
Hari ini Zefran kembali mengunjungi Allena, meski selalu dilakukannya diam-diam tapi itu sudah cukup membuatnya bahagia. Melihat Allena dari jauh sudah cukup melepas rindunya. Zefran ingin Allena segera kembali ke pelukannya namun tak ingin mendesaknya. Zefran takut Allena akan menolak dan memilih menjauh darinya.
Turun dari mobil kemudian melangkah masuk ke gedung perusahaan fashion yang ramai lalu lalang orang-orang di dunia fashion. Penampilan Zefran yang mentereng membuat Zefran sering dikira seorang model catwalk atau model majalah.
Wajah tampan dengan postur tubuh yang atletis natural sejak lahir membuat laki-laki itu bebas bergerak leluasa mencari Allena di gedung itu. Bertemu para model dan perancang busana serta photografer telah biasa dilakukannya.
Namun, kali ini Zefran urung membuka pintu mobilnya. Karena tepat di hadapannya mobil Allena berhenti namun Valendino sebagai pengemudinya. Terlihat Valendino yang menyerahkan kunci mobil ke tangan Allena.
Itu saja telah membuat dada laki-laki itu terasa sakit. Ditambah lagi Valendino yang menarik tangan Allena dan langsung memeluknya, sambil membelai rambut istrinya.
Benarkah kalian saling menyukai? Tidak adakah tersisa sedikit cinta untukku Allena? batin Zefran sambil menunduk bersandar di kemudi.
Zefran kembali ke kantor, meminta Patrick membatalkan semua jadwal pertemuan dan mengurung diri di ruangannya. Bayangan Allena di peluk Valendino muncul di hadapannya. Zefran memilih memejamkan mata namun bayangan itu justru semakin jelas bermain di pelupuk matanya.
Zefran memutuskan tidur di kursi panjang dalam ruangan kerjanya.
Kursi panjang ini jadi saksi percintaan kita, tidak.., bukan percintaan tapi pemaksaan. Aku memaksamu melayaniku, aku selalu memaksamu, aku selalu menyakitimu. Sementara Valen, dia selalu membantumu. Valen selalu menyayangimu, menjagamu, membelamu. Aku tidak akan bisa mengalahkan Valen, sejak awal aku hanya selalu menyakitimu, batin Zefran.
Kemudian duduk di kursi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik rambutnya dengan kedua tangannya. Zefran menangis menyesali masa-masa yang buruk bersama Allena. Laki-laki itu menangis terisak.
Aku selalu menyakitimu, aku selalu membuatmu menangis. Sementara dia selalu menjagamu, dia menyayangimu, dia membuatmu tertawa, aku…, aku salah sejak awal, aku telah kalah sejak awal, jerit hati Zefran.
Menangisi dirinya, menyesali dirinya. Kembali rebah di kursi panjang dan menutupi wajahnya dengan bantal sofa.
Jangan tinggalkan aku Allena, aku tidak bisa hidup tanpamu, jerit hati Zefran berkali-kali.
Mengingat kembali apa yang dilakukannya pada Allena, sejak mulai menikah hingga akhirnya gadis itu pergi. Zefran menyesali hingga akhirnya tertidur. Tidur adalah hal yang harus dilakukannya agar tidak terus tenggelam dalam kesedihannya.
Zefran terbangun saat Patrick menyalakan lampu di ruangan itu. Laki-laki itu langsung duduk dengan tubuh yang lemas.
"Saya bawakan makan malam Tuan," ucap Patrick.
"Apa? Sudah malam?" tanya Zefran langsung menoleh ke arah jendela besar di ruangan itu.
Zefran memijat keningnya yang terasa sakit.
"Kamu belum pulang?" tanya Zefran.
"Kami lembur, tim kerja untuk proyek terbaru harus menambah jam kerja hingga akhirnya bulan ini," jelas Patrick.
"Maafkan aku, karena aku membiarkanmu mengerjakannya sendiri," ucap Zefran menyesal.
"Jangan pikirkan itu, kami bisa melakukannya dengan baik. Tuan menghargai bawahan, maka bawahan rela melakukan apa saja untuk Tuan," ucap Patrick.
