
Allena berangkat ke perusahaan fashion setelah mengantar Zefano ke sekolah. Terlihat Sabilla yang menunggu Zefano di depan gerbang sekolah. Gadis kecil yang cantik itu ikut melambaikan tangannya pada Allena saat Zefano melambaikan tangan pada ibunya.
Oh ya ampun anak-anak itu manis sekali, batin Allena.
Melihat cantiknya Sabilla membuat Allena juga berpikir alangkah serasinya Zefano dan Sabilla. Begitu sadar buru-buru wanita cantik itu menggelengkan kepalanya.
Oh benar-benar plin-plan aku ini, kemarin suka sama Keisya sekarang sama Sabilla kalau melihat Zia juga suka. Oh, ini berbahaya jika semua suka bagaimana dengan Zeno. Perjodohan ini seperti kutukan. Aku malah mengikuti apa yang dilakukan Mommy, menyukai semua gadis kecil yang dekat dengan Zeno. Benar apa yang dikatakan Kak Zefran, biarkan Zeno memilih sendiri. Oh, masih sangat dini untuk menjodohkan mereka tapi kalau dipikir-pikir aku dan Kak Zefran bahkan dijodohkan sebelum aku dilahirkan. Ah, pusing, biarkan sajalah, batin Allena.
Sesampai di perusahaan fashion milik Ny Marilyn, Allena langsung disambut oleh Vivi.
"Kak, kok lama sih datangnya? Di tunggu Mommy dari tadi lho," ucap Vivi sambil mensejajarkan langkahnya.
"Oh ya? Maaf ya tadi ada sedikit urusan. Tapi aku tak ada janji datang pagi kok?" tanya Allena.
"Ya, tapi karena Kak Allena bilang mau datang hari ini jadi ditunggu-tunggu sama Mommy," jelas Vivi.
"Oh, tapi sebenarnya ada apa Vi? Aku kok deg-degan gitu sampai ditunggu Mommy segala?" tanya Allena sambil melangkah cepat menuju ruangan Ny. Marilyn.
"Kakak dengar saja nanti," ucap Vivi.
Dan Allena pun pasrah menunggu apa yang akan dibicarakan Ny. Marilyn. Begitu muncul di ruangan pemilik perusahaan fashion ternama itu Allena langsung disambut dengan senyuman dan pelukan yang hangat oleh Ny. Marilyn.
"Ada apa Mommy? Kok kelihatannya senang sekali?" tanya Allena heran.
"Peragaan busana putrimu sukses besar bahkan produknya banjir pesanan hingga ke mancanegara. Sayang! Kamu harus rancang dan produksi lebih banyak lagi. Dan Zara harus lebih sering melakukan peragaan busana. Anak itu begitu bersinar, banyak rumah produksi yang menanyakannya tapi Mommy tak berani memberitahu. Mommy sendiri tidak yakin kamu bersedia putrimu menjadi model," jelas Marilyn berapi-api.
Allena dan Vivi saling berpandangan. "Baiklah Mommy, kalau begitu aku akan lebih banyak merancang lagi. Mengenai Zara nanti aku bicarakan dengan Papanya dulu ya Mommy. Aku tidak berani memutuskan sendiri," ucap Allena lagi.
Terlihat wajah yang tak begitu puas dari Ny. Marilyn tapi nyonya itu tetap menampilkan raut wajah ceria. Allena berjanji akan segera memberi jawaban untuk kepastian Zifara kembali sebagai model bayi nanti.
Ny. Marilyn berharap Papanya Zifara membolehkan putrinya ikut serta kembali mempromosikan baju-baju rancangan ibunya. Allena juga harus kembali fokus untuk merancang gaun-gaun untuk bayi. Tak lupa Ny. Marilyn memberikan beberapa ide. Allena menampung semua ide itu untuk mendukung rancangannya nanti. Setelah berbincang-bincang segala sesuatunya, Allena pun mohon diri untuk ke bagian produksi.
"Kakak mau bikin gaun pengantin lagi? Untuk siapa kali ini? Apa untuk teman lagi? Banyak sekali Kakak berikan begitu saja dengan gratis gaun-gaun pengantin bikinan Kakak. Meski rancangannya bisa gratis tapi bahan-bahan yang Kakak pilih adalah bahan-bahan yang terbaik dan itu juga mahal-mahal," ungkap Vivi seperti keberatan melihat Allena yang begitu royal memberikan gaun-gaun rancangannya yang Vivi tahu jika dipasarkan bisa mencapai ratusan juta bahkan mencapai milyaran.
