
Semuanya tertawa mendengar ucapan Altop dan Ronald. Namun, tidak bagi Allena. Wanita itu justru merasa tidak tahan lagi mendengar candaan mereka. Allena berdiri dan menunjukkan kemarahannya pada Zefran. Seolah-olah suaminya sengaja mengajaknya bergabung hanya untuk menertawakannya.
Allena membanting serbet di tangannya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Zefran memandang Dokter Shinta, wanita itu mengangguk. Zefran langsung pergi menyusul istrinya
"Kalian keterlaluan," ucap Valendino yang juga ingin berdiri.
"Jangan ikut campur Val! Mereka sedang ada masalah, jika tidak dipancing emosinya Allena akan memendam perasaannya. Biarkan mereka mengatasi masalah mereka," ucap Shinta sambil menahan tangan Valendino.
"Bagaimana kalau hubungan mereka bertambah buruk?" tanya Valendino khawatir.
"Kita yang akan membantu menyelesaikannya tapi saat ini biarkan Zefran berusaha sendiri," ucap Shinta.
"Aku jadi menyesal mengucapkan kata-kata tadi," ucap Altop yang di barengi anggukan oleh Ronald.
"Ya, padahal dia tidak gemuk, hanya pipinya yang sedikit chubby dan itu juga menggemaskan," sesal Ronald.
"Wanita hamil dan menyusui memang seperti itu, ada banyak alasan kenapa wanita pasca melahirkan mengalami kegemukan, proses menyusui yang mendesak ibu untuk makan lebih banyak karena sering merasa lapar. Tapi dalam kasus Allena, stress yang menjadi penyebabnya. Karena stres yang berlebihan, ada hormon tertentu yang dilepaskan hingga mengakibatkan kenaikan berat badan. Sekarang ini Allena memang sedang sensitif, selain karena pengaruh hormon itu mungkin juga ditambah dengan masalah dalam rumah tangga mereka. Kalian malah bercanda seperti itu, meski dia sama sekali tidak mengalami kenaikan berat badan tapi setahu dia wanita hamil memang mengalami kegemukan, jadinya dia percaya dengan omongan kalian," jelas Shinta.
"Seharusnya Zefran tidak mengajaknya ke sini tadi," ucap Frisca.
"Ini justru lebih baik, membiarkan dia menyendiri akan membuatnya merasa semakin di kucilkan dan itu jelas-jelas tidak baik bagi jiwanya," jelas Shinta lagi.
Sementara itu menuju pintu gerbang Allena berjalan tergesa-gesa sambil menangis. Zefran menghentikannya.
"Mau kemana?" tanya laki-laki itu sambil menahan tangan istrinya.
"Mau pulang!" seru Allena yang berusaha melepas tangannya dari genggaman Zefran.
"Masuklah ke mobil, aku cari Zeno dulu," ucap Zefran sambil menarik tangan istrinya mendekati mobil.
"Aku bisa pulang sendiri!" teriak Allena.
"Aku tidak izinkan kamu pulang sendiri. Tunggu di sini!" ucap Zefran sambil membukakan pintu mobil.
Setengah berlari Zefran kembali ke kediaman keluarga Adams. Zefran pamit pada kedua mantan mertuanya saat berpapasan mencari Zefano. Zefran juga singgah ke meja teman-temannya.
"Bagaimana?" tanya Shinta yang heran melihat Zefran kembali.
"Allena mau pulang, aku balik dulu ya," ucap Zefran sambil membawa putranya menuju mobil.
Zefran lega melihat Allena yang telah duduk di dalam mobil. Zefran melajukan mobilnya menuju kediaman Dimitrios. Sesekali laki-laki itu menoleh ke arah Allena, Zefran menyadari hingga kini wanita itu masih mengalirkan air matanya.
"Kenapa cepat pulang?" tanya Zefano.
Allena hanya diam, Zefran yang akhirnya memberi jawaban.
"Sekarang Keisya tinggalnya di sana ya?" tanya Zefano lagi.
"Ya, karena itu rumah Tante Frisca," jawab Zefran.
Laki-laki itu melirik istrinya yang masih diam tak mau menjawab pertanyaan Zefano. Terlihat olehnya Allena yang menghapus air matanya dengan kasar.
"Om Valdo ajak kita berlibur di Villanya Tante Frisca Pa. Kita ikut ya Pa?" tanya Zefano lagi.
Allena kembali menghapus air matanya.
"Kalau Zeno mau ikut ya ayok!" ucap Zefran.
"Asyik nanti kita kumpul lagi sama Keisya, Om Valdo dan Tante Frisca," teriak Zefano.
Air mata Allena semakin deras mengalir. Dia merasa kedua laki-laki yang disayanginya itu semakin dekat dengan Frisca. Zefran menarik nafas berat, laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menerima panggilan telepon. Zefran berbincang sebentar dan sesekali melirik Allena. Tersirat dari pembicaraan Zefran kalau panggilan itu berasal dari Frisca.
