
Zefran berhenti di depan mobil yang menjemputnya. Hari ini laki-laki itu diperbolehkan pulang. Namun laki-laki itu terlihat sedih, menoleh kembali ke belakang berharap bisa menatap sekilas anak kecil yang dirindukannya.
Tadi pagi Zefran berniat pamit pada Zefano namun saat sampai di kamarnya, Zefran tidak menemukan anak itu. Zefran langsung bertanya pada suster jaga.
"Sekarang Zeno sedang menjalani kemoterapi Pak, Zeno ditempatkan di ruangan steril khusus kemoterapi untuk mencegah infeksi," jawab suster itu.
"Berapa lama Zeno menjalani kemoterapi itu suster?" tanya Zefran.
"Untuk satu sesi kemoterapi bisa berlangsung selama dua sampai tiga jam Pak bahkan bisa lebih lama lagi," jawab suster.
Zefran tertunduk kecewa.
"Ada apa Zefran?" tanya Mahlika yang mengikuti anaknya sejak tadi.
"Zefran ingin pamit dengan Zeno tapi ternyata dia sedang menjalani kemoterapi," ucap Zefran dengan raut wajah sedih.
Ny. Mahlika pun langsung berwajah risau.
"Ternyata anak itu menderita kanker," ucapnya pelan.
"Zeno menderita Leukemia, Mom," sahut Zefran.
"Oh ya ampun kasihan sekali anak itu tapi kita harus segera pulang nak, Mommy sudah membayar biaya rumah sakit. Jangan khawatir kamu bisa menjenguk Zeno saat rawat jalan nanti," ucap Mahlika menghibur anaknya.
Zefran mengangguk, mereka melangkah keluar dari rumah sakit. Di teras, langkah Zefran terhenti, laki-laki itu masih berharap Zefano tiba-tiba muncul dan menyapanya. Berharap anak itu melambaikan tangan dan berjanji akan menunggunya.
Namun nihil, Ny. Mahlika yang telah berada di dalam mobil memanggil putranya untuk segera masuk ke dalam mobil. Zefran memutuskan pulang dan berjanji di dalam hati akan menjenguk Zefano saat melakukan rawat jalan nanti.
Sesampai di rumah laki-laki itu hanya diminta untuk beristirahat. Ny. Mahlika tidak mengizinkan putranya bekerja. Rasa bosan dirasakannya namun terpaksa patuh pada keinginan sang ibu demi kesembuhannya.
Andai di rumah sakit, aku masih bisa bertemu dengan mereka. Allena tidak mungkin datang ke rumah ini. Sementara Zeno, anak itu bahkan sedang menjalani kemoterapi di rumah sakit. Aku merindukan kalian, aku merindukanmu Allena, aku merindukanmu Zeno. Tapi bersabar sajalah, seminggu lagi Papa akan menjengukmu, oh rasa lama sekali. Baru sehari saja rasanya sudah terasa sepi. Mungkin karena merasa tidak mungkin bertemu mereka di rumah ini, batin Zefran sambil menatap sekeliling kamar Allena.
Zefran berjalan ke walk in closet dimana gaun-gaun yang dibelikannya untuk Allena masih berjajar rapi di rak pakaian itu. Langkah Zefran terhenti saat menatap jas hitam yang juga tergantung di antara gaun-gaun milik Allena.
Ingatannya melayang saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Karena kesal Allena jatuh di menimpanya. Zefran melepas jas itu dan melemparnya dengan kasar ke wajah gadis itu. Allena yang bekerja sebagai pelayan saat itu menangkap jas yang dilemparkan ke wajahnya.
Kamu menyimpan jas yang kulempar ke wajahmu, batin Zefran tersenyum pedih.
Laki-laki itu mengambil jas itu dan mendekapnya, memeluk jas itu sambil membayangkan wajah Allena. Tiba-tiba laki-laki itu merasakan sesuatu di saku jas. Zefran memeriksa dan mengeluarkan sebuah kotak kaca berisi boutonnieres. Saat diceritakan Patrick, Zefran bahkan tidak ingat kapan dia melempar karangan bunga kecil penghias saku jas itu.
Kamu benar-benar menyimpan bahkan mengawetkan karangan bunga ini? batin Zefran.
Laki-laki itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Baru menyadari, semua yang berasal dari dirinya menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi Allena.
Kamu juga sangat berarti bagiku Allena, kamu sangat berarti bagiku sayang, ucap Zefran di dalam hati.
