
Zefran memutuskan untuk menelepon Dr Devan untuk mengetahui perkembangan hubungannya dengan Santi. Dokter tampan itu memberitahu Zefran kalau Santi belum bisa memberi jawaban pasti kerena ingin menyelesaikan sesuatu dengan Zefran.
"Perjanjian?" tanya Zefran heran.
Zefran tak mengerti perjanjian apa yang dimaksud Dr. Devan. Dokter itu sendiri juga tak bisa memberikan informasi apa-apa. Sekuat apa pun Zefran berpikir, laki-laki itu tetap tak dapat mengingat janji yang pernah diucapkannya pada Santi.
Zefran pun menceritakan percakapannya dengan Dr. Devan pada istrinya.
"Kakak pernah mengenal Santi sebelumnya?" tanya Allena.
"Tidak sayang! Aku tak banyak mengenal wanita. Siapa pun yang aku kenal, aku pasti akan ingat," balas Zefran.
"Apa mungkin Santi benar-benar putri dari sahabat Mommy?" tanya Allena dengan raut wajah yang mulai risau.
Zefran langsung memeluk tubuh istrinya yang berbalik tidur membelakanginya.
"Kalau begitu kita tanyakan nanti sama Mommy juga pada Santi sendiri tentunya. Bukankah dia sendiri juga ingin menyelesaikan urusan ini? Kita akan tahu perjanjian apa yang di maksud," ucap Zefran sambil membelai lengan hingga ke jemari wanita yang dicintainya itu.
Zefran menjalin jemari mereka lalu, menarik tubuh Allena menghadap ke arahnya. Terlihat wajah risau istrinya.
"Bagaimana kalau dia juga menuntut untuk dinikahi?" tanya Allena.
"Tidak mungkin sayang, tidak ada alasan bagiku untuk memiliki dua istri. Aku menikahimu karena selama ini pernikahanku belum memiliki keturunan. Sekarang kita telah memiliki putra dan putri, untuk apa aku menikah lagi?" tanya Zefran.
"Untuk menunaikan janji," jawab Allena.
"Aku pernah berjanji akan menikahi jodoh pilihan Mommy dan aku sudah melakukannya. Aku tidak punya kewajiban apa-apa lagi. Jika Mommy punya perjanjian lain maka itu sudah menjadi urusan Mommy," jawab Zefran.
"Sungguh? Jika Santi menuntut Kakak menikahinya, Kakak tidak bersedia? Kakak tidak tertarik padanya?" tanya Allena.
Zefran menatap wanita yang berbaring di bawahnya itu. Dengan jelas melihat raut wajah Allena yang terlihat gusar. Zefran justru tersenyum, wajah Allena langsung berubah heran.
"Aku hanya tertarik pada satu wanita saja. Dia sudah lebih dari cukup bagiku. Sudah lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku mendapatkannya saat dia masih perawan. Dia cantik dan semakin cantik setiap kali dipandang. Setiap kali memandangnya aku tak tahan ingin menciumnya, saat bercinta aku merasakan sensasi yang luar biasa. Apalagi yang aku inginkan? Aku tidak mau kehilangannya, apalagi usaha untuk mendapatkannya sangat sulit. Aku harus bertarung dengan banyak lawan untuk mengusir mereka dari hadapannya--"
"Bertarung?" tanya Allena sambil menahan senyum dengan pilihan kata Zefran.
"Ya, bukan bertarung juga, tapi ... aku harus mengalahkan mereka semua agar mereka menyingkir darimu," jawab Zefran sambil menahan tawanya.
"Oh … aku pikir benar-benar bertarung?" tanya Allena tak lagi menahan tawanya.
"Kamu meremehkan aku, waktu kuliah aku ini jago bertarung. Sekarang saja aku tak berminat lagi bertarung karena … sekarang bertarungku beda. Dan aku lebih suka bertarung denganmu," ungkap Zefran sambil membalik tubuh Allena hingga wanita itu berada di posisi atas.
Allena terkejut hingga terperangah, mulutnya hingga ternganga tanpa sadar wanita itu telah duduk diatas pinggang suaminya.
"Kalau bertarung denganmu, aku lebih suka menyerah," ucap Zefran sambil mengangkat tangannya.
Allena tertawa, Zefran menarik tubuh Allena dan memeluknya. Laki-laki itu kembali membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya. Zefran telah siap bertarung lagi dengan Allena.
Keesokan harinya dengan hati was-was Allena menunggu. Mulai dari bangun pagi, Allena sudah merasa sesuatu yang berbeda dengan hari ini. Itu membuat Allena lebih banyak melamun. Zefran yang sedang bersiap-bersiap berangkat kerja hanya tersenyum melihat istrinya yang telat memberikan apa pun yang dia butuhkan.
