
Valendino datang dan tiba-tiba menagih janji Zefran yang telah merelakan Allena untuknya. Valendino mengingatkan ucapan Zefran di dalam lift yang memintanya menjaga dan mencintai Allena sepenuh hati.
Di saat Valendino datang, Allena dan Zefran sedang bermesraan. Laki-laki itu menunggu, tak lama kemudian masuk. Setelah mengingatkan ucapan Zefran, laki-laki itu meraih tangan Allena dan menyeretnya pergi. Allena yang tak menyangka Valendino melakukan itu terpaksa mengikuti.
Namun, tak jauh dari kamar Zefran, gadis itu menghentikan langkahnya dan menghentakkan tangannya. Tangan yang digenggam Valendino itu pun terlepas. Laki-laki itu pun langsung berhenti melangkah dan menoleh ke arah Allena.
"Kenapa aku harus ikut dengan Kak Valen? Aku tidak tahu permintaan apa yang diucapkan Kak Zefran. Aku tidak peduli apa dia akan menepati atau tidak tapi aku adalah milik diriku sendiri. Kak Valen tidak berhak memaksaku pergi," teriak Allena.
Valendino menatap gadis yang terlihat emosi hingga membuat dadanya turun naik karena menghembuskan nafasnya dengan kuat. Valendino melirik ke arah kamar Zefran di mana laki-laki yang sedang terluka itu sudah berdiri memandang ke arah mereka.
Melihat Valendino membawa istrinya Zefran langsung bergerak turun dari ranjangnya untuk mengejar. Meski terasa nyeri namun laki-laki itu tetap melangkah tertatih keluar dari ruangan untuk mengejar gadis yang dicintainya.
Berdiri terpaku saat melihat Allena yang menghentakkan tangannya melepas pegangan Valendino.
"Aku pernah bilang sama Kak Valen kalau aku tidak bisa menerima cinta Kakak. Tidak peduli Kak Zefran itu orang yang seperti apa, tegas atau plin plan. Aku juga tidak peduli apakah kak Zefran itu sungguh-sungguh atau hanya berbohong. Apa dia benar-benar mencintaiku atau hanya mempermainkanku. Aku tidak bisa berpaling darinya. Karena hatiku telah dipenuhi olehnya tidak ada tempat sedikitpun untukmu. Aku hanya bisa mencintai Kak Zefran, Kak Valen hanya seorang kakak bagiku," ucap Allena dengan air mata yang mengalir karena lelah menyakinkan Valendino.
Valendino termangu mendengar ucapan Allena yang lebih tegas dari sebelumnya. Ucapan yang juga membuat Zefran terharu.
"Aku ingin dijaga oleh siapa? Dicintai oleh siapa? Aku sendiri yang akan menentukannya. Aku hanya inginkan cinta Kak Zefran, aku hanya ingin dicintai dan dijaga olehnya. Karena aku hanya mencintainya, aku hanya mencintai suamiku," teriak Allena sambil terisak.
"Kalau begitu katakan sendiri padanya. Dia masih meragukan cintamu dan masih tidak percaya padamu. Bahkan dia ingin membunuhku karena masih dianggap saingan olehnya," ucap Valendino sambil mengkode untuk melihat ke belakang.
"Apa?" ucap Allena yang tak mengerti namun akhirnya menoleh ke belakangnya.
Allena terkejut saat melihat Zefran yang telah berdiri termangu, mendengar ungkapan perasaan Allena yang meluap-luap karena emosi. Valendino meraih tangan Allena dan mengajaknya mendekati Zefran.
Zefran menatap gadis yang sangat dicintainya itu, rasanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, apa yang diucapkan Allena bukanlah kebohongan di hadapannya tapi ungkapan hati Allena pada Valendino yang ingin laki-laki itu berhenti mengharapkannya.
Zefran tersenyum dan berjalan tertatih ingin mendekati Allena. Melihat suaminya yang tak seharusnya berjalan, gadis itu langsung mendekati. Meraih tangan laki-laki itu dan meletakkannya di pundaknya agar Zefran berhenti bergerak sambil menahan nyeri.
Zefran tersenyum dan tak lepas-lepasnya memandangi wajah cantik istrinya hingga lupa jika Valendino masih berada di situ. Sahabatnya itu datang mendekati mereka.
"Val?" tanya Zefran tak mengerti apa tujuan Valendino.
Valendino melakukan perbuatan tadi untuk memancing isi hati Allena agar bisa didengar langsung oleh Zefran.
"Kamu tidak perlu meragukan hubungan kami lagi. Rasa sayangku pada Allena adalah rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Aku juga manusia yang bisa dipegang omongannya. Meski kamu tidak mendengarkan tapi aku sudah menolak permintaanmu saat di lift waktu itu. Walaupun tidak rela tapi aku sudah menerima permintaan Allena untuk menjadi kakak baginya, jadi jangan membenciku hingga ingin membunuhku lagi, ya!" jelas Valendino sambil tersenyum.
