Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 40 ~ Kesempatan ~


__ADS_3

Shinta duduk termenung di Cafe, matanya menatap kosong ke luar jendela kaca. Frisca mengajak bertemu untuk mengucapkan terima kasih padanya. Jika disuruh memilih Shinta tidak ingin bertemu lagi dengannya. Tapi akhirnya dia tetap datang untuk menemui wanita itu.


"Maaf aku telat," ucap Frisca sambil duduk di hadapan Shinta.


Shinta diam, Frisca sadar Shinta kesal padanya tapi dia tidak peduli itu. Yang terpenting baginya apa yang diinginkannya telah dilaksanakan Shinta.


"Terima kasih karena akhirnya kamu mau memenuhi permintaanku, aku sangat senang sekali memiliki sahabat sepertimu," ucap Frisca.


"Tidak perlu berterima kasih karena sebenarnya aku tidak ingin melakukannya dan aku menyesal melakukannya. Kamu senang memiliki sahabat sepertiku, aku menyesal memiliki sahabat sepertimu," tutur Shinta dengan sorot mata yang tajam namun berkaca-kaca.


"Apa?" tanya Frisca heran melihat sikap Shinta.


"Ungkapan, sebuah kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain, sudah aku buktikan kebenarannya. Karena kebohonganku dulu sekarang telah melahirkan kebohongan yang lain. Aku telah membalas pertolonganmu dulu padaku. Dan aku, tidak akan melakukan kebohongan apapun lagi setelah ini. Aku juga tidak ingin memiliki sahabat yang selalu menuntutku untuk berbohong," lanjut Shinta dengan air mata yang mengalir pelan.


"Kamu sungguh tidak tahu berterima kasih. Dulu kamu datang padaku dan aku memberikan solusi padamu. Sekarang kamu menyesal dan malah menyalahkanku?" tanya Frisca cepat.


"Ya aku menyesal, jika aku tidak bercerita padamu, aku mungkin akan menerima takdir dan menerima kenyataan tidak menerima beasiswa itu. Dan aku tidak akan mengikuti solusi yang menyesatkan itu," balas Shinta.


"Solusi yang menyesatkan?" ucap Frisca.


"Ya, jika aku tidak mengikuti solusi yang menyesatkan darimu, aku memang tidak akan menerima beasiswa, ayahku akan marah padaku dan aku akan menangis semalaman tapi setelah itu aku bisa tersenyum lagi padanya. Tapi karena kebohongan itu aku tidak bisa tidur nyenyak setiap kali mengingatnya. Karena kebohongan satu kali itu semua beasiswa yang aku terima terasa palsu. Selalu gemetar saat ayahku menatapku, setiap dia mengucapkan kata beasiswa jantungku serasa akan meledak. Jika aku tidak mengenalmu, kamu tidak akan membuatku menjadi pembohong seumur hidupku," papar Shinta panjang lebar.


"Apa kamu lupa? Saat itu kamu sangat berterima kasih padaku," ucap Frisca.


"Ya, saat itu aku tidak tahu jalan menuju surga itu penuh dengan duri dan jalan ke neraka itu penuh dengan bunga. Aku merasa jalan yang kupilih indah karena menyelesaikan masalahku tapi ternyata justru mengantarku ke neraka," tutur Shinta.


"Cukup, sepertinya hubungan pertemanan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Mulai sekarang aku tidak akan menghubungimu lagi," lanjut Frisca.


"Itu bagus, aku juga tidak ingin membantumu berbohong lagi," jawab Shinta.


"Baiklah, terima kasih untuk yang terakhir kalinya. Selamat tinggal mantan sahabatku Shinta," ujar Frisca sambil berdiri.


"Dr. Shinta," jawab Shinta memperbaiki panggilan untuknya.


Shinta telah menyatakan dirinya sebagai orang lain bagi Frisca. Frisca yang telah melangkah berhenti saat mendengar ucapan Shinta, menarik nafas berat lalu melanjutkan langkahnya.


Tinggallah Shinta termenung seorang diri dan merasa suatu saat nanti mungkin akan menyesali kebohongannya kali ini.


Sementara itu di toko bunga, Allena termenung memikirkan tawaran ibu-ibu yang dijumpainya di pesta pernikahan anak seorang pengusaha sukses. Berkali-kali memandang kartu nama yang diberikan padanya.


~ Aku ingin memberimu beasiswa untuk belajar Fashion Design di luar negeri ~ 


Ucapan ibu itu terngiang-ngiang di telinganya. Tawaran itu sangat menggiurkan baginya namun saat mengingat keadaannya saat ini membuat gadis itu berpikir berulang kali untuk memutuskannya.


