Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 79 ~ Kunjungan ke RS ~


__ADS_3

Keesokan harinya, Allena dan yang lainnya kembali berkumpul di rumah sakit untuk menjenguk Frisca. Dokter yang kebetulan sedang berkunjung memeriksa kondisi Frisca dan menjelaskan kalau pasien histerektomi atau pengangkatan rahim harus menjalani rawat inap di rumah sakit yang memerlukan waktu antara dua hingga lima hari.


"Tapi pemulihan pasca operasi dapat berlangsung antara dua hingga delapan minggu istirahat di rumah dan yang penting jangan melakukan pekerjaan yang berat" jelas dokter.


Semua ikut mendengarkan penjelasan dokter di mana Frisca juga diminta untuk menjaga berat badan dan menerapkan pola makan yang seimbang.


"Jadwal kemoterapi akan disampaikan setelah kondisi Ny. Frisca cukup prima untuk menjalaninya karena akan ada efek yang dirasakannya nanti. Dokter onkologi akan menjadwalkan kemoterapi sebulan sekali. Nanti setelah pengobatan selesai Ny. Frisca disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan tiap tiga sampai enam bulan selama dua tahun pertama dan dilanjutkan enam sampai dua belas bulan sekali untuk tiga tahun berikutnya," papar dokter.


Semua manggut-manggut mendengarkan. Setelah memahami penjelasan dokter, Allena dan teman-temannya berterima kasih. Dokter itu pun meminta diri meninggalkan ruang rawat inap mewah itu.


Semua sahabat Frisca mendukung wanita itu untuk menjalani kemoterapi. Frisca tersenyum bahagia dan menatap para sahabatnya satu per satu.


"Aku tidak menyangka akhirnya bisa memiliki kalian lagi. Aku pikir akan hidup sendiri dan mati sendiri," ucap Frisca dengan mata yang berkaca-kaca.


Dokter Shinta datang mendekat dan menggenggam tangan Frisca.


"Jangan berkata seperti itu, semua masalah sudah berlalu. Kita melihat ke masa lalu hanya untuk mengambil hikmah dari semua kejadian itu. Jika saat itu Zeno tidak sakit, aku tidak akan mengenal anak itu dan selamanya aku akan membohongi ayahku. Jika Zeno tidak sakit dia juga mungkin tidak akan bertemu dengan ayahnya. Jika kamu tidak menculik Zeno, maka kamu tidak akan membawanya dan bertemu dengan Valdo," jelas Shinta.


Mereka mengangguk-angguk setuju. Dokter Shinta menepuk tangan yang digenggamnya. Melihat Frisca yang masih mengalirkan air mata mengingat masa lalunya.


"Semua berjalan sesuai takdirnya, sekarang tergantung pilihan kita, apakah sikap kita terbuka? Apa hati kita terbuka untuk bertekad menjadi pribadi yang lebih baik? Membuang kebohongan dan dendam di hati ternyata lebih indah dirasakan daripada memendamnya. Aku belajar semua itu dari Zeno dan Allena," sambung Shinta.


Zefano yang duduk di pangkuan Allena langsung menoleh ke arah ibunya.


"Belajar dari kita? Kapan kita jadi guru?" tanya Zefano pada ibunya.


Semua tertawa, Zefran yang duduk disamping Allena merengkuh kepala anak itu dan mencium puncak rambutnya.


"Sini, duduk sama Papa. Ternyata anak Papa ini hebat, masih kecil sudah jadi guru," ucap Zefran yang meraih tubuh Zefano dan mendudukkan di pangkuannya.


"Itu benar Zefran, kamu tidak tahu apa yang kami alami saat masa pelarianku bersama Zeno. Anak itu seperti tidak memiliki rasa dendam sama sekali. Hatinya terlalu bersih dan terbuka. Padahal aku sudah jahat padanya," ucap Frisca yang duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit.


"Kamu berlaku jahat padanya? Apa yang kamu lakukan pada anakku?" tanya Zefran dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Tante Frisca mau jual Zeno Pa, kata Tante Frisca biar nggak ketemu Papa lagi. Trus Papa lupa sama wajah Zeno, trus Zeno juga lupa sama wajah Papa. Gitu kata Tante Frisca," ungkap Zefano.


Mereka tertawa mendengar Zefano yang mengadu pada ayahnya. Terlebih lagi melihat cara Zefano menuturkan ceritanya sambil dengan gerak tangan yang lucu mengusap wajahnya lalu mengusap wajah ayahnya saat menceritakan ancaman Frisca yang akan menjualnya dan membuatnya lupa pada wajah ayahnya.


"Frisca, kalau Zeno mau dijual, tawarkan padaku dulu ya! Aku ingin membelinya," celetuk Shinta.


"Mulai lagi Kak Shinta, 'kan waktu itu sudah aku bilang. Kalau ingin anak minta sama Kak Valen," ujar Allena.


