
Allena muncul dengan gaun rancangannya yang sangat indah. Berjalan dengan anggun di panggung catwalk sebagai perancang dari koleksi busana yang baru saja di peragakan. Frisca dan Zefran tercengang tak percaya.
Frisca tak percaya perancang busana yang selama ini dikaguminya adalah gadis yang dibencinya. Teman-teman Frisca yang tidak mengetahui hubungan Frisca dan designer idola mereka itu tetap saja memuji Allena.
Sementara Zefran yang tercengang dengan kesuksesan Allena begitu bahagia akhirnya bisa bertemu lagi dengan istri yang dicintainya. Namun, tiba-tiba muncul seorang top model pria yang tampan berwajah bule naik ke atas panggung.
Memberi buket bunga yang indah pada Allena lalu memeluk dan mencium kedua pipi gadis yang masih berstatus istrinya itu. Membuat darah Zefran mendidih, mengepalkan tangannya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tak tahan melihat keakraban antara istrinya dengan pria lain. Zefran akhirnya keluar dari aula besar itu dan berdiri di luar ruangan. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.
Sementara itu Frisca dan teman-temannya masih menunggu hingga acara selesai. Seperti rencana mereka di awal, mereka ingin menemui designer ternama itu secara langsung. Berkenalan dan ingin menjalin hubungan pertemanan dengan designer favorit mereka.
Allena hendak melepas semua perhiasan yang melekat di tubuhnya ketika seseorang memberitahu kalau ada pengagum setianya yang ingin bertemu. Allena keluar dari ruang rias itu dan berjalan dengan anggunnya menemui Frisca dan temen-temennya.
"Kenalkan, kami adalah pengagummu dan koleksi busanamu," ucap teman-teman Frisca sambil mengenalkan diri satu per satu.
Allena menyambut pelanggannya itu dengan ramah. Semua teman-teman Frisca tidak menyangka bisa berkenalan dengan designer ternama dunia.
"Sejak debut tiga tahun yang lalu, aku selalu mengikuti perjalanan karirmu. Liputan tentang suksesnya fashion show yang nona adakan selalu aku ikuti. Aku bahkan berhasil mendapatkan beberapa koleksi meski dengan susah payah," ujar seorang teman Frisca dengan semangat.
"Terima kasih atas apresiasinya terhadap karya saya. Tanpa para customer, seperti apa pun hebatnya karya saya tidak akan ada artinya," jawab Allena sambil melirik Frisca yang membuang muka ke arah lain.
"Aduh, kami tidak menyangka kalau designer ternama seperti anda ini ternyata sangat ramah. Saya pikir para designer ternama itu sangat sombong tapi ternyata anda justru mau menemui kami," ujar yang lain.
"Mana mungkin saya berlaku sombong, apalagi di negara saya sendiri," jawab Allena sambil melirik Frisca.
"Kami berencana ingin menambah koleksi busana dengan yang baru di peragakan tadi" ucap seorang teman Frisca.
Tiba-tiba Frisca mendekat ke arah teman-temannya yang sedang mengerumuni Allena.
"Aku tidak, aku justru ingin membakar seluruh gaun bermerek label perempuan murahan ini," ucap Frisca sambil menunjuk.
Teman-teman Frisca langsung terkejut.
"Kenapa Frisca? Kamu kenapa berkata seperti itu?" tanya seorang teman Frisca.
"Aku tidak akan mengoleksi hasil karya perempuan perusak rumah tangga orang ini," jawab Frisca.
Allena menatap Frisca yang sedang mempengaruhi teman-temannya. Seorang teman Frisca langsung menarik Frisca sedikit menjauh dan berbicara dengan suara yang pelan.
"Apa maksudmu? Jangan sembarangan menuduh?" tanya wanita itu.
"Memang benar, dia itu perebut suami orang dan tukang selingkuh. Dia adalah istri muda Zefran, suamiku. Lihat sendiri kan? Tadi saja dia berselingkuh dengan top model pria itu. Dia bahkan melahirkan anak haram dan membohongi kami" jawab Frisca justru dengan suara yang dikeraskan.
Teman-teman Frisca terperangah mendengar penjelasan Frisca yang terlihat sangat akurat.
"CUKUP!! Aku bukan perebut suami orang. Kamu sendiri yang menyuruh suamimu menikah denganku karena kamu tidak bisa memberinya keturunan. Dan anakku bukanlah anak haram, dia anak yang lahir dari pernikahan yang sah. Kamu, jangan sekali-kali berkata seperti itu tentang anakku. Atau aku akan menuntutmu dengan pasal penyebaran berita bohong dan pencemaran nama baik" ancam Allena.
