
Valendino mengucapkan kata-kata yang mengejutkan namun tak bisa dibantah Frisca. Sejak melepas kesuciannya, Frisca memang berulang kali melakukan aborsi. Hingga akhirnya berkenalan dengan Zefran.
Frisca yang saat itu sedang mencari pelarian sakit hatinya setelah melihat Bobby bergulat dengan mahasiswi baru di apartemennya. Langsung memutuskan hubungan dengan kekasihnya itu. Malam itu juga Frisca menjerat Zefran ke dalam pelukannya.
Laki-laki yang tidak pernah dekat dengan seorang gadis pun karena perintah ibunya akhirnya mengabaikan janji sang ibu. Melepas keperjakaannya pada gadis yang sedang frustasi karena diselingkuhi.
Malam penyambutan fraternity and sorority baru dalam kelompok persaudaraan kampus itu menjadi awal kisah cinta mereka. Didukung oleh teman-temannya yang tergabung dalam The Four Idiots, Zefran resmi berpacaran dengan Frisca.
Namun, hubungan mereka tak selalu berjalan mulus. Kadang Bobby muncul untuk merebut kembali kekasihnya yang telah berpindah ke tangan Zefran. Berpura-pura menolak namun akhirnya Frisca tetap mampir ke apartemen Bobby.
Valendino yang tanpa sengaja menyaksikan kedekatan Frisca dan Bobby tak tega memberi tahu sahabatnya yang sedang di mabuk cinta. Valendino curiga akan kesungguhan cinta Frisca pada Zefran mencari tahu seluk beluk tentang perempuan itu.
Kenyataan yang paling mengejutkan Valendino adalah Frisca yang telah aborsi beberapa kali karena mereka yang tak bisa menahan hasrat seksual di saat mabuk. Hingga akhirnya terdengar kabar kalau Frisca dan Bobby resmi putus hubungan dan akhirnya memutuskan menikah dengan Zefran.
Valendino tidak bisa menghalangi Zefran, laki-laki itu akan membencinya jika melarang menikahi cinta pertamanya. Valendino hanya bisa berharap suatu saat Frisca akan sungguh-sungguh jatuh cinta pada Zefran.
Setelah mengungkapkan kebusukan Frisca, Valendino kembali ke ruangan Zefran dan terkejut saat melihat laki-laki itu berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan mereka.
"Kapan dia melakukannya? Setelah menikah denganku atau sebelumnya?" tanya Zefran.
Valendino menghela nafas berat, tak tega Zefran mengetahui semua ini namun akhirnya justru mendengar sendiri dari mulutnya.
"Sebelum dan sesudah," jawab Valendino.
"Apa? Bahkan setelah menikah?" tanya Zefran tak percaya.
Valendino mengangguk.
"Frisca tidak pernah siap bertemu dengan Bobby dalam keadaan hamil," jawab Valendino.
"Darimana kamu tahu tentang semua ini?" tanya Zefran lagi.
"Awalnya aku tidak sengaja melihatnya kemudian mengikutinya hingga aku harus mengancam klinik aborsi ilegal itu untuk mendapatkan informasi tentang dia. Aku mendapat laporan Frisca melakukannya sekali di tahun ini dan tiga kali tahun sebelumnya," jelas Valendino.
"Jadi program bayi tabung kami?" tanya.
"Sengaja digagalkannya demi bertemu dengan Bobby" jelas Valendino.
Ny. Mahlika memegang kepalanya yang mendadak sakit. Valendino memapah ibu itu duduk di sofa.
"Kurang ajar sekali dia, kenapa kamu tidak ceritakan kepada kami sebelumnya?" tanya Mahlika.
"Apa Mommy dan Zefran akan percaya padaku? Tanpa bukti menceritakan bahwa wanita yang dicintainya melakukan aborsi? Aku berharap Frisca akan sungguh-sungguh mencintai Zefran saat Allena muncul sebagai saingannya. Dan kenyataannya, Frisca memang benar-benar ingin mengalahkan Allena, dia benar-benar ingin mempertahankanmu, Zefran. Buktinya sekarang dia hamil tapi sayangnya tetap saja dia tidak bisa melupakan Bobby. Aku juga baru tahu kalau ternyata bayi yang dikandungnya adalah bayi Bobby," jelas Valendino.
"Zefran, jangan sampai ragu menceraikan Frisca," ucap Mahlika.