Sambil kuliah bisa mengikuti program magang di perusahaan fashion atau majalah fashion atau bekerja pada designer ternama sambil membangun koneksi. Oh.., Alangkah bahagianya jika itu bisa terjadi tapi bagaimana dengan anakku dan juga Rahma? Mana mungkin aku bisa membawa mereka? Biaya perjalanan ke sana sangatlah mahal, untukku sendiri saja aku bahkan tidak memiliki cukup uang, batin Allena.


Allena tertunduk, menelungkup wajahnya di meja etalase. Angan-angan untuk bisa meraih kesempatan kuliah di luar negeri kembali buyar. Allena memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu.


Tiara yang melihat kegundahan Allena datang menyapanya. Allena awalnya tidak mau bercerita tapi saat Tiara mengingatkannya agar bersikap lebih terbuka akhirnya Allena menceritakan pertemuannya dengan seorang ibu bernama Ny. Marilyn.


"Oh ya ampun Allena, itu kesempatan langka. Tidak akan terjadi dua kali, kenapa kamu tidak menerima tawarannya?" tanya Tiara.


"Banyak hal yang menjadi pertimbanganku. Lagi pula aku mana tega meninggalkan Kak Tiara yang telah baik hati mau menerimaku kembali bekerja di sini," tutur Allena sambil menunduk.


"Kalau masalah itu jangan dipikirkan, bagiku menerimamu bekerja di sini memang sangat aku harapkan namun jika itu bisa memupus harapan untuk hidup lebih maju aku tidak setuju. Masa depanmu adalah yang lebih penting demi anakmu dan gadis yang menjadi tanggunganmu," jelas Tiara.


"Aku juga tidak mungkin meninggalkan anakku Kak, Rahma memang baik dia sayang pada Zefano tapi dia masih gadis, kasihan dia ditinggal sendiri, orang bisa mengira kalau dia janda beranak satu. Aku kasihan masa hidupnya akan terbuang karena mengurus anakku," jelas Allena.

__ADS_1


"Kamu ceritakan masalahmu dan keberatanmu padanya. Dia merasa keberatan atau tidak jangan kamu yang menentukan. Aku sudah bilang padamu, jangan pendam sendiri masalahmu apalagi menyimpulkan sendiri pemikiran orang. Kamu tidak bisa menyamakan apa yang ada dalam pikiranmu dengan pikiran orang lain. Kalau keputusanku sudah pasti akan selalu mendukung keberhasilanmu, aku yakin Rahma juga begitu" tutur Tiara sambil mengangguk.


Sedikit pun Allena tidak ingin menyusahkan Rahma yang telah begitu percaya dan sayang padanya. Namun  nasehat dan dukungan Tiara akhirnya membuat Allena memberanikan diri bertanya pada Rahma.


"Benarkah Nyonya? Nyonya mendapat kesempatan belajar di luar negeri?" tanya Rahma setelah Allena menceritakan tawaran Ny. Marilyn.


"Ya Rahma tapi aku ragu menerimanya," ucap Allena sambil menunduk.


"Kenapa Nyonya?" tanya Rahma pelan dan langsung kecewa.


"Aku tidak bisa meninggalkan kalian, aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri mengurus bayiku. Kamu masih gadis, belum pernah menikah. Apa yang akan dipikirkan orang tentangmu?" tanya Allena dengan wajah murung.


"Kalau itu saya tidak peduli Nyonya, dikira Zefano anak saya sendiri juga tidak apa-apa. Saya pasti bisa mengurus Zefano. Karena sejak lahir saya sudah ikut merawatnya. Saya akan menjaganya seperti anak saya sendiri, saya sayang Zefano Nyonya. Karena itu juga saya ikut dengan Nyonya," jelas Rahma.


"Tapi jika Nyonya khawatir, titipkan saja kami pada ibu Nyonya. Dengan alasan tidak bisa menitipkan Zefano pada keluarga Dimitrios karena mereka semua orang yang sibuk," usul Rahma.


Rahma tahu persis kalau Allena tidak ingin ibu Vina tahu kalau dirinya sudah berpisah dengan suaminya.


"Bisakah seperti itu?" tanya Allena ragu.


"Tidak tahu Nyonya tapi keluarga itu memang tidak bisa dititipi anak. Tuan Zefran dan Nyonya Frisca sama-sama sibuk bekerja sementara Nyonya besar sibuk dengan organisasi wanitanya. Jadi wajar jika Nyonya Allena memutuskan untuk menitipkan Zefano pada ibu Vina dan saya diutus sebagai pengasuhnya," jelas Rahma dengan semangat.


"Ya benar, keluarga itu tidak pernah ada di rumah, di siang hari rumah itu terasa sangat sepi. Itu juga yang membuat aku akhirnya meminta izin kembali bekerja. Sepertinya itu memang solusinya Rahma, terima kasih atas ide cemerlangmu," ucap Allena sambil tersenyum.


"Ya Nyonya," ucap Rahma dengan polos menerima ucapan terima kasih dari Allena.