"Kurang ajar!" bentak Frisca berlari menghampiri dan hendak melayangkan tangannya.
Allena menangkap tangan itu dan menahannya.
"Aku bukan gadis dulu yang mau menerima tamparan darimu. Daripada kamu menguras tenaga menamparku lebih baik kamu gunakan tenagamu untuk menjaga suamimu agar tidak datang mencariku," jawab Allena.
Gadis itu mendorong tangan Frisca hingga membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Allena mengangguk sekilas pada teman-teman Frisca lalu berbalik meninggalkan mereka yang termangu.
"KURANG AJAR!!" teriak Frisca.
"Sudah jangan dikejar lagi, nanti kita bisa diusir security karena membuat keributan. Itu memalukan!" ucap seorang teman Frisca.
"Tapi apa benar dia istri muda suamimu? Aku dengar dia memang telah menikah dan berpisah dari suaminya. Apa suami yang dimaksudnya adalah tuan Zefran?" tanya teman Frisca yang lain.
Frisca semakin kesal ditanya seperti itu. Sekarang rahasia rumah tangganya justru terbongkar. Karena kesal teman-temannya memuji perempuan yang dibencinya. Akhirnya Frisca bicara hingga membongkar sendiri rahasia rumah tangganya.
"Harusnya kamu akur dengan istri muda suamimu, dia seorang yang terkenal. Beruntung sekali tuan Zefran menikahinya, ngomong-ngomong mana tuan Zefran?" tanya seorang teman Frisca.
"Aku tidak peduli, aku mau pulang!" bentak Frisca.
Wanita itu langsung berjalan tergesa meninggalkan teman-temannya dengan hati kesal. Sementara Itu Zefran yang keluar dari aula akhirnya termenung di sebuah ruang lapang sambil menatap jauh dari kaca besar hotel berbintang lima itu.
Rasa cemburunya yang begitu kuat membuat laki-laki itu tidak sanggup menyaksikan kemesraan istrinya bersama pria lain di depan matanya. Berniat untuk pergi dari gedung itu namun akhirnya urung karena tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan istrinya lagi.
Zefran menunggu hingga acara itu selesai dan penyelenggara pun sudah mulai meninggalkan lokasi acara. Terlihat mereka yang berpamitan pada Allena.
"Allena!" sapa Zefran sambil menghampiri istri yang dirindukannya itu.
Allena menoleh dan terkejut, tidak menyangka setelah begitu lama acara selesai, Zefran masih berada di hotel itu dan menunggunya. Allena menahan gejolak di hatinya dan berusaha untuk bersikap tenang.
Zefran memeluknya, buah dari kesabarannya menunggu gadis itu. Dia berhasil menahan rasa cemburunya untuk pergi dari tempat itu hingga berhasil memeluk istri yang dicintainya.
"Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu," ucap Zefran dengan titik bening bergulir di sudut matanya.
Laki-laki itu mempererat pelukannya seolah-olah tak ingin melepaskan Allena lagi.
"Aku menderita Allena, aku menderita karena kehilanganmu. Jangan pergi lagi, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi," sambung laki-laki itu sambil terus memeluk istrinya.
Sementara itu di balik tiang besar gedung, Valendino menatap mereka dengan tatapan yang nanar. Laki-laki itu mendengar tentang peragaan busana yang digelar Allena. Diam-diam datang dan menyaksikannya.
Valendino tidak sanggup menemui Allena yang jelas-jelas telah menolak cintanya. Allena hanya inginkan Valendino sebagai seorang kakak laki-laki dan Allena tak akan mungkin bisa menerima cintanya.
__ADS_1
Hatinya yang masih belum bergerak menjauh dari Allena tidak sanggup memenuhi permintaan gadis itu. Sementara dia tidak ingin gadis itu merasa menderita karena rumah tangganya yang hancur karena dirinya.
"Ayo kita pulang sayang, kembalilah ke rumah kita. Allena, ayo kita berkumpul lagi," ungkap Zefran yang langsung menangkup wajah Allena dan ingin mencium bibirnya.
Namun Allena bergerak mundur dan mendorong Zefran.
"Kenapa harus kembali? Bukankah tuan ingin aku pergi?" tanya Allena.
Zefran tercenung mendapati penolakan Allena.
"Kenapa hari itu tuan hanya diam saja membiarkan aku pergi? Kenapa tidak mengatakan apa pun saat Nyonya Frisca mengusirku? Tuan diam hingga aku berpikir tuan juga ingin aku pergi dari rumah itu. Sekarang katakan padaku, kenapa hari itu tuan diam saja, katakan? KENAPA DIAM SAJA?" jerit Allena kesal mengingat kejadian waktu itu.
