Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 145 ~ Janji ~


__ADS_3

Allena melanjutkan niatnya menjodohkan Dr. Devan dan Santi karena menurut Zefran, dokter tampan itu setuju untuk mencobanya. Dokter itu datang dan Allena pun melancarkan aksinya. Mendandani gadis yang bekerja sebagai baby sitter itu dengan gaun yang cantik.


Santi muncul sambil menggendong Zifara, kedua laki-laki itu terpana melihat perubahan drastis dandanan Santi. Setelah sadar, Dr. Devan mulai bertanya-tanya pada Santi tentang Zifara. Namun karena Zefran yang berhasil memancing pembicaraan hingga akhirnya tercetus permintaan Dr. Devan untuk menjadikan Santi sebagai pasangan di acara pernikahan Patrick dan Rahma.


Santi bingung menjawab berkali-kali gadis itu melirik ke arah Zefran. Allena bukannya tak tahu itu, melihat situasi seperti itu Allena berinisiatif untuk membawa Zifara kembali ke kamar dengan alasan putri kecilnya itu sudah mengantuk.


"Sini, Zara sayang tidur sama Mama ya," ungkap Allena sambil mengambil Zifara dari pangkuan Santi.


"Zara bobok dulu ya om Dokter, kak Santi," ucap Allena seolah Zifara yang pamit.


"Biar saya yang tidurkan Zara, Nyonya," ucap Santi.


"Nggak usah! Biar saya saja. Ayo Kak, kita bobok sama Zara di kamar yuk," ajak Allena pada Zefran.


Zefran yang tadinya masih terlihat enggan, terpaksa menurut saat Allena membulatkan matanya. Laki-laki itu langsung setuju ikut bersama Allena ke kamar dan membiarkan Dr. Devan dan Santi bicara berdua saja.


Sesampai di kamar Allena langsung membalik badannya ke arah suaminya.


"Kenapa tidak mau ikut? Nggak rela kalau Santi dijodohkan dengan Dr. Devan? Nggak rela membiarkan mereka berdua? Kakak suka sama Santi?" tanya Allena bertubi-tubi.


"Kenapa sih sayang? Kenapa bertanya sampai memberondong begitu? Seperti peluru senjata mesin. Nggak berhenti-berhenti kalau pelurunya belum habis," ucap Zefran sambil tersenyum.


Tapi Allena sama sekali tidak tersenyum. Wanita itu tentu tak menjawab pertanyaan Zefran. Wanita itu lalu menaruh Zifara di ranjang bayi. Setelah bayi itu bermain-main dengan mainannya yang tersedia di ranjang bayi itu, Allena berjalan ke balkon. Allena tak tersenyum apalagi tertawa, Zefran sadar kalau ternyata istrinya sedang merajuk. 


"Ada apa sih sayang?" tanya Zefran langsung memeluk istrinya dari belakang.


Allena masih diam, Zefran menghembuskan nafas berat.


"Aku tidak akan minta maaf tapi tolong katakan apa salahku?" tanya Zefran menoleh ke samping dan mengecup pipi istrinya.


Allena memalingkan wajahnya ke arah lain. Zefran pindah ke samping yang lain. Allena kembali memalingkan wajahnya. Melihat itu Zefran langsung membalik badan Allena menghadap ke arahnya.


"Katakan! Ucapan atau sikap apa yang tidak kamu sukai, karena aku yakin kalau aku tidak bersalah," ucap Zefran di hadapan Allena.


"Sekarang … Kakak menyesal? Tidak dijodohkan dengan Santi--"


"Apa?"


"Kakak terpesona melihatnya, sekarang Kakak pasti menyesal karena bukan dia yang dilamar Mommy," ucap Allena.


"Oh ya ampun, kenapa bisa timbul pemikiran seperti itu sih sayang?" tanya Zefran sambil menangkup wajah istrinya.


"Kakak tidak rela meninggalkan mereka berdua," jawab Allena.

__ADS_1


"Aku bukannya tidak rela, tapi tidak sadar dengan rencanamu untuk meninggalkan mereka berdua. Aku tidak peduli dengan Santi sayang. Kalau tadi aku terpana bukan karena aku tiba-tiba aku suka padanya. Tapi karena ternyata dia bisa cantik juga jika berdandan--"


"Itu 'kan? Kakak memujinya cantik," ucap Allena langsung.


"Lho, bukan memuji dia cantik. Tapi lebih cantik dari biasanya. Kalau masalah cantik di rumah ini bahkan di mana pun mataku melihat, tak ada yang lebih cantik daripada kamu. Aku tidak bohong sayang, kamu itu cantik alami, cantik luar dan dalam. Dan sampai kapan pun kamu akan tetap cantik--"


"Bohong!"


"Tidak percaya? Ayo ikut aku," ucap Zefran sambil membawa wanita itu ke walk in closet di mana di sana tersedia banyak kaca di sekeliling ruangan.


"Lihatlah! Betapa cantiknya wanita di hadapanmu itu. Tak perlu mengenakan gaun indah, tak perlu menempelkan make up mahal di wajah, wanita itu sudah sangat cantik. Laki-laki yang di sebelahnya itu selalu cemburu padanya setiap kali ada laki-laki lain di sekitarnya. Cemburu yang sebenar-benarnya karena setiap laki-laki kalau sudah kenal dengannya, pasti akan menyukainya. Semua memanjakannya, laki-laki yang di sebelahnya itu selalu merasa apa dia bisa tetap di sisinya? Apa suatu saat laki-laki itu akan disingkirkan? Apa wanita itu tetap ingin bersamanya jika dia menemukan yang lebih baik darinya?" ucap Zefran sambil menatap pantulan wajah Allena di cermin itu.


