Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 67 ~ Saat Pelarian ~


__ADS_3

Rivaldo bercanda dengan putrinya, terlihat kasih sayang laki-laki tampan itu tercurah pada Keisya. Pemandangan itu menghipnotis mata Frisca dan tanpa sengaja tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Bagaimana dengan perutmu apa sudah sembuh?" tanya Rivaldo tiba-tiba menoleh ke arah Frisca.


"Sudah mendingan, memang seperti itu. Kadang tiba-tiba rasa sakitnya kambuh," jelas Frisca seadanya.


"Sebenarnya sakit apa?" tanya Rivaldo.


Frisca menggelengkan kepala.


"Tidak periksa ke dokter?" tanya Rivaldo.


Frisca diam, sesaat kemudian laki-laki itu sadar setelah melihat keadaan Frisca dan Zefano. Rivaldo berpikir Frisca tidak akan sanggup membayar biaya periksa penyakitnya ke dokter.


"Kalau mau menerima bantuanku mungkin aku bisa memberi sedikit biaya untuk periksa ke dokter," ucap Rivaldo.


"Tidak usah" tolak Frisca cepat.


"Kenapa? Apa tidak khawatir dengan penyakitmu?" tanya Rivaldo.


"Tidak ada gunanya," jawab Frisca ketus.


Rivaldo heran dengan sikap Frisca yang seolah tidak peduli dengan sakitnya. Wanita itu kembali berkata ketus, Frisca seperti tidak ingin masalah penyakitnya diungkit lagi.


Setelah periksa dan tahu penyakitnya lalu apa? Jika tidak ada biaya untuk pengobatan, batin Frisca.


"Oh ya maaf, Om tidak bisa lama-lama meninggalkan toko, takutnya ada pembeli jadi  pergi karena tidak ada yang melayani," ucap Rivaldo pada Zefano dan segera berdiri.


"Kami akan segera pergi!" ucap Frisca cepat.


Rivaldo yang ingin melangkah keluar menghentikan langkahnya lalu menoleh kembali pada Frisca dan Zefano.


"Kenapa buru-buru? Jika tidak ada tempat yang dituju kalian boleh menginap di sini sampai kapan pun kalian mau," ucap Rivaldo menawarkan.


"Tapi kami tidak punya uang untuk sewa kamar," ucap Frisca.


"Aku tidak menyewakan kamar ini pada kalian. Hanya menawarkan daripada kamar ini kosong lagi pula dibilang kamar juga tidak bisa, lebih mirip gudang. Jika kalian belum ada tujuan tidak apa-apa menggunakan kamar ini sesuka kalian," ucap Rivaldo.


Zefano menoleh lalu tersenyum pada Frisca. Wanita itu hanya diam dan masih belum bisa memutuskan tawaran Rivaldo.


Berlama-lama di sini apa ada gunanya? Tapi saat ini orang-orang pasti sedang mencari Zefano. Zefran dan perempuan itu pasti sudah melapor pada polisi dan orang-orang suruhan Zefran pasti sedang mencari kami. Apa mereka telah tahu kalau aku yang membawa Zefano? Haah, di sini tidak ada televisi untuk mendengar berita, batin Frisca merasakan bingung.


"Bagaimana?" tanya Rivaldo.


"Baiklah," jawab Frisca akhirnya.


Lagi pula kamar ini langsung menghadap ke luar rumah. Jika ingin pergi  aku bisa langsung kabur dari sini, batin Frisca.


Wanita itu memandang mengitari ruangan yang ditempatinya. Persisnya sebuah paviliun yang terhubung dengan bagian rumah utama di mana bagian depannya telah dijadikan toko dan bagian dalamnya adalah ruang tengah rumah itu.


Terdapat pintu untuk masuk ke bagian tengah rumah dari situlah Rivaldo datang membawakan nasi goreng untuk Frisca dan Zefano. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara di rumah itu dan berencana bersembunyi sementara di dalam kamar paviliun itu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tiba-tiba mengembalikan Zefano rasanya lucu sekali, tidak! Aku benar-benar akan meminta uang tebusan. Salah sendiri kenapa lalai menjaga anaknya. Jika seperti itu caranya bukan hanya aku, orang lain juga bisa menculik Zefano, batin Frisca.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Keisya muncul di balik pintu.


