Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 47 ~ Saya Zeno ~


__ADS_3

Lampu indikator ruang operasi menyala, pertanda tindakan bedah sudah dimulai. Allena berlari di lorong rumah sakit. Allena yang menginap di rumah sakit menemani Zefano, tiba-tiba mendengar ponselnya yang bergetar.


Terdengar suara Valendino yang menangis bahkan tak sanggup bercerita. Allena hanya diminta datang, kaki Allena terasa lemah namun saat mendengar Zefran saat ini sedang kritis dan berada di ruang bedah hatinya ingin segera menemui suaminya.


Allena berlari kencang menuju ruang operasi. Gadis itu seperti ingin menerobos masuk namun Valendino langsung menangkapnya.


"Aku ingin melihatnya Kak, biarkan aku melihatnya," mohon Allena meronta minta dilepaskan.


Valendino memeluk Allena agar gadis itu tenang. Altop dan Ronald langsung datang menghampiri.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan di sana Allena," ucap Altop dengan raut sedih.


Laki-laki itu menatap ruangan yang berjarak sepuluh meter dari ruang tunggu itu. Pintu masih tertutup dan lampu indikator di atasnya masih menyala.


Valendino mengajak Allena duduk di kursi tunggu. Allena terlihat sangat letih, banyak pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Namun, saat tiba di hadapan sahabat Zefran gadis itu justru merasa lunglai.


Valendino menyandarkan Allena di dadanya dan menggenggam tangan gadis itu. Altop duduk di samping Allena, tak lepas memandang gadis yang terlihat syok itu. Valendino merasakan tubuh Allena yang bergetar, laki-laki itu bisa merasakan ketakutan Allena.


"Apa yang terjadi?" tanya Allena sangat pelan seperti bertanya pada dirinya sendiri.


Valendino sendiri tidak yakin gadis itu inginkan jawaban. Mendengar Zefran terluka saja dia sudah sangat syok apalagi harus mendengar detail peristiwanya. Ketiga sahabat itu sendiri masih berusaha menenangkan hati mereka yang juga masih terguncang.


Teringat kembali saat berada di dalam ruangan sempit yang membawa mereka turun dari lantai lima puluh sembilan. Zefran memohon pada Valendino untuk menjaga gadis yang dicintainya.


Zefran menatap cahaya yang semakin redup dari langit-langit lift. Tak peduli apakah ucapannya benar atau salah, dia hanya ingin menitipkan Allena pada Valendino. Semakin lama tubuhnya semakin lemah seperti mati rasa, badannya terasa dingin.


Meski sekuat tenaga Valendino menahan luka itu dengan sapu tangannya namun cairan merah itu masih merembes di sela-sela jarinya. Valendino menolak permintaan Zefran, dia ingin laki-laki itu melakukan sendiri permintaannya. Mencintai dan menjaga sendiri gadis yang dicintainya.


Namun, Zefran tak bisa mendengar penolakan Valendino. Dia tak bisa mendengar lagi ucapan apa pun kecuali hanya suara dengungan dan pandangan yang semakin gelap.


Zefran pingsan, ketiga temannya meneriakkan namanya. Begitu lift terbuka, Valendino langsung mengangkat tubuh Zefran yang telah tak sadarkan diri. Altop segera berlari menuju mobilnya dan membawanya mendekati Valendino.


Zefran di kursi belakang bersandar pada Valendino yang tak henti menahan lukanya dengan sapu tangan guna menutup sumber perdarahan agar laki-laki itu tidak kehilangan banyak darah.


Sekilas Ronald melihat ke belakang, air matanya tak berhenti mengalir, laki-laki itu mengusapnya dengan kasar. Beralih menatap Altop yang mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Kemungkinan korban luka tusuk untuk bertahan hidup sangat bergantung pada seberapa cepat korban dilarikan ke rumah sakit. Zefran tak boleh terlalu banyak kehilangan darah.


Harus dipastikan korban luka tusuk dapat tiba di rumah sakit, paling tidak dalam waktu tiga puluh menit. Sebab, kalau tidak bisa menyebabkan terjadinya kematian jaringan di anggota tubuh terkait.


Kehilangan terlalu banyak darah dapat memicu terjadinya syok perdarahan. Ini adalah kondisi darurat di mana jantung tidak mampu memasok darah ke seluruh tubuh akibat kurangnya volume darah di dalam tubuh. Mereka tak ingin itu terjadi pada Zefran.


