Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 34 ~ Birth of Day ~


__ADS_3

Zefran muncul tiba-tiba membuat Frisca kaget dan langsung menutup sambungan teleponnya. Menatap wajah suaminya dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang langsung pucat pasi. Frisca terpaku tak bisa bicara saat mengetahui suaminya telah mendengar pembicaraannya.


Apa Zefran mendengar pembicaraanku? Sejauh mana dia mendengarnya? Apa dia tahu aku ingin menyingkirkan perempuan itu? batin Frisca.


"Kenapa tidak dijawab, siapa yang ingin disingkirkan?" tanya Zefran lagi.


"Pesaing bisnisku," jawab Frisca tanpa pikir panjang.


Zefran mengangguk. "Untuk bisa menyingkirkannya kamu harus tahu kelemahannya." Saran Zefran.


"Ya, tentu saja, saat ini aku sedang mengumpulkan bukti-bukti yang menjadi kelemahannya," ungkap Frisca.


"Jangan terlalu kejam saat menyingkirkannya, orang bisa menaruh dendam padamu." Saran Zefran lagi.


"Baiklah, aku bukan orang yang kejam. Tidak akan membuatnya terpuruk apalagi memaksa orang itu hingga bunuh diri. Aku hanya menyingkirkan kerikil yang menghalangi jalanku, yang membuat hidupku menjadi tidak nyaman," jelas Frisca.


Wanita itu leluasa mengibaratkan istri muda Zefran sebagai pesaingnya dan Zefran justru memberi saran pada Frisca. Wanita itu tersenyum di dalam hatinya.


"Zefran, ada keperluan apa datang kemari? Aku belum melewati jam kerja bukan?" tanya Frisca mencoba mengalihkan pembicaraan.


Wanita itu merasa takut jika terlalu leluasa membicarakan tentang rencananya menyingkirkan Allena. Dia tidak sanggup memilah ucapannya hingga membuat Zefran curiga nantinya.


"Nanti malam Altop ingin mengadakan pesta ulang tahun berdirinya Night Club Luxury. Apa kamu ingin membeli gaun untuk acara itu?" tanya Zefran.


"Ulang tahun Luxury, rasanya belum lama ini kita merayakannya. Sekarang sudah ulang tahun lagi," ucap Frisca tertawa yang dibuat seceria mungkin.


Zefran hanya mengangguk, laki-laki itu juga ingat saat-saat merayakan bertambahnya usia Night Club sahabatnya itu tahun lalu. Untuk menunjukkan rasa hormatnya pada Altop, Zefran yang sedang melakukan perjalanan bisnis buru-buru pulang dan mendapati Night Club itu dalam keadaan gelap dan sepi.


Sesaat kemudian lampu dinyalakan dan terlihat orang ramai mengagetkannya.


"Ini bukan ulang tahunku kenapa justru kalian mengerjaiku dan memberi surprise untukku?" tanya Zefran masih mengurut dada karena kaget.


"Karena meski usaha ini milikku tapi tanpa dukungan darimu Night Club ini tidak akan berdiri," jelas Altop sambil memeluk sahabatnya itu.


Altop sangat berterima kasih pada Zefran karena memberinya dukungan yang besar hingga membuatnya berani mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan ayahnya. Altop merasa tanpa bantuan dari Zefran, usahanya itu tidak akan pernah muncul. Karena itu Altop selalu menganggap Zefran sebagai pemilik kedua dari Night Club mewah itu.


Frisca yang mengetahui betapa besar arti Zefran bagi Altop dan Night Club-nya, memberi tahu kalau Zefran sedang mengusahakan pulang merayakan hari jadi usaha Altop itu. Mendengar omongan Frisca, Altop, Ronald dan Valendino pun akhirnya membuat kejutan untuk sahabatnya itu.


"Baiklah ... temani aku mencari gaun istimewa untuk nanti malam," ucap Frisca yang memang sangat suka berburu gaun-gaun mewah, perhiasan-perhiasan serta segala aksesoris penunjang penampilannya.