Zefran tertawa, teringat ancamannya saat emosi di Night Club. Sangat membenci Bobby hingga memukulinya bertubi-tubi. Valendino yang menghentikan juga menjadi sasaran kekesalan Zefran. Mengingat itu Zefran tertawa hingga tubuhnya terguncang, lalu meringis menahan sakit. Allena langsung menatap tajam pada Valendino.
"Apa?" tanya Valendino pada Allena.
"Lihatlah gara-gara Kakak, Kak Zefran jadi keluar dan kesakitan," ucap Allena menyalahkan.
"Jika Zefran tidak keluar rencanaku malah berantakan. Dia tidak mendengar isi hatimu yang terpendam," balas Valendino.
"Terpendam apa? Aku sudah sering mengatakannya," ucap Allena tidak mau kalah.
"Oh ya? Lalu kenapa dia masih tidak percaya padamu?" tanya Valendino.
"Tidak tahu," jawab Allena menunduk.
Gadis itu juga penasaran, ingin tahu alasan Zefran tidak bisa mempercayainya. Padahal Allena telah mengucapkan dan melakukan apa saja untuk membuktikan cintanya.
"Karena aku tidak percaya diri bisa mendapatkan cintamu dan mengalahkan Valen yang lebih baik segala-galanya dariku," ucap Zefran akhirnya dengan suaranya pelan sambil menatap wajah Allena.
"Ho..ho.., baru sekarang kamu mengakui aku lebih baik darimu. Selama ini hanya dipendam di hati. Tapi demi meyakinkan istrimu baru sekarang kamu mengakui haa..," ucap Valendino.
"Iiish.., Kakak ini," ucap Allena memukul lengan Valendino agar berhenti menggoda suaminya.
Valendino tertawa, Allena mengajak suaminya untuk segera beristirahat di ranjangnya. Valendino juga membantu memapah sahabatnya.
"Apa kalian akan berkumpul lagi?" tanya Valendino.
"Jangan usil dengan urusan rumah tangga orang," ucap Allena langsung.
"Wow, galak sekali," jerit Valendino sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama, sesekali Zefran melirik istrinya yang tertawa mendengar Valendino meledek Zefran yang menangis waktu menyampaikan wasiatnya saat di dalam lift.
__ADS_1
"Memangnya cuma aku yang menangis? Bukannya kamu juga menangis?" tanya Zefran.
Valendino langsung terdiam, Allena kontan tertawa melihat ekspresi Valendino yang langsung menunduk malu.
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini pada Kak Zefran?" tanya Allena sambil melihat bagian perut sebelah kiri Zefran.
Valendino baru akan menjawab saat tiba-tiba pintu terbuka. Ny. Mahlika dan Frisca langsung masuk dan menghambur memeluk putranya. Ny. Mahlika tak sanggup membayangkan dia akan kehilangan putra satu-satunya itu.
Frisca datang bahkan langsung mendorong Allena. Dengan tatapan yang tajam menyuruh gadis itu menjauh dari ranjang rumah sakit Zefran. Allena hanya menurut berdiri menjauh dari kedua orang keluarga Zefran itu.
Allena menyadari dirinya adalah orang yang dibenci oleh ibu dan istri pertama Zefran. Valendino tersenyum kecut melihat perlakuan Frisca terhadap Allena.
"Apa yang terjadi nak? Siapa yang melakukan ini? Mommy tidak akan tinggal diam, Mommy akan tuntut orang itu. Dia harus dipenjarakan," jerit Mahlika histeris.
Zefran membalas pelukan ibunya dan mengusap punggung ibunya yang menangis.
"Maafkan Mommy baru bisa sampai hari ini. Di sana cuaca buruk, tidak ada penerbangan satu pun. Begitu cuaca membaik Mommy langsung berangkat, bahkan dari bandara Mommy langsung ke rumah sakit ini," lanjut Mahlika.
"Kalau begitu Mommy duduklah, istirahat dulu," ucap Allena spontan.
Ny. Mahlika dan Frisca langsung menoleh ke arah Allena. Gadis itu langsung tertunduk, Frisca langsung melangkah mendekati Allena.
"Kamu, kenapa kamu ada di sini? Kamu tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini. Apa kamu lupa? Kamu itu bukan keluarga Dimitrios lagi dan kamu telah diusir pergi bersama anak harammu itu," bentak Frisca.
"FRISCA!!" teriak Zefran menghentikan ucapan istrinya itu.
