
Dokter Shinta berkata kalau Frisca masih dalam pengaruh anestesi dan belum sadar. Dokter itu mengajak semua teman-temannya yang mengunjungi Frisca untuk makan malam tak terkecuali Rivaldo dan putrinya.
Rivaldo tak menjawab ajakan Dokter Shinta, terlihat jelas kalau laki-laki itu masih merasa canggung berkumpul bersama sahabat-sahabat Frisca yang memang sudah lama saling mengenal dan berteman akrab.
"Ayolah Valdo kita makan malam bersama," ajak Altop.
Laki-laki itu menoleh pada Altop lalu beralih pada Zefran dan Allena. Zefran tersenyum dan Allena mengangguk. Tapi tetap saja laki-laki itu terlihat ragu. Akhirnya Zefran meminta Zefano mengajak Keisya.
"Zeno ayo ajak Keisya makan malam bersama kita," ucap Zefran.
"Keisya mau nggak makan malam bersama kita?" tanya Zefano.
Gadis kecil itu langsung menyetujui, mau tidak mau Rivaldo pun mengikuti. Dokter Shinta meminta tolong seorang perawat untuk menjaga Frisca. Bersama-sama mereka makan malam di sebuah restoran mewah yang tak jauh dari rumah sakit.
Rivaldo lebih banyak diam saat para sahabat Frisca itu berbincang-bincang. Jika tidak ditanya laki-laki itu sama sekali tidak bersuara. Hanya menikmati hidangan yang ada dihadapannya.
"Kak Valdo, bagaimana dengan rumahnya? Zeno bilang di sana Kak Valdo juga berjualan sembako?" tanya Allena memancing laki-laki itu bersuara.
"Ya, saya beruntung, orang yang membeli rumah itu mengizinkan saya tetap tinggal di rumah itu hingga semua bahan-bahan terjual habis karena beliau masih berusaha mendapatkan rumah-rumah yang lain di sekitarnya," jelas Rivaldo.
"Orang itu membeli banyak rumah di sana?" tanya Ronald.
"Ya, rencananya akan membuat pusat perbelanjaan. Karena daerah itu belum ada pusat perbelanjaan besar," jawab Rivaldo.
"Daerah itu pasti akan ramai nantinya," ucap Altop.
"Lalu bagaimana kamu akan menjual habis semua bahan-bahan itu jika menemani Frisca terus di rumah sakit?" tanya Shinta.
"Itulah yang saya bingungkan, saya takut saat orang itu ingin mengambil rumah semua bahan masih belum terjual, mau dibawa kemana semua bahan-bahan itu?" tanya Rivaldo.
Sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh siapa pun di situ. Semua hanya bisa tercenung, tak ada solusi yang bisa diusulkan.
"Kemarin saat pulang sebentar mengambil pakaian, saya melihat ada pengerjaan bangunan di tanah kosong di samping rumahku. Sepertinya tanah itu juga sudah terjual. Dalam waktu dekat mungkin rumahku juga akan segera diratakan," ucap Rivaldo pelan dan terdengar sedih.
Mereka yang berada di situ saling memandang. Tapi apa mau di kata, saat Allena menawarkan diri membantu biaya pengobatan. Laki-laki itu dengan lantang menolak bantuan dari wanita kaya itu. Dan sekarang dia harus menerima kenyataan kalau dia telah kehilangan rumah satu-satunya yang begitu disayanginya.
Laki-laki itu menyantap hidangannya sambil tertunduk. Sebenarnya Rivaldo tak ingin menceritakan kesedihannya tapi jika terus dipendam dalam hatinya, laki-laki itu takut akan mengalami depresi. Hal yang tak diinginkannya, mengingat putrinya yang tak memiliki siapa pun di dunia ini.
"Aku dengar Kak Valdo sangat pintar memasak nasi goreng, apa itu benar?" tanya Allena mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah, dari mana Nyonya tahu?" tanya Rivaldo.
Allena langsung mengernyitkan keningnya mendengar panggilan Rivaldo padanya.
"Panggil Allena saja Kak, jangan panggil Nyonya kesannya aku ini begitu tua," ucap Allena sambil tersenyum
Membuat semua yang berada di situ juga ikut tersenyum.
