Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 26 ~ Dia Milikku ~


__ADS_3

Saat menuju toko bunga Allena melihat sebuah apotek. Rasa penasaran untuk membuktikan kehamilannya tak bisa ditahannya lagi. Terlebih lagi teringat suaminya yang berterima kasih padanya karena telah melihat tanda-tanda kehamilan padanya.


~ Ada anakku di dalam rahimmu aku sangat bahagia membayangkan itu ~


Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Allena membuat gadis itu tersenyum sambil membawa test pack itu keluar dari apotek.


Sesampai di toko bunga tak sabar Allena ingin segera melakukan tes kehamilan. Di saat tak ada pengunjung Allena segera masuk ke toilet. Membaca petunjuk penggunaan dan mulai menggunakannya. Allena memejamkan mata saat ingin melihat hasil yang tertera di alat pendeteksi kehamilan itu. Berkali-kali gadis itu urung melihat karena takut hasilnya akan mengecewakan.


Bagaimana kalau hasilnya negatif, tuan Zefran pasti akan kecewa, begitu juga dengan Mommy. Aku benar-benar tidak berani melihat hasilnya, bagaimana ini? jerit hati Allena.


Entah berapa lama gadis itu berada di toilet. Berjalan mondar-mandir sambil menggenggam alat berbentuk stik itu di tangannya. Buru-buru kembali ke toko saat mendengar bel pintu berbunyi. Setelah selesai melayani konsumen, Allena akan kembali masuk ke toilet. Dan kali ini dia menguatkan hatinya untuk melihat hasil tes kehamilannya itu.


Satu, dua, tiga.


Allena membuka matanya dan memandang alat itu. Allena hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Oh ya ampun dua garis merah, aku benar-benar hamil. Aku benar-benar hamil Tuan, aku benar-benar hamil Mommy, batin Allena sambil menangis haru.


Gadis itu hingga meneteskan air mata saat melihat dua garis merah yang muncul berjejer. Saking tidak percayanya Allena hingga membaca ulang petunjuk yang tertera di kemasan itu.


Benar, ini benar. Aku tidak salah, ini sesuai dengan petunjuk. Aku benar-benar hamil, Tuan. Aku benar-benar mengandung anakmu, ada bayimu di rahimku, jerit hati Allena sambil menyentuh perutnya dan tersenyum dengan air mata yang mengalir.


Allena tidak menyangka akan sebahagia itu saat mengetahui mengandung bayi Zefran. Bayi dari laki-laki yang dulu mengabaikannya. Bayi dari laki-laki yang dulu selalu bersikap kejam padanya. Namun, perlahan laki-laki itu berubah. Memberikan perhatiannya, menunjukkan keinginannya untuk mencurahkan cintanya pada Allena. Dan terlebih dari itu Allena bahagia karena merasa sangat dibutuhkan oleh laki-laki itu.


Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi gadis itu. Allena sangat ingin segera pulang. Hingga akhirnya jam kerja Allena pun habis. Gadis itu pun pulang ke rumah dengan hati bahagia. Tak sabar ingin segera menunjukkan hasil tes kehamilannya itu.


Ny. Mahlika duduk di ruang tengah juga tidak sabar menunggu Allena. Gadis itu segera menyapa mertuanya, dengan senyum yang mengembang gadis itu segera merogoh isi tasnya.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Mahlika terdengar sangat tegas.


Allena urung mencari test pack dari dalam tasnya, ada perasaan aneh di hatinya saat mendengar nada bicara ibu mertuanya itu. Allena berdiri menatap serius pada Ny. Mahlika. Wajah Ny. Mahlika terlihat tegang dan jauh dari kesan hangat.  Mertuanya itu bahkan tidak mempersilahkan Allena duduk, membuat gadis itu hanya berdiri menunggu apa yang ingin di bicarakan dengannya.


"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Valen?" tanya Mahlika tanpa memandang wajah Allena.


Allena kaget tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Gadis itu berusaha berpikir bagaimana bisa ibu mertuanya itu mengetahui kalau dia telah mengenal sahabat dari suaminya itu.


Ny. Mahlika menoleh pada Allena yang tak kunjung memberi jawaban.


"Kami berteman, Mommy" ucap Allena.


Hanya itu yang bisa diucapkannya, gadis itu bingung untuk berkata lain, sangat takut jika salah dalam memilih kata-kata.


"Apa Valen menyukaimu?" tanya Mahlika lagi.


"Dia pernah ... menyatakan cintanya," ucap Allena ragu-ragu sambil menunduk.