"Zeno kita main yuk!" ajak Keisya.


Zefano langsung menoleh ke arah Frisca, wanita itu mengangguk mengizinkan. Zefano langsung masuk ke bagian dalam rumah itu. Di bagian ruang tengah  berbagai mainan tersusun di atas karpet. Ruangan itu terasa cukup luas karena tidak banyak furniture di sana.


Keisya menawarkan bermacam permainan edukasi seperti puzzle, blok warna warni dengan beragam bentuk dan yang lainnya. Setelah mengambil sebuah boneka dan Zefano mengambil sebuah Yoyo, Keisya mengajak Zefano ke toko sembakonya.


"Kita main sambil menjaga toko ya!" ajak Keisya.


"Om Valdo kemana?" tanya Zefano.


"Nggak tahu, tadi katanya mau pergi sebentar. Zeno mau temani Keisya jaga toko?" tanya gadis kecil yang cantik itu.


"Ayok!" jawab Zefano cepat.


Mereka duduk di teras depan toko yang tersedia bangku panjang berbahan kayu. Zefano langsung sibuk mencoba memainkan Yoyo.


"Zeno bisa bermain Yoyo?" tanya Keisya sambil menyisir rambut bonekanya.


"Nggak bisa, ini masih belajar," ucap Zefano.


"Kalau gitu belajar main Yoyo sama Papa. Papa pintar main Yoyo," ucap Keisya.

__ADS_1


"Oh ya? Tapi Papa Keisya 'kan sibuk jaga toko?" tanya Zefano.


"Nggak selalu sibuk, kalau tidak ada pembeli Papa suka main di sini sama Keisya," ucap gadis kecil itu.


Zefano mengangguk lalu kembali sibuk mencoba permainan yang belum pernah dicobanya itu. Tak lama kemudian Rivaldo datang dengan sepeda motornya. Langsung tersenyum saat melihat kedua anak itu sedang bermain.


"Zeno lagi temani Keisya jaga toko ya?" tanya Rivaldo.


"Ya Om," jawab Zefano sambil tersenyum.


"Ini, Om belikan pakaian buat baju ganti Zeno. Cuma setelan kaos murah tapi enak di pakai di rumah. Zeno bisa mandi dan ganti baju biar segar," ucap Rivaldo.


Zefano ragu menerima bungkusan yang diberikan Rivaldo. Tapi laki-laki itu mengangguk agar anak itu mau menerimanya. Akhirnya anak itu mengambil bungkusan berisi pakaian lengkap dengan pakaian dalam itu.


Zefano juga tidak tega menolak niat baik Rivaldo yang dengan sengaja pergi meninggalkan tokonya demi membelikan baju ganti untuknya. Rivaldo mengajak Zefano ke kamar mandi.


"Zeno mandi sendiri atau dimandikan?" tanya Rivaldo.


"Mandi sendiri!" ucap Zefano.


"Anak pintar! Di dalam sudah Om siapkan perlengkapan mandi untuk Zeno. Selamat mandi!" ucap Rivaldo sambil tersenyum dan menutup pintu kamar mandi.


Laki-laki itu pun masuk ke kamarnya membuka lemari dan mengambil beberapa helai pakaian milik istrinya. Juga mencari persediaan pakaian dalam istrinya yang masih baru lalu membawanya ke kamar yang ditempati Frisca dan Zefano.


"Ini baju milik istriku, bisa kamu pakai untuk baju ganti. Aku rasa ukurannya pas denganmu, Zeno sekarang sedang mandi. Nanti kamu bisa mandi dan ganti baju setelah Zeno," ucap Rivaldo setelah Frisca mengizinkannya memasuki paviliun itu.


