Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 52 ~ Curhat ~


__ADS_3

Saat Allena dan Valendino makan siang bersama Zefano mengunjungi Zefran, setelah puas berbincang dengan laki-laki itu Zefano kembali ke kamarnya melewati jalan kecil di taman rumah sakit. Anak itu tersenyum dan akhirnya memilih duduk di sebuah bangku taman. Melirik sambil tersenyum-senyum pada seorang dokter cantik yang sedang melamun.


"Apa kencan buta nya gagal lagi?" tanya Zefano.


Dokter Shinta yang kaget langsung menoleh. Gadis itu langsung tersenyum saat mengetahui yang menyapanya adalah Zefano.


"Bukan kencan buta tapi hal yang lain lagi," ucap Dokter Shinta sambil menggeser posisi duduknya lebih mendekat pada Zefano.


"Hal yang lain? Apa itu?" tanya Zefano.


"Ini tentang kesalahan yang telah Dokter buat belasan tahun yang lalu. Saat itu Dokter melakukan sebuah kesalahan karena panik dan takut mengecewakan orang tua," jelas Shinta sambil menunduk.


"Berbuat salah demi orang tua yang di sayang?" tanya Zefano.


Dokter Shinta mengangguk.


"Dokter Shinta melakukan pemalsuan transkrip nilai demi mendapatkan beasiswa saat kuliah dulu. Karena biasanya mendapatkan beasiswa, Dokter Shinta jadi takut menghadapi orang tua. Takut mereka kecewa dan takut marah karena indeks prestasi yang turun. Seorang teman mengusulkan untuk membuat transkrip nilai palsu hingga akhirnya Dokter Shinta bisa tetap mendapatkan beasiswa itu," ucap Shinta dengan air mata yang mulai meleleh.


"Haaah.., jadi Dokter cantik berbohong?" tanya Zefano kaget.


"Maaf ya Zeno, karena ternyata Dokter Shinta seorang pembohong," ucap Shinta menyesal.


Zefano diam menatap Dokter Shinta.


"Tapi Dokter Shinta sangat menyesal karena sejak itu Dokter Shinta merasa beasiswa dan segala kebanggaan itu adalah palsu, semua hanya sebuah kebohongan," ucap Shinta.


Zefano tetap diam. Dokter Shinta menarik nafas sekejap lalu mulai bercerita kembali pada Zefano.


"Daddy dulu bekerja di kedutaan mengikuti jejak Grandpa yang juga seorang duta besar. Saat berdinas di San Fransisco, Dokter Shinta mengambil kuliah kedokteran di Stanford University. Kedutaan memberikan beasiswa bagi anak bangsa yang menggali ilmu di negeri orang. Dokter Shinta termasuk yang mendapatkannya dan bisa menyisihkan ribuan pelajar lainnya yang bersaing mendapatkan beasiswa itu," cerita Shinta sambil menoleh ke arah Zefano.


Zefano mengangkat kedua jempol tangannya. Dokter Shinta tertawa sambil menitikkan air mata. Lalu meraih tangan Zefano dan mengecup punggung tangan mungil itu.


"Salah seorang pegawai kedutaan mengetahui nama Dokter termasuk sebagai mahasiswa berprestasi yang mendapatkan beasiswa itu. Teman-teman kerja Daddy langsung mengucapkan selamat dan ingin kenal dengan Dokter Shinta. Sejak itu setiap kali mendapatkan beasiswa, pegawai-pegawai di kantor Daddy akan langsung mengucapkan selamat dan memanggil Dokter Shinta untuk merayakannya," cerita Shinta sambil menghela nafas berat.


Zefano mengusap lengan dokter cantik itu sambil tersenyum.


"Masih mau dengar curhat Dokter Shinta?" tanya Shinta yang dibalas anggukan oleh Zefano.


"Tadi malam adalah pesta ulang tahun Daddy. Daddy kembali membanggakan prestasi Dokter Shinta pada teman-temannya. Daddy sama sekali tidak tahu kalau yang dilakukannya itu membuat Dokter Shinta merasa tertekan, tatapan kagum mereka terasa seperti tatapan yang mencemooh. Selalu seperti itu, setiap kali menyinggung tentang prestasi, beasiswa dan rasa bangga, Dokter Shinta akan merasa bersalah dan tertekan," cerita Shinta mulai terisak-isak.