Altop melirik spion tengah, melihat Valendino yang tertunduk menangis lalu melirik wajah Zefran yang semakin terlihat pucat.


"Bertahanlah sobat kita akan segera sampai, aku akan berusaha semampuku menyelamatkanmu," ucap Altop yang sebenarnya untuk menguatkan dirinya sendiri.


Altop mengusap air mata dengan punggung tangannya. Dia tak ingin dihalangi oleh air yang selalu muncul di pelupuk matanya. Laki-laki itu harus konsentrasi mengemudikan mobil agar secepatnya sampai di rumah sakit.


Altop menghentikan mobilnya tetap di pintu masuk Unit Gawat Darurat. Ronald langsung berlari memanggil paramedis, Valendino menggendong Zefran. Beberapa orang tenaga medis dengan brankar langsung menyambut Valendino dan meletakkan Zefran di brankar.


Berlari menuju ruang pemeriksaan. Tak butuh waktu lama dokter langsung memutuskan untuk mengambil tindakan operasi. Zefran langsung dibawa ke ruang operasi. Sambil berjalan cepat mengiringi brankar, ketiga sahabat itu tak lepas-lepas memandang wajah sahabatnya. Lagi-lagi mereka menghapus air matanya. Tubuh dan hati mereka terasa letih namun mereka terus mengikuti kemanapun paramedis membawa Zefran.


Seorang perawat mempersilahkan dokter bedah untuk memasuki ruang operasi.


"Silahkan tunggu di sini" ucap perawat menghentikan langkah Valendino, Altop dan Ronald.


Dokter masuk kedalam ruangan yang berjarak sekitar sepuluh meter di depan mereka. Diiringi beberapa petugas medis yang menjadi anggota tim bedahnya.


Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah, berdoa dan menunggu. Duduk sambil mencoba menenangkan diri. Mereka merasakan kecemasan, berbagai pikiran buruk melintas di benak mereka.


Valendino tertunduk, menangis terisak. Laki-laki itu paling merasa bersalah. Belum sempat meminta maaf atas apa yang dilakukannya pada rumah tangga Zefran. Zefran justru memintanya menjaga istri yang sangat dicintainya.


Valendino menyesal karena tidak sempat memperingatkan Zefran saat laki-laki itu membalik tubuhnya ke arah Bobby.


Bagaimana jika terlambat? Bagaimana jika Zefran tak bisa bertahan? jerit hati Valendino. 


Tak hanya Valendino yang berpikir seperti itu, kedua sahabatnya yang lain pun berpikiran sama. Valendino pun teringat untuk menghubungi Allena. 


Tak berapa lama kemudian terlihat Allena yang berlari tanpa melihat kanan kiri menuju ruang operasi. Valendino langsung berdiri menyambar tubuh gadis itu dan memeluknya. Allena meronta minta dilepaskan dia sangat ingin melihat keadaan suaminya.


Namun, itu tak mungkin dilakukannya, Allena seperti tidak bisa berpikir jernih. Menerobos masuk hanya akan menggangu tim bedah yang sekarang sedang berusaha menyelamatkan Zefran. Ucapan Altop menyadarkannya, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu dan berdoa.


Valendino menatap ruangan dengan lampu indikator yang masih menyala. Lalu menatap Allena yang bersandar lemah di dadanya. Matanya menatap lurus ke depan. Hanya diam membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Valendino menghapus air mata itu.


Allena diam seperti tak merasakan apa-apa, hatinya terasa kosong, hampa. Semua karena rasa cemasnya yang terlalu besar membuat gadis itu seperti kehilangan jiwa. Saat itu Valendino menyadari dan melihat sendiri betapa cinta Allena pada sahabatnya.


Semua berharap semoga Zefran masih bisa bertahan, berharap masih memiliki kesempatan. Altop mengajak Ronald berbicara, mereka bingung apakah harus menghubungi Ny. Mahlika dan Frisca karena bagaimana pun juga wanita itu adalah istri Zefran.

__ADS_1


Mereka berdua bimbang memutuskan sementara mereka tidak mau mengganggu Valendino dan Allena.


"Bagaimana ini, jika terjadi apa-apa kita bisa disalahkan," ucap Ronald.


"Ya sudah kita hubungi saja, aku rasa Valen dan Allena juga setuju," jawab Altop.