"Kenapa bajunya dipinjamkan padaku? Apa istrimu tidak marah kalau bajunya dipakai orang asing?" tanya Frisca yang tiba-tiba baru sadar sejak tadi tidak melihat seorang wanita dewasa pun di rumah itu.


"Aku rasa dia senang jika tahu bajunya masih bisa bermanfaat. Dia juga tidak bisa marah lagi karena sudah dua tahun lebih dia pergi," ucap Rivaldo.


"Pergi? Meninggalkan suami dan putrinya begitu saja?" tanya Frisca heran.


"Ya, tapi itu juga bukan kehendak kami itu kehendak-Nya. Kami cuma bisa pasrah," ucap Rivaldo dengan jari telunjuk yang menghadap ke atas.


"Maksudmu dia sudah..,"


"Meninggal," ucap Rivaldo sambil tersenyum namun senyum yang dipaksakan.


Frisca tercenung lalu memandang pakaian rumah yang ditaruh Rivaldo di ujung ranjang. Lengkap dengan bungkusan yang berisi pakaian dalam. Rivaldo tidak melihat Frisca dan Zefano membawa apa pun hingga yakin kalau keduanya tidak memiliki baju ganti.


Awalnya laki-laki itu berpikir untuk membelikan yang baru untuk Frisca tapi teringat di rumahnya masih banyak pakaian peninggalan istrinya yang masih terawat dan tersusun rapi. Rivaldo akhirnya memutuskan memberikannya pada Frisca.


"Apa? Tidak usah, biar aku cuci sendiri," ucap Frisca.


"Tidak apa-apa, aku cuma bantu memasukannya ke mesin cuci," ucap Rivaldo.


"Ya, biar aku sendiri yang melakukannya," ucap Frisca yang tak mau pakaiannya disentuh oleh laki-laki itu.


Rivaldo mengangguk meski ragu-ragu. Setelah Zefano selesai mandi Frisca pun berganti ke kamar mandi.


Frisca berdiri termangu di depan cermin panjang, menatap dirinya yang telah mengenakan daster. Seumur hidupnya baru kali ini mengenakan pakaian seperti itu. Sekian lama memandang dirinya dengan balutan longgar berbahan lembut itu, kadang dia tersenyum sendiri, kadang merasa aneh sendiri.


Menatap dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Frisca lalu mengikat rambutnya membentuk sanggul lalu tersenyum sendiri. Frisca merasakan nyaman dengan baju itu dibandingkan celana jeans ketat yang telah berhari-hari di pakainya.


Setelah puas memandang aneh dirinya yang berdaster akhirnya Frisca memutuskan ke luar dari kamar paviliun dan masuk ke ruang tengah. Di depan terlihat Rivaldo yang sedang mengajari Zefano bermain Yoyo.


Frisca tertawa saat melihat anak itu kesulitan memainkannya dan Rivaldo sabar mengajarinya. Setiap kali gagal Rivaldo mengangkat tubuh Zefano dan melemparnya ke udara lalu menangkapnya.


Zefano tertawa merasakan sensasi terbang sementara Keisya melompat girang sambil tertawa. Frisca tersenyum menatap keceriaan ketiga orang itu.


Tanpa sadar Rivaldo melihat Frisca yang berdiri di bagian dalam rumah. Zefano dan Keisya pun langsung melongok ke dalam. Keisya langsung menggenggam tangan ayahnya.


"Tante Frisca cantik ya Pa, cantik seperti Mama," ucap Keisya sambil menatap Frisca.


"Hmm, iya cantik seperti Mama," ucap Rivaldo.


Keisya memanggil Frisca untuk bermain di teras rumah tapi Frisca menolak. Wanita itu takut ada orang yang mengenalinya. Akhirnya Rivaldo dan anak-anak itu yang masuk ke dalam rumah.


"Betul 'kan kataku, baju ini pas untukmu," ucap Rivaldo.


Frisca hanya diam menunduk sambil mengusap tengkuknya.


"Tapi sepertinya kamu tidak biasa mengenakan baju seperti ini," ucap Rivaldo yang melihat Frisca kadang-kadang melintir bagian depan baju itu.