"Lalu reaksi apa yang kamu inginkan? REAKSI APA? APA YANG HARUS KULAKUKAN? Berbahagia menerima kenyataan, anak yang aku sayangi itu ternyata adalah janin dari laki-laki lain? Apa kamu bisa seperti itu? Dengan mudah berkata, Ok, baiklah ternyata bukan anakku tetaplah tinggal di sini, seperti itu?" tanya Zefran berurai air mata.
Allena terenyuh menatap wajah Zefran yang penuh air mata dengan nafas yang turun naik karena menahan kesedihannya.
"Aku dan Mommy syok melihat kenyataan itu karena kami berharap anak itu adalah keturunan kami. Kami butuh menenangkan diri karena kami sangat menyayangi Zefano. Setelah hatiku tenang, aku sadar ternyata aku butuh dirimu, aku ingin tetap bersamamu. Tak pedulikan dengan hasil tes itu, aku ingin kalian tetap bersamaku" sambung Zefran.
"Lalu kenapa tidak mencariku?" tanya Allena.
"Aku mengejarmu tapi kalian sudah tidak ada. Aku mencari ke rumah ibumu tapi sepertinya dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya. Karena kamu sendiri menutupi itu dari ibumu lalu bagaimana aku akan bertanya padanya? Kamu sendiri tidak kembali padanya? Aku mencoba mencari ke toko bunga, ke Night Club tapi tak ada satu pun yang tahu keberadaanmu," jelas Zefran.
Allena baru teringat kalau dia memang bersembunyi di kamar kost dan tenggelam dalam kesedihannya hingga berbulan-bulan. Saat menyadari uang simpanannya telah habis barulah dia berpikir untuk kembali bekerja.
"Harus bagaimana lagi? Mungkin memang takdir kita untuk berpisah," ucap Allena akhirnya.
Robert Daniel tiba-tiba muncul dan memanggil Allena.
"Allena, ayo kita makan malam," seru laki-laki itu.
Allena tertunduk dan melangkah meninggalkan Zefran.
"Jangan pergi!" pinta Zefran.
Langkah Allena terhenti, diam menunduk.
"Semua sudah berakhir Kak Zefran. Kakak sendiri yang memutuskan untuk berhenti mencariku," ucap Allena mulai melunak.
"Aku putus asa Allena," jawab Zefran.
Allena mengangguk.
"Jika tidak putus asa, Kakak pasti bisa menemukanku. Bahkan hingga ke Paris pun kak Valen masih bisa menemukanku," ucap Allena kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri Robert.
Top model tampan itu langsung tersenyum dan merangkul pinggang Allena. Mengajaknya pergi dan berjalan menuju lift.
Valendino tertunduk di balik tiang besar sambil menitikkan air mata. Menyaksikan Allena yang meninggal Zefran yang menangis.
Kamu tidak kembali pada suamimu, tidak juga menerima cintaku tapi pergi dengan laki-laki lain. Kamu benar-benar menginginkan hidup yang baru. Kamu benar-benar ingin melupakan masa lalumu. Allena, sungguhkah tidak ada harapan untuk kami? jerit hati Valendino.
Laki-laki itu pergi dengan langkah lesu. Begitu juga dengan Zefran yang hanya bisa duduk di belakang kemudi sambil terus menyesali. Ucapan Allena yang terdengar kecewa karena dirinya yang putus asa dan berhenti mencari, membuat Zefran menyesali hatinya yang tidak teguh mencari gadis itu.
~ Kenapa tidak mencariku? ~
~ Kakak sendiri yang memutuskan untuk berhenti mencariku ~
Ucapan Allena selalu terngiang di telinganya, semakin teringat semakin menyesali. Setiap kata yang diucapkan Allena kembali terulang di pikirannya hingga ucapan terakhir Allena.
~ Jika tidak putus asa, Kakak pasti bisa menemukanku. Bahkan hingga ke Paris pun kak Valen masih bisa menemukanku ~
Zefran tercenung.
Paris? Valen tahu di mana Allena berada selama ini, tapi dia tidak memberitahuku? Tega sekali dia, aku menderita dan dia hanya diam melihatku. Tega sekali kamu Valen, tega sekali, kamu benar-benar ingin memisahkan aku dengan istriku, teriak Zefran dalam hati.
Zefran melajukan mobilnya menuju Night Club, bertanya di mana Valendino pada Altop dan Ronald yang telah datang lebih dulu.