"Maaf Allena, aku tidak tahu kalau aku boleh memanggil namamu," ucap Rivaldo malu-malu.
Allena tersenyum lalu kembali menanyakan perihal nasi goreng bikinan Rivaldo yang dikenal enak dari Zefano.
"Oh, mungkin saat itu Zeno sangat lapar jadi makanan apa pun pasti terasa enak baginya," jawab Rivaldo tidak percaya diri.
"Memang enak kok Ma, waktu kita kenyang juga rasanya tetap enak, ya 'kan Keisya?" tanya Zefano pada Keisya yang hanya mengangguk sambil terus menyantap makanannya.
Semua yang berada di situ langsung tertawa melihat tingkah dua anak itu.
"Mereka terlihat asyik makan seperti tidak peduli dengan percakapan kita tapi ternyata telinga mereka nyaring juga mendengarkan," ucap Altop tertawa dan kembali melihat kedua anak yang asyik menyantap makanannya itu.
"Berarti masakan nasi goreng Kak Valdo sudah mendapat pengakuan dari Zeno. Kapan kami bisa mencicipi masakan spesial ini?" tanya Shinta.
Semua mengangguk setuju dengan ucapan Shinta. Mereka pun ingin mencoba masakan laki-laki yang telah dianggap seperti keluarga bagi mereka itu.
"Hanya nasi goreng, itu masakan sederhana tak sebanding dengan makanan yang biasa kalian makan," ucap Rivaldo yang tetap tidak percaya diri.
"Jangan khawatir Kak, kami juga suka makan nasi goreng. Apalagi sekarang direkomendasikan oleh Zeno, kami jadi makin penasaran," sahut Allena sambil tersenyum.
"Baiklah kalau memang ingin mencicipi nasi goreng bikinanku, mungkin kita bisa makan nasi goreng bersama saat Frisca keluar dari rumah sakit nanti. Sebenarnya aku merasa tidak percaya diri, apalagi yang akan mencicipi masakanku adalah orang-orang yang terbiasa makan enak. Kalau tidak sesuai dengan harapan jangan salahkan aku ya," ucap Rivaldo minta di maklumi.
__ADS_1
"Akhirnya bersedia, Yey!" seru Ronald yang memang lebih lincah dibandingkan sahabat-sahabatnya yang lain.
Ronald mengepalkan tangan dan mengacungkannya membuat semua sahabatnya tertawa. Ditambah Zefano yang ikut-ikutan mengepalkan tangan kirinya dan berteriak meski mengunyah dan matanya tetap memandang ke arah makanan di hadapannya.
Kembali semuanya tertawa melihat tingkah anak itu. Mereka pun sepakat berkumpul kembali untuk mencicipi nasi goreng spesial rekomendasi Zefano. Setelah makan malam mereka selesai, mereka pun kembali ke ruang rawat inap Frisca. Perawat yang menjaganya langsung melaporkan pada Dokter Shinta kalau Frisca telah sadar namun masih belum mengenali situasi. Dokter Shinta berterima kasih dan perawat itu pun minta diri.
Mereka serentak mendekati Frisca, secara bergantian menyapa wanita itu. Frisca hanya bisa melihat dan mengangguk saat diajak bicara. Namun saat Zefano dihadapkan padanya, tangan wanita itu terangkat. Zefano yang digendong Zefran mendekat untuk mencium pipi Frisca. Wanita itu tersenyum, begitu juga saat Keisya didekatkan padanya, wanita itu juga tersenyum.
"Kondisinya masih lemah tapi sudah bisa mengenali," ujar Shinta.
"Syukurlah, kalau begitu kami pulang dulu Kak Valdo, hari sudah malam. Anak-anak juga butuh istirahat, besok kami akan ke sini lagi," ucap Allena pada Rivaldo.
"Terima kasih Allena atas perhatian dan dukungannya untuk Frisca," jawab Rivaldo.
Allena tersenyum mendengar ucapan Rivaldo yang terdengar seperti telah sah menjadi keluarga Frisca.
"Keisya ikut dengan Tante pulang ke rumah Zeno?" tanya Allena menawarkan Keisya pulang.
Gadis kecil itu menoleh ke arah Rivaldo.