Frisca hanya tersenyum menunduk dan semakin terlihat canggung.


"Saat masih gadis istriku seorang perempuan yang modis tapi setelah menikah dia justru lebih suka mengenakan daster seperti itu. Katanya belum terasa menjadi istri kalau tidak memakai daster," ucap Rivaldo sambil tersenyum.

__ADS_1


Frisca pun ikut tersenyum mendengar pemikiran sederhana istri Rivaldo.


"Di mana mesin cucinya? Aku akan mencuci pakaianku dan pakaian Zeno," ucap Frisca.


"Oh itu di belakang, mari aku tunjukkan!" ucap Rivaldo yang berjalan melewati dapur dan membuka pintu belakang.


Di sana tersedia mesin cuci dan juga tali jemuran. Frisca menatap mengitari halaman belakang itu, disana tersedia juga lesehan kayu dengan hamparan yang mirip kebun kecil. Rivaldo membiarkan wanita itu berjalan melihat-lihat kebun sayuran itu.


"Sebenarnya itu bukan tanah milik kami tapi kata pemiliknya, kami boleh menanam sayuran di sana agar tidak menjadi semak belukar," ucap Rivaldo yang membuat Frisca sadar akan niatnya ke belakang itu.


Frisca menemukan mesin cucinya dan Rivaldo membantu mengisikan airnya. Frisca masuk ke dalam rumah mengambil pakaian kotornya dan pakaian Zefano. Memasukkannya ke dalam mesin cuci lalu bingung sendiri bagaimana menjalankannya. Rivaldo memutar tombol mencuci dan mesin cuci itu pun mulai beroperasi.


Rivaldo tersenyum, laki-laki itu akhirnya mengerti kalau Frisca tidak pernah mencuci pakaiannya sendiri. Menatap kulit putih dan halus Frisca, merasakan telapak tangan wanita itu yang lembut seperti telapak tangan bayi Rivaldo mengerti Frisca bukan dari kalangan menengah kebawah.


Keisya datang, Rivaldo langsung mengajak anak itu ke dalam. Frisca mengikuti masuk.


"Kita siapkan makan malam yuk," ucap Rivaldo pada Keisya yang di gendongannya.


"Ayuk," ucap Keisya cepat.


Di dapur Rivaldo mengeluarkan bahan-bahan masakan. Rivaldo memotong-memotong dan Keisya membantu mencuci sayur. Kadang laki-laki itu harus ke toko jika ada pembeli yang berbelanja. Lalu kembali melanjutkan memasak makan malam mereka.


Frisca hanya berdiri mengamati, Rivaldo kadang tersenyum melihat Frisca dengan wajah kagumnya. Frisca tidak menyembunyikan rasa kagumnya saat melihat lincahnya Rivaldo memotong sayuran.


"Tadinya aku tidak bisa memasak tapi istriku mengajariku. Katanya laki-laki yang bisa memasak itu seksi dan mengagumkan. Entah itu benar atau hanya akal-akalannya saja untuk mengajakku memasak bersamanya," ucap Rivaldo.


Tidak! Ucapan istrimu memang benar, batin Frisca.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Frisca akhirnya.


"Kamu mau bantu? Baiklah untuk Chef pemula cukup patah-patahkan kacang panjang ini sepanjang ini," ucap Rivaldo menghindari Frisca menggunakan pisau.


Keisya tersenyum saat melihat ayahnya mengajari Frisca mematahkan kacang panjang.


"Karena sudah ada Chef pengganti, Chef Keisya boleh bermain di depan bersama Zeno," ucap Rivaldo yang kasihan melihat Zefano bermain sendiri.


Keisya mengangguk sambil menjaga toko Keisya kembali bermain bersama Zefano.


"Istrimu meninggal karena apa?" tanya Frisca memecah kesunyian.


"Penyakit jantung bawaan, tadinya aku tidak tahu kalau dia memiliki penyakit itu. Mungkin karena penyakit jantung bawaan yang tergolong ringan dan dia juga pintar menjaga kesehatan hingga tidak terlihat memiliki penyakit. Dia juga tidak pernah mengeluh dan sangat pandai menjaga pola hidupnya," jelas Rivaldo.