Mereka pun menghubungi Ny. Mahlika, namun nyonya itu masih berada di Seoul. Berjanji secepatnya kembali ke Indonesia. Ibu itu menangis meminta teman-teman Zefran untuk menjaga putranya. Sementara Frisca tidak bisa dihubungi.


Lampu indikator telah padam, pertanda tindakan di ruang bedah telah selesai. Dan pasien akan dipindahkan ke ruang transisi. Tanpa terasa lebih dari tiga jam lampu itu menyala dan selama itu pula Zefran menjalani tindakan bedah.


Tim dokter bedah keluar dari pintu ruang operasi, Altop, Ronald dan yang lainnya langsung menanyakan keadaan Zefran.


"Operasi berjalan dengan lancar, namun kondisi pasien masih belum stabil" ucap dokter.


"Sangat disayangkan pasien dengan luka tusuk atau vulnus punctum ini mengalami pendarahan yang hebat. Semua itu dikarenakan benda yang ditusukkan ke tubuh pasien yang seharusnya berfungsi sebagai penahan pendarahan sementara telah dicabut paksa oleh pelaku. Jika benda itu dicabut tanpa tindakan yang tepat, pendarahan hebat dapat terjadi karena tak ada lagi penahan darah. Hal ini menimbulkan perdarahan sehingga berisiko tinggi untuk terkena infeksi lebih lanjut" jelas dokter.


Semua yang mendengar langsung panik dan bersedih meski operasi berjalan dengan lancar namun kondisi Zefran masih mengkhawatirkan.


"Apa kami boleh menemui Kak Zefran sekarang dokter?" tanya Allena yang sejak tadi sangat ingin melihat langsung keadaan Zefran.


"Belum bisa Nyonya, karena saat ini pasien akan dipindahkan ke dalam ruangan transisi. Di sana kondisi fisik pasien akan terus dipantau. Jika tidak mengalami komplikasi apapun setelah operasi dan jika kondisi pasien terus membaik maka tim medis akan memindahkannya ke ruang perawatan. Disana Nyonya bisa menjenguk pasien" ucap dokter itu menjelaskan.


Allena menunduk kecewa, namun pasrah mengikuti ucapan dokter. Semuanya kembali merasa tegang karena sebelum tim medis memutuskan untuk memindahkan ke ruang perawatan berarti kondisi Zefran masih sangat mengkhawatirkan.


Dokter pamit meninggalkan keluarga pasien. Valendino dan yang lainnya kembali duduk menunggu. Allena terlihat lemas, tatapannya sayu. Valendino meminta gadis itu kembali ke ruangan rawat inap putranya.


"Istirahat dulu di sana nanti jika ada perkembangan kondisi Zefran akan kami hubungi lagi. Kamu terlihat lelah dan mengantuk," usul Valendino.


"Tidak, aku tidak lelah juga tidak mengantuk. Biarkan aku di sini ya Kak, aku juga tidak bisa tenang sebelum yakin keadaan Kak Zefran baik-baik saja," mohon Allena.


Valendino tersenyum sambil mengangguk, laki-laki itu juga tidak tega memaksa gadis itu untuk pergi. Namun, ucapan Valendino bukannya tidak mendasar. Wajah Allena terlihat lelah dan matanya telah sayu. Tak berapa lama kemudian gadis itu tertidur dalam keadaan duduk.


Altop merasa kasihan pada Allena, memberi kode pada Valendino agar melakukan sesuatu pada gadis itu. Valendino perlahan menyandarkan kepala Allena di dadanya. Altop merasa serba salah, membiarkan gadis itu tertidur dengan kepala terkulai, itu membuatnya merasa kasihan.


Namun, saat melihat Valendino menyandarkan gadis itu di dadanya, Altop juga merasa bersalah pada Zefran. Sahabatnya itu pasti tidak akan suka melihat pemandangan itu. Istrinya tidur bersandar pada rival cintanya.


Altop pasrah menganggap ini adalah keadaan darurat, Altop yakin Valendino melakukan itu bukan untuk mencari kesempatan tapi karena rasa sayangnya pada Allena yang tidur karena kelelahan.


Allena terbangun dan melihat Zefran berdiri dihadapannya. Laki-laki itu tersenyum, Allena langsung berlari ingin memeluk laki-laki itu.


