
Allena meminta tolong pada Patrick untuk memanggilkan Rahma menghadap padanya. Tak lama kemudian gadis manis yang telah dianggap seperti adiknya sendiri itu pun muncul.
"Kakak memanggilku?" tanya Rahma muncul di ruang rias itu. Allena mengangguk.
"Wah Kakak cantik sekali," ucap Rahma.
"Sudah berapa kali kamu berkata seperti itu dari tadi, ada kaset kusut nyangkut di mulutmu," ucap Allena sambil tersenyum sipu.
Rahma tertawa. Rahma pun duduk di samping Allena.
"Salah sendiri, kenapa cantik sekali. Kalau aku cowok, aku mau berantem sama Kak Zefran untuk memperebutkan Kak Allena," ucap Rahma lalu kembali tertawa.
Allena mencubit pipi gadis yang selalu jadi penyemangat hidupnya itu. Allena duduk agak mencondong pada Rahma, berlagak bicara serius.
"Rahma bertemu dengan Kak Patrick?" tanya Allena dan dibalas anggukan oleh Rahma.
"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Patrick?" tanya Allena lagi.
"Apa? Oh, kami tidak punya hubungan apa-apa," jawab Rahma sambil tersenyum kecil.
"Rahma tidak suka dengan Kak Patrick?" tanya Allena.
Rahma menunduk, Allena menggenggam tangan Rahma. Allena ingin gadis itu bicara jujur padanya. Rahma pun akhirnya mengakui dan menceritakan rasa sukanya pada Patrick.
"Tapi Kak Patrick sepertinya tak suka padaku Kak, buktinya hubungan kami masih jalan di tempat, tak ada kelanjutan. Hanya sekedar saling mengenal dan bertegur sapa kalau bertemu. Itu juga sangat jarang bisa bertemu, di luar itu tidak terjadi apa-apa," jawab Rahma.
"Mungkin karena dia orang yang pemalu, bukan berarti dia tidak suka padamu. Rahma, mungkin harus kamu yang maju duluan," saran Allena.
"Apa? Tapi …" Rahma menunduk bingung.
"Jangan ragu-ragu, kali ini mengalah saja. Jika dia sudah jadi milikmu, aku yakin dia pasti bisa menunjukkan perasaannya padamu," ucap Allena.
"Bagaimana Kakak yakin kalau dia suka padaku?" tanya Rahma dengan wajah murung.
"Aku tahu, saat menyebut namamu dia terlihat canggung. Aku yakin pasti jantungnya berdebar-debar saat itu," ucap Allena sambil tersenyum.
Rahma tersenyum malu. Gadis manis itu percaya sepenuhnya pada ucapan Allena. Entah Allena hanya ingin memberi dukungan atau sekedar menghiburnya. Tapi baginya Allena bukanlah seorang pembohong.
"Oh ya, ini aku ingin kamu yang pegang cincin ku. Kamu adikku satu-satunya, siapa lagi yang akan jadi pendampingku ya 'kan?" tanya Allena sambil mengusap pipi Rahma.
Gadis itu terharu melihat sikap Allena. Meski telah bertahun-tahun mengenal Allena tapi tetap Rahma merasa Allena adalah orang yang paling baik dan perhatian padanya. Gadis itu tidak tahu, selama Allena tinggal di rumah Dimitrios dan menjadi istri kedua Zefran. Rahma adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi sandarannya.
Berbagi keluh kesah, menemaninya saat hidup susah, selalu membantu dan mendukung Allena. Hal itu tak pernah dilupakan oleh Allena. Rahma adalah orang yang paling berarti baginya.
Rahma menerima kotak kecil mewah berisi cincin kawin itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tolong berikan padaku saat di acara nanti ya," ucap Allena pada Rahma yang langsung dibalas dengan anggukan oleh gadis manis itu.
Allena mempersilahkan Rahma keluar dari ruangan sementara dia masih menunggu di ruang rias itu. Namun, sebelum Rahma membuka pintu, Allena kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Rahma, tolong ingatkan pada Patrick hati-hati menjaga cincinnya, jangan sampai dia kebingungan mencari-cari," ujar Allena.
Rahma kembali mengangguk lalu mengangkat tangan untuk meraih handle pintu tapi Allena kembali memanggilnya.
