
Keluarga Dimitrios sedang menikmati istirahat setelah makan siang bersama di beranda belakang rumah ketika tiba-tiba seorang pelayan memberi tahu kalau datang sebuah parcel untuk Zefran dan Allena.
"Dari siapa sayang?" tanya Zefran melihat parcel besar diantar seorang pelayan.
Allena segera mengambil kartu nama yang terselip di antara makanan-makanan ringan itu.
"Dari … Oh. Zacko dan Cindy Kak," jawab Allena.
"Oh ya? Dalam rangka apa mereka mengirim parcel?" tanya Zefran heran karena tak ada hari khusus atau hari raya saat ini.
"Entahlah Kak, ucapannya semoga Zefano suka, rupanya mereka ingin berbagi makanan dengan Zeno Kak," ucap Allena sambil tersenyum.
"Asyik untuk Zeno ya Ma?" tanya Zefano.
"Untuk Papa dan Mama, kalau Papa dan Mama mau bagi-bagi sama Zeno baru buat Zeno," ucap Zefran menggoda putranya.
"Aaah, Papa, masa suka makanan untuk anak kecil sih?" tanya Zefano.
"Suka dong, enak-enak begini," jawab Zefran.
"Kalau gitu ya sudah, ambil semua buat Zeno tapi jangan ikutan makan burger sama kami ya?" tanya Zefran lagi.
Zefran langsung diserbu Zefano karena terus menggodanya. Zefano menubruk tubuh Zefran dan langsung menggelitik ayahnya itu. Allena tertawa melihat Zefran yang tak bosan-bosannya menggoda putranya itu.
"Oh ya, Mommy kenal dengan Cindy? Katanya dia meminta rekomendasi dari Mommy untuk bisa bekerja di perusahaan Mommy?" tanya Allena.
Ny. Mahlika berpikir sekilas, lalu mengangguk.
"Ya benar, dia menantu salah seorang kenalan Mommy di komplek ini. Agak aneh, padahal waktu dikenalkan dia masih bekerja, eh … tahu-tahu minta pekerjaan sama Mommy," jelas Mahlika.
"Ya Mom, dia memang tadinya disuruh berhenti bekerja oleh suaminya. Tapi setelah berpisah dia ingin bekerja lagi," jelas Allena.
"Kamu kenal dengannya?" tanya Mahlika.
"Ya Mom, aku kenal dia dan keluarganya. Putrinya bahkan sangat suka bermain dengan Zeno. Sekarang bahkan mengirimkan makanan untuk Zeno," jelas Allena.
"Mommy khawatir dengan Zeno ini," ucap Mahlika.
Sementara Zefran dan Zefano telah kejar-kejaran di taman belakang. Ny. Mahlika memandang putra dan cucunya dengan senyum bahagia.
"Khawatir kenapa Mom?" tanya Allena.
"Jadi apa dia saat dewasa nanti, setiap kenalan dengan gadis kecil, semua selalu menyukainya. Mommy takut dia jadi playboy," ucap Mahlika.
Allena tertawa mendengar kekhawatiran ibu mertuanya itu. Allena tadinya merasa khawatir akan penyakit yang pernah hinggap di tubuh Zefano. Tapi berkat ketelatenan mereka memeriksakan kesehatan Zefano, penyakit itu tak pernah terdeteksi lagi.
Allena sangat bersyukur karena tak ada lagi tanda-tanda sel-sel kanker tumbuh di tubuhnya.
"Terlalu jauh Mommy pikirkan itu Mom," ucap Allena.
"Jangan salah Allena, Zefran dari dulu banyak yang menyukainya, sama seperti Zeno sekarang. Semua teman-teman Mommy membooking Zefran untuk jadi pendamping putri-putri mereka tapi Mommy sudah terlanjur janji dengan ibumu, Mommy tak bisa abaikan itu begitu saja," jelas Mahlika.
"Oh, kalau seandainya Kak Zefran belum di jodohkan denganku. Mommy lebih suka Kak Zefran dengan putri dari teman Mommy yang mana?" tanya Allena.
"Kamu jangan coba-coba pancing Mommy ya," ucap Mahlika sambil tersenyum.
__ADS_1
"Bukannya memancing Mommy tapi seperti Zeno saat ini. Entah suatu saat akan ditakdirkan bersama siapa, entah siapa yang akan dipilihnya nanti, tapi … hatiku lebih senang kalau dia bersama Keisya. Ada kecondongan hati begitu Mommy, tapi kalau bagi kami semuanya terserah Zeno saja. Meski Kak Shinta juga ingin Zeno untuk putrinya," jelas Allena.
