Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 63 ~ Hilang ~


__ADS_3

Zefran kaget mendengar Allena kesakitan, laki-laki itu langsung merenggangkan pelukannya. Menatap istrinya dengan wajah panik. Zefran segera menyalakan penerangan agar bisa melihat keadaan Allena lebih jelas.


Saking paniknya laki-laki itu sampai kesulitan membuka pintu geser balkon. Begitu lampu dinyalakan, Zefran segera kembali ke balkon untuk melihat keadaan istrinya.


Allena duduk sambil tersenyum memandang Zefran yang berdiri dengan mulut yang menganga lalu menepuk keningnya sendiri.


"Jadi sifat Zeno yang suka mengerjai orang itu ternyata didapatnya darimu. Kamu ingat saat kita tertidur di taman dia berkata Pak, Buk anaknya hilang, anaknya hilang. Kamu tahu saat itu jantungku berdegup dengan kencang, rasanya ingin meledak. Kepalaku sakit mendadak terbangun dan langsung panik. Eh, anak itu malah tertawa sambil berlari. Uh, meski minta ampun sampai suaranya habis pun aku masih tetap ingin menggelitiknya. Dan sekarang kamu lakukan ini padaku, jantungku terasa mau copot. Kalau aku terkena serangan jantung bagaimana? Aku bahkan tersandung karena ingin segera menyalakan lampu" ucap Zefran yang ngos-ngosan berdiri di hadapan istrinya.


Sekuat tenaga bertahan dengan senyumnya akhirnya Allena tertawa.


"Apa kamu tahu seperti apa paniknya aku? Kenapa tega sekali mengerjaiku seperti ini? Kalau ternyata benar-benar terjadi sesuatu bagaimana?" tanya Zefran dengan tatapan mata yang sayu.


"Maaf" ucap Allena langsung.


Zefran duduk di hadapan istrinya dan bicara dengan wajah yang memelas.


"Aku bahkan menyesal telah mengajakmu melakukan itu, aku pikir karena perbuatanku kandunganmu jadi bermasalah," ucap Zefran pelan dan terdengar sedih.


Allena berusaha meredakan tawanya.


"Maaf ya Kak, sekarang aku tahu kalau Kakak benar-benar peduli padaku. Lagi pula kita tidak punya kenangan saat aku mengandung Zefano dulu, aku ingin sesuatu yang bisa dikenang saat hamil anak keduaku ini," ucap Allena tersenyum merayu sambil memeluk punggung Zefran dan bertumpu di bahunya.


Zefran menoleh ke arah Allena, hatinya masih kesal namun tak ingin Allena bersedih karena melihatnya yang masih marah.


"Jangan lakukan perbuatan seperti itu lagi, aku mohon, aku sangat khawatir sayang," ucap Zefran dengan tatapan yang sayu.


"Baiklah, aku tidak akan bercanda seperti itu lagi. Maafkan aku ya suamiku sayang," ucap Allena.


"Ada syaratnya," ucap Zefran.


"Ada syaratnya? Apa itu?" tanya Allena.


"Sekali lagi, aku mau sekali lagi," ucap Zefran.


"APA?"


Zefran tertawa, Allena mencubit pinggang Zefran gemas karena suaminya yang mencoba mengerjainya. Kemudian menangkup wajah laki-laki itu dan menatap kagum wajah laki-laki yang telah menikahinya selama tujuh tahun itu.


"Suamiku tampan sekali," ucap Allena kagum.


"Istriku cantik sekali,"  balas Zefran.


Mereka sama-sama tersenyum lalu memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat inap Zefano dan melanjutkan tidur di sana. Kembali menjalani hari-hari mereka sambil menemani Zefano yang menjalani masa pemulihan sambil terus dipantau oleh tim dokter.


Sebulan kemudian, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan, dokter memutuskan mengizinkan Zefano menjalani rawat jalan. Masa pemulihan setelah transplantasi sumsum tulang membutuhkan waktu tiga bulan namun dibutuhkan waktu hingga satu tahun untuk dapat pulih total.