Laki-laki itu menikmati kenangannya bersama Allena di ruangan itu. Di mana pertama kali bibirnya menyentuh bibir Allena. Merebahkan diri di kursi panjang itu dan tertidur di sana.
Seperti janjinya pada Zefano, seminggu kemudian laki-laki itu berkunjung ke ruangan Zefano sesaat setelah memeriksakan lukanya. Namun laki-laki itu kecewa karena mendapati Zefano telah pulang ke rumah.
"Zeno meminta pulang ke rumah Pak karena Zeno rindu rumah dan akan kembali pada sesi kemoterapi berikutnya tiga minggu lagi," jelas suster jaga.
"Berapa kali Zeno akan melakukan sesi kemoterapinya suster?" tanya Zefran.
"Ada yang tiga siklus, empat atau enam bahkan dua belas siklus, tergantung diagnosa pada pasien kanker. Jika masih stadium dini mungkin hanya tiga siklus," jelas suster jaga.
"Baiklah suster, terima kasih untuk informasinya," balas Zefran.
Zefran kecewa namun merasa lega karena tiga minggu kemudian dia masih punya harapan untuk bertemu dengan Zefano lagi.
Saat luka Zefran membaik, laki-laki itu menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pengajuan gugatan cerai. Mengajukannya dan membuat surat gugatan cerai terhadap Frisca dengan tuduhan berselingkuh.
Semua persyaratan gugatan telah selesai diajukan, laki-laki itu pun melangkah ke luar gedung pengadilan. Menarik nafas lega dan mengemudikan mobilnya ke perusahaan fashion di mana Allena bekerja.
Tersenyum saat gadis yang dicintainya itu mempersilahkannya masuk ke ruang kerjanya. Allena terkejut karena yang datang adalah laki-laki yang membuat hatinya berdebar-debar.
Zefran langsung mendekati Allena yang duduk dibalik meja kerjanya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir gadis itu. Allena memejamkan mata saat laki-laki itu menunduk untuk menyesap bibirnya dan memainkan lidahnya di rongga mulutnya. Bermain-main di sana hingga berakhir dengan tarikan lembut di bibirnya.
"Sayang, aku sudah mengajukan gugatan cerai dengan Frisca," ucap Zefran.
"Apa? Kenapa? Kakak serius melakukan itu?" tanya Allena sambil mengajak suaminya duduk di kursi tamu.
Zefran mengangguk.
"Kenapa? Kenapa Kakak tega menceraikannya?" tanya Allena.
"Dia sudah menghianatiku Allena, aku tidak bisa lagi hidup bersamanya," jawab Zefran.
"Kalau begitu Kakak akan hidup sendiri?" tanya Allena.
"Tidak, aku ingin kita bersatu lagi. Aku ingin kita bersama-sama lagi," ucap Zefran lalu mengecup bibir Allena.
Laki-laki itu begitu merindukan istrinya hingga selalu ingin bermesraan dengan Allena.
"Bukankah Kakak juga menuduhku berselingkuh? Kenapa Kakak tidak menceraikanku?" tanya Allena yang bersandar di kursi.
Zefran yang ingin kembali mengecup bibir istrinya akhirnya terdiam.
__ADS_1
"Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Valen tapi aku tidak bisa membuktikan kalau kalian berselingkuh. Berbeda dengan Frisca yang jelas-jelas terlihat rekamannya," jelas Zefran.
"Tapi Kakak mempercayai hasil tes DNA itu. Sudahlah Kak, itu sama saja. Aku tidak bisa hidup dengan suami yang memandang anakku sebagai hasil perselingkuhan. Karena tidak melihat secara langsung aku berselingkuh dengan Kak Valen, Kakak tidak menceraikanku. Kita mungkin bahagia tapi anakku akan menderita. Maaf Kak, aku tidak bisa," ucap Allena.
"Aku akan menyayanginya, aku pasti bisa menyayanginya," janji Zefran.
"Demi bisa hidup bersamaku Kakak berjanji akan menyayanginya. Tapi sayang seperti apa? Menyayangi seperti anak adopsi? Atau seperti anak tiri? Kak, aku tidak bisa. Lebih baik kita hidup terpisah seperti ini saja," ucap Allena.
"Tapi aku ingin hidup bersamamu seperti suami istri yang layaknya hidup bersama. Aku yakin kamu masih mencintaiku karena hingga kini kamu masih memakai cincin pernikahan kita. Allena, kenapa tidak mencoba bersama lagi? Kita bisa mengulang semuanya dari awal. Aku yakin, aku pasti bisa menyayangi Zefano," bujuk Zefran.