"Sudahlah jangan panggil aku seperti itu," ujar Zefran sambil tersenyum.
Patrick balas tersenyum dan menyarankan agar Zefran mandi lebih dulu dan berganti pakaian. Mereka pun makan malam bersama.
"Kalau bisa jangan ke Night Club dulu, hatimu sedang galau. Aku yakin nanti kamu pasti akan minum lagi," ucap Patrick.
"Kalau terjadi sesuatu denganku, tolong sampaikan maafku untuk istriku," ucapnya sambil menunduk.
"Yang mana?" tanya Patrick sambil tertawa.
"Keduanya, katakan pada mereka kalau aku menyesal karena tidak menjadi suaminya baik bagi mereka," ucapnya sambil menghapus bulir di matanya.
Seketika senyum di wajah Patrick menghilang, Zefran terlihat serius dengan ucapannya.
"Kenapa berkata seperti itu? Kamu akan baik-baik saja? Kamu pasti bisa mendapatkan kebahagiaanmu lagi, percayalah," nasehat Patrick.
"Aku lelah Patrick, aku rasa aku mendapat karma atas perbuatanku. Aku mengkhianati Frisca, aku menyakiti Allena dan sekarang aku kehilangan keduanya. Aku tidak melihat Frisca lagi dalam beberapa hari ini dan aku telah kehilangan Allena sejak lima tahun yang lalu. Aku lelah Patrick, aku sangat lelah," ucap Zefran sambil menunduk.
Menghabiskan makan malamnya kemudian berdiri melepas jas yang baru saja dikenakannya sehabis mandi. Mengeluarkan kemeja putih itu dari balik celananya dan menggulung lengan panjangnya hingga siku.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Patrick heran melihat penampilan Zefran.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bebas," jawab Zefran.
Berpenampilan santai tanpa jas hitam yang menjadi ciri khasnya. Melangkah keluar balkon dan memandang panorama city lights yang menyihir mata hingga betah memandangnya.
"Aku baru sadar pemandangan di sini sangat indah," ucap Zefran.
Patrick datang menghampiri dan berdiri di sampingnya.
"Berapa ketinggian gedung ini?" tanya Zefran.
"Apa maksudmu menanyakan itu?" tanya Patrick dengan raut khawatir.
Zefran tertawa.
"Tenang saja, aku tidak akan melompat dari sini," ucapnya kembali tersenyum.
"Dua ratus empat puluh meter," jawab Patrick.
__ADS_1
Zefran tersenyum.
"Aku bodoh, memiliki semua ini tapi tidak pernah menikmatinya," ucap Zefran.
"Kadang kita tidak menyadari apa yang kita miliki itu sangat berharga. Sementara orang lain sangat menginginkannya kita justru mengabaikannya," ucap Patrick.
Zefran menatap lurus pemandangan di hadapannya. Ucapan Patrick seperti mengingatkan pada dirinya dengan kedua istrinya. Menjaga yang satu, mengabaikan yang lain. Mempercayai yang satu, mencurigai yang lain. Zefran merasa hidupnya sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
"Aku sudah kehilangan segalanya Patrick. Mencintai Allena, aku jadi kehilangan Frisca. Mempercayai Frisca, aku jadi kehilangan Allena. Aku laki-laki yang tidak bisa mencintai. Mencintai satu orang saja tidak mampu apalagi mencintai dua orang sekaligus. Ketika cinta itu datang, aku ingin memiliki keduanya tapi aku justru kehilangan keduanya," ucap Zefran kemudian tertunduk.
"Aku justru tidak pernah melihat laki-laki yang bisa mencinta seperti kamu mencintai kedua istrimu. Hingga saat ini aku masih belum menemukan cinta, sementara orang lain dengan mudahnya bergonta-ganti cinta. Hanya kamu, menurutku hanya kamu yang selalu teguh pada cintamu. Sekali jatuh cinta kamu akan selalu mencintai. Hanya saja untuk membuktikan cintamu, kamu harus menempuh ujian dan kamu kalah," tutur Patrick.
Zefran tertawa, semakin lama tawanya semakin keras namun setelah itu tawanya berubah bercampur tangis.
"It's over now," ucap Zefran.
"It's not over," jawab Patrick.