Zefran bersandar di balik dinding ruangan tengah sambil memejamkan matanya. Kembali teringat saat-saat menyaksikan keakraban Allena dan Valendino. Bahkan menyaksikan sendiri Valendino mencium gadis yang saat itu telah sah menjadi istrinya.


Rasa cemburu kembali menyelimuti hatinya meski saat itu Zefran tidak pedulikan Allena namun saat mengingat mesranya hubungan Allena dan Valendino hati Zefran kembali terasa panas.


"Apa benar kamu pernah bertemu dengan Valen di hotel?" tanya Mahlika dengan nada tinggi.


Kali ini Ny. Mahlika menatap mata Allena dengan tatapan yang tajam, membuat tubuh gadis itu gemetar. Ny. Mahlika sebelumnya tidak pernah berkata keras padanya apalagi diiringi tatapan tajam seperti itu.


"Ya, Mommy," ucap Allena tetap menunduk.


"Kapan kamu bertemu dengannya? Bagaimana Frisca bisa melihat kalian di hotel? Kapan kejadian itu?" bentak Mahlika merasa heran dan tidak sabar menunggu jawaban Allena.


"Saat perjalanan bulan madu Mommy," ucap Allena tertunduk.


Frisca menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Teringat saat itu mestinya Frisca tidak muncul di hotel itu apalagi bisa melihat Valendino dan Allena di hotel yang sama. Zefran sendiri kaget, ibunya tak boleh tahu kalau dalam perjalanan bulan madu itu, Frisca juga berada di hotel itu bersamanya.

__ADS_1


"Aku pernah melihat mereka berciuman di depan toko bunga padahal saat itu dia sudah menikah dengan Zefran," ucap Frisca berusaha mengalihkan pembicaraan dari perjalanan bulan madu yang seharusnya dirahasiakannya.


"Berani sekali kamu lakukan itu setelah menikah dengan anakku!" bentak Mahlika setelah mendengar ucapan Frisca.


Nyonya itu langsung berdiri di hadapan Allena dengan mata yang marah.


"Aku tidak tahu wanita seperti apa dirimu ini. Sedikit pun aku tidak tahu siapa dirimu. Aku mengenal ibumu, dia orang yang baik tapi itu bukan jaminan kalau putrinya juga wanita baik-baik," ucap Mahlika dengan nada yang semakin meninggi.


Jantung Allena terasa berhenti berdetak, ucapan Ny. Mahlika terdengar begitu menyakitkan. Mata Allena berkaca-kaca, gadis itu menunduk sambil menggigit bibirnya menahan tangis.


"Aku tidak tahu seperti apa kelakuanmu di luar sana. Bagaimana cara kamu bergaul, dengan siapa kamu bergaul. Dan pekerjaanmu itu memang bukan pekerjaan yang bisa di banggakan tapi justru memalukan" ucap Mahlika.


Perlahan air mata Allena mengalir, setelah sekian lama akhirnya nyonya itu menyatakan rasa malunya pada pekerjaan Allena. Gadis itu tidak bisa menahan rasa sakit di dadanya atas penghinaan itu.


"Bayimu itu, anak Zefran atau anak Valen?" tanya Mahlika pelan.


Air mata Allena mengalir deras membasahi pipi hingga ke lehernya. Gadis itu menghapus dengan kedua telapak tangannya.


"Saya memang gadis miskin dan tidak berpendidikan karena itu saya hanya bisa mendapat pekerjaan yang memalukan. Tapi, bertanya siapa ayah dari bayi ini, itu sama saja menuduh saya melakukan perbuatan rendah. Lebih baik secara langsung Nyonya tidak mengakuinya daripada meragukannya. Saya akan pergi dari sini agar di rumah ini tidak ada lagi perempuan rendah yang memiliki pekerjaan yang memalukan," ucap Allena sambil terus menghapus air matanya.


Allena sakit hati atas pertanyaan Ny. Mahlika. Meragukan siapa ayah dari anaknya sama saja menuduhnya berbuat dengan laki-laki lain. Segera Allena melangkahkan kaki menuju lantai atas. Tiba-tiba Zefran muncul dan berdiri menghadangnya.


"Aku tidak memberimu izin pergi di sini," ucap Zefran sambil menatap mata Allena yang penuh dengan air mata.


"Kenapa? Kenapa Tuan? Bukankah semua orang di rumah ini membenciku? Bukankah sangat senang jika aku pergi dari sini? Kenapa? Kenapa aku tidak boleh pergi dari sini?" tanya Allena sambil menahan dadanya yang terasa sakit hingga ucapannya terdengar tersedu-sedu.


Aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah apa yang kamu perbuat padaku. Kamu telah membuatku menyatakan cinta padamu. Tapi apa yang aku dapatkan? Aku justru menemukan bukti kalau kamu telah menerima pernyataan cinta dari laki-laki lain, bisik Zefran dalam hati.


Melihat Zefran yang hanya berdiri menatapnya, Allena berjalan melewati laki-laki itu. Zefran meraih lengan gadis itu.


"Kamu ingin pergi dari sini? Kamu ingin memulai hidup baru bersama Valen? Seperti yang pernah kamu ucapkan dulu? Setelah selesai dengan pernikahan ini kamu akan kembali pada kehidupanmu dan menjalin hubungan dengan pria lain? Valen yang mencintaimu dan sejak awal membelamu, kamu ingin segera kembali padanya? Kalian akan hidup bersama? Jangan harap!! Aku tidak akan pernah membebaskanmu dari pernikahan ini!" ucap Zefran menarik lengan Allena menuju lantai atas.


Zefran membuka pintu, masuk ke kamar dan mendorong gadis itu ke dalam. Mengambil kalung berliontin cincin itu dan menyodorkannya ke wajah Allena.


Allena menatap kalung bercincin yang di banting Zefran ke lantai.


"Ini tidak ada artinya bagiku Tuan, aku juga tidak menginginkannya," ucap Allena.


"Bohong!! Jika kamu tidak menginginkannya kenapa kamu menerimanya? Sebagai pengikat hubungan kalian bukan? Agar saat berpisah denganku nanti kamu bisa kembali padanya? Ucapanku ini benar bukan? Katakan padanya kalau penantiannya itu akan sia-sia karena hidupmu adalah milikku," ucap Zefran lalu melangkah meninggalkan Allena yang berdiri sambil mengurut dada.


Kamu milikku Allena, kamu selamanya milikku, batin Zefran sambil melangkah cepat menuruni tangga.


Frisca tidak terima dengan pilihan Zefran yang membiarkan Allena tetap berada di rumah itu. Beralih mencoba menghasut Ny. Mahlika.


"Allena itu istrinya, adalah hak dia jika ingin Allena tetap di sini atau mengusirnya. Lagi pula Allena saat ini sedang mengandung anaknya. Aku juga tidak ingin kehilangan cucuku," ucap Mahlika.


"Mommy yakin anak yang dikandungnya itu anak Zefran? Bisa jadi anak itu anaknya Valen," ucap Frisca masih mencoba mempengaruhi ibu mertuanya. 


"Semua itu bisa dibuktikan nanti. Dia tidak akan bisa mengelak jika ternyata anak itu bukan anaknya Zefran," ucap Mahlika.


"Kenapa tidak dibuktikan sekarang Mommy? Tes DNA bisa dilakukan di saat janin masih dalam kandungan," usul Frisca.


"Dengan resiko Allena akan mengalami keguguran? Itu yang kamu inginkan? Apa itu niatmu agar dia tidak melahirkan anakku?" tanya Zefran yang telah turun dari lantai atas.


"Aku yakin anak itu bukan anakmu," ucap Frisca memastikan.


"Seperti yang dikatakan Mommy itu bisa dibuktikan nanti saat bayi itu lahir," ucap Zefran.


Laki-laki itu melangkah keluar dari rumah, mengendarai mobilnya untuk menenangkan pikirannya. Setengah hatinya yakin bayi yang dikandung Allena adalah bayinya. Setiap kali memandang kepolosan wajah gadis itu, melihat senyum yang tulus dari bibirnya dan merasakan kehangatan hatinya. Zefran tidak percaya Allena bisa melakukan perselingkuhan.


Rasanya tidak mungkin dia melakukan hingga sejauh itu, Allena bukan gadis seperti itu. Tapi bagaimana jika Valen merayunya, Allena gadis yang lugu dan mudah dibujuk, pikir Zefran berkecamuk.

__ADS_1


Teringat saat pertama kali Zefran meniduri gadis itu, Allena meronta namun akhirnya membiarkannya. Meski terlihat menolak namun Zefran selalu bisa menguasai gadis itu. 


Bagaimana jika Valen merayu dan membujuknya seperti yang dikatakan Frisca. Membuat gadis itu hamil agar bisa segera menunaikan tugasnya melahirkan bayi untuk keluarga ini dan berencana untuk pergi bersama Valen. Jika seperti itu, sama saja aku sudah ditipu. Sial … sial … jika itu terjadi kalian akan menerima pembalasan dariku. Sial! batin Zefran berteriak.