Sekali belanja untuk sebuah acara Frisca bisa menghabiskan hingga milyaran. Untuk gaun, perhiasan, high heels dan aksesoris. Semua harus match dengan gaun pilihannya. Butik yang dikunjungi untuk mendapatkan semua  itu haruslah butik ternama yang hanya menyediakan barang-barang limited edition. Frisca akan berbelanja sepuas-puasnya di temani Zefran.


Laki-laki itu dengan senang hati menemani istri tercintanya menghambur-hamburkan uangnya. Dari satu butik ke butik lain. Hingga satu ketika matanya tertuju pada sosok yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke sebuah restoran mewah.


Zefran langsung keluar dari butik dan meninggalkan istrinya yang sedang asyik memilih gaun model terbaru. Zefran berjalan memasuki restoran mewah itu dan langsung mencari sosok yang membuat darahnya mendidih. Hingga akhirnya melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan. Zefran langsung mendatangi, menangkap tangan gadis yang sedang minum air putih itu. Allena terkejut dan langsung berdiri.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa bisa bersamanya? Apa kamu benar-benar berselingkuh dengannya?" tanya Zefran dengan nada membentak.


"Zefran tenanglah ... jangan menarik perhatian orang!" seru Valendino yang juga ikut berdiri.


"Diam kamu!" bentak Zefran lagi dan langsung menarik tangan Allena.


"Setidaknya biarkan dia makan dulu dari tadi mengantri menunggu giliran memeriksakan kandungannya hingga sore begini masih belum makan. Apa kamu tidak kasihan padanya?" tanya Valendino.


"Apa katamu? Periksa kandungan? Kenapa bersamamu? Kenapa kalian melakukannya bersama? Aku suaminya, itu tugasku mengantarnya ke dokter kandungan, kenapa harus kamu yang melakukannya?" tanya Zefran semakin emosi.


"Duduklah dulu biar kami jelaskan!" ucap Valendino.


"Tidak usah, biar Allena yang menjelaskannya padaku," ucap Zefran kembali menarik tangan istrinya.


Valendino melirik pengunjung restoran yang menatap ke arah mereka.


"Kamu ingin meminta penjelasan darinya atau ingin memakinya?" tanya Valendino.


Zefran bersiap melayangkan pukulan ke wajah Valendino. Namun, Allena langsung menahan tangan suaminya.


"Ayo kita pulang Kak, ayo ... ayolah," ucap Allena sambil menarik suaminya menjauh dari Valendino.


Zefran berjalan sambil terus menatap ke arah Valendino. Namun, Valendino tidak peduli, matanya hanya tertuju pada Allena yang masih sibuk menarik tangan suaminya pergi. Valendino merasa prihatin dengan nasib Allena. Membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya itu padanya.


Valendino terduduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Menghilangkan bayangan Zefran yang akan menyakiti hati Allena dengan ucapan kasar dan makian. Laki-laki itu merasa tersiksa melihat wanita yang dicintainya hidup menderita.

__ADS_1


Frisca keluar dari butik saat melihat Zefran memaksa Allena masuk ke dalam mobil. Memandang suaminya yang terburu-buru ingin pergi.


"Teruslah belanja, aku akan mengantar Allena pulang dulu. Aku akan segera kembali!" seru Zefran langsung masuk ke dalam mobil dan melaju pulang.


Selama perjalanan Allena hanya sanggup melirik Zefran tanpa bisa berkata apa-apa. Terlihat ekspresi laki-laki itu masih terlihat kesal.


"Kenapa saat aku menawarkan diri untuk mengantarmu ke dokter kandungan kamu menolakku? Tapi sekarang justru pergi dengan laki-laki itu? Kenapa kamu lebih suka bepergian dengannya? Kamu bahagia bersamanya?" tanya Zefran dengan nada yang semakin meninggi.


Allena diam menunduk tidak tahu memulai dari mana untuk menjelaskannya.


"KENAPA? KATAKAN PADAKU!" teriak Zefran.


"Aku tidak minta diantar olehnya, tadinya aku pergi sendiri tapi saat ingin berangkat dia melihatku. Dia menawarkan diri mengantarku. Aku sudah menolaknya tapi dia bilang merasa khawatir jika aku pergi sendiri. Akhirnya kak Valen mengantarku," jelas Allena.