"Jangan memilih dia, kamu akan menderita jika bersamanya," ucap Frisca yang tiba-tiba berdiri di samping Allena.


"Tinggalkan dia dan bahagialah bersamaku. Kita bisa bahagia seperti dulu, seperti sebelum gadis itu masuk ke dalam hidup kita," lanjut Frisca.


Allena sedih hatinya terasa sakit. Ucapan Frisca menunjukan kehadirannya dalam hidup Zefran hanya membuat laki-laki itu menderita. Air mata Allena mengalir perlahan, menatap laki-laki yang terlihat bingung itu.


Frisca melarang Zefran memilihnya dan Zefran terlihat bingung. Akhirnya Allena merelakan laki-laki itu memilih Frisca.


"Benar Kak, tinggalkan aku, aku hanya membuatmu menderita. Berbahagialah bersama Nyonya Frisca seperti dulu, tinggalkanlah aku," ucap Allena dengan terisak.


Zefran menunduk sedih, ucapan Allena justru membuatnya sedih. Laki-laki itu membalik badan dan pergi. Allena tercengang lalu memanggil dan mengejar Zefran tapi laki-laki itu terus saja melangkah.


Allena ingin laki-laki itu kembali pada Frisca bukan pergi begitu saja. Allena mempercepat langkahnya namun jarak mereka tetap menjauh.


"Kakak jangan pergi, Kakak jangan pergi," ucap Allena memanggil.


Mengejar Zefran yang terus melangkah semakin jauh, Allena berlari kencang hingga terjatuh. Allena tersentak langsung menatap Valendino disampingnya. Kemudian menoleh ke arah ruang operasi.


"Mereka sudah memindahkan Zefran ke ruang rawat inap" ucap Valendino.


"Apa?" tanya Allena bingung.


"Kondisi Zefran membaik, dia telah melewati masa kritis, tidak ada infeksi atau komplikasi. Zefran tinggal menjalani masa penyembuhan di ruang rawat inap," jawab Valendino.


"Apa? Kak Zefran sudah dipindahkan? Kenapa Kak Valen tidak bangunkan aku?" tanya Allena.


"Kamu terlihat sangat lelah, aku tidak tega membangunkanmu," jawab Valendino sambil tersenyum.


"Ayo, kita kesana," ucap Allena langsung berdiri dan berlari.


Langkah gadis itu terhenti kemudian menoleh ke arah Valendino.


"Ruangannya di mana?" tanya Allena lagi.


Valendino tertawa kemudian berjalan menghampiri Allena. Menggandeng tangan gadis itu dan mengantarnya ke ruang rawat inap Zefran.


Sesampai di ruang rawat inap mewah itu, Allena menatap wajah laki-laki yang dicintainya. Langsung menggenggam tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya berkali-kali.

__ADS_1


Kakak, bagaimana keadaanmu? Apa sangat sakit? Aku melihatmu pergi, aku sangat takut. Cepatlah sadar, cepatlah sembuh, aku ingin minta maaf padamu, ya..,bisik hati Allena.


Allena duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. Menatap suaminya yang masih memejamkan mata. Allena sama sekali tidak peduli apa yang menyebabkan laki-laki yang dicintainya itu terluka, yang terpenting baginya laki-laki itu selamat dan segera sembuh.


Ketiga sahabat Zefran hanya bisa menatap sedih Allena yang tak mau melepas tangan Zefran sedetikpun.


"Allena, istirahatlah di sana," ucap Valendino menunjuk ranjang untuk penunggu pasien.


Allena menggelengkan kepala.


"Kakak saja yang tidur di sana. Istirahatlah, bukannya tadi aku sudah tidur?" jawab Allena.


Gadis itu melirik jam tangannya.


"Kak, aku harus kembali ke ruangan anakku. Tolong jaga Kak Zefran untukku ya, kalau ada apa-apa tolong hubungi aku" ucap Allena setelah melirik jam yang menunjukkan waktu dini hari.


"Aku antar kamu ke sana," ucap Valendino.


"Tidak usah, kakak di sini saja istirahat, dari semalam Kakak juga belum tidur kan?" tanya Allena.


Valendino hanya tersenyum. Allena berbisik pamit pada suaminya, kemudian mengecup bibir laki-laki itu, Valendino tertunduk saat melihat Allena melakukan itu. Terlihat nyata betapa besar cinta Allena pada Zefran. 