Laki-laki itu menatap Zefran yang putus asa dan melanjutkan ucapannya.
"Selagi dihatimu masih ada cinta, semuanya belum berakhir. Kamu masih bisa mengejarnya, kamu masih bisa meraihnya lagi. Kenapa begitu khawatir dengan Valen? Sementara banyak laki-laki lain yang juga menyukai Allena? Kamu terlalu fokus padanya karena dia sahabatmu. Kamu tidak ingin dikalahkan oleh sahabatmu sendiri hingga akhirnya abai pada laki-laki lain. Seandainya kamu bisa mengabaikan Valen seperti mengabaikan laki-laki lain maka kamu tidak akan terluka. Karena itu jangan putus asa, jika sudah tidak ada cinta dihatimu, itu baru namanya berakhir," tutur Patrick.
"Apa aku masih bisa?" tanya Zefran.
"Kenapa tidak? Kamu sehat, tampan, kaya, kamu punya segalanya dan terlebih lagi kamu punya cinta yang besar melebihi besarnya gedung ini," ucap Patrick sambil merentangkan kedua tangannya.
Zefran tertawa.
"Kamu berlebihan menghiburku, seperti sedang menghibur anak kecil," balas Zefran masih tertawa.
"Aku tidak berlebihan, aku serius. Aku yakin cintamu lebih besar dari gedung ini. Kamu lebih memilih cinta daripada gedung ini," jawab Patrick.
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Zefran.
"Tidak hanya merelakan gedung ini, kamu juga bisa merelakan dunia ini. Duniamu yang diidam-idamkan banyak orang, rela kamu tinggalkan. Apa cinta yang seperti itu bukan cinta yang besar?" tanya Patrick.
Zefran tercenung, Patrick menebak jalan pikirannya. Zefran merasa lelah, hingga terlintas untuk mengakhiri hidupnya meski dia mengelak mengakui itu.
"Jangan lakukan itu demi orang-orang yang kamu cintai. Mereka akan hidup dalam penyesalan seumur hidup mereka, apa kamu tega membuat mereka menyesal seumur hidup?" tanya Patrick.
Tidak akan, aku tidak ingin Allena hidup dalam penyesalan. Aku ingin Allena bahagia, aku rela, aku harus rela asal dia bahagia meski bukan bersamaku, batin Zefran.
"Aku tidak akan melakukan itu Patrick. Aku tidak akan membuat orang-orang yang aku cintai merasa menyesal," ucap Zefran yakin.
"Kamu yakin?" tanya Patrick.
"Kalau begitu aku bisa meninggalkanmu sekarang? Aku harus melihat kerja tim yang sedang lembur," lanjut Patrick.
"Oh ya maaf. Aku sudah menghambat laju petugas," ucap Zefran tertawa.
"Hey, apa yang mereka lakukan saat ini tidak ada artinya jika kamu tidak ada. Keberadaanmu itu sangat berarti, semua yang mereka lakukan sekarang ini demi untukmu," ucap Patrick menunjukkan Zefran lebih berarti dibanding tim kerja yang sedang lembur.
Patrick menepuk lengan Zefran dan melangkah pergi. Laki-laki itu mengucapkan semua untuk membangkitkan semangat Zefran. Jangan sampai Zefran putus asa dan mengakhiri hidupnya.
Meski saat melangkah pergi ada rasa bimbang di hatinya meninggalkan Zefran seorang diri. Tapi Patrick ingin percaya pada sahabatnya itu. Bahwa Zefran sudah lebih kuat dan lebih tegar dari sebelumnya.
Dan sekarang Zefran menuju lift dan masuk ke Night Club menemui Altop, Ronald dan Valendino. Zefran memang lebih tegar dari sebelumnya. Hanya diam menatap Valendino yang baru siang tadi memeluk istrinya.
"Kalian dilarang mabuk!" ucap Altop tegas pada Zefran dan Valendino.
Zefran tersenyum, Altop dan Ronald heran melihat respon Zefran yang terlihat tenang. Sementara itu Valendino merasa bimbang antara ingin bercerita tentang Zefano atau tidak. Laki-laki itu justru terlihat lebih resah daripada Zefran.