"Belum datang, memangnya ada apa?" tanya Altop.
"Aku harus bicara dengannya," ucap Zefran sambil meneguk minuman.
Emosinya memuncak saat mengetahui Valendino mengetahui keberadaan Allena tanpa memberitahunya.
"Sampai kapan hubungan kalian akan seperti ini?" tanya Altop.
"Sampai dia berhenti mengganggu istriku," jawab Zefran.
"Ingat Zefran kita ini bersaudara," sahut Ronald.
"Katakan itu padanya, saudara apa yang selalu berusaha merusak rumah tangga saudaranya sendiri?" tanya Zefran.
"Apa yang dilakukannya? Apa tuduhan itu serius? Apa benar Allena selingkuh dengannya?" tanya Altop.
"Dia mengetahui di mana Allena berada selama ini dan dengan teganya membiarkan aku mencari istriku ke sana kemari tanpa memberitahuku," jawab Zefran tanpa menjawab pertanyaan tentang perselingkuhan.
Hatinya tidak tega merusak nama baik istrinya sendiri. Zefran meracau saat mabuk dan mengatakan Allena dan Valendino berselingkuh hingga melahirkan bayi Valendino.
Namun di saat sadar Zefran tidak akan tega mengucapkan hal seperti itu.
"Aku yakin mereka tidak berselingkuh. Valen mungkin menyukai Allena tapi aku tidak yakin jika Allena berselingkuh dengannya. Hubungan mereka tidak akan sampai sejauh itu," sambung Altop.
__ADS_1
Baguslah jika kalian berpikiran seperti itu, kalian akan berpikiran lain jika tahu hasil tes DNA anakku ternyata negatif. Dengan siapa lagi Allena melakukannya jika bukan dengan Valendino, batin Zefran sambil menunduk.
Zefran mencoba menerima kenyataan itu demi bisa hidup bersama Allena namun hatinya tetap terasa pedih. Kembali Zefran meneguk minumannya. Semakin memikirkan Valendino hatinya semakin sakit.
"Sudah Zefran, jangan minum terus. Kamu itu tidak tahan mabuk. Nanti kamu meracau yang aneh-aneh lagi," ucap Ronald.
Zefran tidak peduli, semakin lama Valendino muncul semakin banyak minuman yang diteguknya. Hingga akhirnya Valendino muncul dan langsung duduk termenung.
"Perusak rumah tangga orang akhirnya datang juga," Zefran bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan Valendino.
"Katakan padaku, kalau selama ini kamu tahu di mana Allena," ucap Zefran.
Valendino mengangkat wajahnya dan memandang Zefran dengan tatapan sayu.
"Ya, aku tahu," jawab Valendino.
"LALU KENAPA? KENAPA KAMU TIDAK MEMBERITAHUKU? KAMU TAHU AKU MENCARINYA. KENAPA? KENAPA KAMU SELALU INGIN MEMISAHKAN KAMI?" tanya Zefran dengan suara yang keras.
"Karena kamu mencintainya tapi tidak mempercayainya," jawab Valendino meniru ucapan Allena.
"APA?"
"Dia bahagia menjalani hidupnya sekarang dan itu tanpa dirimu disampingnya," sambung Valendino.
"Apa? Apa hakmu menentukan dia bahagia jika aku tak ada disisinya, dasar bajingan," ucap Zefran.
Zefran langsung meraih kerah kemeja Valendino dan dan melayangkan pukulan ke wajahnya. Valendino jatuh ke lantai, darah mengucur dari sudut bibirnya yang pecah.
Valendino diam menatap Zefran, lalu kembali berdiri di hadapan laki-laki itu. Zefran melihat tatapan yang seolah-olah menantang. Zefran kembali melayangkan pukulan kearah perut Valendino.
"Kenapa kamu berusaha memisahkan kami? Kamu pikir dengan begitu bisa mendapatkan hatinya? Dia milikku, dia mencintaiku. Kamu yang selalu jadi penghalang kebahagiaan kami," teriak Zefran kembali menarik kerah kemeja Valendino dan melayangkan tinjunya.
Tidak ada sedikitpun perlawanan, Valendino menerima semua pukulan dari Zefran. Altop dan Ronald berusaha menghentikannya namun usaha mereka untuk menghentikan kemarahan Zefran tak membuahkan hasil.
Zefran menepis tangan Ronald yang mencoba menenangkannya. Laki-laki itu hingga jatuh terhempas di kursi, kuatnya tenaga Zefran membuat sahabatnya terdorong ke belakang. Altop meminta Valendino meninggalkan Night Club.