Allena tersenyum sekilas pada Valendino, menatap Ronald dan Altop yang tidur di sofa. Kemudian keluar dari kamar itu. Berjalan pelan menuju kamar putranya.


Sesampai di ruang rawat inap Zefano, gadis itu naik ke ranjang dan memeluk putranya. Hatinya lega, Zefran telah melewati masa kritisnya. Zefano dirawat beberapa hari untuk observasi sementara Zefran untuk pemulihan lukanya.


Saat Zefran sadar, laki-laki itu langsung menatap orang-orang yang ada disekelilingnya. Namun, kecewa saat tidak melihat gadis yang dicintainya.


"Hey, kamu pasti mencari Allena kan? Dia menunggu di sini selama dua malam berturut-turut. Tak mau beranjak sekejap pun dari sisimu. Jika bukan karena tugasnya pagi ini, dia masih ada di sini sekarang," ucap Ronald.


"Benarkah?" tanya Zefran pelan tidak percaya namun hatinya berbunga-bunga.


Zefran merasa semakin merindukan Allena, apalagi di saat sendiri. Saat ketiga sahabatnya pamit untuk menunaikan tugas masing-masing. Zefran memaklumi setelah dua hari tak sadarkan diri mereka bergantian datang menemani.


Sementara itu Allena pamit pulang pada Zefano karena urusan pekerjaannya.


"Tunggu Nenek dan Tante Rahma, jangan kemana-mana ya!" ucap Allena.


"Iya, Mama yang galak," ucap Zefano sambil tertawa.


Allena langsung mencubit kedua pipi putranya, Zefano memeluk ibunya kemudian mencium kedua pipi Allena. Gadis itu berangkat pulang dan bersiap-siap untuk bekerja.


Ibunya pergi, Zefano mengintip keluar. Setelah dirasa aman, anak itu kembali berjalan-jalan mengitari rumah sakit. Menyapa para suster yang mulai mengenalnya. Anak itu bahkan menghafal nama suster-suster di rumah sakit itu. Zefano yang tampan langsung menjadi idola para suster.


"Tebak nama suster siapa, hayo?" tanya seorang suster sambil menutup name tag-nya.


"Suster Lia."


"Suster Hani."


"Suster Nofi."


Mereka tertawa saat Zefano berhasil menebak nama mereka. Zefano pun bermain dengan para suster itu.


"Kalau dokter itu, Zeno tahu siapa namanya?" tanya suster Hani.


Zefano menggelengkan kepala.


"Namanya Dokter Shinta, ingat ya! Awas kalau salah suster Hani cium Zeno sampai puas," ucap Suster Hani sambil menggelitik Zeno.


"Iya, iya, Zeno ingat, namanya Dokter cantik," ucap Zeno dan langsung berlari menjauh dari Suster Hani.


Anak itu melambaikan tangannya sambil tersenyum, menandakan dia ingin kembali ke kamarnya. Anak itu menjadi hiburan bagi para suster-suster muda di sana, setiap hari Zeno menggoda para suster itu. Kemudian kembali ke kamarnya untuk menunggu kunjungan dokter atau menunggu keluarganya.


Saat kembali ke kamar ada-ada saja yang dilakukannya. Membantu mengambilkan sapu tangan yang jatuh dan memberikannya pada pasien yang berkursi roda atau membantu mengambilkan tongkat pasien yang patah kaki.


Zefano berjalan di lorong rumah sakit sambil membaca nama-nama pasien pada papan nama yang dipasang di samping pintu ruangan. Langkah Zefano terhenti lalu melongok ke dalam melalui lobang kaca di pintu.


Zefano mendorong pintu itu perlahan dan tersenyum menyapa. Zefano ingin membantu pasien yang kesulitan menjangkau botol air mineral itu. Membantu menuangkannya di gelas lalu menyerahkannya pada pasien itu.


Pasien itu menerima gelas berisi air putih itu dan meminumnya hingga habis, Zefano membantu menaruh kembali gelas kosong itu di atas nakas.


"Terima kasih ya, kamu baik sekali, siapa namamu?"


"Nama saya Zeno," jawab Zefano tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Zefran…, Zefran Dimitrios." 

__ADS_1


Sahut Zefran sambil menyambut uluran tangan Zefano sambil mengusap rambut anak yang tampan itu.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2