Valendino mengangguk sambil menunduk, terlihat jelas ibunya sendiri meragukan niat Zefran menceraikan istri pertamanya itu. Melihat begitu besar cinta Zefran padanya. Di saat emosi mungkin Zefran bisa mengucapkan kata cerai tapi saat emosinya mereda bisa saja laki-laki itu membatalkannya dengan alasan memberi kesempatan.
"Tidak Mom, aku tidak akan ragu," jawab Zefran dengan nada yang tidak yakin.
Valendino dan Ny. Mahlika menghela nafas berat. Setelah menjelaskan semua yang dia tahu, Valendino pamit untuk pulang, Ny. Mahlika berterima kasih pada sahabat Zefran itu. Valendino pun keluar dari ruangan Zefran dan langsung berpikir untuk pergi mengunjungi Zefano.
Setengah berlari laki-laki itu menuju ke kamar rawat inap Zefano. Namun, terhenti saat melihat ibu dan anak itu sedang tertidur. Valendino menatap sedih melalui lubang kaca pintu. Terlihat Allena yang memejamkan matanya sambil memeluk anaknya.
Setelah puas menangis gadis itu memilih melupakan apa yang terjadi. Tidur adalah pilihan untuk melepaskan beban pikirannya. Valendino urung menemui gadis itu dan memilih pulang.
{ Oh ya, para reader yang Othor sayangi, main-main ke rumah tetangga di blok F ya nggak pake koin kok hehe ... Kak_ICHA judul SIRKUIT CINTA. Mohon dukungannya untuk karyaku ini, masukin ke daftar pustaka aja dulu ... ditunggu kedatangannya ya ... makasih }
Keesokan harinya, Allena terlihat mondar-mandir di ruangan Zefano. Anak itu tertawa setiap kali melihat ibunya menghembuskan nafas lalu berbalik arah dan mulai melangkah lagi. Lama-lama Allena menyadari anaknya menertawakannya.
Segera mendekati dan menangkup wajah anak itu.
"Kenapa ketawa-ketawa, jangan ketawa-ketawa" ucapnya sambil menggoyang-goyangkan wajah Zefano ke kiri dan ke kanan.
Anak itu semakin tertawa.
"Mama lucu mondar-mandir kayak gosokan," ucap Zefano.
"Mama bingung sayang, Mama ada kerjaan tapi tak bisa tinggalkan Zeno sendirian. Nenek sepertinya masih sakit, aduh bagaimana ini?" tanya Allena langsung dengan wajah terkulai.
"Mama pergi saja, hari ini dokter nggak periksa Zeno kan? Zeno nggak apa-apa sendirian di sini. Lagian ada suster-suster yang jagain Zeno," usul Zefano.
"Benar Zeno nggak apa-apa di tinggal sendirian? Tapi nggak ah, Mama takut kalau terjadi apa-apa Mama bisa menyesal," ucap Allena bersedih.
"Nggak apa-apa, Mama pergi aja, Zeno nggak apa-apa kok. Jangan khawatir," ucap Zefano menguatkan hati Allena.
"Tapi Nak..,"
Zefano melambaikan kedua tangannya sambil tersenyum. Akhirnya Allena memutuskan untuk pergi tapi dengan pesan-pesan yang cukup banyak untuk anak itu dan Zefano mengangguk-angguk mengiyakan.
Begitu Mamanya pergi, Zefano langsung keluar untuk menyapa para suster. Lalu berjalan-jalan seperti biasa di lorong rumah sakit sambil menghafal nama dokter-dokter yang berpapasan dengannya atau nama pasien-pasien yang terpampang di samping pintu masuk kamar rawat inap di sana.
Langkah Zefano terhenti di kamar Zefran. Dengan semangat dan senyum yang mengembang anak itu mengetuk pintu dan langsung masuk. Tertegun saat melihat Zefran yang tak sendiri. Anak itu langsung berbalik ingin pergi.
"Zeno, mau kemana? Ayo sini," panggil Zefran yang melihat anak itu langsung pergi.
"Maaf Pa, eh.. Om, Zeno pikir Om Zefran lagi sendirian," ucap Zefano.
"Kok masih panggil Om? Bukannya kemarin sepakat mau panggil Papa saja?" tanya Zefran.
"Siapa dia?" tanya Mahlika.
"Pasien di rumah sakit ini Mom, kemarin bantu Zefran ambilkan air minum," jawab Zefran.
"Pasien? Sekecil ini? Memangnya Zeno sakit apa sayang?" tanya Mahlika sambil membelai rambut Zefano.