"Banyak yang telah aku dapatkan dalam hidupku ini Vivi, keluarga, saudara, sahabat semua memberikan bantuan, perhatian, dukungan dan kebahagiaan bagiku. Apa salahnya jika aku juga memberi sesuatu pada mereka. Aku juga tak bisa memberi mereka setiap hari. Contohnya seperti kamu yang selalu memberikan bantuan padaku setiap saat, baik aku minta maupun kamu tawarkan sendiri. Jika aku memberi sekali saja gaun pengantin apa itu suatu pemberian yang berlebihan?" tanya Allena.
"Tapi tanpa memberi hadiah gaun pengantin itu pun, Kakak tetap juga telah memberi banyak padaku. Tapi … apa betul aku akan mendapatkan gaun pengantin rancangan Kakak juga?" tanya Vivi tiba-tiba dengan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Aku bilang 'kan contohnya seperti kamu. Bukannya mau ngasih kamu," ucap Allena sambil menahan senyum.
"Oh, aku pikir Kakak mau bikinkan aku gaun pengantin rancangan Kakak juga," ucap Vivi dengan wajah kecewa.
Gadis itu tak mampu menahan rasa kecewanya. Vivi merasa dirinya belum begitu berarti bagi Allena hingga tidak bisa berharap mendapatkan gaun pengantin rancangan desainer idolanya itu.
"Untuk apa ngasih kamu gaun pengantin? Kapan nikahnya saja belum jelas. Kalau sudah tahu tanggalnya tentu aku bikin satu untukmu. Bahkan rancangannya saja sudah sejak lama aku siapkan. Spesial dan rahasia, tapi kapan sayang sekali tanggal menikahnya masih di awang-awang. Apa yang mau dibikinkan?" ungkap Allena.
"Benar Kak? Sungguh Kakak sudah siapkan rancangan untukku? Seperti apa rancangannya? Apa aku boleh lihat?" tanya Vivi bersemangat bahkan hingga melompat-lompat.
"Kamu tidak dengar, spesial dan rahasia," jawab Allena sambil menahan senyum.
"Aaah, Kakak aku jadi penasaran," rengek Vivi.
"Jangan salahkan aku, salahkan pacarmu itu yang terlalu gerak lambat," ucap Allena sambil tertawa.
"Aah Kakak ayolah," rayu Vivi.
"Tunggu dulu bukannya tadi kamu protes kalau aku suka kasih-kasih gaun pengantin rancanganku. Kenapa sekarang malah merengek?" tanya Allena sambil tersenyum.
Vivi pun tersenyum malu, Allena tertawa dan menepuk pipi gadis itu. Di perusahaan fashion ini, Vivi adalah segalanya bagi Allena. Gadis yang begitu penurut padanya. Selalu membantunya setiap saat. Kedatangan Allena di perusahaan itu selalu disambut pertama kali oleh Vivi.
Allena menyerahkan rancangannya pada bagian penjahitan. Setelah urusannya selesai, wanita itu pamit pada Ny. Marilyn dan tentu saja pada Vivi.
"Tanyakan pada Adit kapan kalian akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kalau malu, bilang saja kalau Kak Allena yang penasaran karena segera ingin membuatkan seragam pengantin kalian," ucap Allena saat menaiki mobilnya.
Vivi mengangguk sambil tersenyum lalu melambaikan tangannya saat Allena melajukan mobilnya keluar dari area gedung perusahaan fashion itu. Saat malam, Allena membicarakan tentang usulan Ny. Marilyn untuk mengikutkan kembali Zifara dalam kegiatan peragaan busana khusus untuk bayi-bayi.
"Terserah padamu sayang! Jika menurutmu Zara bisa melakukannya ya nggak masalah. Asalkan dia jangan terlalu dipaksakan ya, kasihan putri kita," ucap Zefran setelah Allena bertanya pendapat suaminya.
"Tidak akan dipaksakan Kak, Zara tidak akan menyadari kalau dia sedang memperagakan busana. Sama seperti yang lalu, Zara hanya akan bermain-main seperti biasa saja," jelas Allena.
"Apa Devan akan hadir di acara peragaan busana itu?" tanya Zefran.
"Kalau itu aku tidak tahu, itu tergantung Ny. Marilyn karena kemarin yang meminta dia untuk mengawasi anak-anak itu, ya Ny. Marilyn," jelas Allena lagi.