"Bagus, bagus sekali. Kamu pikir aku menawarkan diri mengantarmu bukan karena aku khawatir padamu? Kamu berani menolakku tapi tidak berani menolaknya? Apa kamu tahu? Dia menggunakan segala cara agar bisa bersamamu? Apa kamu tahu itu? Apa kamu sadar?" kembali Zefran bertanya dengan nada yang tinggi.


"Maafkan aku, bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin merepotkan siapa pun," jawab Allena.


Zefran diam, laki-laki itu sadar betul sifat Allena yang satu itu. Lebih baik menahan sakit sendiri daripada merepotkan orang lain. Tiba-tiba Zefran merasa menyesal sendiri mengikuti ucapan Allena.


Harusnya aku memaksa mengantarnya bukannya pasrah saat dia menolak, karena itu yang pasti dilakukan Valen agar bisa terus bersama Allena, jerit hati Zefran.


"Makanlah yang banyak di rumah. Kamu tidak harus makan bersama Valen, aku bisa menemanimu," ucap Zefran akhirnya melunak.


"Baiklah," jawab Allena pelan.


Dalam hati gadis itu bersyukur, apa yang dibayangkannya tidak terjadi. Jika disuruh memilih makan bersama Valendino atau bersama suaminya, Allena tentu memilih bersama suaminya. Zefran tidak memperpanjang masalah dan Allena merasa bersyukur karena itu.


Sesampai di rumah Zefran segera minta disediakan makanan untuk dia dan istrinya. Meskipun Zefran telah makan siang sebelum menjemput Frisca di kantornya, laki-laki itu memutuskan menemani Allena makan seperti yang dijanjikannya.


"Aku sudah makan tapi aku akan menemanimu atau sebaiknya aku menyuapi kamu saja," usul Zefran.


"Tidak usah Kak, aku makan sendiri saja," sahut Allena.


Tidak usah Kak, tidak usah Kak, biar aku sendiri saja. Mulai sekarang aku tidak harus patuh pada kata-kata itu lagi, batin Zefran.


Zefran mengambilkan makanan di piring Allena lengkap dengan segala macam masakan, lalu meletakkannya di hadapan gadis itu. Zefran mulai menyuapi istrinya. Allena merasa heran namun akhirnya menyantap makanan yang disodorkan laki-laki itu.


"Malam itu kamu sudah menyuapi aku nasi campur buatanmu, sekarang giliran aku yang menyuapimu" ucap Zefran kembali menyodorkan makanan ke mulut istrinya.


"Setelah makanmu habis aku akan menjemputnya, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk belanja. Nanti malam kami akan hadir di acara ulang tahun berdirinya Night Club Luxury. Aku ingin membawamu tapi aku tidak ingin kamu bertemu dengan Valendino," ucap Zefran terus terang.


Allena menunduk, melihat itu Zefran merasa heran. Mengangkat dagu gadis itu dan bertanya.


"Kenapa? Apa kamu juga ingin ikut?" tanya Zefran.


"Sebenarnya teman-teman di Night Club mengundangku untuk datang ke acara itu tapi jika Kakak tidak mengizinkan, aku tidak akan datang," ucap Allena.


"Kamu mau aku menggandeng dua istri di acara itu?" tanya Zefran.


"Kakak tidak usah pedulikan aku, di sana anggap saja kita tidak saling kenal. Jika Kakak tidak ingin diketahui memiliki dua istri," ucap Allena semakin pelan.


"Tidak bisa, jika pura-pura tidak kenal. Valen akan leluasa mendekatimu karena dia tahu aku merahasiakan statusku yang memiliki istri dua. TIDAK, AKU TIDAK SETUJU!" ucap Zefran semakin keras.


Allena menyentuh tangan suaminya untuk menenangkan hati laki-laki itu.


"Baiklah! Aku tidak akan datang," ucap Allena pasrah.


"Maafkan aku! Aku tidak sanggup melihatmu di dekati Valen lagi. Aku janji tidak akan lama di sana," ucap Zefran.


"Baiklah, sekarang biar aku makan sendiri. Kakak jemputlah Nyonya Frisca, aku takut dia bosan menunggu," ucap Allena.


Ny. Frisca pasti akan menyalahkanku karena menahan Kakak di sini, bisik hati Allena.