"Belum tahu Tante?" ucap Zefano ragu-ragu.
"Kok Tante sih, saya ini ibunya Papa Zefran jadi panggilnya apa ya? Oma saja, panggil Oma ya" ucap Mahlika sambil menarik anak itu dan duduk di pangkuannya.
"Duduk di sini saja Mom," ucap Zefran menepuk ranjang rumah sakit itu.
Mahlika mengangkat Zefano duduk di samping Zefran. Mereka pun berbincang-bincang, Zefano bercerita dia bisa menghafal nama suster-suster dan dokter di rumah sakit itu. Zefran dan Ny. Mahlika tertawa saat Zefano bercerita membantu seorang perawat pria berkenalan dengan seorang suster yang masih gadis.
"Benarkah, apa yang Zeno lakukan?" tanya Mahlika.
"Zeno tarik tangannya terus bawa ke suster itu, jadinya terpaksa kenalan deh," ucapnya tertawa sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Zeno anak yang pintar ya, di mana orang tuamu?" tanya Mahlika.
"Mama pergi kerja, sedangkan Nenek lagi sakit jadi Tante menemani nenek di rumah," jelas Zefano.
"Papamu?" tanya Mahlika lagi.
Zefano cuma menunduk, Zefran menggelengkan kepalanya, Ny. Mahlika langsung mengerti.
"Oh ya terima kasih ya karena kemarin bantu anak Oma ambilkan air minum," ucap Mahlika mengalihkan pembicaraan.
Zefano langsung mengangguk kencang. Anak itu pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Loh kok buru-buru, padahal Oma masih mau ngobrol sama Zeno," ucap Mahlika kecewa.
"Besok lagi ya Oma, sekarang Zeno pamit dulu," ucapnya sambil turun dari ranjang Zefran.
Anak itu melambaikan tangan sebelum berlalu di balik pintu. Begitu ditanya tentang papanya, Zefano langsung bersedih. Namun, anak itu tidak ingin menunjukkannya pada Ny. Mahlika hingga memilih untuk keluar dari ruangan Zefran.
Berjalan pelan di lorong rumah sakit dan melewati taman yang juga biasa di singgahinya. Duduk di bangku taman sambil mengayunkan kakinya. Tiba-tiba duduk seorang dokter wanita dengan wajah yang murung.
Zefano menatap dokter yang berulang kali menghembuskan nafas berat itu. Hingga tanpa sadar mengeluarkan suara tawa yang ditahan. Dokter wanita itu langsung menoleh ke arah Zefano.
Zefano menutup mulutnya, agar tak terlihat sedang tertawa.
"Kenapa ditutup mulutnya biar nggak ketahuan kalau lagi tertawakan dokter, gitu?" tanya dokter itu.
"Dokter Shinta mirip Mama, suka huh.., huh..," jawab Zefano.
"Hee.., tahu darimana nama Dokter Shinta?" tanya dokter itu.
"Dari suster-suster, Zeno di suruh hafal nama dokter-dokter dan suster-suster di sini," jawab Zefano.
"Jadi, apa Zeno sudah hafal semua?" tanya Dokter Shinta.
"Oh, kok dokter tahu nama Zeno?" tanya Zefano heran.
"Tahu dong, dokter tahu semua nama pasien di rumah sakit ini," ucap Dokter Shinta sambil tertawa membuat Zefano ternganga.
Zefano tidak menyadari kalau dirinya telah menyebut namanya sendiri, membuat Dokter Shinta tertawa melihat ekspresi kagum Zefano.
"Tapi biasanya Zeno bilang bukan Dokter Shinta tapi Dokter Cantik," ucap Zefano.
"Oh.., kenapa?" tanya Dokter Shinta berbunga-bunga.
"Karena Dokter Shinta memang cantik sama seperti Mama," jawab Zefano.
"Oh tentu Mamamu cantik makanya punya anak tampan seperti Zeno," sahut Dokter Shinta.
"Kenapa Dokter Cantik tadi huh.., huh..," tanya Zefano.
"Oh, itu, Dokter habis kencan buta, Zeno tahu apa itu kencan buta? Dijodohkan lalu disuruh kenalan," jelas Dokter Shinta.
"Terus, kenapa huh.., huh..," ulang Zefano membuat Dokter Shinta jadi tertawa.
"Karena kencan butanya gagal," ucap Dokter Shinta.
"Kenapa gagal?" tanya Zefano.