Wajah Dokter Shinta langsung berubah merah, Valendino tertawa melihat Dokter Shinta yang membulatkan matanya ke arah Allena. Tapi Allena tidak mau kalah, wanita itu langsung mengangkat dagu berkali-kali, mereka pun tertawa bersama.


Kesempatan itu akhirnya digunakan Dokter Shinta untuk memberitahukan rencana pernikahan mereka pada Frisca dan Rivaldo.


"Dua bulan lagi kami berencana menikah. Aku rasa kondisimu sudah cukup baik, apalagi jika selalu dijaga oleh Valdo. Kamu pasti akan cepat sembuh," ucap Shinta.


"Kamu akan menikah? Dengan siapa?" tanya Frisca.

__ADS_1


"Denganku," jawab Valendino cepat dan langsung merengkuh bahu calon istrinya.


"Benarkah? Valen dan kamu … kalian …"


Frisca teringat saat dulu pernah berusaha untuk mengganggu hubungan Valendino dan Dokter Shinta dengan mengirimkan foto-foto Valendino dan Allena. Hari ini wanita itu mendengar kalau ternyata hubungan mereka tetap kuat tak tergoyahkan.


"Maafkan perbuatanku hari itu, karena aku sempat ingin merusak hubungan kalian. Aku pikir, aku telah berhasil membuat kalian berpisah. Aku kagum dengan kekuatan cinta kalian, maafkan aku ya," ucap Frisca dengan wajah menyesal.


"Ya, kami tetap pacaran dan sekarang aku telah melamarnya. Dua bulan lagi kami menikah maka aku akan menjadi fraternity kedua yang berstatus menikah," ucap Valendino dengan bangga.


"Itu salah, bagaimana denganku? Aku ini juga anggota kelompok persaudaraan. Harusnya aku yang kedua," protes Frisca.


"Kamu bukan fraternity, kamu sorority cari lawanmu sendiri," balas Valendino tak mau kalah.


Semua tertawa, Allena tersenyum memandang wajah ceria Frisca dan Rivaldo. Wanita itu menangkap sesuatu dari ucapan Frisca.


"Mungkin saja maksud Kak Frisca, kelompok persaudaraan sekarang ini Kak," ucap Allena pada Valendino.


Valendino memandang Allena tak mengerti.


"Kak Valdo ingin mendahului Kak Valen." Pancing Allena.


"Haa,"


"Jadi Kak Valdo dan Kak Frisca adalah yang kedua," sambung Allena.


"Aku telah bertemu dengan kedua orang tua Frisca. Mereka menyetujui hubungan kami, aku langsung melamarnya dan mereka setuju. Setelah keluar dari rumah sakit ini kami berencana menikah. Tadi dokter telah mengatakan lima hari lagi sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Aku berharap sebelum kemoterapi pertama aku sudah menjadi suaminya," ucap Rivaldo menjelaskan sambil tertunduk-tunduk.


"Wah benar, kalau begitu kita kalah cepat Val. Valdo menyalip kita" ucap Shinta.


"Ya, mau bagaimana lagi, mungkin Valdo bekas pembalap jadi dia terbiasa menyalip," ujar Valendino.


Semua tertawa dan langsung memeluk Rivaldo dan Frisca bergantian. Mereka mengucapkan selamat dan berdoa semoga semua berjalan lancar sesuai rencana.


"Bagaimana dengan Kakak yang berdua ini?" tanya Allena pada Altop dan Ronald, lalu tersenyum sendiri.


Altop dan Ronald saling berpandangan. Mereka menggaruk kepala mereka yang tak gatal. Semua kembali tertawa melihat tingkah mereka. Altop dan Ronald sama sekali belum ada pandangan untuk menjalani hubungan yang serius.


"Jangan tunggu lama-lama Kak, nanti keburu tua," lanjut Allena lagi.


"Hee, ini mantan karyawan kualat sekali. Nanti surat paklaring-mu aku bikin dipecat dengan tidak terhormat baru tahu rasa" ucap Altop yang memang mantan bos besar Allena.


"Nggak perlu bos, merancang busana nggak perlu surat pengalaman kerja pelayan," ucap Allena sambil tersenyum.


Altop mengangguk-angguk sambil memalingkan wajahnya, semua tertawa. Frisca menitikkan air mata bahagia. Frisca memang mengetahui kalau Allena pernah menjadi pelayan di Night Club milik Altop. Dan dia pernah memandang rendah Allena karena pekerjaannya itu. 


Aku tidak menyangka, wanita yang dulu aku pandang rendah karena pekerjaannya yang hanya seorang pelayan, justru mampu mempertahankan kesucian diri dan hatinya. Bertahan dengan kebaikan hatinya hingga menjadi orang yang sukses. Sementara aku? Orang yang selalu membanggakan diri sepertiku justru semakin terpuruk. Hidup di jalur yang salah karena kesombongan dan gaya hidup yang penuh dengan kebohongan. Aku kagum padamu Allena, wajar jika Zefran jatuh cinta padamu. Dia pasti telah lama merasakan ketulusan hatimu, batin Frisca.