"Oh ya, tadi aku lupa, tolong tanyakan pada Kak Patrick. Apa cincin yang dipilih itu bagus? Apa Kak Zefran akan suka memakainya? Kak Zefran sangat mendengarkan pendapatan Kak Patrick," ucap Allena dan mengangguk mempersilahkan Rahma keluar ruangan.
Gadis itu berjalan sambil menatap kotak cincin yang terlihat sangat mewah dengan ukiran di sekelilingnya itu.
Cincin ini pasti sangat mahal, kotaknya saja mewah seperti ini, pikir Rahma sambil mencari Patrick.
Gadis itu ingin menyampaikan pesan Allena. Terlihat Patrick yang duduk seorang diri di meja bundar tamu yang terletak di balkon yang luas gedung hotel bintang lima itu. Dengan ragu-ragu Rahma menyapa, Patrick yang mengetahui kedatangan Rahma langsung berdiri dari tempat duduknya. Rahma tersenyum begitu juga dengan Patrick.
"Maaf Tuan, bukannya ingin mengganggu kesendiriannya tapi Kak Allena tadi menyampaikan pesan untuk Tuan," ucap Rahma.
"Kenapa Nona Rahma masih memanggilku Tuan? Bukannya waktu itu aku sudah bilang tidak perlu memanggilku seperti itu," ucap Patrick.
"Ya Kak, maaf tapi Kak Patrick juga masih memanggilku Nona," ucap Rahma tersenyum malu.
Begitu juga dengan Patrick yang tertunduk malu, juga menyadari kesalahannya yang masih memanggil nona pada Rahma.
"Itu tadi Kak Allena pesan, jaga baik-baik cincinnya, takutnya Kak … Patrick lupa menaruh di mana," ucap Rahma.
"Tenang saja ada di sini," ucapnya sambil menepuk dadanya.
Patrick menyimpan kotak cincin itu di saku jasnya.
"Oh ya, Kak Allena juga ingin minta pendapat Kak Patrick, apa cincinnya bagus, apa kira-kira Kak Zefran akan suka cincin itu?" tanya Rahma.
"Iya, aku juga belum lihat," ucap Rahma sambil meletakkan kotak cincin itu di atas meja.
Bersama-sama mereka membuka kotak cincin itu.
"Wah bagus sekali, ini cincin berlian 'kan?" tanya Rahma.
Tanpa sadar Patrick dan Rahma duduk merapat memperhatikan kedua kotak cincin yang telah terbuka di atas meja.
"Ya, aku rasa Zefran pasti suka, cincin ini sangat mewah," ucap Patrick.
"Kilau dan design-nya indah," ucap Rahma sambil memperhatikan cincin itu dari dekat.
Patrick memperhatikan raut wajah Rahma yang begitu ceria. Terlihat gadis itu sangat mengagumi sepasang cincin pernikahan itu.
"Kamu ingin mencobanya?" tanya Patrick yang tak tahan akhirnya menawarkan Rahma untuk mencoba.
Karena berkali-kali tangan gadis itu seperti ingin mengambil karena ingin mencoba cincin itu.
"Bolehkah?" tanya Rahma.
"Aku rasa kalau mencoba saja tidak apa-apa," jawab Patrick.
__ADS_1
Terlihat senyum senang sambil mengangguk dari gadis itu. Patrick mengambil cincin dari kotak yang menjadi tanggung jawabnya. Awalnya Patrick hanya menyodorkannya namun akhirnya meraih jemari Rahma. Merasakan sentuhan tangan Patrick, jantung Rahma berdebar-debar.
Begitu juga dengan Patrick yang menyesali keberaniannya menyentuh jemari Rahma. Berdua mereka termangu tapi Rahma segera mengatasi suasana canggung itu dengan menawarkan Patrick untuk juga mencoba cincin yang berasal dari kotak yang menjadi tanggung jawabnya.
Awalnya Patrick menolak tapi tak ingin mengecewakan gadis itu hingga akhirnya mengulurkan tangannya. Rahma juga menyelipkan cincin itu jemari Patrick. Berdua mereka mengagumi jemari mereka yang telah terselip cincin pernikahan itu.