Allena terdiam menatap mata Zefran yang terlihat begitu sungguh-sungguh.
"Aku menginginkanmu, aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu," bisik Zefran sambil kembali membenamkan bibirnya di bibir istrinya.
Allena membelai tengkuk Zefran, membuat laki-laki itu semakin bernafsu.
"Kita bisa melakukannya di sini?" tanya Zefran.
"Tidak bisa, di sini sangat ramai," jawab Allena tersenyum.
"Oh, kalau begitu ayo kita pulang," ajak Zefran.
"Aku sedang bekerja, ini bukan perusahaanku. Mana boleh aku pulang seenaknya," ucap Allena sambil tertawa.
Zefran menatap istrinya yang tertawa hingga membuatnya terlihat begitu cantik.
"Kalau begitu aku tunggu di rumah," ucap Zefran sambil mengecup bibir istrinya kemudian berdiri.
"Aku akan kembali jika aku sudah siap," jawab Allena.
"Kalau begitu aku akan menunggumu," ucap Zefran lalu mengecup kening istrinya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Semakin hari luka Zefran semakin membaik. Laki-laki itu mulai menjalani sidang perceraiannya. Menjalani mediasi hingga membacakan surat permohonan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan memberikan bukti dan saksi sampai pembacaan kesimpulan. Pengadilan akhirnya memutuskan menerima permohonan perceraian dari Zefran dan laki-laki itu pun resmi menceraikan istri pertamanya, Frisca.
Selama proses perceraian, Zefran selalu menyempatkan diri menemui Allena dan menceritakan perkembangan proses perceraiannya hingga akhirnya berhasil resmi bercerai. Allena yang tidak suka dengan keputusan Zefran akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa kamu terlihat tidak senang?" tanya Zefran.
"Aku merasa menjadi wanita perebut suami orang, padahal aku tidak ingin merebutmu darinya," jawab Allena dengan wajah sedih.
"Kamu tidak merebutku tapi dia yang melepasku dengan perbuatannya. Jika dia setia padaku, kami tidak akan berpisah, percayalah kamu tidak merebutku darinya," ucap Zefran menghibur Allena.
Zefran tersenyum, Allena membelai wajah tampan itu. Hatinya semakin ingin kembali pada laki-laki itu hanya saja terkendala oleh penyakit yang saat ini diderita Zefano hingga membuat hatinya menjadi risau. Sampai saat ini Allena masih belum menceritakan perihal penyakit anaknya pada laki-laki itu.
Setelah menemui Allena, Zefran menjenguk Zefano yang sedang istirahat setelah menjalani sesi kemoterapi yang kedua. Terlihat anak itu sedang dikunjungi seorang dokter wanita. Zefran menunggu sambil mendengar percakapan mereka.
"Rasanya capek, perut Zeno mual. Zeno jadi merasa sakit dan kepanasan," curhat Zefano dengan suara yang lemah dan pelan.
"Itu karena saat ini di dalam tubuh Zeno sedang terjadi perang antara sel baik melawan sel jahat. Zeno harus bertahan ya sayang hingga semua sel jahat kalah dan mati. Zeno janji ya sama Dokter Shinta kalau Zeno akan kuat bertahan!" ucap Shita dengan air mata yang meleleh.
"Ya, Dokter Shinta," jawab Zeno pelan.
Dokter Shinta memalingkan wajah dan menghapus air matanya. Suara Zeno yang pelan berbeda dengan suara saat mereka bertemu sebelumnya. Terdengar riang dan suka bercanda.
"Oh ya, apa Zeno tahu? Akhirnya Dokter Shinta cerita pada Daddy tentang kebohongan itu. Apa Zeno tahu seperti apa wajah Daddy? Wajahnya berubah merah, matanya mengeluarkan panas hingga bisa menembakkan sinar laser ke arah Dokter Shinta tapi Dokter Shinta menangkis dengan menggunakan kekuatan pelindung. Dokter Shinta membalas serangan dengan bertubi-tubi hingga akhirnya Dokter Shinta menang.., tapi itu bohong," ucap Dokter Shinta merengut.
Zefano tertawa mendengar cerita Dokter Shinta.
"Itu bukan bohong tapi bercanda," ucap Zefano membetulkan dengan bibir yang tersenyum dan mata yang sayu.
"Ya, itu cuma bercanda. Yang sebenarnya Dokter Shinta menangis sesenggukan di hadapan Daddy. Daddy bahkan tidak mau bicara dengan Dokter Shinta," cerita Shinta.