__ADS_1


Allena mengemasi pakaian dan barang-barang mereka karena siang itu Zefano di izinkan pulang. Allena berencana membayar tagihan rumah sakit sementara menunggu keluarganya datang menjemput.


Zefano menemani ibunya, duduk di kursi tunggu sambil mengayunkan kakinya dan tersenyum saat ibunya menoleh ke arahnya.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya proses pembayaran tagihan rumah sakit itu selesai dilakukan. Allena pun segera berjalan menghampiri bangku di mana anaknya menunggu. Tertegun saat mendapati tempat duduk Zefano yang telah kosong. Allena mencari dan memanggil anaknya ke sekeliling ruangan itu.


Hari itu tak banyak orang yang mengantri dan menunggu. Dengan mudah Allena dapat melihat Zefano yang tadinya duduk di bangku tunggu itu. Namun tiba-tiba anak itu tidak terlihat lagi.


Allena bertanya pada ibu-ibu yang duduk tak jauh dari situ. Namun, ibu itu tidak memperhatikan, sama seperti Allena, sempat melihat Zefano namun tidak tahu kapan Zefano pergi. Allena bertanya pada suster yang kebetulan lewat. Dengan yakin suster itu menjawab bahwa dia tidak melihatnya.


"Suster benar-benar kenal dengan Zeno?" tanya Allena ragu.


"Ya, Bu. Anak yang menjalani transplantasi sumsum tulang belakang itu 'kan? Saya kenal, Zeno biasa bermain di sekitar rumah sakit. Ibu jangan khawatir kami akan mencarinya," ucap suster itu sambil memanggil dan menghampiri suster lain.


Mereka bicara dan sesekali menoleh pada Allena. Suster itu mengangguk dan pergi, Allena gemetar dan panik karena tak kunjung menemukan putranya. Akhirnya memilih duduk karena tubuhnya yang terasa lunglai dan nafasnya yang terasa sesak.


Suster itu datang dan memberitahu tak ada satu pun yang melihat Zefano. Allena menangis, tangannya gemetar meraih ponsel untuk menghubungi suaminya. Namun belum sempat gadis itu menemukan nomor kontak Zefran, Dokter Shinta muncul.


Dengan perasaan tak percaya Dokter Shinta bertanya pada Allena. Saat bekerja di laboratorium, Dokter Shinta mendengar suster-suster mencari Zefano. Segera gadis itu mencari Allena dan menemukannya sedang duduk menangis.


"Tenanglah Allena, aku rasa dia hanya bosan menunggu hingga pergi bermain sebentar," ucap Shinta menenangkan hati Allena.


"Tapi dia masih belum kembali Dokter, suster-suster yang mengenalnya masih belum  menemukannya," jelas Allena.


"Aku akan bertanya ke depan, kamu tetaplah di sini," ucap Shinta.


"Jangan bercanda Allena!" ucap Zefran kesal saat mendengar cerita istrinya.


"Aku tidak bercanda Kak, Zeno hilang, anak kita telah hilang," ucap Allena lalu kembali menangis.


Hanya itu yang bisa diucapkannya pada Zefran. Laki-laki itu langsung memacu laju mobilnya, tidak sabar ingin segera mengetahui situasi yang sebenarnya.


Aku tidak akan memaafkanmu Allena, kalau kamu masih bercanda seperti ini. Aku juga akan memarahi Zeno jika dia bercanda sampai membuatku khawatir seperti ini, bisik hati Zefran.


Tak lama kemudian Zefran sampai di rumah sakit. Zefran diminta langsung ke ruang kontrol rumah sakit. Di ruang pengendalian dan pengawasan segala kegiatan rumah sakit itu, Allena telah duduk dengan gemetar sambil sesekali menghapus air matanya.


Zefran menghampiri, Allena langsung berdiri, matanya basah dan hidungnya memerah.


"Maaf,"


Hanya itu kata yang bisa diucapkannya bahkan untuk mendekati suaminya pun Allena tidak berani. Allena merasa bersalah, sangat merasa bersalah hingga tidak berharap suaminya datang untuk menghiburnya.