Mendengar itu Allena langsung keluar dari ruangan sambil menangis. Allena tidak tahu lagi apa yang harus diucapkannya, berkali-kali menyatakan Zefano adalah putra Zefran tapi tak ada yang mempercayainya.
Hatinya sakit setiap kali mendengar Zefano disebut anak haram. Gadis itu langsung teringat pada putranya yang ditinggal sendiri di ruangan rawat inapnya. Allena berlari sambil terisak mengingat anaknya yang juga menderita sakit.
Kenapa aku di sini? Kenapa aku meninggalkan anakku? Harusnya aku menemani anakku, harusnya aku tidak perlu bertemu dengan mereka. Keluarga itu tidak mengakui anakku kenapa aku harus peduli pada mereka? Kenapa aku harus bertemu dengan mereka? Aku tidak mau bertemu lagi dengan mereka, jerit hati Allena.
Lalu masuk ke kamar Zefano yang masih tertidur, naik ke atas ranjang itu dan memeluk putranya sambil terisak. Zefano yang merasakan pelukan ibunya langsung terbangun. Melihat ibunya yang menangis membuat anak itu bertanya-tanya.
"Mama kenapa? Kenapa Mama menangis?" tanya Zefano.
Harusnya aku hanya peduli pada anakku, harusnya aku hanya memikirkan kesembuhannya, aku tidak akan meninggalkan anakku demi bertemu dengan mereka lagi, anak haram? Anakku bukan anak haram! jerit Allena sakit hati mendengar penghinaan terhadap anak tersayangnya.
Allena menangis sambil memeluk putranya, Zefano mengangkat wajahnya dan menghapus air mata ibunya. Allena meraih tangan kecil itu dan menciumnya lama.
Lihat saja, aku tidak akan izinkan kalian bertemu dengan anakku. Anakku tidak pantas mengenal orang-orang jahat seperti kalian, jerit Allena masih menyimpan sakit hati pada keluarga yang menghina anaknya.
Sementara itu di ruangan Zefran, laki-laki itu berteriak marah pada Frisca yang membuat Allena akhirnya meninggalkan ruangan itu. Valendino tadinya ingin mengejar Allena namun akhirnya urung karena menurutnya Zefran lebih membutuhkannya. Dan Valendino tahu kalau Allena pasti kembali ke ruangan rawat inap putranya.
"Mommy ingin tahu siapa sebenarnya yang melakukan ini padaku? Tanyakan pada menantu Mommy yang satu itu, siapa laki-laki bernama Bobby itu sebenarnya? Ada hubungan apa dengannya dan kenapa dia melakukan ini padaku?" ucap Zefran kesal.
"Apa? Siapa dia? Apa hubungannya denganmu?" tanya Mahlika pada Frisca yang sedang tercengang.
"Apa dia yang melakukan ini padamu?" ucap Frisca yang balik bertanya.
"Ya, banyak saksinya. Semua orang di Night Club menjadi saksi sikap pengecutnya itu," jawab Zefran emosi dan membuat Valendino mengangguk.
"Benar Valen?" tanya Mahlika yang yakin Valendino juga berada di Night Club menyaksikan kejadian itu.
"Benar Mommy, sebenarnya beberapa kali dia datang bersama teman-temannya ke Night Club untuk mencari Zefran. Tapi karena Zefran tidak muncul di Night Club bahkan tidak ke kantor jadi mereka tidak bertemu. Baru malam itulah akhirnya mereka bertemu. Dia datang menantang dan memaksa Zefran menceraikan Frisca…"
"Apa?" tanya Mahlika tak percaya.
Frisca juga tidak percaya dengan cerita Valendino. Namun laki-laki itu tetap lanjut menceritakan apa yang terjadi malam itu.
"Zefran berusaha mempertahankan Frisca, laki-laki itu akhirnya menunjukkan rekaman adegan bercintanya bersama Frisca. Saya tidak ikut melihatnya Mommy tapi Zefran dan Altop yang menyaksikannya. Bobby bahkan mengakui bayi yang dikandung Frisca adalah hasil percintaan mereka," jelas Valendino.
"Bohong, itu bohong! Mereka mengarang cerita itu agar dia bisa kembali pada perempuan itu!" teriak Frisca.
Zefran diam menatap tajam pada Frisca. Sementara Ny. Mahlika melangkah mendekati Frisca.
"Beraninya kamu membohongi kami, menyatakan anak Allena adalah anak haram sementara anakmu sendiri adalah anak haram. Berani-beraninya kamu menipu kami! Karena kami menginginkan keturunan lalu kamu melakukan segala cara untuk menipu kami, dasar perempuan mengerikan," ucap Mahlika.
"Bagaimana lagi anakmu tidak bisa diandalkan untuk mendapatkan keturunan karena dia..."
__ADS_1
Ny. Mahlika melayangkan tamparan ke wajah Frisca.
