihat suaminya itu sedang melangkah pergi.


Apa yang dilakukannya di sini, kenapa tidak menyapaku. Ya ampun kenapa aku memikirkan itu? Apa aku ingin kembali padanya? batin Allena bertanya-tanya.


Sementara Zefran yang telah melaju, tersenyum mengingat apa yang dilihatnya hari ini. Allena yang tertawa bercanda dengan karyawannya. Allena yang selalu mengangguk saat orang menyapanya. Membalas senyuman orang yang melintas di depannya.


Senyummu adalah kekuatanku menjalani hari-hariku. Meski bukan selalu untukku tapi aku tahu semua yang ada padamu adalah milikku, batin Zefran.


Tiba-tiba laki-laki itu teringat pada putra semata wayang Allena.


Seperti apa dia sekarang? Sudah sebesar apa anak itu? Aku ingin melihatnya, aku ingin tahu seperti dia sekarang? Apa yang kulakukan? Aku telah merindukan anak yang membuat kami berpisah, jerit hati Zefran.


Kemudian memasuki gedung perkantorannya untuk menjalani kesibukan pekerjaannya. Seperti itulah rutinitas Zefran hampir setiap hari.


Siang itu Allena memasuki toko bunga dan menemui pemilik toko yang telah dianggap seperti kakaknya sendiri.


"Bagaimana dengan dekorasi untuk acara kemarin? Apa kurang bagus?" tanya Tiara.


"Huu.., mana mungkin. Dekorasi kemarin luar biasa. Aku mendengar sendiri orang-orang memujinya. Aku rasa kartu nama yang kutaruh dekat Vas bunga itu hanya tinggal beberapa lembar saja. Jangan katakan kalau tidak ada satupun dari mereka yang datang ke sini," ucap Allena.


Tiara tertawa, apa yang dilakukan Allena sangat brilian. Menaruh sebuah vas berisi penuh bunga mawar indah di meja tamu beserta kartu nama toko bunga Tiara.


Membuat pengunjung acara tidak tahan mengambil setangkai saat melihat tulisan 'silahkan diambil'. Setangkai demi setangkai bunga mawar itu berkurang berikut dengan kartu namanya. Efeknya membuat Tiara kewalahan menghadapi konsumen yang datang setiap hari.


"Aku telah menambah karyawanku tiga orang untuk membantu jika tidak, aku tidak bisa mengobrol denganmu sekarang ini," ucap Tiara sambil tertawa.


Menunjukkan toko bunga itu laris sejak promosi yang dilakukan Allena. Setiap Allena melakukan peragaan busana, gadis itu akan memesan bunga dari toko bunga Tiara.


"Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Tiara.


"Baik, anakku bertambah besar.."


"Bukan itu, kalau itu kamu sudah sering cerita. Keluargamu yang lain," tanya Tiara.


"Suamiku dan keluarganya?" ucap Allena balik bertanya.


Tiara mengangguk.


"Tidak bersama lagi atau belum bersama lagi?" tanya Tiara lagi.


"Dia selalu memintaku untuk kembali padanya tapi aku terlalu takut," jawab Allena.


"Kalian belum bercerai, iyakan?" tanya Tiara.


Allena menggelengkan kepala.


"Dia cukup sabar menunggumu lalu bagaimana dengan Tuan Valen?" tanya Tiara.


"Aku memintanya untuk menjadi kakakku. Dia harus mau menerimanya," ucap Allena.


Baru saja pembicaraan itu berhenti karena Allena yang terdiam. Terdengar bunyi bel pintu, keduanya reflek menyapa pengunjung yang datang. Langsung terpaku saat mendapati Valendino yang masuk ke dalam toko.


Laki-laki itu juga terpaku sesaat kemudian tersenyum, tidak menyangka bisa bertemu dengan Allena di toko bunga langganannya.


"Selamat datang Tuan Valen," sapa Tiara.


Valendino tersenyum pada pemilik toko bunga yang sudah semakin maju dan semakin besar itu. Kemudian beralih menatap Allena.


"Sudah lama tidak bertemu," sapa Valendino pada Allena.