"Dokter bohong, mana mungkin orang itu tidak suka, Dokter Shinta kan cantik. Pasti Dokter Shinta yang nggak suka sama orang itu," jawab Zefano.
Dokter Shinta langsung tersenyum malu.
"Kalau dokter cantik nggak suka kenapa masih huh.., huh..," ucap Zefano.
Dokter Shinta tertawa melihat cara anak itu bertanya.
"Ya, karena gagal jadinya sampai sekarang Dokter Shinta belum punya pacar," ucap Dokter Shinta.
"O..o.., begitu, kalau gitu jadi pacar Zeno aja," ucap Zefano.
"Oh, Zeno mau jadi pacar Dokter Shinta?" tanya dokter cantik itu.
"Mau, kalau sayang boleh jadi pacar, Zeno sayang sama Dokter jadi Dokter boleh jadi pacar Zeno," jelas Zefano.
Dokter Shinta tertawa mendengar definisi pacar menurut Zefano. Dokter itu langsung mendekati anak itu.
"Kalau pacar boleh sayang, kalau Dokter Shinta mau sayang Zeno, boleh?" tanya Dokter Shinta yang gemas melihat anak yang tampan itu.
"Boleh," jawab Zefano.
Dokter Shinta langsung memeluk Zefano dan mencium kedua pipinya.
"Kamu menggemaskan sekali, orang tuamu beruntung punya anak baik, pintar dan ganteng sepertimu," ucap Dokter Shinta masih memeluk Zefano.
"Orang tua Dokter juga beruntung punya anak cantik, pintar dan baik seperti Dokter Shinta," balas Zefano.
Dokter Shinta tersenyum mendengar pujian Zeno.
"Ngomong-ngomong kenapa Zeno ada di sini? Apa Zeno sakit? Zeno sakit apa sayang?" tanya Dokter Shinta bertubi-tubi.
"Belum tahu, cuma periksa-periksa karena Zeno sudah tiga kali mimisan," ucap Zefano.
"Apa?" tanya Dokter Shinta dengan raut wajah yang langsung sedih.
"Zeno,"
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Zefano, anak itu pun langsung menoleh.
"Uncle Val?" teriak Zefano.
Zefano langsung turun dari bangku taman dan menarik tangan Valendino. Mengajak laki-laki itu berkenalan dengan Dokter Shinta.
"Uncle Val, ini Dokter Cantik. Dokter Cantik ini Uncle Val," ucap Zefano mengenalkan.
"Halo Uncle Val," ucap Dokter Shinta mengikuti ucapan Zefano dan menyambut uluran tangan Valendino.
"Halo Dokter Cantik," jawab Valendino juga mengikuti ucapan Zefano.
__ADS_1
Anak itu langsung tertawa sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Melihat kedua orang yang terlihat canggung itu.
"Ehm.. ayo Zeno kita kembali ke kamarmu," ucap Valendino akhirnya.
"Baiklah, Dokter Cantik.., Zeno balik ke kamar dulu ya," ucap Zefano pamit.
"Ya, sayang," ucap Dokter Shinta.
"Sampai jumpa Dokter Cantik," ucap Valendino.
"Sampai jumpa Uncle Val," jawab Dokter Shinta.
Valendino kemudian menggendong Zefano.
"Dokter cantik itu pacar Zeno, Zeno hebat kan?" ucap Zefano.
"Ya, Zeno hebat. Uncle Val saja se tua ini belum punya pacar, Zeno masih kecil sudah punya pacar," ucap Valendino.
"HAH, UNCLE VAL BELUM PUNYA PACAR?" teriak Zefano.
"Jangan keras-keras ngomongnya, malu," ucap Valendino sambil menoleh dan tersenyum malu pada Dokter Shinta.
Zefano tersenyum pada Dokter Shinta yang di balas dengan senyum malu-malu juga oleh dokter cantik itu.
Zefano digendong kembali ke kamarnya oleh Valendino. Mendudukkan anak itu di ranjangnya kemudian menggeser overbed table yang telah bersusun hidangan makan siang untuk Zefano.
"Ayo dihabiskan makan siangnya, kalau tidak habis nanti dikira belum sehat jadi nggak boleh pulang ke rumah lho. Ini makanan sehat banyak sayurannya berarti banyak vitaminnya. Zeno habiskan semua ya, makanan tidak boleh dibuang-buang," ucap Valendino sambil menyuapi Zefano.