"Oh, istrinya Valen itu 'kan? Sebenarnya ada juga yang Mommy suka saat Zefran diminta dulu. Anaknya juga cantik, tapi Zefran beda dengan Zeno. Zefran dari dulu sudah Mommy wanti-wanti agar tidak peduli dengan gadis-gadis. Tapi keluarga teman Mommy itu sangat menyukai Zefran bahkan memaksa menyerahkan sebuah cincin untuk pertunangan mereka. Mommy suka padanya tapi Mommy terpaksa menolaknya karena telah berjanji dengan ibumu. Sampai sekarang cincin itu masih ada, entah bagaimana cara mengembalikannya," jelas Mahlika panjang lebar.
"Mommy menyimpan banyak cincin tunangan untuk Kak Zefran?" tanya Allena.
"Tapi beda sayang, kalau dengan ibumu, Mommy yang menyerahkan cincin untuk mengikatmu tapi kalau itu justru dia yang maksa Mommy menyimpan cincin itu," jelas Mahlika.
"Tapi hati Mommy condong pada gadis dari keluarga itu?" tanya Allena.
Mommy mungkin menyesal karena telah terlanjur berjanji pada Ibu. Jika saat itu Kak Frisca mau melahirkan anak untuk keluarga ini, aku juga pasti sama seperti gadis dari keluarga itu, dilupakan begitu saja, batin Allena.
Allena menghela napas berat lalu beralih pada Zefran dan Zefano. Terlihat Zefran yang mengangkat tubuh Zefano untuk mengambil buah mangga yang terlihat sudah matang. Karena tak cukup tinggi Zefran bahkan melempar Zefano beberapa kali. Namun anak itu tak sempat meraih buah itu.
Zefran terlihat lelah melempar lalu menangkap lagi tubuh Zefano. Tapi anak itu seperti masih ingin dilempar lagi. Anak itu mengacungkan jari telunjuknya di wajahnya meminta agar ayahnya melemparnya satu kali lagi. Zefran pun memenuhi permintaan Zefano.
Zefran melempar tubuh Zefano dan anak itu berhasil meraih buah itu hingga berhasil mengambilnya. Allena tertawa melihat kelicikan Zefano, karena ingin selalu di lempar, anak itu pura-pura tak bisa meraih buah mangganya. Begitu Zefran menyerah, anak itu langsung bisa meraih buah itu.
Zefran langsung sadar telah dimanfaatkan oleh Zefano untuk bermain. Laki-laki itu langsung menggelitik anak itu hingga Zefano tertawa meminta ampun. Allena tertawa melihat kedekatan ayah dan anak itu.
Aku tidak peduli, siapa pun yang menyukai Kak Zefran. Gadis mana pun yang Mommy sukai. Keluarga mana pun yang menginginkan Kak Zefran atau gadis mana saja yang masih menunggu janji untuk mengikat Kak Zefran. Kenyataannya sekarang, Kak Zefran adalah milikku, milik anak-anak ku, batin Allena sambil menatap putranya lalu beralih pada putrinya yang sedang disuapi makan oleh Santi.
"Santi kalau mau, kamu boleh ambil makanan di parcel itu," jelas Allena pada Santi.
"Ya Nyonya terima kasih, nanti saja bareng-bareng Zeno," jelas Santi.
Allena mengangguk lalu kembali menatap ke arah Zefran dan Zefano. Kedua laki-laki tampan beda generasi itu datang menghampiri mereka yang duduk di beranda. Zefano langsung membanggakan hasil panennya.
"Cuma dapat satu sudah girang? Oma bisa dapat lebih banyak lagi," jawab Mahlika.
Ny. Mahlika memang selalu menugaskan Pak Tarjo untuk memanen buah-buahan di taman belakang itu karena Pak Tarjo memang tukang kebun mereka. Ny. Mahlika gemas dan langsung mencubit pipi cucunya itu.
Sementara Ny. Mahlika asyik mencubit pipi cucunya, Zefran menghampiri Allena dan langsung mendaratkan kecupan di bibir wanita cantik itu. Santi yang tadi menoleh pada Allena dan Zefran langsung beralih memandang Zifara.
"Ayo Ma dikupas mangganya," pinta Zefano.
Allena langsung mengambil pisau untuk mengupas mangga beserta piring dan garpunya. Allena mulai mengupas dan membagikannya.
"Ini untuk Oma," ucap Allena yang langsung diraih Zefano dan diserahkan pada neneknya.
"Ini untuk Papa," ucap Allena lagi.
Zefano kembali menyerahkan pada ayahnya yang duduk di samping Allena.