Allena mengangguk, baginya terakhir kali bertemu dengan Valendino adalah saat bekerja di Paris. Sejak mendapat penolakan itu Valendino tidak pernah muncul lagi di hadapan Allena. Valendino hanya bisa memandang gadis itu secara diam-diam.


"Bagaimana kabar Kakak?" tanya Allena memecah suasana canggung.


"Baik dan buruk," jawabnya sambil  tersenyum.


"Apa?"


"Buruk karena cintaku telah ditolak. Baik karena masih bisa bertahan hidup hingga saat ini," lanjut Valendino.


"Kakak jangan bicara seperti itu," ucap Allena dengan wajah yang langsung sedih.


Valendino tertawa kecut. Lima tahun berlalu Valendino masih belum bisa melupakan kesedihannya karena ditolak Allena.


"Bisa bertahan hidup selama lima tahun dengan rasa sedih karena ditolak bukankah itu kabar baik," sambung Valendino.


"Kakak..,"


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Valendino lagi, tersenyum agar membuat hati Allena tenang.


Tiba-tiba Allena merasakan ponselnya bergetar, meminta izin pada Valendino untuk menerima panggilan telepon itu. Berdiri di ujung etalase sambil tersenyum mengangguk pada Valendino.

__ADS_1


Gadis itu langsung mendengar ucapan dari orang di seberang. Valendino melirik ke arah Allena yang tiba-tiba berwajah pucat. Gadis itu tiba-tiba jatuh terduduk hingga ponselnya terbanting. Valendino langsung mengejar dan bertanya apa yang terjadi.


"Bagaimana ini? Bagaimana ini?" tanya Allena berulang kali.


"Ada apa? Kenapa Allena? Katakan ada apa?"  teriak Valendino ikut panik.


"Anakku di rumah sakit, dia mimisan dan jatuh pingsan," jawab Allena dan langsung menangis.


Valendino memeluk gadis yang menangis sesenggukan itu. Valendino berusaha menenangkannya.


"Ayo kita rumah sakit," ucap Valendino sambil memapah Allena.


Mereka pun pamit ke rumah sakit. Pemilik toko itu berjanji akan mengunjungi putra Allena di rumah sakit. Menggunakan mobil Allena, Valendino mengantar gadis yang terlihat sangat terguncang itu. Tangannya gemetar, air matanya tak berhenti mengalir.


Mimisan bukan hal yang biasa bagi Allena. Gadis itu telah terlanjur trauma dengan kondisi yang satu itu. Kondisi yang selalu membuat dirinya dan ibunya panik saat mendapati ayahnya mengalami hal yang serupa.


"Tenang Allena, jangan berpikiran buruk dulu," ucap Valendino kemudian melirik Allena yang duduk di kursi penumpang.


Allena diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Air matanya tak berhenti mengalir, sesekali menggelengkan kepalanya kemudian tertunduk. Jelas gadis itu sedang terguncang.


Begitu mobil terparkir Allena langsung berlari. Valendino pun berlari mengejar gadis yang berlari kencang dengan wajah panik itu. Allena terhenti di depan sebuah ruang rawat inap. Perlahan masuk ke dalam dan menatap wajah kecil yang langsung tersenyum melihatnya.


"Mama," teriak Zefano yang langsung merentangkan kedua tangannya.


Allena berlari memeluk anak yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien itu. Ny. Vina dan Rahma menghapus air mata mereka.


"Apa yang terjadi? Kenapa mimisan lagi? Apa Zeno nakal, masih berpanas-panasan?" tanya Allena bertubi-tubi.


"Nggak, Zeno nggak nakal. Zeno tidak panas-panasan. Kata Bu Guru cuaca tidak panas lagi, teman-teman boleh main di luar. Tapi Zeno tetap main di tempat teduh," jawab Zeno panjang lebar.


"Lalu kenapa masih mimisan?" tanya Allena.


Gadis itu duduk di ranjang rumah sakit sambil menatap lurus pada anaknya. Anak itu mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. Melihat senyum anak itu membuat hati Allena sedikit terhibur.