"Tidak usah Allena, nanti hanya merepotkan saja," tolak Rivaldo secara halus.
"Sebaiknya Keisya memang di bawa pulang, anak-anak di bawah dua belas tahun sebenarnya dilarang ke rumah sakit. Ini tidak baik untuk kesehatannya," jelas Shinta.
Rivaldo menunduk hal itu memang telah diketahuinya sejak awal anak itu terlihat oleh petugas medis di setiap rumah sakit namun setelah berusaha menjelaskan situasinya bahwa Keisya hanya memiliki dirinya sendiri. Petugas rumah sakit akhirnya mengizinkan Keisya tetap berada di rumah sakit itu bersamanya.
Zefano mengajak anak itu pulang bersamanya, Keisya menoleh ke arah ayahnya. Rivaldo terlihat bingung.
"Biarlah Keisya ikut bersama kami Kak, jadi Kak Valdo bisa fokus menjaga Kak Frisca di sini. Di rumah ada Rahma dan baby sitter yang bisa menemani anak-anak. Keisya anak yang baik, dia tidak akan merepotkan sama sekali. Kasihan dia jika berada di rumah sakit terus," ucap Allena.
Rivaldo menatap Allena dan Zefran bergantian melihat ketulusan dari niat baik mereka. Setelah mendengar ucapan tulus dari Allena, akhirnya Rivaldo menyetujui Keisya ikut bersama mereka pulang ke kediaman Dimitrios.
Sampai di rumah Allena langsung menemui bayinya yang sedang digendong Rahma. Gadis itu menyerahkan Zifara pada ibunya. Keisya langsung tertarik mendekati Zifara.
"Ini dedek siapa Tante?" tanya Keisya.
"Dedek ini namanya Zara, adiknya Zeno," jawab Allena.
Allena tercenung, senyum di wajahnya langsung menghilang. Allena menatap sedih pada gadis kecil itu, teringat Frisca yang tak mungkin bisa memberikan keturunan lagi jika memang takdir membuatnya hidup bersama Rivaldo.
"Tapi Zara boleh kok jadi adiknya Keisya, adiknya Zeno, adiknya Keisya juga," ucap Allena sambil tersenyum.
"Beneran boleh Tante? Zara boleh jadi adiknya Keisya?" tanya anak itu semangat.
Allena mengangguk, tak lama kemudian Ny. Mahlika keluar dari kamar dan heran melihat anak kecil yang tak dikenalnya itu. Zefran menjelaskan siapa Keisya sebenarnya. Laki-laki itu menjelaskan semua kejadian mulai sejak Zefano diculik Frisca hingga akhirnya wanita itu masuk rumah sakit.
"Kalian terlalu baik pada orang, sudah diperlakukan seperti itu masih saja mau membantu," ucap Mahlika tidak suka melihat putra dan menantunya berbaik hati pada Frisca.
Allena meminta Rahma mengajak Keisya dan Zefano istirahat di kamar. Allena tidak ingin kedua anak itu mendengar kekesalan Ny. Mahlika terhadap Frisca yang mana adalah orang yang mereka sayangi.
Zefran menjelaskan perasan Zefano yang telah begitu sayang pada Frisca dan juga keluarga Rivaldo.
"Zeno cerita, kalau Kak Frisca rela kehilangan tas berisi obat-obatan demi menolongnya saat ditangkap oleh pemilik kost. Sejak itu Zeno jadi sangat menyayangi Kak Frisca," jelas Allena.
"Ya, tapi semua itu juga kesalahannya. Kenapa dia menculik Zeno segala? Ya tentu saja menjadi tanggung jawabnya menolong Zeno dari pemilik kost itu," protes Mahlika.
"Tapi saya bersyukur Mommy, Kak Frisca memilih menolong Zeno. Meski karena itu dia harus kehilangan obat-obatannya. Dia bisa saja tidak peduli pada anak itu dan meninggalkannya begitu saja. Jika hal itu terjadi entah bagaimana nasib Zeno sekarang," jelas Allena.
Ny. Mahlika termenung mendengar penjelasan Allena.
"Ya begitulah, kalian selalu memandang orang dari sisi baiknya. Selalu mengambil sisi baik dari sebuah peristiwa," ucap Mahlika.