"Tapi mulai sekarang jangan panggil aku Nyonya lagi karena aku bukan majikanmu, aku bahkan tidak bisa memberimu gaji" ucap Allena.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya bahagia meski tidak menerima gaji," jawab Rahma.


"Kakak? Apa boleh saya panggil itu? Karena saya memang ingin punya Kakak yang baik seperti Nyonya," tanya Rahma dengan matanya yang langsung berkaca-kaca.


"Tentu saja boleh, aku sudah lama menganggapmu seperti adikku sendiri," ucap Allena sambil tersenyum.


Allena memeluk Rahma, saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Dimitrios yang menjadi teman bicaranya adalah Rahma. Allena sangat berterima kasih pada gadis itu karena mau menemaninya melewati masa sulit karena diusir dari keluarga suaminya.


Wajar jika Allena merasa sayang pada Rahma seperti sayang seorang kakak terhadap adik yang tak pernah dia miliki.


Sore itu mereka datang ke rumah ibu Vina dan disambut dengan hangat oleh ibu yang hanya tinggal seorang diri itu. Allena merahasiakan keadaannya yang sebenarnya. Gadis itu ingin meraih kesuksesan lebih dulu dan dianggap mampu menghidupi keluarganya sendiri. Barulah menceritakan pada ibunya kalau dia telah keluar dari rumah keluarga suaminya.


"Mendapat beasiswa? Di luar negeri?" tanya Vina tercengang.


"Ya Bu, jika ibu izinkan Zefano tinggal di sini maka aku bisa belajar dengan tenang di negri orang. Rahma akan menjadi pengasuh Zefano, ibu hanya menemani dan mengawasinya saja. Aku tidak bisa mengandalkan keluarga Dimitrios untuk menjaga Zefano karena mereka orang-orang sibuk," jelas Allena sambil menunduk.


"Tentu saja ibu mengizinkan, Zefano adalah cucu ibu kenapa tidak boleh tinggal di sini. Dan Rahma, ibu juga senang karena sekarang punya teman di rumah. Ibu tidak kesepian lagi sendirian di rumah," jawab Vina.


Allena memeluk ibunya, dalam hati meminta maaf karena telah membohonginya. Namun, Allena berjanji akan menceritakan semuanya suatu saat nanti. Dan Allena berharap saat itu dia telah menjadi orang yang sukses.


Allena menghubungi Ny. Marilyn dan menerima tawaran beasiswa itu. Nyonya kaya itu menyambut dengan hangat keinginan Allena yang ingin hidup lebih maju.


Gadis pengantin yang ternyata adalah keponakannya sendiri itu juga merasa senang saat mengetahui Allena mau menerima tawaran itu.


"Kakak, jika kakak kembali ke Indonesia, aku akan menjadi pelanggan pertama Kakak," jerit gadis itu.


"Terima kasih atas segala bantuan dan dukungan Ny. Marilyn dan Nona Astrid," ucap Allena saat berkunjung di gedung sekolah mode milik Ny. Marilyn.


"Tak banyak orang yang ku beri kesempatan untuk mendapatkan beasiswa itu. Di sekolah ini begitu banyak anak-anak yang datang dengan bakat dan cita-cita mereka. Tapi aku justru memilihmu, itu karena aku melihat potensi yang besar ada dalam dirimu," jelas Marilyn.

__ADS_1


"Karena itu Kak, percaya dirilah dan semangatlah," ucap Astrid sambil tersenyum.


"Terima kasih Nona Astrid," jawab Allena.


"Nona apa? Dia sudah menjadi Nyonya meski tingkahnya masih seperti gadis remaja yang manja," canda Marilyn.


"Idih Tante, panggilan Nyonya untukku rasanya ketuaan," ucap Astrid.


"Salah sendiri kenapa menikah. Panggilan untuk seorang yang telah menikah ya Nyonya," jawab Marilyn yang membuat Astrid cemberut.


Allena tersenyum melihat kedekatan bibi dan keponakan itu. Mendapat dukungan dari orang-orang disekitarnya membuat Allena menjadi lebih bersemangat. Gadis itu pun mulai mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan untuk belajar di luar negeri.


"Paris?" tanya Vina.


"Ya, Bu. Nyonya Marilyn punya koneksi di sana. Sambil kuliah aku bisa bekerja di perusahaan fashion di sana, jadi mungkin aku tidak bisa pulang hingga lulus kuliah. Aku akan mengirimkan uang untuk keperluan ibu, Rahma dan Zefano. Sebenarnya aku ingin membawa Zefano tapi tidak mungkin kuliah, bekerja sambil mengasuh anak. Jika membawa Rahma juga biayanya akan sangat besar Bu, jika bukan karena bantuan Kak Tiara. Aku tidak mungkin aku bisa mengumpulkan biaya untuk keberangkatan ini Bu," jelas Allena.