Allena yang menatap wajahnya lalu beralih menatap wajah Zefran dari pantulan cermin besar itu.


"Kalau wanita itu menua apa laki-laki itu akan tetap berdiri disampingnya?" tanya Allena.


"Jika wanita itu menua maka laki-laki itu juga akan menua. Apa menurutmu, wanita itu akan tetap bersedia bersama laki-laki yang jelas-jelas lebih tua darinya itu?" tanya Zefran.


Allena tersenyum, lalu beralih menatap wajah Zefran yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita cantik itu. Sebelah kanan tangan Allena melingkar di leher laki-laki tampan itu dan sebelah tangannya lagi melingkar di punggung suaminya.


Mereka bergerak semakin mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka.


"Jawab dulu pertanyaanku, tolonglah!" ucap Zefran dengan wajah memelas.


Zefran tersenyum, laki-laki itu langsung membenamkan bibirnya ke bibir istrinya. Menyesap dan mengulum bahkan menghisap. Hening, tak ada yang ingin bicara, hanya terdengar desah nafas yang memburu, dan jantung yang berdegup kencang.


"Boleh aku tagih janjimu?"


"Janji?" 


"Jangan pura-pura lupa, kamu berjanji akan melanjutkan yang terputus tadi. Kamu janji mau melanjutkannya setelah urusannya selesai," ucap Zefran.


"Tapi urusannya belum selesai, bagaimana kalau ada yang mengetuk pintu lagi?" tanya Allena.


"Kita pura-pura tidak dengar, anggap saja sudah tidur," ucap Zefran sambil mengangguk-angguk, dengan mata memohon.


Allena tersenyum lalu membuka baju kaos suaminya. Tak perlu menunggu lama, Zefran mempercepat melepas baju kaosnya dan melemparnya ke sembarang arah. Allena tersenyum melihat suaminya yang begitu bernafsu.


Allena sadar, melihat sikap suaminya, terlihat jelas Zefran benar-benar sangat menginginkannya. Dan benar saja saat mereka sedang sibuk saling memberi rasa, ketukan pintu kembali terdengar.


Allena tertawa tanpa suara, Zefran tetap fokus pada tujuannya. Sama sekali tak peduli dengan pintu yang di ketuk hingga beberapa kali itu. Tak mempercepat tak memperlambat, hanya fokus ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Aku mencintaimu Allena, aku mencintaimu sayang!," bisik Zefran di balik desah napas mereka yang semakin memburu.

__ADS_1


Allena tak bisa menahan desahnya, Zefran meminta Allena tak menahannya.


"Nanti terdengar orang," bisik Allena.


"Tapi itu suara favoritku," bisik Zefran.


Allena tersenyum, sejak pertama kali menyatakan cinta padanya. Zefran selalu ingin mendengar desah napas Allena. Mereka pun menyudahi aksi bercinta mereka setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Bagaimana dengan mereka, apa kira-kira Dr. Devan berhasil?" tanya Allena.


"Entahlah, nanti aku telepon untuk memastikan. Kamu juga bisa menanyakan pada Santi langsung," ucap Zefran.


"Aku harap mereka berhasil, aku ingin semuanya bahagia," ucap Allena sambil bersandar di dada suaminya.


"Ya, agar tidak ada dendam. Aku juga berharap Devan serius kali ini, kalau tidak awas dia! Apa sebaiknya aku telepon dia sekarang?" tanya Zefran pada istrinya yang dibalas anggukan oleh Allena.


Laki-laki itu segera meraih ponselnya di atas nakas. Sebelah tangannya masih memeluk istrinya yang bersandar di dadanya. Zefran segera menghubungi Dr. Devan.


"Bagaimana?" tanya Zefran langsung begitu tersambung.


"Apanya yang bagaimana?" Devan bertanya balik.


"Ayolah kamu pasti tahu maksudku," ucap Zefran dengan sebelah tangannya mengusap punggung istrinya.


Allena hanya diam mendengarkan, meski sangat penasaran dengan isi pembicaraan Zefran dan Dr. Devan.


"Kalian sudah selesai?" tanya Devan.


"Apa?"


"Ayolah, kamu pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Tidak mungkin tidur jam segini, apa perlu aku tanya Allena?" tanya Devan sambil tertawa. Zefran pun ikut tertawa.


"Ya, ya sudah selesai," ucap Zefran lalu menoleh dan tersenyum pada istrinya, mengecup puncak rambut wanita itu lalu kembali fokus pada ponselnya.


Kembali terdengar suara tawa Dr. Devan. Laki-laki itu akhirnya menjawab bahwa Santi minta waktu mempertimbangkan hingga sebelum acara pesta pernikahan Rahma dan Patrick dimulai.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Zefran penasaran.


"Dia ingin menyelesaikan sesuatu denganmu. Sebuah perjanjian di antara kalian," ucap Devan.


"Apa? Perjanjian?" tanya Zefran heran.


Dr. Devan hanya bisa memberi informasi sampai di situ. Zefran tak bisa mengetahui apa yang di maksud dengan perjanjian itu antara dirinya dan Santi. Sekuat apa pun laki-laki itu berpikir, Zefran tak mengingat janji apa pun yang pernah di ucapkannya pada Santi.

__ADS_1


...~   Bersambung   ~...


__ADS_2