"Zeno bisa makan sendiri Uncle tapi brokoli Zeno nggak suka jadi buat Uncle Val aja," ucap Zefano sambil menyisihkan brokoli ke pinggir.
"Tapi brokoli itu sayuran yang banyak nutrisinya," ucap Valendino mengelak.
"Ya, Zeno makan sayur yang lain aja, masih ada wortel, sawi, baby corn, buncis, jamur tapi brokolinya buat Uncle Val aja," jelas Zefano.
"Semua sayuran ini Zeno suka kecuali brokoli?" tanya Valendino yang dibalas dengan anggukan Zefano.
Valendino menghembuskan nafas berat.
"Kenapa Zeno bisa beda dengan Mama, dia sangat suka sayur brokoli?" ucap Valendino ingat saat pertama kali makan bersama Allena yang menghabiskan semua brokoli di piringnya.
"Nggak tahu, ini brokolinya Uncle, ini makanan sehat banyak vitaminnya, ini aaaa," ucap Zefano menyuapi Valendino.
"Ayo habiskan brokolinya, makanan nggak boleh dibuang-buang," bisik Zefano kembali menyuapi brokoli ke mulut Valendino.
Valendino terpaksa memakan brokoli yang disuapi Zefano. Dengan wajah yang mengernyit, memaksakan diri memakan sayuran yang dibencinya. Valendino memalingkan wajah agar wajah tersiksanya tak terlihat oleh Zefano
Terkejut saat melihat Allena yang tertawa sambil menutup mulutnya di balik lobang kaca pintu. Valendino langsung menelan brokoli di mulutnya. Allena akhirnya masuk ke dalam dan terus tertawa.
Zefano senang melihat mamanya yang datang sambil tertawa.
"Zeno hebat bisa paksa Uncle Val makan brokoli," ucap Allena masih tertawa.
"Jangan ketawa, lihatlah harusnya kamu sedih, anakmu tidak mirip denganmu. Kamu suka brokoli sedangkan anakmu benci brokoli," ucap Valendino pura-pura kesal.
Allena menghentikan tawanya.
Dia mirip dengan papanya kak, Zeno dan Kak Zefran sama-sama tidak suka brokoli, bisik hati Allena.
"Permisi Bu," ucap seorang suster yang tiba-tiba masuk ke ruangan Zefano.
"Ya suster, ada apa?" tanya Allena.
"Apa ibu bisa ikut dengan saya, Dokter ingin bicara dengan ibu," ucap suster itu.
Allena menoleh ke arah Valendino, gadis itu langsung mendapat firasat buruk. Raut wajahnya berubah menunjukkan risau dihatinya.
"Ayo Allena kita temui dokter," ucap Valendino mengajak.
"Zeno habiskan makanannya ya nak, Uncle Val sama Mama mau menemui dokter dulu," ucap Valendino yang dibalas anggukan oleh Zefano.
Allena pun menemui dokter ditemani Valendino.
"Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang. Kami mendapat kesimpulan kalau Zefano didiagnosis menderita kanker darah atau dikenal dengan leukemia," ucap Dokter dengan wajah menyesal.
Mendengar itu air mata Allena langsung mengalir, apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Gadis itu syok hingga termangu dengan air mata yang meleleh begitu saja.
Valendino berusaha menyadarkan gadis yang terdiam mematung itu, gadis itu menoleh pada Valendino dan langsung menangis histeris. Valendino memeluk gadis yang terguncang itu sambil terus menghibur untuk menenangkannya.
...~ Bersambung ~...
Dear,
Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon.
Hari ini Sabtu, 1 Januari 2022, tepat di Bab 50 karya saya yang berjudul :
...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...
Mengucapkan terima kasih atas dukungannya untuk karya Lomba Menulis bertema Berbagi Cinta.
Like, vote, Comment, Favorit dan segala bentuk dukungan apa saja sangat, sangat, sangat berarti bagi saya, yang menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.
...Pada kesempatan ini izinkan saya mengucapkan :...
...🎉🎉🎉🎉 Selamat Tahun Baru 2022. 🎉🎉🎉🎉...
Semoga tahun 2022 lebih baik dari tahun² sebelumnya, semakin sukses, hidup berkah, sehat, bahagia, selamat dunia dan akhirat.
Semoga harapan dan impian kita menjadi kenyataan.
Aamiin..
🤲🤲🤲🤲
Akhir kata, saya sebagai author karya ini mengucapkan banyak terima kasih dan terus beri dukungannya ya,
^^^Salam hormat,^^^
__ADS_1
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^