"Ini untuk Mama," ucap Allena.
"Haa, kasih ke Mama lagi," ucap Zefano menyuapi ibunya.
"Ini untuk Kak Santi," ujar Allena yang langsung diserahkan oleh Zefano.
Begitu berbalik, Zefano menunggu untuk giliran untuknya. Tapi Allena sudah tidak membagikan lagi, mangga, piring atau garpu pun sudah tak ada.
"Untuk Zeno mana?" tanya Zefano keheranan.
"Aduh maaf ya, sudah habis sayang. Habisnya Zeno cuma ambil satu, jadi nggak cukup. Kasihan ya jadi yang paling kecil nggak dapat bagian," jawab Allena sambil membuka telapak tangannya yang tak memegang potongan-potongan mangga lagi.
__ADS_1
Zefano menoleh ke semuanya dengan raut sedih.
"Ini buat Zeno aja," ucap Santi.
Allena menggelengkan kepala sambil tersenyum pada Santi. Sementara Zefran, Ny. Mahlika dan Allena tertawa melihat kesedihan Zefano.
"Kasihan ya? Udah capek-capek ambil mangga, capek-capek bagiin malah nggak kebagian." Goda Allena.
Zefano menunduk dengan bibir bawahnya yang mulai maju. Santi tulus ingin memberikan bagiannya pada Zefano tapi Allena tetap menggelengkan kepalanya melarang Santi memberinya. Melihat Zefano yang sedih hingga mulai berkaca-kaca Allena tertawa dan langsung memberikan piring berisi potongan mangga jatahnya.
"Ini buat Zeno sayang," ucap Allena.
Zefano senang tapi melihat kalau itu adalah piring buah ibunya, Zefano ragu menerima.
"Buat Mama mana?" tanya Zefano.
"Seorang ibu pasti akan memberikan segalanya buat anaknya. Jadi Mama memberikan semuanya buat Zeno," ucap Allena agar anak itu mau menerima.
Tapi Zefano menggelengkan kepalanya. "Tak apa-apa sayang karena seorang ibu sudah bahagia diberi anak-anak. Mama sudah bahagia diberi Zeno dan Zara. Nggak masalah Mama nggak dapat mangga," ucap Allena lagi.
"Jangan khawatir sayang, Papa bisa berbagi sama Mama," ucap Zefran langsung menyuapi Allena.
Melihat itu Zefano tersenyum, akhirnya meraih piring berisi potongan mangga itu.
"Nanti Zeno mau ambil buah yang banyak biar semua dapat kebagian," ucapnya sambil duduk di samping ibunya.
Allena merangkul sambil mengecup puncak rambut putranya.
"Tapi Papa nggak mau bantu Zeno lagi, capek. Ngambil satu saja susah," ucap Zefran sambil tertawa.
"Nggak! Nanti Zeno langsung ambil kalau tadi biar Papa gendong Zeno terus," ucapnya sambil tersenyum menggoda ayahnya.
"Memangnya Papa nggak tahu akal bulus mu, kamu ingin main-main sama Papa 'kan," jawab Zefran lalu kembali menyuapi istrinya sisa potongan mangga.
Santi tersenyum menatap kebahagiaan satu keluarga itu. Zefran pun beralih membuka parsel di atas meja. Langsung membagikan makanan-makanan ringan itu pada semua orang termasuk Santi dan Zifara yang juga diserahkan pada Santi. Namun tak menyisakan untuk Zefano.
Anak itu pun kembali protes.
"Masa Zara masih bayi makan itu?" tanya Zefano.
"Itu biskuit, Zara sudah bisa memakannya. Lagi pula bagus biar giginya cepat tumbuh," jawab Zefran.
"Terus buat Zeno mana?" tanya anak itu lagi.
Ny. Mahlika, Allena dan Santi kembali tertawa. Bahkan terbahak-bahak karena melihat nasib Zefano yang dibuat seperti kejadian tadi. Namun sebelum anak itu bersedih, Zefran dan Allena langsung menyerahkan semua miliknya pada Zefano.
"Ini punya Oma juga," ucap Mahlika.
Semua tertawa, karena pada dasarnya tak begitu menginginkan makanan ringan itu. Santi juga ingin mengembalikannya.
"Nggak apa-apa Santi, katanya mau cicip bareng Zeno," ucap Allena sambil tersenyum.
Santi urung mengembalikan dan menikmati pie dalam kemasan itu. Allena bersandar di dada suaminya sambil menikmati biskuit sebungkus berdua. Sementara Ny. Mahlika hanya ingin mencicipi makanan ringan pilihan Zefano.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1