Biasanya setelah mandi semua telah tersedia, setelan jas, dasi, kaos kaki, sepatu hingga jam tangan yang semuanya harus serasi. Tapi kali ini Zefran harus melangkah ke meja kaca penyimpanan dasi barulah wanita itu bergegas mencarikan dasi yang cocok untuknya.
"Maaf!" ucapnya sambil segera mengalungkan dasi itu di leher suaminya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, asal jangan kekencangan tariknya. Nanti karena melamun kamu tarik sampai aku tercekik," jawab Zefran.
Allena justru menarik kuat dasi itu, Zefran pura-pura tercekik. Mereka tertawa, Zefran langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya sementara Allena memperbaiki dasi suaminya. Allena mengangguk menyatakan dasi suaminya telah rapi.
"Sudah?" tanya Zefran.
"Sudah sayang," balas Allena.
"Wah, ada yang berbeda hari ini. Biasanya kamu agak pelit mengucapkan kata sayang," ucap Zefran.
"Siapa yang pelit, enak saja kalau bicara!" protes Allena.
"Baiklah tidak pelit, tapi tidak seboros aku," ucap Zefran mengingatkan. Allena tersenyum namun mengakuinya dalam hati.
Zefran menatap istrinya dengan tangannya yang masih melingkar di pinggang wanita cantik itu.
"Hari ini terasa berbeda, jantungku berdebar-debar kencang," ucap Zefran.
"Kenapa?" tanya Allena curiga, Zefran menanti ungkapan hati dari Santi.
"Ya, setiap teringat tadi malam, jantungku langsung berdebar-debar. Tadi malam itu rasanya sangat luar biasa sayang," ucap Zefran sambil menarik lembut istrinya.
Allena tersenyum dengan tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang telah bersemu merah.
"Ya! Aku jadi suka bertarung dengan Kakak," jawabannya masih menunduk.
Zefran mengangkat dagu Allena dengan jarinya lalu menyatukan bibir mereka. Zefran seperti maniak terhadap istrinya, selalu ingin bermesraan dengan wanita cantik itu. Selalu ingin merasakan manisnya bibir dan lidahnya yang lembut.
Semua yang disukai Zefran ada di diri Allena membuat laki-laki itu enggan menjauh dari wanita itu. Memeluknya dan membenamkan bibirnya di bibir wanita itu adalah kebiasaan yang melebihi rasa lapar yang hanya dirasakan tiga kali dalam sehari.
"Aku bisa telat ke kantor sayang," ucap Zefran sambil mencubit pipi istrinya masih bersemu merah.
"Katanya CEO boleh bebas mau datang jam berapa saja," jawab Allena.
"Oh ya, tapi itu tidak baik! Tidak disiplin! Tidak patut ditiru! Tidak patut dilakukan!" ucap Zefran.
"Hah, dasar plin-plan," jawab Allena.
"Yang penting cintaku padamu tidak plin-plan," jawab Zefran sambil melangkah keluar dari walk in closet.
"Tidak mau kalah," sahut Allena.
"Tapi tadi malam aku sudah mengalah melawan Nona Allena, ternyata rasanya enak. Jadi mulai sekarang aku akan mengalah," jawab Zefran sambil mengangkat kedua tangannya.
Allena mencubit pinggang suaminya, laki-laki itu kembali menyambar pinggang istrinya dan memeluknya.
"Nanti kejadian lagi, aku benar-benar telat ke kantor," ucap Zefran sambil menatap wajah istrinya.
"Ok … ok …," ucap Allena sambil melingkarkan jempol dan jari telunjuk sambil mengedipkan mata.
Zefran tertawa lalu mengecup bibir istrinya dan langsung menarik tangan wanita itu keluar kamar. Mereka berjalan bergandengan hingga ke meja makan. Saat melangkah berpapasan dengan Santi. Gadis itu menunduk, dan menoleh lalu menunduk lagi. Seolah-olah ada yang ingin dibicarakannya.
"Ada apa Santi?" tanya Allena.
__ADS_1
Santi menatap bergantian Zefran dan Allena. Lalu menoleh pada Ny. Mahlika yang sedang duduk di meja makan.
"Saya ingin bicara dengan Nyonya, Tuan dan Nyonya Besar. Bolehkah Nyonya? Hanya sebentar saja," pinta Santi.
Apa ini saatnya? Dia akan berterus terang tentang jati dirinya? Batin Allena.
Allena menoleh pada suaminya untuk meminta pendapat karena mungkin akan menyita waktu Zefran untuk ke kantor.