Allena dan Zefran saling memandang, akhirnya laki-laki itu meminta tolong ibunya untuk menceritakan keadaan Frisca pada orang tuanya yang mana mereka adalah mantan besan dari Ny. Mahlika.
"Ya Mommy, kasihan Kak Frisca, dia melewati masa sulitnya seorang diri. Saya rasa jika orang tuanya tahu mungkin tidak akan tega membiarkan putri mereka satu-satunya menderita. Kak Frisca hampir saja menyerah dengan penyakitnya dan hampir saja merenggut nyawanya jika tidak ditolong dan didukung oleh ayahnya Keisya," jelas Allena.
Wanita itu pun akhirnya menceritakan apa yang di dengarnya dari Dokter Shinta saat Frisca datang meminta bantuan karena tidak memiliki uang sepeser pun untuk biaya hidupnya.
"Hidupnya sampai seperti itu? Frisca diusir orang tuanya karena nekat menikah dengan pacarnya?" tanya Mahlika kaget.
__ADS_1
"Ya Mommy, itulah yang kami dengar dari Dokter Shinta. Jika kita memaafkan Dokter Shinta yang telah memalsukan dokumen DNA. Kenapa kita tidak memaafkan Kak Frisca yang lebih memikirkan Zeno daripada memikirkan kesehatannya sendiri, Mommy?" tanya Allena.
"Kamu yang ingin memaafkan mereka, kalau Mommy sulit memaafkan mereka. Tapi ya sudahlah, kita bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat dan baik-baik saja sudah patut disyukuri. Ya, untuk apa kita menyimpan dendam, hanya akan merusak diri sendiri, benar 'kan?" tanya Mahlika.
Allena dan Zefran mengangguk kuat, mereka saling berpandangan dan tersenyum. Ny. Mahlika akhirnya bersedia menemui mantan besannya untuk menceritakan keadaan Frisca saat ini. Allena dan Zefran merasa bersyukur, Nyonya itu akhirnya mau melepas dendamnya untuk menolong mendamaikan Frisca dan orang tuanya.
Mendengar itu Allena lega dan meminta diri untuk beristirahat di kamarnya. Ny. Mahlika pun kembali masuk ke kamarnya. Zefran mengikuti istrinya untuk kembali beristirahat. Setelah menyusui bayinya, wanita cantik itu merebahkan diri di ranjang untuk melepas lelah.
"Mau dipijit sayang?" tanya Zefran yang dibalas dengan senyuman oleh istrinya.
"Mau tapi kita lihat anak-anak itu dulu Kak, apa mereka sudah tidur atau belum?" tanya Allena.
Zefran mengangguk, mereka pun mencari di mana Keisya dan Zefano. Allena dan Zefran menemukan anak-anak itu telah tidur. Zefano di kamarnya sementara Keisya bersama Rahma dan Bu Vina.
Allena dan Zefran kembali ke kamar mereka dan beristirahat.
"Apa mau aku siapkan jacuzzi whirlpool bath?" tanya Zefran.
"Tidak usah Kak, nanti bisa-bisa menjadi film horor. Jacuzzi whirlpool berdarah," ucap Allena dengan gaya bicara yang diseram-seramkan.
Zefran tertawa dan dalam sekejap telah menempelkan bibirnya ke bibir wanita itu. Allena tersenyum dan menikmati tarikan lembut di bibirnya berkali-kali.
"Aku mau mandi pakai shower saja," bisik Allena.
"Ok, aku temani ya, aku ingin memandikanmu. Jangan khawatir aku tidak takut dengan shower berdarah," ucap Zefran juga dengan nada yang juga diseram-seramkan namun akhirnya tertawa.
Allena ikut tertawa namun perlahan menggelengkan kepalanya menolak. Semua itu dilakukannya demi suaminya. Allena mengecup bibir laki-laki tampan itu dan melangkah sendiri ke kamar mandi. Zefran tersenyum lalu menunggu istrinya sambil merebahkan diri di kursi malas.
Dalam sekejap laki-laki yang merasa letih itu tertidur pulas di sana. Allena kembali dan mendapati suaminya telah tertidur. Allena menyelimuti laki-laki itu lalu mengecup sekilas bibir laki-laki tampan itu. Mereka pun beristirahat setelah melewati siang hari yang melelahkan.