Zefano memiringkan tubuhnya untuk menengok ke belakang Allena. Semua otomatis menoleh ke arah Valendino. Laki-laki itu tersenyum pada Zefano.


"Oh, Om itu namanya Valendino temannya Mama," ucap Allena pada Zefano.


Valendino pun maju untuk memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya pada anak yang tampan itu. Zefano menyambut dengan senyuman.


"Zefano, panggilan Zeno," ucapnya tegas.


Valendino mengangguk sambil tersenyum.


"Valendino tapi terserah Zeno mau panggil apa," balas Valendino.


"Uncle Val?" tanya Zefano dengan memiringkan kepalanya meminta pendapat.


Semua yang berada di situ tertawa melihat tingkah riang anak itu. Valendino mengangguk setuju sambil mengedipkan kedua matanya, Zefano tersenyum. Tak terlihat tanda-tanda sakit di raut wajah dan tubuh anak itu.


"Tapi kamu harus menemui Dokter, tanyakan apa sakit yang diderita Zeno," ucap Vina khawatir.


Setelah menarik putrinya berdiri menjauh, Ny. Vina menyuruh Allena untuk meminta penjelasan dari dokter.


"Ya Bu, Allena akan menanyakannya," ucap Allena sambil menatap Zefano.


Anak laki-laki tampan itu terlihat tertawa bermain bersama Valendino yang duduk di atas ranjang berhadapan dengannya.


Allena pun mengikuti saran Bu Vina dan menemui dokter. Ditemani Valendino, Allena menanyakan kondisi kesehatan putranya.


"Apa kondisi Zeno memang mengharuskannya di opname, Dokter?" tanya Allena pada dokter yang bertanggung jawab terhadap Zefano.


"Zeno memang harus di opname, ini diperlukan karena kami harus melakukan observasi terhadap Zeno secara khusus. Opname untuk memudahkan pemeriksaan dan pemantauan oleh dokter" jelas dokter itu.


"Apa? Kenapa?" tanya Allena panik.


"Zeno telah mengalami mimisan sebanyak tiga kali," jawab dokter itu.


"Tiga kali? Saya pernah diberi tahu satu kali tapi Gurunya bilang telah membawa ke dokter dan itu disebabkan karena cuaca yang panas," jelas Allena.


"Tapi sekarang cuaca tidak lagi panas dan Zeno tetap mengalami mimisan apalagi sampai tidak sadarkan diri. Kami perlu melakukan observasi pada Zeno," ucap Dokter itu.


Allena lemas tapi dokter meminta Allena tetap tenang dan tidak berpikiran buruk. Semakin cepat melakukan pemeriksaan akan semakin cepat mengetahui penyebab sakitnya. Allena meminta dokter melakukan yang terbaik untuk putranya.


Allena kembali ke perusahaan fashion diantar Valendino.


"Harusnya aku antar Kakak dulu ke toko bunga," ucap Allena yang masih terlihat lemas.


"Berkendara sendiri dengan kondisimu yang seperti ini? Lebih baik aku antar kamu lalu naik taksi ke toko bunga," ucap Valendino sambil tersenyum.


"Jika bukan karena janjiku, aku akan tetap menemani Zeno di rumah sakit," ucap Allena dengan mata yang berkaca-kaca.


"Setelah urusanmu selesai, kamu bisa kembali menemani Zeno. Tapi ingat jika perasaanmu tidak tenang jangan berkendara sendiri, OK!" ucap Valendino.


Laki-laki itu menyerahkan kunci mobil pada Allena. Dengan lesu gadis itu pun berbalik ingin pergi. Namun, tiba-tiba Valendino menarik tangannya dan langsung memeluknya, laki-laki itu membelai rambut Allena.


"Jangan salah paham, ini adalah pelukan seorang abang terhadap adik perempuannya," bisik Valendino.


Allena memang butuh dukungan dan pelukan adalah salah satu bentuk dukungan. Namun, dukungan yang diberikan Valendino dipandang beda oleh Zefran. Laki-laki itu urung turun dari mobilnya saat melihat Valendino keluar dari mobil Allena.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2