"Lalu?" tanya Zefano penasaran.
"Setelah hampir seminggu mengabaikan Dokter Shinta, akhirnya Daddy memaafkan Dokter Shinta dan melarang Dokter Shinta berbohong lagi. Dokter Shinta sangat bahagia dan langsung ingat sama Zeno. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, dari dulu Dokter Shinta akan mengaku. Terima kasih Zeno sayang, berkat Zeno akhirnya Dokter Shinta terbebas dari rasa bersalah dan rasa tertekan," ucap Shinta dengan air mata yang mengalir deras kemudian mencium pipi Zefano begitu lama.
"Ini tidak bohong atau bercanda?" tanya Zefano.
"Tidak, ini yang sebenarnya," ucap Shinta sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Pagi ini saat sarapan, Daddy tiba-tiba berkata, tebuslah dosamu dengan menjadi seorang Dokter yang baik, yang bertanggung jawab dan jujur. Itu kata Daddy, Dokter Shinta langsung bahagia mendengarnya, itu artinya Daddy sudah tidak marah lagi," ucap Shinta tersenyum dengan air mata yang masih menggenang.
Zefano tersenyum.
"Dokter Shinta sudah mengikuti nasehat Dokter Zeno. Sekarang giliran Dokter Zeno yang mengikuti nasehat Dokter Shinta. Dokter Zeno harus kuat, jangan sedih dan putus asa. Dokter Zeno pasti bisa melawan sakit ini dan menang. Setelah ini kita akan sama-sama berhasil, Ok!" ucap Shinta yang di balas dengan anggukan kuat oleh Zefano.
Dokter itu memberi semangat pada Zeno dan berjanji akan sering mengunjungi. Setelah puas berbincang, Dokter Shinta pamit kembali bekerja, saat berpapasan dengan Zefran. Dokter itu mengenali laki-laki yang ingin memasuki ruangan rawat inap Zefano itu.
"Anda Zefran bukan? Suaminya Frisca?" tanya Shinta menghentikan langkah Zefran.
"Benar? Dulu? Apa Dokter mengenal saya?" tanya Zefran.
"Saya hadir di pernikahan Frisca, dia adalah sahabat saya, dulu," ucap Shinta.
Membuat Zefran tersenyum.
"Dulu?" tanya laki-laki itu heran.
__ADS_1
Dokter Shinta juga tersenyum.
"Ya, sekarang saya memilih untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Bagaimana dengan anda? Apa maksudnya suami Frisca dulu?" tanya Shinta heran.
"Artinya sekarang sudah tidak lagi," jawab Zefran.
"Apa kalian bercerai?" tanya Shinta yang dibalas anggukan oleh Zefran.
Setelah membuatku berbohong akhirnya bercerai juga, batin Shinta menyesal.
"Anda ingin mengunjungi siapa?" tanya Shinta kemudian.
"Seorang teman, kami berkenalan saat sama-sama di rawat di rumah sakit ini. Zeno, dia anak yang dokter temui tadi," jelas Zefran.
"Anda berteman dengan Zeno?" tanya Shinta sambil tertawa.
"Ya,"
"Kita orang dewasa yang sama-sama suka berteman dengan anak itu," ucap Shinta.
"Ya, Zeno anak yang baik, dia menyenangkan dan enak diajak bicara. Kami bertemu beberapa kali tiba-tiba kami menjadi sangat akrab, entahlah mungkin hanya perasaanku saja. Aku merasa dekat dan sayang padanya. Mungkin dia sendiri tidak berpikir seperti itu," ucap Zefran tersipu.
"Tidak, aku rasa dia juga berpikiran sama, dia juga pasti sayang sama anda karena saya juga merasakan hal yang sama seperti anda. Oh ya saya Dokter Shinta, senang berkenalan dengan anda, silahkan menemui Zeno saya harus melanjutkan tugas saya," ucap Shinta.
Zefran menyambut uluran tangan Dokter Shinta, mereka berkenalan. Kemudian berpisah melanjutkan aktivitas masing-masing. Dokter Shinta kembali ke laboratorium dan Zefran menemui Zefano.
Sama seperti Dokter Shinta, Zefran ikut menitikkan air mata saat menjumpai anak itu. Namun Zefran berusaha tegar dan menghibur Zefano.
"Papa akan kembali berkumpul dengan anak dan istri Papa?" tanya Zefano.
"Ya, nanti Papa bawa mereka menemui Zeno ya!" ucap Zefran.