Pagi harinya mereka sarapan bersama, sarapan yang berbeda dari biasanya. Kehadiran Bu Vina, Rahma dan Keisya di meja makan itu menjadikan suasana menjadi lebih ramai. Ditambah Allena yang menggoda Rahma dengan menanyakan perihal hubungannya dengan Patrick.
Gadis itu menjawab dengan malu-malu, semua mendukung hubungan mereka terlebih lagi Bu Vina yang merasa sebentar lagi akan mendapatkan menantu baru. Semua tertawa mendengar Zefano yang ikut menyetujui dengan mengacungkan jempolnya.
"Zeno sudah menyetujuimu, kamu harus segera mendapatkannya jika tidak kamu akan kehilangannya. Pak Patrick itu sangat cerdas dan bijak, kesetiaannya tidak diragukan lagi dan sangat sangat sangat tampan benar 'kan Kak?" tanya Allena sambil menoleh ke arah suaminya.
"Apa tidak keterlaluan memuji laki-laki lain di depan suamimu?" tanya Zefran dengan nada cemburu yang dibuat-buat.
"Iiih, aku ini sedang promosi tentu saja harus memuji," jawab Allena.
"Aku tidak pernah mendengar istriku memujiku," celetuk Zefran.
"Kakak tidak perlu dipuji lagi, Kakak sudah habis masa promosi," jawab Allena.
Zefran terpana mendengar ucapan istrinya, Rahma cekikikan mendengar percakapan kedua orang yang saling mencintai itu. Allena tersenyum merayu sambil bersandar di lengan suaminya. Zefran merangkul istrinya itu lalu mencium puncak rambutnya.
Pagi itu Zefran berangkat kerja karena urusan yang harus diselesaikannya sendiri. Setelah berpamitan dengan ibunya dan ibu mertuanya. Zefran berpamitan dengan putra kesayangannya.
"Papa mau berangkat kerja dulu, Zeno di rumah jaga adik baik-baik ya!" ucap Zefran.
"Tenang Pa, Zeno akan jaga semuanya," jawab Zefano sambil merentangkan tangannya.
"Oh ya benar, Papa mau berangkat kerja dulu. Zeno jaga semuanya baik-baik ya!" ulang Zefran sambil tersenyum dan mencium puncak rambut anak itu.
Allena tersenyum lalu mengantar suaminya hingga ke teras. Mengapit lengan laki-laki itu sambil berjalan santai dan tertawa mengingat ucapan Zefano tadi.
"Aku berangkat dulu ya sayang," ucap Zefran lalu mengecup bibir istrinya.
Allena tersenyum menatap suaminya yang berjalan menuju garasi. Laki-laki itu berbalik dan diam berdiri menatap istrinya. Allena merasa heran lalu menghampiri dan bertanya apakah ada yang ketinggalan.
"Ya, ketinggalan kamu, kalau bisa kemana pun aku pergi kamu ikut denganku," ucap Zefran lalu tersenyum.
Allena tersenyum lalu membelai pipi suaminya, bahagia mendengar ucapan laki-laki itu. Allena mendekatkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Zefran langsung menyambut bibir itu dengan bernafsu. Memeluk wanita itu erat dan membenamkan bibirnya lebih dalam, semakin dalam hingga mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Zefran.
"Aku juga mencintaimu sayang," balas Allena.
Ucapan itu membuat Zefran bahagia, laki-laki itu kembali memeluk istri tercintanya. Rasanya tak ingin berangkat kerja, hanya ingin memeluk wanita cantik itu seterusnya. Namun akhirnya Zefran melepaskan pelukan itu dan berjalan mundur sambil melambaikan tangannya. Allena tertawa melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
Zefran mengemudikan mobil dan melambaikan tangan pada istrinya yang masih berdiri di teras. Sebuah kenyataan yang dulu tak pernah terbayangkan olehnya. Wanita yang berdiri di teras itu dulu sangat dibencinya. Tapi sekarang justru menjadi wanita yang sangat dirindukannya meski hanya terpisah antara rumah dan kantornya.
...~ Bersambung ~...