"SIAL" teriak Zefran sambil memukul kemudi mobil itu berulang kali.


Zefran memilih datang ke kantornya meskipun sama sekali tidak melakukan apa pun. Laki-laki hanya berdiam diri, melamun memandang jauh melalui balkon di ruang kerjanya. Duduk di kursi panjang itu hingga akhirnya tertidur.


Zefran terbangun lagi saat menjelang malam, laki-laki itu masuk ke dalam lift yang membawanya ke cafe Luxury, menikmati makan malamnya bersama fraternity-nya yang setia, Altop. Saat malam menjelang mereka berkumpul di Night Club untuk menikmati malam. Kali ini Zefran memilih minuman yang memabukkan.


"Kenapa dia? Tidak biasanya? Apa kamu lagi ada masalah?" tanya Ronald.


Zefran mengangguk.


"Kenapa? Apa masalahmu?" tanya Altop.


Zefran menoleh pada Valendino yang baru datang.


"Dia masalahku," ucap Zefran singkat.


Laki-laki itu telah dipengaruhi minuman beralkohol. Valendino yang baru datang membalas tatapan mata Zefran.


"Ayolah! Dari dulu setiap kali ada masalah kita akan segera menyelesaikannya. Apa kalian tidak bisa menyelesaikannya sendiri? Apa perlu kami bantu?" tanya Altop.


"Kalian mau menolongku?" tanya Zefran memandang kedua temannya itu lalu beralih menatap Valendino.


"Katakan padanya jangan ganggu istriku," ucap Zefran.


"Apa? Zefran kamu benar-benar sudah mabuk. Sebaiknya hentikan, jangan minum lagi!" seru Ronald menjauhkan minuman mahal yang memabukkan itu.


"Aku belum mabuk, aku masih sadar. Yang tidak sadar itu dia. Dia yang tidak sadar dengan posisinya, aku yang berhak atas dirinya bukan kamu!" ucap Zefran mengarah pada Valendino.


Valendino hanya diam memandang laki-laki yang tengah mabuk itu.


"Panggil Allena, suruh dia kesini" perintah Zefran.


"Untuk apa? Kenapa kamu mencari Allena? Dia itu pacarnya Valen, kalau kamu mau perempuan, aku bisa carikan yang lain," ucap Altop.


"AKU MAU ALLENA!!!" teriak Zefran.


Valendino diam memandang sahabatnya dengan tatapan sedih. Rasanya tidak rela membiarkan gadis yang dicintainya itu menderita hidup bersama laki-laki dihadapannya ini.


Valendino akan menjadikan Allena sebagai wanita satu-satunya dalam hidupnya. Namun, Allena justru menolaknya dan memilih laki-laki yang mencintai wanita lain dan rela dijadikan wanita yang kedua.


Zefran memaksa untuk memanggil Allena hingga akhirnya Altop memanggil Manager untuk mencari Allena. Tak lama kemudian Allena muncul di hadapan Zefran. Laki-laki itu tertawa, langsung memeluk tubuh Allena dan mengajaknya duduk disampingnya. Zefran membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Altop dan Ronald tercengang menatap adegan itu lalu menoleh pada Valendino.


Zefran semakin bernafsu hingga akhirnya menciumi leher Allena.


"Tuan hentikan, jangan seperti ini!" ucap Allena yang menolak bermesraan di depan orang lain.


"Kenapa? Kenapa? Kamu mau berciuman dengan Valendino di depan kami semua. Kenapa menolak berciuman denganku? KENAPA?" teriak Zefran.


"Dia sudah gila. Zefran, hentikan! Kamu tidak boleh seperti itu. Allena itu pacarnya Valen kamu tidak boleh mengganggu pacar Valen," ucap Ronald.


"KATAKAN ITU PADANYA!! Mulai sekarang jangan ganggu istriku!!" teriak Zefran sambil menatap Valendino.


"Ada apa ini Valen? Apa kamu mengganggu Frisca? Apa kamu menggoda Frisca hingga dia membalas mengganggu Allena?" tanya Ronald.


Zefran berdiri sambil menggenggam tangan Allena.


"Aku beritahu kalian semua, Allena adalah istriku dan dia sedang mengandung anakku. Katakan padanya agar jangan mengganggu istriku lagi. Jangan pernah menghasut istriku untuk meninggalkan aku lagi" ucap Zefran menunjuk pada Valendino dengan air mata yang menitik di sudut matanya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2