Laki-laki itu kadang tertawa lalu menyetujui hingga akhirnya laki-laki itu menutup panggilan teleponnya. Zefran menoleh pada Allena yang masih terlihat murung meski tak lagi terisak. Zefran ingin menyimpan kembali ponselnya di saku namun terhenti, laki-laki itu memutuskan menaruh ponselnya di dashboard.
Begitu sampai di rumah, wanita itu langsung masuk ke walk in closet. Mengambil sebuah travel bag dan menata pakaian putrinya di dalam tas yang tak terlalu besar itu. Sementara itu Zefran mengantar Zefano ke kamarnya.
"Tadi udah makan belum?" tanya Zefran yang di balas anggukan oleh Zefano.
__ADS_1
"Ya udah, kalau Zeno sudah mengantuk, Zeno tidur ya nak!" ucap Zefran.
Kembali Zefano mengangguk, kemudian Zefran mengecup puncak rambut anak itu dan keluar dari kamar anak laki-lakinya itu. Zefran segera mencari istrinya ke kamar mereka. Zefran terkejut saat melihat Allena yang memasukkan pakaian bayi ke dalam sebuah travel bag.
"Apa ini? Apa yang kamu lakukan?" tanya Zefran.
"Kakak sudah izinkan aku pulang ke rumah Ibu setelah menghadiri acara Kak Frisca," ucap Allena.
"Ya, tapi jangan sekarang juga. Ini sudah malam Allena," ucap Zefran.
"Tidak apa-apa, lagipula aku datang ke rumah ibu bukan ke rumah orang lain," sahut wanita itu.
"Nggak! Jangan sekarang, nanti ke rumah ibu setelah kembali dari berlibur di Villa Frisca. Setelah itu …,"
"Nggak aku mau pulang sekarang, aku nggak mau ke Villa Frisca, aku tidak mau ikut berlibur bersamanya, aku tidak suka dekat dengannya, aku benci padanya," teriak Allena.
"Allena! Kamu ini kenapa? Bukannya kamu sudah memaafkannya? Bahkan kamu mendukungnya saat dia sakit. Kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Zefran heran.
"Aku benci padanya! Aku benci padamu!" teriak Allena.
"CUKUP! JIKA SEMUA INI KARENA KEJADIAN KEMARIN AKU SUDAH MEMINTA MAAF PADAMU. DAN PONSEL ITU KAMU TIDAK … KAMU BOLEH … Di mana ponselku?" tanya Zefran.
Allena terdiam mendengar bentakan Zefran. Dalam sekejap mata wanita itu kembali berkaca-kaca.
"DI MANA PONSELKU?" tanya Zefran mengulang pertanyaannya.
"Di dashboard," ucap Allena dengan air mata yang telah mengalir.
"Ambilkan!" seru Zefran.
"Tidak mau, aku tidak mau menyentuh ponselmu lagi!" seru Allena.
"Ambilkan! CEPAT AMBILKAN!" perintah Zefran dengan sorot mata yang tajam.
Allena melangkah keluar kamar sambil menangis terisak. Zefran memejamkan mata dan menjambak rambutnya sendiri. Laki-laki itu keluar dari walk in closet dan menunggu Allena di kamar.
Air mata Allena mengalir, laki-laki itu telah memaksanya melanggar janjinya untuk tidak menyentuh ponsel laki-laki itu lagi. Allena maju dan meletakkan ponsel itu di telapak tangan Zefran sambil menunduk sedih.
Zefran menggenggam ponsel itu dan sebelah tangannya menyambar tangan Allena dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Allena meronta tapi Zefran memeluknya erat
"Aku tak peduli kamu menyentuh ponselku atau mengotak-atiknya bahkan jika kamu ingin membantingnya pun aku tidak peduli. Ponsel itu sama sekali tidak ada harganya dibandingkan dirimu. Tak ada barang pribadi karena kita adalah satu, milikmu adalah milikku, milikku adalah milikmu. Aku marah padamu bukan karena kamu merebut ponselku tapi karena aku cemburu melihat foto-fotomu bersama model itu. Aku tidak bisa menguasai diri jika cemburu, itu karena aku takut kehilanganmu Allena. Tolong ... jangan pulang ke rumah ibu, apalagi saat emosional seperti ini," bisik Zefran sambil tetap memeluk istrinya.
Laki-laki itu bahkan mencium pangkal leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma segar tubuh istrinya. Allena diam, Allena terpaku, air matanya meleleh mendengar ucapan laki-laki itu. Setelah apa yang mereka lalui barulah Zefran mengakui isi hatinya yang sebenarnya.
Berulang kali hanya meminta maaf dan meminta maaf tanpa menjelaskan penyebab kemarahannya. Zefran terlalu malu mengakui rasa cemburunya. Terlalu takut dinilai kalah dari laki-laki lain. Terlalu takut kehilangan Allena dan laki-laki itu terlalu takut ditertawakan karena kecemburuannya yang berlebihan.
Zefran menangkup wajah istrinya, kemudian membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu. Allena memejamkan matanya saat menikmati ciuman lembut suaminya. Zefran melepas gaun Allena dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Namun, wanita itu justru melepas semuanya, Zefran kaget. Lebih kaget lagi saat Allena melepas pakaian Zefran.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Zefran yang takut tidak bisa menahan diri.