Zefano memeluk Shinta dan menepuk bahu dokter cantik itu. Kemudian menghapus air mata Dokter Shinta. Dokter cantik itu tersenyum lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jas laboratoriumnya.


Sesuatu terbawa sapu tangan itu dan terlempar jatuh di selokan kecil tak jauh dari bangku taman. Zefano segera berlari ke sana untuk mengambil.


"Tidak usah nak, biar dokter ambil sendiri. Kotor di situ," teriak Shinta.


Zefano tidak peduli, anak itu tetap mengambilkan benda yang jatuh itu. Lalu berlari ke sebuah wastafel luar, mencucinya kemudian mengeringkan dengan bajunya. Dokter Shinta menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak itu. Zefano berlari menyerahkan pulpen itu. Dokter Shinta langsung memeluk anak itu.


"Terima kasih, kamu baik sekali sayang," ucap Shinta setelah menerima pulpen itu.


"Pulpen ini adalah pemberian kakek Dokter Shinta. Dia seorang duta besar di luar negeri, pulpen ini adalah pemberian presiden yang memerintah saat itu," cerita Shinta.


"Wah, jadi ini pulpen berharga," ucap Zefano sambil kembali melihat pulpen itu


"Ya, Grandpa menghadiahkannya saat Dokter Shinta di wisuda. Grandpa sangat bangga dengan prestasi palsu itu. Hingga disaat terakhirnya, Dokter Shinta masih tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya," ucap Shinta kembali air matanya mengalir.


"Pulpen ini berharga tapi dengan pulpen ini juga Dokter Shinta kembali melakukan kesalahan," ucap Shinta.


"Kenapa begitu? Kenapa pulpen bisa membuat Dokter Shinta melakukan kesalahan?" tanya Zefano.


"Karena dengan pulpen ini juga, Dokter Shinta menandatangani sebuah dokumen palsu. Sebuah hasil tes DNA yang palsu," ucapnya lalu menatap Zefano dan kembali menangis.


"Zeno, bagaimana ini? Dokter Shinta semakin banyak berbuat salah, Dokter Shinta takut tidak bisa meminta maaf seperti saat Grandpa meninggal dulu. Grandpa menatap Dokter Shinta seperti menunggu untuk bicara jujur tapi Dokter Shinta justru lari dan menangis di pojok kamar. Dokter Shinta sangat takut seperti itu lagi tapi juga takut untuk bicara jujur," ucapnya berkali-kali menghapus air matanya.


Zefano termenung, menunduk menatap rumput taman.


"Zeno kaget waktu tahu Dokter Shinta berbohong. Tapi karena Zeno sayang sama Dokter Shinta jadi Zeno maafkan. Daddy juga pasti seperti itu," ucap Zefano.


"Benarkah Zeno?" tanya Shinta pelan dan ragu-ragu.


Zefano mengangguk.


"Zeno maafkan karena Dokter Shinta menyesal dan Zeno nggak ingin Dokter Shinta bersedih lagi. Dokter Shinta juga harus cerita sama Daddy karena Daddy juga pasti tidak ingin anaknya bersedih," ucap Zefano memberi semangat.


"Tapi Dokter Shinta takut, melihat wajah Daddy saja, Dokter Shinta langsung lari," ucap Shinta.


"Bayangkan saja wajah Zeno, jadi bisa cerita seperti tadi. Ayo kita coba, saya Daddy, Dokter Shinta mau bicara apa?" ucap Zefano berdiri di hadapan Shinta dengan pipi yang dibulatkan dan tangan dilipat di dada.


Dokter Shinta tertawa melihat tingkah Zefano, gadis itu langsung meraih tubuh kecil itu dan mendudukkan di pangkuannya.


"Kalau wajah Daddy imut seperti kamu dari dulu Dokter Shinta sudah mengaku," ucapnya tertawa sambil memencet hidung Zefano.


Zefano tersenyum, Dokter Shinta memeluk dan menggoyangkan tubuh mereka hingga hampir oleng. Zefano tertawa.


"Senangnya hati Dokter setelah curhat dengan Zeno. Kalau Zeno pulang, Dokter Shinta mau bicara dengan siapa?" tanya Shinta.