Rahma bahkan mengabadikan momen itu dengan berfoto selfie bersama dengan Patrick dengan mengacungkan jemari mereka. Patrick merasa tidak enak hati namun tak ingin merusak kebahagiaan Rahma dengan melarangnya berbuat seperti itu.
Tanpa mereka sadari Allena dan Zefran memperhatikan tingkah mereka di balik kaca dalam gedung. Segera mereka memerintahkan seseorang untuk memanggil keduanya karena acara akan segera dimulai. Mereka pun masuk ke ballroom dan bersedia di posisi masing-masing.
Tak banyak acara dalam resepsi pernikahan itu. Zefran hanya memperkenalkan istri yang telah dinikahinya hampir delapan tahun yang lalu. Di dalam tayangan video di layar lebar juga ditampilkan acara akad nikah yang mereka lakukan secara tertutup di kediaman Dimitrios.
Semua tamu undangan mengangguk menyaksikan foto-foto dan rekaman video akad nikah mereka. Terlihat Allena dan Zefran yang saat itu masih sangat muda.
Acara pun dilanjutkan pemasangan cincin pernikahan yang baru. Patrick segera membuka kotak cincin dan menyerahkannya pada Zefran. Laki-laki itu pun langsung mengambil dan memasangkan cincin itu di jemari istrinya. Terlihat ekspresi Allena yang berubah, keningnya mengernyit namun dia diam saja.
Tiba giliran Allena menyelipkan cincin di jemari Zefran. Rahma menyerahkan kotak berisi cincin di tangannya itu pada Allena. Wanita itu pun menyelipkan cincin itu di jemari suaminya.
"TIDAK MUAT, KEKECILAN!" teriak Zefran.
"Ini malah kebesaran!" ucap Allena dengan menunjukkan cincin longgar di jarinya.
Keduanya langsung menoleh pada Patrick dan Rahma. Dengan tatapan mata yang tajam menanyakan kenapa bisa terjadi kesalahan seperti itu. Rahma kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Baru teringat, saat dirinya dan Patrick mencoba cincin itu. Mereka dipanggil hingga terburu-buru melepas dan meletakkannya di kotak yang salah. Mereka meletakkan di masing-masing kotak pegangan mereka hingga saat diserahkan Patrick, Zefran justru menyelipkan cincin untuknya pada Allena. Begitu juga sebaliknya.
"APA YANG TERJADI? KENAPA BISA TERTUKAR SEPERTI INI?" tanya Zefran dengan membentak.
Suasana jadi hening, para tamu terdiam kaget mendengar suara Zefran yang bergemuruh di ruangan itu. Semua mata tertuju pada mereka yang berada di panggung itu. Tak ada yang berani bersuara melihat kemarahan Zefran.
"Kak, sudahlah!" ucap Allena untuk meredam kemarahan suaminya.
"APANYA YANG SUDAH! KAMU TAHU AKU MELAKUKAN APA SAJA AGAR ACARA INI BERJALAN DENGAN SEMPURNA!" hardik Zefran.
Rahma menangis tertunduk. Rahma merasa sangat menyesal karena dirinyalah yang ingin mencoba cincin itu.
"Maafkan aku Zefran, ini salahku tadi kami mencoba cincin itu," ucap Patrick sambil tertunduk.
"APA KATAMU?" bentak Zefran semakin keras.
"Maafkan aku Tuan," ucap Patrick yang kembali sadar akan posisinya.
Rahma menangis, Patrick tertunduk. Gadis itu sangat menyesal karena perbuatannya yang salah tapi justru Patrick yang mengambil tanggung jawab atas kesalahannya. Allena memohon agar acara itu dilanjutkan saja.
"AKU TIDAK MAU, KAMU PASTI TAHU PERSIS SIFATKU. AKU TIDAK BISA MEMAKAI BARANG BEKAS PAKAI ORANG LAIN!" bentak Zefran masih menggema.
Semua hening, yang terdengar hanya suara kemarahan Zefran dan isak tangis Rahma. Tak ada yang berani meredam kemarahan pimpinan tertinggi di perusahaannya itu, bahkan istrinya sendiri.
Patrick diam menerima kemarahan Zefran. Laki-laki itu tahu persis sifat Zefran yang mengutamakan kesempurnaan dan dia telah lengah menjaga kepercayaan Zefran. Patrick pasrah menerima hukuman dari atasannya itu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...