"Baiklah," jawab Zefran.
"Tapi Kakak mau ke kantor? Kakak tidak ingin telat 'kan?" tanya Allena.
"Tidak apa-apa! Ayo Santi kamu ajak Nyonya besar. Kita kumpul di ruang tengah!" seru Zefran.
Giliran bersamaku dia takut telat, ingin buru-buru ke kantor. Giliran diajak Santi dia tidak peduli kalau telat, batin Allena.
Allena mengikuti dengan wajah yang sedikit cemberut.
"Ayo Allena!" ajak Zefran sambil menarik tangan istrinya menuju ruang tengah.
Allena duduk di samping Zefran dan Ny. Mahlika beserta Santi pun datang.
"Aku ingin mengakui sesuatu, Nyonya Besar, Nyonya Allena dan Tuan Zefran. Sebenarnya aku bukanlah baby sitter sungguhan," ungkap Santi.
Ny. Mahlika terkejut bukan main sementara Allena dan Zefran lebih tenang.
Ternyata benar, dia ingin mengaku. Rupanya tak perlu menunggu lama, batin Allena.
"Apa? Jadi kamu ini siapa sebenarnya?" tanya Mahlika.
"Namaku yang sebenarnya bukan Santi tapi Shintya. Dulu aku tinggal dua blok dari sini, tapi karena Daddy pindah tugas ke London jadi kami ikut pindah sekeluarga. Sebenarnya dulu, waktu kecil aku sering main di rumah ini," ungkap Shintya.
"Kamu … sebenarnya putri siapa?" tanya Mahlika yang sebagian besar mengenal ibu-ibu yang menempati komplek elit itu.
"Bu Sukma Nyonya," jawab Shintya.
"Oh, Bu Sukma? Jadi dia pindah ke London," ucap Mahlika yang dijawab anggukan oleh Shintya.
"Dulu saat ibu-ibu komplek sini berkumpul, banyak juga anak-anak yang bermain di sini. Ny. Mahlika membiarkan mereka bermain di taman belakang rumah," ucap Shintya.
"Ya benar, saat itu banyak anak-anak komplek ini yang bermain di sini sementara para ibu berkumpul untuk berbincang-bincang," ucap Mahlika membenarkan.
"Karena saat itu aku masih sangat kecil, tak ada yang mau bermain denganku. Aku hanya duduk sendiri dekat pohon, aku hanya bisa menatap mereka yang bermain kejar-kejaran. Tuan Zefran datang dan menawarkan mainan padaku. Aku sangat senang, meski hanya menemani sebentar saja lalu kembali bermain bersama yang lainnya tapi aku sudah sangat senang. Kejadian itu tidak pernah aku lupakan," tutur Shintya.
Allena menoleh menatap ke arah suaminya, merasa pantas jika gadis itu jatuh cinta pada Zefran karena kesan yang diberikannya sangat membekas di hati gadis itu. Merasa ditatap istrinya, Zefran langsung merangkul istrinya lalu mendaratkan kecupan di puncak rambut istrinya seakan-akan menunjukkan Allena lebih berarti baginya dibandingkan cerita Shintya.
"Mommy-ku melihat kejadian itu, tanpa aku tahu di belakangku Mommy membuat persetujuan dengan Ny. Mahlika untuk menjodohkan Tn. Zefran denganku--"
"Oh ya, benar jadi kamu putri yang dijodohkan dengan Zefran waktu itu?" tanya Mahlika.
"Ya Nyonya, aku … hingga seumur ini masih belum memiliki pasangan. Mommy akhirnya cerita tentang perjodohan itu, mendengar itu aku sangat kesal karena Mommy tidak buru-buru memberitahuku. Karena sejak kecil aku sudah menyukai Tn Zefran. Mommy berdalih Ny. Mahlika telah menjodohkan Tn. Zefran dengan putri sahabatnya hingga Mommy berpikir aku tak memiliki kesempatan. Karena sangat suka, aku tidak peduli. Aku ingin mencoba, aku berharap pernikahan Tn. Zefran tidak bahagia. Karena aku sangat ingin menjadi istrinya seperti yang pernah janjikannya--"
"Apa? Pernah berjanji?" tanya Allena kaget.
__ADS_1
Shintya mengangguk, lalu menceritakan kembali saat bermain dengan Zefran. Dirinya sangat terpesona oleh ketampanan dan kebaikan hati Zefran yang peduli padanya. Hingga akhirnya meminta laki-laki itu untuk menjadi suaminya kelak saat dewasa nanti, Zefran mengangguk sebelum menyusul teman-temannya yang sudah berteriak memanggilnya.
...~ Bersambung ~...