"Ibu percaya padamu nak, apa pun yang menurutmu baik akan selalu ibu dukung. Hanya saja tolong jaga dirimu baik-baik di sana ya nak," nasihat Vina.


"Ya Bu, maaf aku tidak bisa membawa ibu juga, sekarang aku justru jadi merepotkan ibu," ucap Allena menangis.


"Tidak nak, ibu mengerti, kamu sama sekali tidak merepotkan ibu. Ibu senang, dengan adanya Zefano dan Rahma rumah ini menjadi terasa ramai," ucap Vina sambil memeluk putrinya.


Allena membalas pelukan ibunya dengan erat sambil menitikkan air mata. Allena tidak ingin membuat ibunya bersedih karena mengetahui rumah tangganya yang telah hancur. Allena ingin membuktikan bahwa dia mampu membesarkan anaknya sendiri.


Allena mulai mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan oleh seorang pelajar yang ingin menimba ilmu di luar negeri. Sambil menunggu dokumen-dokumen itu keluar Allena mengambil kursus Bahasa Prancis.


Sebelum berangkat Allena memberikan sebuah  ponsel bagi ibunya dan sebuah ponsel lagi untuk Rahma. Allena memohon pada gadis itu untuk menjaga ibu dan bayinya.


"Ya Kak, saya sudah menganggap ibu Vina seperti ibu saya sendiri dan Zefano seperti keponakanku sendiri," ucap Rahma terharu menerima ponsel yang dibelikan Allena.


Allena memeluk gadis yang disayanginya itu dan membelai rambutnya. Rahma benar-benar telah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.


Selain Zefano, kamu adalah hal yang terbaik yang aku dapati setelah masuk kedalam keluarga Dimitrios, terima kasih Rahma, terima kasih untuk kesetiaanmu, batin Allena.


Allena berangkat ke bandara seorang diri, gadis itu melarang ibunya mengantar dengan alasan berangkat bersama Ny. Marilyn. Nyonya kaya itu juga berangkat ke Paris mengantarkan Allena mendaftarkan diri di universitas yang ditunjuknya. Dan juga mengenalkan Allena pada pemilik perusahaan fashion yang menjadi koneksinya.


Allena kagum dengan pergaulan Ny. Marilyn di dunia fashion di Paris. Semua orang yang mengenalnya sangat menghormatinya. 


"Allena, dunia fashion itu dunia persaudaraan sekaligus dunia persaingan. Untuk bisa sukses di dunia itu, kita harus memiliki jiwa persaudaraan sekaligus jiwa persaingan yang kuat. Tidak boleh hanya memiliki rasa persaudaraan tanpa memikirkan persaingan. Karena dunia fashion penuh dengan persaingan. Sebaliknya hanya menguatkan jiwa persaingan tanpa persaudaraan kamu bisa hidup seorang di dunia fashion ini. Menurutku, kamu pasti mampu, sifatmu yang suka menolong akan membuatmu banyak memiliki saudara. Yang kurang darimu adalah rasa persaingan tapi jika kamu berbakat maka kamu tidak perlu bersaing tapi orang yang akan menganggapmu sebagai pesaing. Kamu hanya perlu berhati-hati tanpa perlu merasa takut untuk bersaing. Apa kamu mengerti?" tanya Marilyn setelah berbicara panjang lebar.


Ny. Marilyn mengajak Allena minum kopi di Cafe yang tersedia di gedung perusahaan fashion itu.


"Mengerti Nyonya, saya akan mengingat pesan Nyonya dan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya di sini," ucap Allena, tersenyum sambil mengangguk.


Ny. Marilyn pun mengangguk yakin lalu membelai rambut Allena kemudian menepuk bahu gadis itu. Ny. Marilyn kembali ke tanah air dan mereka pun berpisah menjalani kehidupan masing-masing.


Allena belajar dengan sungguh-sungguh, di sekolah mau pun di perusahaan. Belajar dengan tekun pada designer-designer ternama. Dan beruntungnya para designer itu mengenal Allena sebagai anak asuh Ny. Marilyn dan mereka pun bersikap baik pada Allena.


Allena sibuk mencatat jenis-jenis bahan yang biasa di pakai oleh seorang desainer di perusahaan itu ketika tiba-tiba seseorang memberi tahu ada seseorang yang mencarinya.


Gadis itu segera berlari ke arah cafe yang tersedia di gedung itu. Terlihat seorang pria duduk sambil menatap keluar jendela kaca. Sebuah buket bunga di taruh di atas meja.


"Kak Valen?" ucap Allena heran setelah berdiri di hadapan laki-laki itu.


Valendino tersenyum lalu berdiri sambil menyerahkan buket bunga yang sangat indah itu. Allena menerima dengan ekspresi wajah yang masih tercengang.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2