"Lalu?" tanya Frisca penasaran.


"Tapi entah karena apa akhirnya penyakit itu mulai menampakkan diri. Kadang aku melihatnya merasakan sakit. Saat itu kami baru memulai membuka toko. Aku mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter tapi dia menolak, sepertinya dia tahu kalau pengobatannya memerlukan biaya yang banyak sementara kami baru merintis usaha," lanjut Rivaldo.


Laki-laki itu tertunduk, matanya memandang kosong teringat masa lalu.


"Aku rela kehilangan semuanya demi pengobatan asalkan aku tidak kehilangannya tapi dia sangat pandai menipuku. Dia berlaku seolah-olah dia telah sembuh dan bodohnya aku percaya dan tidak lagi memaksanya berobat. Dia tahu aku tidak punya uang untuk pengobatan dan dia tidak rela kehilangan usaha yang sedang kami rintis hingga akhirnya dia mendapat serangan jantung dan aku terlambat datang menolongnya. Dia pergi meninggalkan aku dengan semua penyesalanku," ucap Rivaldo lalu mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Frisca menatap sedih pada laki-laki itu.


"Maafkan aku," ucap Frisca pelan.


"Itu bukan salahmu," jawab Rivaldo tersenyum dengan mata yang masih meneteskan air.


Frisca mengusap air mata itu dengan jarinya. Rivaldo memandang gadis yang mencoba menghiburnya.


"Aku bersalah karena menanyakan itu padamu hingga membuatmu teringat kembali pada kesedihanmu," ucap Frisca merasa bersalah.


"Aku justru berterima kasih padamu karena bersedia mendengarkan cerita yang telah menjadi beban dalam hidupku selama ini," ucap Rivaldo yang menatap Frisca dengan mata yang masih berlinang.


Frisca tanpa sadar meneteskan air mata, ikut merasakan kesedihan laki-laki yang baik hati itu. Frisca kembali menghapus air mata itu dan membuat jarak mereka semakin dekat. Tanpa sadar Rivaldo mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka kemudian perlahan memeluk tubuh wanita cantik itu.


Keisya yang masuk ke dapur berhenti melangkah dan ternganga melihat ayahnya dan Frisca yang berciuman. Zefano yang melihat kejadian itu langsung menutup mata Keisya dengan kedua tangannya. Sementara dia sendiri memejamkan matanya.


Zefano tidak tahu sampai kapan dia akan menahan mata Keisya dan matanya sendiri hingga terdengar suara orang yang memanggil dari luar toko. Rivaldo terkejut dan reflek melepaskan ciumannya dan makin terkejut saat melihat kedua anak kecil itu.


Frisca menutup mulutnya dengan kedua tangannya, juga terkejut saat melihat kedua bocah yang berdiri mematung ke arah mereka. Rivaldo tersenyum pada Frisca, wanita itu pun membalas senyum laki-laki itu dengan malu-malu.


"Aku lihat ke depan dulu," ucap Rivaldo berjalan ke depan dan mengusap rambut Zefano agar anak itu tak lagi mematung di situ.


Zefano langsung membuka matanya dan melepaskan tangannya yang menutup mata Keisya lalu memandang Frisca yang berdiri membelakangi sambil tersenyum sendiri.


Zefano dan Keisya tersenyum saat melihat Frisca membalik badan. Wanita itu membalas senyum kedua anak itu dan mengajak keduanya ke depan untuk mengikuti Rivaldo namun langkahnya terhenti, senyumnya pun mendadak hilang.


Frisca reflek berdiri di pinggir dan mengintip di balik dinding ruang tamu. Kedua anak kecil itu disuruh diam dan berdiri di tempat. Frisca menatap sedih pada laki-laki yang baru saja menciumnya itu. Pada Rivaldo yang memandang foto sambil berbicara dengan dua orang polisi.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2