Zefano merasa senang, tadinya anak itu merasa sedih karena mengira Zefran mungkin akan melupakannya. Namun setelah mendengar ucapan Zefran, Zefano merasa dia justru akan mendapatkan lebih banyak teman.
Zefano menjalani tiga siklus kemoterapi, semakin lama Zeno semakin merasa takut. Saat menjalani kemoterapi, anak itu merasakan efek samping dari kemoterapi itu.
Kelelahan, mual muntah dan penurunan nafsu makan. Membuat anak itu putus asa saat mengetahui akan ada sesi kemoterapi selanjutnya. Karena itu Allena memilih bekerja di rumah demi menemani putranya.
"Sayang, Mama ingin meminta pendapatmu. Jika setelah kemo ini berakhir, kita pindah ke rumah Papa, apa Zeno setuju?" tanya Allena menghibur anaknya karena stress dengan jadwal kemoterapi selanjutnya.
"Ke rumah Papa? Benarkah Ma? Zeno akan bertemu Papa?" tanya Zefano begitu semangat.
"Ya, kalau Zeno janji mau di kemo hingga selesai," tanya Allena yang memutuskan untuk kembali berkumpul bersama Zefran.
"Mau Ma, Zeno mau. Besok kita kemo ya Ma," ucap Zefano langsung.
Allena menitikkan air mata, melihat Zefano yang begitu ingin bertemu dengan Papanya. Melihat itu keputusan Allena semakin bulat untuk kembali ke pelukan suaminya.
Anakku saat ingin bertemu denganmu Kak, demi tinggal bersamamu dia menghilangkan rasa takutnya menjalani kemoterapi. Aku mohon Kak, jangan sia-siakan anakku, jerit hati Allena menangis.
Dua hari kemudian Zefano menjalani siklus terakhir kemoterapinya. Setelah menjalani kemoterapi itu Zefano tertidur, saat itulah Allena mampir ke kantornya. Namun kali ini, Allena merasa ada sesuatu yang aneh dengan tatapan orang-orang terhadapnya.
Gadis itu akhirnya bertanya pada assistant-nya.
"Kak Allena tidak tahu, berita yang berkembang sekarang ini?" tanya assistant-nya.
Allena menggelengkan kepalanya.
"Aku sibuk di rumah, mengurus kerjaan dan mengurus anak yang sakit," jawab Allena.
Assistant itu akhirnya menyalakan laptop dan menunjukkan berita-berita padanya. Allena terkejut, dadanya terasa sesak hingga meneteskan air mata.
Tak lama kemudian gadis itu tiba di kantor Zefran. Allena memaksa masuk ke dalam ruangan meeting yang dihadiri dewan direksi, manager dan kepala divisi.
Zefran terkejut melihat gadis yang dicintainya itu datang dengan ekspresi marah bercampur sedih. Air matanya mengalir sambil terus menatap ke arahnya.
"Ada apa Allena?" tanya Zefran tanpa nada marah sedikit pun.
Berdiri di ujung meja besar yang panjang itu dan ingin segera melangkah menemui Allena.
"AKU TIDAK SEPERTI ITU, AKU TIDAK MELAKUKAN ITU, AKU TIDAK INGIN LAGI BERSAMAMU," teriak Allena sambil meletakkan lembaran kertas di atas meja.
"AKU INGIN KITA BERCERAI!!" teriak Allena sambil melepas cincin pernikahannya dan melemparnya sembarangan di atas meja.
Kemudian pergi meninggalkan ruangan itu meninggalkan Zefran yang masih termangu. Patrick langsung mengambil lembaran kertas yang berisi berita-berita yang sedang berkembang di dunia Maya itu.
Hanya dengan membaca judul-judulnya saja Zefran sudah sangat terkejut.
~ Designer Terkenal Allen-Rose Pulang ke Tanah Air untuk Menuntut Pengakuan terhadap Putranya ~
~ Allen-Rose Memaksa Pewaris Tunggal Keluarga Dimitrios Mengakui Putranya sebagai Anak Biologisnya ~
~ Hasil Tes DNA Negatif, Allen-Rose tetap Menganggap Putranya adalah Keturunan Dimitrios ~
Hanya judul-judul itu yang sanggup dibaca Zefran, itu saja sudah membuatnya sangat terkejut. Segera laki-laki itu mengejar Allena. Zefran tidak ingin rencananya untuk bersatu kembali dengan gadis itu akhirnya gagal karena berita yang dia sendiri tidak tahu berasal dari mana.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1