"Baiklah sayang, makannya dihabiskan ya," ucap Zefran lalu mengecup bibir istrinya dan berlalu dari kediaman Dimitrios.


Allena menikmati makannya sendiri, selalu berusaha mengingatkan suaminya untuk memperhatikan istri pertamanya. Kadang gadis itu merasa menyesal sendiri meminta Zefran lebih perhatian pada Frisca. Begitu Allena meminta suaminya peduli, Zefran akan langsung mengurusi istri pertamanya.


Namun, Allena langsung menepis kesedihannya karena Allena tidak ingin Frisca merasa diabaikan karena dirinya.


Mungkin karena Kak Zefran ingin mengikuti keinginanku, bukannya aku sendiri yang meminta dia pergi, batin Allena sambil menepuk keningnya berkali-kali.

__ADS_1


Allena menjalani masa kehamilannya dengan bahagia dan juga sedih. Berkali-kali mendapat tatapan curiga dari suaminya pada Valendino. Saat jadwal periksa kandungan adalah saat-saat yang yang dicemaskan Allena. Valendino seperti telah mengetahui jadwal pemeriksaan kehamilannya. Tiba-tiba muncul di toko bunga atau di dapati telah duduk di kursi tunggu dokter spesialis kandungan itu.


Berkali-kali Allena meminta agar laki-laki itu jangan menemaninya lagi. Jawabnya cuma satu, kalau ada Zefran yang menemani maka dia tidak akan muncul. Allena merasa serba salah. Memberitahu pada Zefran, laki-laki itu pasti akan marah besar. Tidak memberitahunya membuat Allena merasa seperti menyimpan kebohongan.


"Allena, kandunganmu sudah semakin besar, kapan kamu ingin cuti melahirkan?" tanya Tiara pemilik toko bunga.


"Nanti saja kak saat akan melahirkan, jadi aku punya waktu agak lama untuk mengurus bayi," jawab Allena.


"Kamu masih diizinkan bekerja setelah melahirkan?" tanya Tiara lagi.


"Belum dibicarakan Kak, lihat situasi nanti. Jika memungkinkan untuk tetap bekerja, aku akan tetap bekerja tapi jika rasanya tidak sanggup meninggalkan anak mungkin aku akan berhenti kerja Kak," jelas Allena.


Tiara mengangguk, lalu mengelus perut Allena yang telah membesar. Allena tersenyum sipu.


"Senangnya, sudah dipercaya memiliki bayi? Sementara banyak pasangan yang berusaha sekuat tenaga tapi masih belum dipercaya memiliki bayi," ucap Tiara.


"Ya Kak, bersyukur Kakak juga sudah memiliki anak," ucap Allena sambil tersenyum.


"Tapi pernikahanmu baik-baik saja 'kan? Aku melihat tuan Valendino sedikit berlebihan memperhatikanmu. Apa tidak masalah bagi suamimu?" tanya Tiara sambil memetik daun-daun yang telah kering.


"Sebenarnya mereka bersahabat tapi jika suamiku tahu sahabatnya itu begitu perhatian padaku dia akan sangat marah," jawab Allena.


"Kalau begitu kurangilah pertemuan kalian. Cobalah untuk berani menolak, sifatmu yang selalu merasa tidak enak hati menolak orang harus mulai dikurangi. Pentingkan kebahagiaanmu, jangan karena merasa tidak enak hati pada tuan Valendino kamu terus mendapat prasangka dan perlakuan yang buruk dari suamimu," jelas Tiara panjang lebar.


"Baik Kak, aku akan mencoba untuk belajar tegas padanya," ucap Allena yakin.


"Kamu tidak memiliki perasaan khusus pada tuan Valendino 'kan?" tanya Tiara tiba-tiba.


"Ah tidak Kak, sungguh tidak ada sedikit pun perasaan khusus. Hanya rasa pertemanan biasa," ucap Allena melambaikan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya sebagai penegasan.


"Baiklah, sampai semangat gitu menyangkalnya. Tapi kamu menyadari 'kan, kalau tuan Valendino menyukaimu?" tanya Tiara lagi sambil tersenyum dan Allena mengangguk.