"Zeno belum boleh pulang Dokter, Zeno harus lakukan pengobatan dulu," ucap Zeno tiba-tiba murung.


"Pengobatan apa? Zeno sakit apa?" tanya Shinta.


"Leukemia," ucap Zeno.


Dokter Shinta tercengang, langsung gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Nggak, nggak mungkin, nggak mungkin Zeno sakit itu," jerit Shinta tak percaya.


"Uncle Val bilang kalau Zeno jadi anak baik dan patuh Zeno bisa sembuh, benarkah Dokter?" tanya Zefano.

__ADS_1


Dokter Shinta mengangguk namun mengucurkan air mata. Gadis itu tidak rela Zefano menderita leukemia.


"Zeno ingin jadi anak yang baik. Setelah periksa rasanya sakit sekali tapi Zeno nggak mau nangis biar Mama nggak sedih," ucap Zeno pelan kemudian mempererat pelukannya.


Zeno pasti merasakan nyeri di lokasi aspirasi sumsum tulang. Anak ini akan merasakan sakit itu hingga beberapa hari, batin Shinta.


"Tapi Zeno minum obat untuk pereda rasa sakit, kan sayang?" tanya Shinta.


"Kalau habis minum obat rasa sakitnya berkurang tapi setelah itu sakit lagi," ucap Zefano pelan.


Dokter Shinta menitikkan air mata namun tidak tahu harus berbuat apa. Obat pereda rasa nyeri itu satu-satunya yang bisa di berikan dokter untuk meredakan rasa sakit setelah melakukan pengambilan sampel sumsum tulang.


"Maafkan Dokter Shinta ya Zeno, Dokter tidak bisa melakukan apa-apa untuk Zeno," ucap Shinta menangis dan menyesal.


Jika bisa dibagi rasa sakitmu, Dokter mau menerimanya untukmu Zeno, maafkan aku, jerit hati Shinta.


"Nggak apa-apa Dokter, Zeno udah senang Dokter mau dengar cerita Zeno," ucap anak itu pelan.


Kamu sudah mendengar begitu banyak keluh kesahku bahkan memberikan nasehat untukku, sedangkan aku, tidak dapat melakukan apa pun untuk satu saja deritamu, maafkan aku, Zeno, maafkan aku, bisik hati Shinta.


Dokter Shinta memeluk anak laki-laki tampan itu, merasa menyesal tidak bisa berbuat apa pun untuk meringankan penderitaan anak itu. Yang bisa dilakukan Shinta hanyalah memeluk anak itu sambil membelai rambutnya dan mencium puncak rambutnya.


"Dokter Shinta sayang sama Zeno, terima kasih untuk nasehat hari ini ya sayang," bisik Shinta.


Zeno tersenyum dalam dekapan Dokter Shinta.


Sementara itu, Allena dan Valendino yang kembali dari makan siang bertemu dengan Zefran yang ingin mengunjungi Zefano. Awalnya Zefran merasa heran melihat mereka berjalan ke arah yang berbeda.


Niat Zefran terlupakan setelah bertemu gadis yang dirindukannya, laki-laki itu akhirnya mengajak istrinya kembali ke ruang rawat inapnya.


"Aku mau cari minuman ringan dulu," ucap Valendino pamit pada Zefran dan Allena.


"Di kulkas ada banyak minuman," jawab Zefran.


"Kalau begitu makanan ringan," lanjut Valendino.


"Di kamarku juga banyak makanan," jawab Zefran lagi.


Valendino kesal, niatnya hanya ingin pergi agar mereka bisa berduaan saja. Namun, Zefran yang tidak mengerti justru menghalangi.


"Kalau gitu cewek cantik ada nggak?" tanya Valendino.


Allena terperangah, Zefran menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu akhirnya membiarkan Valendino pergi. Valendino memberi kode pada Allena akan menemani Zeno. Allena mengangguk sambil tersenyum.


Seperti yang telah diperkirakan Valendino, Zefran pasti sangat merindukan istrinya. Setelah pergi begitu saja sambil menangis, Zefran pasti sangat ingin bertemu dengan Allena.