Zefran terlihat begitu tenang tanpa tatapan tajam ke arahnya, membuat Valendino ragu untuk berbicara. Mengungkit Zefano, anak yang membuat Zefran berpisah dengan Allena mungkin akan membuat laki-laki itu menjadi kesal.
Sikap Zefran justru telah kembali seperti biasa, mereka menikmati malam dengan berbincang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Melihat itu Altop dan Ronald lebih memilih membicarakan masa lalu. Bernostalgia membuat mereka tertawa, mereka berharap Zefran dan Valendino telah menyelesaikan masalah mereka.
Zefran memutuskan meraih cinta Allena tanpa menyalahkan Valendino ataupun memaksa Allena. Laki-laki itu ingin berjuang mendapatkan cinta Allena dengan menganggap Valendino adalah orang lain yang juga kebetulan menyukai Allena.
~ Kenapa begitu khawatir pada Valen? Sementara banyak laki-laki lain yang juga menyukai Allena? ~
Ucapan Patrick membuat hati Zefran sedikit merasa lapang.
Aku tidak boleh terlalu fokus padanya hingga merusak hatiku sendiri, batin Zefran sambil menatap Valendino.
Zefran justru menuangkan minuman untuk sahabatnya itu. Altop dan Ronald heran demikian juga Valendino. Meski begitu, Valendino meraih minuman yang dituangkan Zefran dan meminumnya. Altop dan Ronald yang tadinya tegang langsung tertawa.
Aku tidak peduli apa yang pernah Allena lakukan bersamanya. Sekarang aku hanya ingin memulai semua dari awal dan berusaha memiliki Allena seutuhnya, batin Zefran.
Baru saja berpikiran seperti itu tiba-tiba sekelompok orang datang menghampiri meja mereka.
"Si pengecut Pangeran Dimitrios telah keluar dari kandangnya" ucap Bobby dan membuat orang di sekelilingnya tertawa.
Zefran menoleh pada laki-laki itu kemudian beralih menatap Altop.
__ADS_1
"Saat kamu tidak kesini dia datang mencarimu," jelas Altop.
Zefran tidak mengetahui dan tidak ada yang memberitahunya. Saat memilih mabuk di rumah ternyata Bobby mencarinya hingga beberapa kali.
"Kenapa tidak beritahu aku? Bukannya waktu itu aku pernah bilang kalau dia datang beritahu aku?" tanya Zefran.
"Kamu sedang bersedih karena berpisah dengan Allena. Mana mungkin aku menambah masalahmu," jawab Altop.
Zefran kesal tapi akhirnya berdiri berhadapan dengan Bobby. Altop, Ronald dan Valendino otomatis ikut berdiri.
"Aku bukan pengecut, aku ada di sini sekarang lalu kamu mau apa?" tantang Zefran.
"Aku ingin kamu menceraikan Frisca," ucap Bobby.
Altop maju dan berdiri di samping Zefran.
"Sudah gila orang ini, enak saja suruh orang bercerai," ucap Altop.
Tak peduli dengan ucapan Altop, Bobby melanjutkan ucapannya.
"Sejak awal Frisca itu milikku, aku yang pertama kali menidurinya. Kamu hanya tempat persinggahan baginya saat kami sedang ada masalah. Frisca tidak akan pernah bisa melupakan laki-laki pertama dalam hidupnya," lanjut Bobby.
"Aku tidak peduli dengan masa lalu Frisca, yang penting sekarang dia adalah milikku. Dia istri sah ku dan hingga kini kami masih saling mencintai," jawab Zefran.
Bobby tertawa.
"Saling mencintai? Jangan-jangan kamu mengira bayi yang dikandungnya juga anakmu, wahai pemimpi," ucap Bobby kemudian kembali tertawa.
"Apa katamu?,"
"Jangan mimpi terlalu lama, makanya bangun. Kamu pikir selama ini dia tidur disampingmu? Dia selalu bersamaku, bayi yang dikandungnya itu anakku hasil percintaan kami," ucap Bobby sambil memperlihatkan rekaman video percintaan mereka.
Altop yang ikut melihat terkejut. Zefran tak bisa menahan emosi segera melayangkan pukulan di wajah Bobby. Teman-teman Bobby langsung maju.