Zefran seperti tak bisa lagi menahan amarahnya. Di tambah Zefran yang dalam keadaan mabuk. Biasanya Altop dan Ronald membiarkan keduanya menyelesaikan masalah mereka dengan bertarung, menumpahkan kekesalan hingga hati mereka puas.
Namun situasi sekarang bukanlah pertarungan tapi penganiayaan karena Valendino sama sekali tidak melawan. Ronald segera membawa Valendino keluar dari Night Club dan menyuruhnya pulang.
Sementara Zefran kesal karena menganggap teman-temannya membela Valendino. Laki-laki itu tidak mau pulang bahkan meminta menambah minumannya.
Melewati tengah malam Allena terbangun karena mendengar ponselnya yang bergetar. Segera melihat nama kontak yang menghubunginya. Namun nomor itu belum tersimpan di ponselnya. Dengan ragu Allena menerima panggilan ponsel itu.
Ternyata penelpon itu adalah Altop yang meminta Allena menjemput Zefran yang telah mabuk.
"Biasanya kami yang mengantarnya pulang tapi kali ini dia menolak. Dia hanya menyebut namamu dan hanya ingin diantar pulang olehmu. Tolong Allena bantulah dia," pinta Altop memohon.
Allena menghela nafas berat, perasaannya ingin bebas dari laki-laki itu namun tidak tega melihat kesedihannya. Allena akhirnya memacu mobilnya ke Night Club di mana dia pernah bekerja dulu.
Zefran tertawa saat melihat kedatangan gadis itu dan bersedia diantar pulang olehnya. Sesampai di rumah kediaman keluarga Dimitrios. Allena meminta bantuan pelayan laki-laki untuk membantunya membawa Zefran yang mabuk kembali ke kamarnya. Allena menanyakan Frisca pada pelayan itu.
"Kami tidak tahu Nyonya, kadang Nyonya Frisca pulang ke rumah tapi lebih sering tidak pulang," jawab pelayan itu.
Allena mengangguk, pelayan itu permisi kembali ke kamarnya. Allena menatap Zefran yang terlihat begitu menderita.
"Allena jangan pergi, jangan tinggalkan aku," ucapnya masih memejamkan mata.
Allena terenyuh, menatap wajah laki-laki yang dicintainya itu. Melepas kemejanya yang beraroma alkohol, mengambil sapu tangan handuk dan membasahinya dengan air hangat. Allena membersihkan wajah dan tubuh laki-laki itu.
Kembali menatapnya lalu mengusap wajah laki-laki itu sekilas. Allena hendak beranjak dari tempat itu namun tiba-tiba tangannya tertahan.
"Jangan pergi,"
Allena menoleh, Zefran sedang memandang Allena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku bersalah padamu tapi aku mohon, berilah aku kesempatan. Maafkanlah aku Allena," ucap Zefran kemudian duduk dan memeluk Allena.
Tak lama kemudian Zefran menghempaskan gadis itu ke ranjang dan membenamkan bibirnya. Menindih tubuh gadis itu dan memegang kedua tangannya.
Allena menolak, meronta. Namun Zefran terus saja menciumnya dengan air mata yang terus mengalir. Zefran menarik menarik baju Allena membuat beberapa kancing baju gadis itu terlepas.
"Tidak kak... Jangan" jerit Allena semakin meronta.
Allena memohon namun laki-laki itu seperti tidak bisa disadarkan lagi. Allena menangis. Zefran menciumi gadis itu dengan kasar, Allena meronta namun itu justru membuat Zefran semakin beringas. Laki-laki itu menciumi seluruh leher Allena yang telah terbuka.
"Kamu milikku Allena, kamu istriku. Aku tidak rela laki-laki lain memilikimu," ucap Zefran memandangi wajah Allena yang berada dibawahnya.
Laki-laki itu berusaha melepas kemeja Allena.
"Tidak.. jangan kak.. aku mohon," ucap gadis itu
Allena belum siap menjalin hubungan kembali dengan Zefran. Namun laki-laki itu tidak peduli terus berusaha melepas kemeja Allena dengan air matanya yang menetes hingga mengenai wajah gadis itu.
Zefran merasa ini adalah kesempatannya memiliki Allena kembali namun merasa sedih karena gadis itu menolaknya. Air matanya menetes, Zefran menangis terisak.
Allena terpaku menatap kesedihan laki-laki itu. Allena berhenti meronta membiarkan Zefran melepas semua kancing kemejanya. Zefran menatap Allena yang pasrah lalu kembali menempelkan bibirnya, memeluknya erat kembali meresap manisnya bibir gadis yang juga meneteskan air mata itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1