Dalam hati Allena merasa pantas dimarahi, dimaki dan diabaikan suaminya. Allena tidak berani sedikit pun berharap suaminya akan memeluk dan menenangkan hatinya karena dia merasa telah lalai menjaga putra semata wayang mereka.


Namun, Zefran langsung memeluk istrinya, mengusap punggung wanita itu untuk menenangkan hati wanita yang dicintainya. Air mata Allena langsung mengucur deras.

__ADS_1


"Itu, itu dia..," jerit Shinta.


Gadis itu menunjuk ke arah monitor yang menampilkan saat-saat Zefano duduk menunggu ibunya. Sesekali anak itu terlihat menoleh ke arah Allena kemudian menoleh ke arah lain. Suatu saat anak itu menunjuk dirinya sambil mengangguk. Lalu berjalan ke arah lain hingga menghilang dari jangkauan kamera pengawas.


"Dia sepertinya dipanggil oleh seseorang," ucap bapak penanggung jawab ruang kontrol.


"Benar Pak, sepertinya dia ragu apa yang dipanggil itu adalah dirinya," jawab Shinta.


Zefran langsung mendekat ke arah monitor yang mengulang adegan Zefano pergi ke arah orang yang memanggilnya. Allena menutup mulutnya yang terperangah saat menatap putranya di layar monitor.


"Siapa yang memanggilnya?" tanya Zefran.


"Sepertinya orang itu sengaja berdiri jauh dari jangkauan kamera agar tidak terekam dan agar tidak terlihat oleh Allena," jawab Shinta.


"Jangan khawatir Bu Dokter kami akan periksa kamera pengawas yang lain," ucap Bapak itu.


"Ya Pak kalau begitu ayo kita lihat rekaman kamera pengawas yang lain," jawab Shinta cepat.


Bapak itu langsung memeriksa kamera yang merekam lokasi lain.


"Ada dua arah yang mungkin dilalui anak itu, kita akan perhatikan satu per satu," ucap bapak itu.


Shinta dan Zefran mengangguk, Allena hanya berani berdiri di belakang Zefran dan Shinta. Sambil menggenggam tangannya sendiri di depan mulutnya. Air matanya tak henti-henti mengalir. Saat menunggu tayangan Zefano muncul Dokter Shinta menoleh ke arah Allena. Gadis itu merasa kasihan melihat Allena yang begitu khawatir hingga tak berani melihat ke arah monitor.


"Duduklah Allena, kamu sedang hamil besar, terlalu lama berdiri kakimu bisa bengkak," ucap Shinta yang khawatir melihat Allena yang selalu berdiri dengan raut wajah cemas.


"Duduklah sayang, wajahmu pucat. Kamu istirahat di rumah ya?" saran Zefran.


"Nggak, nggak, aku mau menunggu di sini, aku mau menunggu Zeno di sini Kak," ucap Allena panik karena disuruh pulang.


"Kalau begitu duduk yang tenang, kamu tidak ingin suamimu ini khawatir padamu 'kan?" tanya Zefran.


"Ya, tidak, Kakak jangan khawatirkan aku. Tetaplah mencari tahu di mana Zeno," ucap Allena yang langsung duduk.


"Ini dia! Dia keluar lewat pintu ini," seru bapak itu.


"Zeno dibawa seorang perempuan," ucap Shinta langsung menoleh ke arah Zefran.


Terlihat Zefano yang digandeng tangannya oleh seorang perempuan bertopi dengan rambut panjang yang diikat. Bapak itu memperjelas tampilan monitor.


"Lihat! Zeno sedang bicara dengannya," seru Shinta.


Zefran mengangguk, laki-laki itu masih serius mengamati. Mencoba untuk mengenali siapa yang membawa Zefano. Sesaat setelah Zefano menoleh pada perempuan itu, perempuan itu pun menoleh ke arah Zefano, Zefran terkejut dan langsung mengenali.


"Frisca!"

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2