"Hey, bule kere jangan ikut campur," teriak Ronald pada teman-teman Bobby yang memang berandalan kampus yang di drop out saat mereka kuliah di Stanford university.
Bobby terjengkang, Zefran menyuruh laki-laki itu bangun. Altop, Ronald dan Valendino langsung mengawal kawan-kawan Bobby yang mencoba ikut membantu.
Duel antara Zefran dan Bobby pun terjadi. Altop tidak peduli barang-barang di Night Club hancur berantakan. Mereka saling mengejar, membalas, memukul, menendang. Hingga tidak hanya bibir yang pecah atau pipi yang lebam. Namun kepala pun ikut bocor.
"Sampai kapan ini dibiarkan?" tanya Ronald panik.
"Entahlah, Zefran pasti marah kalau kita hentikan," jawab Altop.
Dan memang Zefran akan marah jika dihentikan karena saat ini emosinya telah sampai puncak kepalanya. Menyaksikan istrinya bergulat dengan laki-laki yang dibencinya sejak lama. Dan saat ini Zefran sedang di atas angin. Laki-laki itu memukuli Bobby hingga tak bisa membalas lagi.
Teman-teman Bobby yang coba membantu langsung dihalangi Altop dan kawan-kawan. Zefran terus memukuli laki-laki yang tak bisa melawan itu.
"CUKUP ZEFRAN! KAMU BISA MEMBUNUHNYA" bentak Valendino.
Zefran berhenti dan langsung menghadap ke arah Valendino.
"AKU MEMANG INGIN MEMBUNUHNYA, AKU JUGA INGIN MEMBUNUHMU," bentak Zefran tak kalah kerasnya.
Di belakang Zefran, Bobby bangun dengan terhuyung kemudian menepuk bahu Zefran. Laki-laki itu berbalik, Bobby langsung menancapkan botol minuman yang pecah ke perut Zefran lalu mencabut dan membuang botolnya.
Zefran termangu menatap darah segar yang menyembur membasahi kemeja putihnya. Dalam sekejap baju kerja Zefran telah didominasi warna merah. Zefran terhuyung ke belakang, jatuh terlentang menatap langit-langit Night Club yang tinggi. Tangannya dipenuhi darah yang mengalir dari perut sebelah kirinya.
Teman-temannya langsung berlari menghampiri.
"KURANG AJAR, PENGAWAL TANGKAP MEREKA," perintah Altop pada para pengawal Night Club saat melihat Bobby dan kawan-kawan langsung berlari setelah menusuk Zefran.
Ronald langsung menelpon ambulance.
"Tidak bisa, kita bawa sekarang jangan menunggu ambulance," ucap Valendino mengangkat tubuh Zefran.
Di dalam lift Valendino meletakkan Zefran di pangkuannya. Zefran dengan wajah yang penuh luka itu menatap Valendino. Laki-laki itu tertawa sambil meringis menahan sakit.
"Akhirnya kamu pemenangnya," ucap Zefran tertawa namun air matanya mengalir di samping matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Valendino yang juga berkaca-kaca.
"Tolong jaga Allena, cintai dia…, sepenuh hatimu..," ucap Zefran terbata-bata.
Valendino menggelengkan kepala.
"Aku tidak menyangka.., akan.., berkata seperti ini.., padamu," ucap Zefran kembali tertawa.
"TIDAK, KAMU LAKUKAN SENDIRI. Allena tidak ingin aku menjaganya, dia tidak inginkan cintaku. Kamu lakukan sendiri untuknya," bentak Valendino tak bisa menahan air matanya yang perlahan mengalir.
Altop dan Ronald duduk mengelilingi, menatap Zefran sambil menghapus air mata.
"Aku.., mau.., tapi tidak bisa. Kamu.., yang selalu membelanya.., sejak awal.., kita mengenalnya.., kamu.., yang pantas.., menjaganya," ucap Zefran tersenyum lalu terkulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Ketiga teman-teman Zefran meneriakkan namanya. Lift dari lantai lima puluh sembilan itu terasa bergerak turun begitu lambat. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa di dalam ruangan kecil yang biasanya mengantar mereka untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama-sama.
...~ Bersambung ~...