Saking rindunya, begitu masuk ruangan Zefran langsung menutup pintu dan menguncinya. Laki-laki itu langsung mendorong Allena ke dinding dan membenamkan bibirnya.


Gadis itu membalas ciuman panas itu. Mendengar deru nafas Zefran disela-sela ciumannya yang menggebu-gebu seperti mantra yang menyihir Allena untuk membalas dengan ciuman yang tak kalah panasnya.


Zefran tak bisa menahan diri, segera melepas bawahannya. Dan mendorong Allena ke sofa.


"Waktu kamu dirawat kita bisa melakukannya," ucap Zefran lalu menoleh ke arah ranjang rumah sakit.


Laki-laki itu langsung menarik tangan Allena ke ranjang rumah sakit, menutup tirai dan langsung menghadiahkan ciuman panas.


"Kakak sudah sehat? Apa lukanya tidak apa-apa?" bisik Allena sambil menikmati ciuman Zefran di lehernya.


"Lukaku masih terasa sakit tapi ada yang lebih sakit jika kamu menolakku," ucap Zefran kemudian menyesap bibir manis Allena.


Zefran melancarkan aksi bercintanya, nafas mereka kembali memburu, desah Allena dan Zefran terdengar saling tak mau kalah. Zefran tersenyum menatap istrinya yang memejamkan mata menikmati permainan cintanya. Hasrat mereka yang telah lama tertahan akhirnya terlampiaskan.


Sementara itu Valendino masuk ke kamar Zefano namun tak mendapati anak itu di sana. Laki-laki itu ingin memberi tahu Allena tapi urung. Memutuskan untuk mencari sendiri anak itu. Teringat pernah melihat Zefano bermain di taman samping rumah sakit.


Laki-laki itu langsung berlari ke arah taman dan mendapati Zefano dan Dokter Shinta sedang berpelukan. Valendino tersenyum terpana saat melihat kasih sayang Dokter Shinta pada Zefano. Ingin menggangu mereka tapi tidak tega.


Dokter Shinta seperti menikmati pelukannya bersama Zefano. Sesekali mengecup puncak rambut anak itu dan kembali memejamkan mata sambil tersenyum.


"Duh enaknya, berpelukan di bawah pohon rindang dihembus angin sepoi-sepoi," sapa Valendino tak sabar menunggu lagi.


Zefano langsung melepaskan pelukannya.


"Uncle Val," teriak Zefano.


"Enaknya punya pacar, bisa enak-enakan berpelukan," ucap Valendino sambil melirik Dokter Shinta.


Dokter cantik itu tersipu.


"May I?" tanya Valendino meminta izin duduk di bangku.


Dokter Shinta mengangguk. Valendino langsung duduk di samping Dokter Shinta dan memindahkan Zefano ke pangkuannya.


"Keenakan dipeluk cewek cantik, sini gantian duduk sama Uncle," ucap laki-laki itu.


"Kalau sayang boleh jadi pacar, kalau jadi pacar boleh pelukan," ucap Zefano.


"O..o.., gitu, siapa yang bilang begitu?" tanya Valendino.


"Tante Rahma waktu nonton film," jawab Zefano yang telah pindah ke pangkuan Valendino.


"Kalau langsung pelukan aja, nggak boleh?" tanya Valendino.


Dokter Shinta tersenyum mendengar pertanyaan Valendino.


"Nggak boleh harus jadi pacar dulu," jawab Zefano semangat.


"Aduh gawat, gimana ini?" ucap Valendino terlihat panik.

__ADS_1


"Kenapa Uncle?" tanya Zefano heran.


Dokter Shinta pun merasa heran dengan ekspresi Valendino yang tiba-tiba terlihat panik.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Shinta juga ikut panik.


Dokter cantik itu khawatir jika Valendino mengetahui sesuatu yang buruk pada Zefano.


"Kata Zeno kalau mau peluk kamu, harus jadi pacarmu dulu," ucap Valendino.


Zefano langsung tertawa sambil menutup mulutnya. Dokter Shinta melihat Valendino dan anak yang diam-diam tertawa itu secara bergantian. Wajah Dokter Shinta langsung merona merah. Laki-laki se tampan Valendino sedang menggodanya. Gadis itu jadi salah tingkah.


"Jadi gimana?" tanya Valendino.