Rivaldo menatap wajah haru Frisca, laki-laki itu mengecup puncak rambut calon istrinya. Keisya juga ikut mencium pipi Frisca. Wanita itu langsung memeluk Keisya yang duduk di atas ranjang di sampingnya.

__ADS_1


Allena menatap dan tersenyum melihat kemesraan mereka.


Mereka saling melengkapi, Frisca menginginkan seorang anak dan Keisya membutuhkan seorang ibu. Kak Frisca dan Kak Valdo, mereka saling membutuhkan dan saling mencintai, bisik hati Allena.


"Pantas saja kemarin aku begitu lancar merancang gaun pengantin, sekali duduk aku merancang tiga sampai empat rancangan. Ternyata akan ada banyak pengantin rupanya," celetuk Allena.


"Oh, kamu sudah merancang seragam pengantin untuk kami?" tanya Shinta begitu semangat.


Allena mengangguk.


"Aku akan menunjukkan pada kalian segera agar kalian bisa memilih, setelah itu kita lakukan pengukuran. Aku akan membuatkan gaun Kak Frisca lebih dulu karena acara Kak Frisca lebih duluan," jelas Allena.


"Allena, tidak perlu sampai seperti itu, ini hanya pernikahanku yang ketiga. Tidak perlu sampai merepotkanmu. Menikah yang ketiga kali saja harus mengenakan rancangan designer ternama rasanya terlalu berlebihan," ucap Frisca tak enak hati.


"Anggap saja ini hadiah dariku, Kak Frisca jangan terlalu memandang tinggi karyaku, berlebihan apa? Aku merancang seragam pengantin itu hingga beberapa rancangan karena aku tidak percaya diri dengan hasilnya," celetuk Allena sambil cemberut.


"Tidak percaya diri saja hasilnya seperti itu, bagaimana kalau percaya diri," timpal Shinta.


"Benar Kak, aku tidak pernah percaya diri dengan rancanganku sebelum orang lain yang mengakuinya. Jika mereka puas barulah aku percaya diri," jelas Allena.


"Itu bukannya tidak percaya diri. Tapi tidak cepat puas, selalu merasa ada yang kurang dan merasa tidak sempurna padahal orang lain yang menilai hasilnya menganggap sudah luar biasa," cetus Ronald.


Mereka mengangguk setuju dan kembali berbincang-bincang seru. Setelah mereka puas berbincang-bincang, barulah mereka pamit pulang.


"Keisya pulang dulu ya, Mama," ucap Keisya.


Mata Frisca langsung berkaca-kaca mendengar panggilan Keisya padanya. Wanita itu memeluk anak itu erat seperti tak rela dipisahkan. Rivaldo memberi pengertian pada Frisca kalau Keisya di tunggu oleh Zefano, Allena dan Zefran.


"Sayang, Keisya sudah ditunggu. Sebentar lagi kamu diizinkan pulang. Saat itu kita bisa berkumpul bersama," ucap Rivaldo meminta Frisca melepaskan Keisya.


Anak itu mencium kedua pipi Frisca lalu melangkah mendekati Allena. Melambaikan tangannya pada kedua orang tua itu. Lalu menggandeng tangan Allena melangkah keluar ruangan. Sesampai di luar mereka melakukan hi five.


Allena mengajari anak itu untuk memanggil Frisca dengan sebutan Mama hingga membuat Frisca merasa terharu. Zefran dan Zefano saling memandang lalu tertawa melihat tingkah kedua perempuan itu.


Besoknya Allena membawa semua rancangan seragam pengantinnya ke perusahaan fashion milik Ny. Marilyn. Di sana Allena mencari bahan-bahan yang ingin digunakannya dan berkonsultasi dengan Ny. Marilyn.


"Kapan kamu aktif lagi sayang?" tanya Marilyn.


"Masa cutiku dua setengah bulan lagi Mommy," ucap Allena sambil tersenyum.


"Rasanya sudah lama sekali, mungkin karena sudah lama kamu work from home," ucap Marilyn sambil menyodorkan sebuah bahan halus pada Allena.


Ny. Marilyn menunjuk gambar rancangan Allena dan menyodorkan bahannya. Allena mengangguk sambil tersenyum. Ny. Marilyn senang, wanita itu selalu sehati dengan Allena.


"Oh ya kamu mendapatkan tawaran untuk mengisi majalah mode internasional. Kebetulan rancangan seragam pengantin, apa kamu bersedia. Aku rasa salah satu rancanganmu bisa diikutsertakan. Tunggu sebentar ya Mommy ambil dulu surat undangannya dulu," ucap Marilyn langsung melangkah ke kantornya.


Allena menunggu sambil mengamati rancangannya serta bahan-bahan yang telah dipilihnya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang, Allena langsung menoleh. Robert Daniel tersenyum dari samping bahu Allena.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2