"Hati-hati Allena, jangan sampai suamimu mengira kamu juga menyukai tuan Valendino," ucap Tiara menasehati.


Allena kembali mengangguk dengan wajah risau. Apa yang dikatakan Tiara memang telah dialaminya. Tuduhan Zefran kalau dia menyimpan perasaan yang sama pada Valendino telah berkali-kali dilontarkannya.


Namun, hingga saat ini mereka masih bisa mengatasi dan tetap mempertahankan pernikahan mereka. Rasa cemburu Zefran yang besar sering menjadi pemicu munculnya kata-kata kejam dan sikap dingin yang ditujukan padanya. Sebagian besar pelampiasan Allena hanya dengan menangis menerimanya.


Gadis itu berpikir Zefran berkata-kata kasar dan dingin karena hatinya yang sakit karena cemburu dan terlalu mencintainya. Itu adalah pemikiran yang sengaja dibuat Allena untuk menghibur dirinya sendiri.


"Selamat siang florist cantik," sapa Valendino.


"Kak, ada perlu apa Kak Valen kemari?" tanya Allena.


"Keperluanku ke sini untuk menghilangkan rasa rinduku," jawab Valendino menggoda.


"Kakak jangan seperti itu," ucap Allena dengan wajah risau.


"Baiklah, baiklah! Tentu saja untuk mendapatkan sebuah buket bunga," jawab Valendino lagi sambil tersenyum.


"Baiklah kalau itu," ucap Allena langsung pergi mencari bunga-bunga yang diperlukannya.


"Jangan buru-buru, kamu itu sudah hamil besar. Hanya tinggal menunggu hari 'kan?" tanya Valendino sedikit berteriak karena Allena yang telah berada di sisi rak bunga yang lain.


Tidak ada jawaban dari gadis itu atau Allena yang segera kembali membawa bunga-bunganya. Valendino penasaran dan menyusul Allena berjalan ke balik rak bunga.


Valendino terkejut saat melihat Allena yang telah duduk bersimpuh di lantai menahan sakit. Keringat memenuhi keningnya, Valendino juga melihat cairan yang mengalir dari sela-sela paha Allena. Gadis itu terlihat kesakitan hingga tidak bisa bersuara.


Valendino segera menggendong Allena, berteriak memberitahu Tiara tentang kondisi Allena. Pemilik toko itu langsung keluar dari kantornya dan meminta Valendino untuk mengantarkan Allena ke rumah sakit. Bersama-sama akhirnya mereka membawa Allena ke rumah sakit untuk melahirkan. Begitu panik dan risaunya mereka menunggu hingga tak ada satu pun dari mereka yang ingat untuk menghubungi suami Allena.


Menunggu hingga empat jam, yang dilakukan Valendino dan Tiara hanya mondar mandir, duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Hingga akhirnya bayi Allena lahir, gadis itu segera menggendong bayi laki-lakinya, mengecup puncak kepala bayi itu dan melakukan inisiasi menyusui dini hingga bayi itu terlelap di dadanya.


Setelah proses persalinan itu selesai dan Allena di pindahkan ke kamar perawatan. Barulah Valendino dan Tiara bisa menemui Allena. Tiara langsung menggendong dan asyik menimang bayi yang telah tertidur lelap itu. Allena melihat-lihat, matanya mencari-cari, lalu tertunduk sedih. Saat itu lah Valendino baru sadar kalau Allena sedang mencari suaminya. Segera Valendino keluar kamar untuk menghubungi Zefran.


"APA SUDAH MELAHIRKAN?" teriak Zefran.


"Maaf kami lupa menghubungimu," ucap Valendino benar-benar merasa menyesal.


Tak terkira betapa kecewanya Zefran setelah mengetahui Allena melahirkan tanpa ditemani olehnya. Zefran bahkan mengobrak-abrik semua yang ada di atas meja kerjanya.


"Aku suamimu tapi dia yang menemanimu. Kurang ajar! kurang ajar! BRENGSEK!" teriak Zefran.

__ADS_1


Patrick masuk ke ruangan dan bertanya apa yang terjadi. Dengan kesal Zefran menceritakan apa yang terjadi. Patrick segera menenangkan Zefran dan mengajaknya untuk segera menjenguk Allena.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2