"Dasar kurang ajar, anak tidak punya sopan santun," ucap Mahlika.
Ucapan Frisca seperti tidak menganggap Ny. Mahlika ibu mertuanya lagi dan ucapan itu jelas-jelas juga untuk menghina Zefran. Valendino tercengang mendengar begitu beraninya Frisca mengucapkan hal itu mengingat selama ini Ny. Mahlika begitu sayang padanya.
Mendengar ucapan Frisca yang begitu lancang pada ibunya, Zefran merasa tidak tahan lagi. Melihat wajah Frisca otomatis membayangkan rekaman yang di tontonnya. Itu saja sudah membuatnya begitu muak.
"Aku tidak akan basa basi lagi denganmu Frisca, begitu keluar dari rumah sakit ini aku akan segera mengurus perceraian kita," ucap Zefran.
"Apa katamu? Menceraikanku? Tidak usah repot-repot aku yang akan menggugat cerai dirimu. Aku tidak takut kehilangan penghianat sepertimu. Semoga kamu hidup bahagia dengan perempuan kampung milik bersama itu. Benarkan Valen?" ujar Frisca kemudian pergi dari ruangan itu.
Valendino kesal karena ucapan Frisca yang seakan menyangkut pautkan dirinya dengan Allena. Laki-laki itu melangkah keluar dari ruangan dan mengejar Frisca.
"Frisca, apa kesalahan Allena hingga kamu begitu membencinya dan tega memfitnahnya?" tanya Valendino penasaran.
"Karena dia gadis kampungan, bodoh dan miskin, aku benci dikalahkan oleh perempuan seperti itu," ucap Frisca.
"Andai kamu bisa menerima Allena dengan ikhlas, Zefran akan lebih menyayangimu," ucap Valendino.
"Kamu bisa berbagi cinta? Selama ini aku bertahan hidup bersama perempuan itu karena cinta Zefran masih untukku. Namun saat dia mulai jatuh cinta pada perempuan itu, aku tidak bisa menerima lagi. Aku tidak terima setengah-setengah, Zefran milikku atau tidak sama sekali," jelas Frisca.
"Bagaimana denganmu? Apa cintamu sepenuh hati untuk Zefran atau hanya setengah-setengah dengan Bobby?" tanya Valendino.
Frisca terdiam.
"Kamu egois," ucap Valendino langsung.
"Aku tidak akan bersama Bobby jika hati Zefran tidak selingkuh dariku," jawab Frisca.
"Oh ya, bukan hati Zefran yang selingkuh darimu tapi hatimu yang sejak dulu berselingkuh dengan Zefran. Karena sebenarnya cintamu hanya untuk Bobby. Jangan coba mengelak lagi, aku tahu semuanya. Kamu bersama Zefran hanya untuk membuat Bobby cemburu tapi sayangnya sahabatku terlanjur jatuh cinta padamu hingga membuat matanya buta. Aku hanya berharap suatu saat kamu akan benar-benar mencintai Zefran tapi ternyata cintamu tetap untuk Bobby dan Zefran hanya selingan bagimu. Keputusan Zefran untuk menceraikanmu adalah benar. Apakah dia akan kembali pada Allena? Aku tidak tahu itu tapi yang terpenting saat Zefran menceraikanmu aku merasa bebas karena tidak perlu menutupi kebusukanmu lagi," ucap Valendino.
"Apa maksudmu?" tanya Frisca.
"Menutupi dari sahabatku kalau dia menikahi ampas dari laki-laki lain yang telah berulang kali melakukan aborsi agar tetap terlihat seperti seorang gadis," ucap Valendino kemudian pergi dari hadapan Frisca.
Valendino kembali ke ruangan Zefran dan terkejut saat melihat laki-laki itu berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan mereka.
...~ Bersambung ~...
Dear,
Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon.
Terima kasih atas dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis #BerbagiCinta yang berjudul :
...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...
Like, vote, Comment, Favorit dan segala bentuk dukungan apa saja sangat, sangat, sangat berarti bagi saya, yang menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.
...Malam ini adalah malam menjelang tahun baru, izinkan saya mengucapkan :...
...🎉🎉🎉🎉Selamat Tahun Baru 2022.🎉🎉🎉🎉...
Semoga tahun 2022 lebih baik dari tahun² sebelumnya, semakin sukses, semakin berkah, sehat, bahagia, selamat dunia dan akhirat.
Semoga harapan dan impian kita menjadi kenyataan.
Aamiin..
🤲🤲🤲🤲
Akhir kata, saya sebagai author karya ini mengucapkan banyak terima kasih dan terus beri dukungannya ya, sampai jumpa di tahun 2022.
^^^Salam hormat,^^^
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^
__ADS_1