"Apa?" Shinta balik bertanya.


"Boleh langsung peluk atau jadi pacar dulu?" tanya Valendino lagi.


"Jadi pacar dulu," jawab Zefano kemudian kembali tersenyum menutup mulutnya.


"Emang Uncle Val sayang sama Dokter Shinta?" tanya Zefano.


"Sayang dong, Dokter Shinta itu baik dan sayang sama Zeno," jawab Valendino.


"Dokter Shinta sayang nggak sama Uncle Val? Uncle Val ini ganteng, baik dan sayang juga sama Zeno," ucap Zefano bertanya pada Shinta mempromosikan Valendino.


Laki-laki itu langsung tertawa menggelitik Zefano. Diam-diam Dokter Shinta melirik laki-laki tampan itu. Terpesona melihat senyumnya yang manis saat bermain bersama anak itu. Dokter Shinta juga ikut tersenyum melihat keakraban mereka.


Tanpa sadar menatap wajah laki-laki yang duduk disampingnya itu. Tiba-tiba Valendino menoleh, Dokter Shinta gelagapan dan langsung memalingkan wajahnya. Valendino tersenyum, menatap wajah yang kembali merona merah itu.


"Apa Dokter Shinta mau jadi pacarku?" tanya Valendino.


"Apa?"


Dokter Shinta yang menunduk langsung menatap Valendino lagi. Gadis itu kembali salah tingkah, tak menyangka Valendino langsung memintanya menjadi pacar setelah bertemu dua kali.


"Aku..,"


"Dokter Shinta," terdengar seorang perawat memanggilnya.


"Ya," jawab Shinta langsung.


"Ada yang ingin bertemu dengan Dokter di lab," ucap perawat itu.


"Oh, ya baiklah saya akan ke sana," ucapnya pada perawat itu.


"Maaf saya harus kembali, sampai jumpa Zeno," ucap Shinta pamit pada Valendino dan Zeno.


Gadis itu segera berjalan menuju perawat yang menunggunya.


"Yah, Uncle ditolak," ucap Valendino pada Zefano.


Mendengar itu Shinta menghentikan langkahnya.


"Bukan menolak tapi..,"


Valendino dan Zefano langsung menoleh. Ucapan Dokter Shinta terputus, gadis itu sendiri tidak tahu harus bicara apa. Valendino masih menunggu, Dokter Shinta yang bingung melanjutkan ucapannya akhirnya memilih pergi begitu saja.


"Masih ada harapan," ucap Valendino sambil tersenyum pada Zefano.


"Masih ada harapan apa?" tanya Allena tiba-tiba.


"Mama," jerit Zefano.


Allena duduk di samping Valendino.


"Uncle Val belum ditolak Dokter Shinta," jawab Zefano.


"Dokter Shinta? Siapa dia?" tanya Allena.


"Pacar Zeno, sekarang mau jadi pacar Uncle Val juga," ucap Zefano.


"Wah, dua cowok ganteng sekaligus? Dia pasti sangat cantik," sahut Allena tertawa.


"Ya, cantik seperti Mama," ucap Zefano.


"Sudah selesai?" tanya Valendino.


"Apa.., yang sudah selesai?" tanya Allena canggung, teringat apa yang dilakukannya tadi bersama Zefran.


"Bertemu dengan pujaan hatimu, apalagi? Hoo.., pasti telah terjadi sesuatu," ucap Valendino tersenyum menggoda.


"Apa?" tanya Allena.


Valendino tertawa.


"Aku mau pamit dulu dengannya," ucap Valendino.


Kemudian berdiri dan melangkah menuju ruang rawat inap Zefran.


"Kita kembali ke kamar ya sayang," ajak Allena yang dibalas anggukan kuat oleh Zefano.


Mereka pun berjalan perlahan di selasar rumah sakit sambil bergandeng tangan. Dokter Shinta yang kembali dengan tergesa-gesa ke taman tak melihat Valendino dan Zefano lagi.


Dokter itu menoleh pada anak kecil yang berjalan pelan sambil tertawa.


Oh, itu ibunya Zeno, bisik hati Shinta sambil menatap punggung seorang wanita yang berjalan perlahan sambil menggandeng tangan Zefano.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2