"Kalau Devan juga datang, mungkin kamu bisa mengajak Shintya ikut ke acara itu agar mereka bisa lebih dekat--"
__ADS_1
"Ide bagus Kak! Aku coba ajak Santi eh … Shintya ke acara itu. Kebetulan Shintya itu juga Psikiater Anak Kak jadi akan lebih baik jika mereka berdua mengawasi anak-anak itu," jelas Allena lebih semangat lagi.
Allena langsung meninggalkan Zefran begitu saja untuk menemui Dr. Shintya. Zefran bahkan termangu melihat Allena yang langsung melesat meninggalkannya. Allena ingin segera memberitahu tentang kegiatan yang akan dilakukannya di studio perusahaan fashion itu pada Dr. Shintya. Gadis itu pun diminta untuk menghadiri kegiatan Zifara.
"Zara mau jadi model ya Ma?" tanya Zefano yang mendengar percakapan mereka.
"Nggak juga sayang, cuma Oma Marilyn minta bantuan Zara untuk memperagakan beberapa baju rancangan Mama--"
"Itu namanya jadi model Ma," ungkap Zefano.
Allena akhirnya mengangguk sambil menahan senyum mengusap rambut putranya yang tampan itu.
"Bagaimana Dr. Shintya, apa bersedia mendampingi Zara dalam kegiatan itu. Aku harap Dr. Devan juga hadir dalam kegiatan itu," jelas Allena.
Dr. Shintya yang tadinya terlihat begitu bersemangat kini terlihat murung.
"Kenapa Dr. Shintya? Ada masalah apa?" tanya Allena yang melihat perubahan air muka dokter ahli kesehatan kejiwaan itu.
"Mommy-ku tidak setuju dengan hubunganku dengan Dr. Devan," ucap Shintya.
"Benarkah? Kenapa? Dr. Shintya sudah menceritakan pada orang tua tentang Dr. Devan?" tanya Allena penasaran.
"Ya, Mommy tidak setuju aku mengalihkan perjodohanku begitu saja pada laki-laki lain. Menurut Mommy itu penghinaan," ucap Shintya.
"Apa? Penghinaan? Kemarin saat berbincang melalui telepon sepertinya Ny. Sukma bersikap terbuka pada Mommy. Seperti mengikhlaskan pembatalan perjodohan kalian," ucap Allena.
"Memang terlihat seperti itu tapi sebenarnya Mommy tidak ikhlas membatalkannya apalagi dengan seenaknya mengalihkan perjodohanku pada laki-laki lain," jelas Shintya.
"Jadi Ny. Sukma lebih suka putrinya menjadi pelakor. Perebut suami orang? Jelas-jelas Ny. Sukma tahu kalau Kak Zefran telah lebih dulu dijodohkan denganku tapi masih tetap memaksakan untuk menjadi istri Kak Zefran? Jika Kak Zefran masih sendiri belum memiliki istri dan anak mungkin itu tidak masalah. Tapi Kak Zefran sudah memiliki keluarga. Memaksakan perjodohan itu sama saja dengan ingin menyakiti aku dan anak-anakku. Maaf Dr. Shintya, Mommy dokter benar-benar egois. Aku ragu apakah Ny. Sukma itu seorang perempuan atau tidak. Jika perempuan harusnya mengerti hati perempuan. Sekarang terserah Dr. Shintya, ingin menjadi orang yang ingin menyakiti aku dan anak-anakku atau mencoba mencari kebahagiaan lain yang lebih nyata daripada berhasil merebut kebahagian orang untuk memuaskan rasa tak mau kalah itu," ungkap Allena dengan perasaan kesal.
Wanita itu hendak beranjak dari tempat itu ketika tiba-tiba Dr. Shintya memanggilnya.
"Baiklah! Aku tidak akan peduli pada pemikiran Mommy. Aku akan memperjuangkan cintaku sendiri. Aku akan meneruskan hubunganku dengan Dr. Devan. Aku harap hubungan kami akan berhasil," ucap Shintya akhirnya.
"Aku akan mendukungmu Dr. Shintya. Jika kalian serius menjalaninya, kalian akan menemukan kebahagiaan kalian sendiri," jelas Allena.
Dr. Shintya tersenyum, sekarang dengan yakin akan mencoba menjalani hubungan yang serius dengan Dr. Devan. Allena menjadi pendukung nomor satu hubungan mereka. Demi kelangsungan keluarganya dan untuk kebahagiaan baru bagi Dr. Shintya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...