Allena hanya diam, terus menciumi leher laki-laki itu sambil melepas semua yang melekat di tubuh atletis suaminya.
"Apa kamu … sudah suci, sayang?" tanya Zefran dengan nafas yang sudah terengah-engah menahan hasratnya.
Allena mengangguk, Zefran merasakan anggukan di lehernya. Tak menunggu lama laki-laki itu menggendong Allena ke ranjang dan melepaskan hasratnya yang telah tertahan lama. Setelah sekian lama menahan diri, mereka merasa seperti pengantin baru lagi.
Zefran bahkan berusaha memberikan kepuasan pada istrinya hingga berkali-kali.
Aku lakukan segalanya untukmu Allena, agar kamu tak ingin lepas dariku seperti apa pun godaan yang datang padamu. Aku mencintaimu, kamu akan selalu menjadi milikku, batin Zefran menunjukkan rasa tak percaya dirinya akan kemampuannya mempertahankan Allena.
Allena tidur dalam pelukan suaminya, sementara Zefran sama sekali tidak mau memejamkan matanya. Berkali-kali hanya menciumi bibir istrinya itu. Zefran sangat merindukan bermesraan dengan istrinya seperti dulu. Tanpa batasan dan sama-sama menikmati.
Biasanya setelah berhubungan, mereka akan semakin mesra. Begitu pun pagi itu, wajah mereka berseri. Allena menatap wajah tampan suaminya yang sekarang justru masih tertidur lelap. Giliran Allena yang mengecup lembut bibir suaminya.
Zefran tersenyum saat merasakan tarikan-tarikan lembut di bibirnya hingga berkali-kali. Dengan cepat laki-laki itu menangkap tubuh indah istrinya dan memeluknya erat. Zefran membuka mata dan tersenyum, pada wanita yang meletakkan dagunya di dada bidangnya.
"Jangan cemburu pada Kak Robert dia sama seperti ponsel Kakak, mau Kakak otak-atik atau Kakak banting pun aku tidak peduli. Kak Robert itu sama sekali tidak ada artinya dibandingkan Kakak," ucap Allena.
__ADS_1
Zefran langsung tertawa mendengar Robert yang di ibaratkan seperti ponselnya. Allena hanya tersenyum heran melihat respon suaminya. Zefran berusaha meredakan tawanya.
"Aku tahu, aku sudah bertemu dengannya," ungkap Zefran
"Apa? Kakak menemuinya? Kenapa?" tanya Allena langsung duduk.
Wanita itu seperti tidak suka jika Zefran menemuinya.
"Tadinya ingin memberi peringatan padanya agar jangan mengganggumu lagi. Tapi setelah mendengar ceritanya aku justru merasa bimbang. Dia banyak berjasa padamu, dia menyayangimu, membantumu, mendukungmu, menemanimu di masa-masa sulit. Aku benar-benar merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna bagimu," ucap Zefran.
Laki-laki itu memejamkan matanya. Kemudian meneruskan ceritanya.
"Dia bukanlah seseorang yang tidak berarti Allena, dia sangat berjasa bagimu. Kamu tidak boleh menganggap kecil kebaikannya padamu," ucap Zefran.
Lalu duduk di hadapan Allena, Zefran membelai lembut pipi istrinya.
"Meski dia sangat berjasa padamu tapi tolong jangan tinggalkan aku demi dirinya, ya!" ucap Zefran memohon.
Allena tersenyum.
"Aku pernah bilang, jangan khawatirkan perasaanku padanya. Kami murni bersahabat, atau hanya seorang kakak bagiku. Kadang aku merasa Kak Zefran tidak adil. Aku menerima semua teman-teman Kakak menjadi temanku. Tapi giliran aku, satu temanku saja Kakak tidak sudi menerimanya," ucap Allena dengan wajah cemberut.
"Makanya cari teman jangan terlalu tampan hingga suami merasa curiga," sambung Zefran.
"Tapi bagiku Kakak jauh lebih tampan, aku yakin orang lain juga berpikiran seperti itu," ucap Allena.
Zefran tersenyum mendapat pujian dari wanita yang dicintainya. Zefran membelai rambut Allena sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan yang lembut. Lalu mengecup bibir beraroma vanilla itu. Laki-laki itu bersyukur karena masalah dalam rumah tangganya dapat diselesaikan.
Jangan bersedih lagi Allena, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu seumur hidupku, batin Zefran.
"Kalau begitu aku boleh bertemu dengan Kak Robert?" tanya Allena.
Meski ragu-ragu, akhirnya Zefran mengangguk.
"Kalau pergi bersamanya? Ke Paris?" tanya Allena.
"APA? Pergi ke Paris? Berdua dengannya? Nggak! Aku tidak izinkan. Laki-laki dan perempuan bepergian berdua saja hingga sejauh itu? Aku tidak izinkan," ucap Zefran tegas.
Allena mengerucutkan mulutnya.
"Kalau begitu Kakak juga dilarang berlibur di Villa Kak Frisca," ucap Allena cemberut.
"Kenapa? Zeno sangat menyayanginya, dia sangat ingin berkumpul dengan bersama Keisya, Frisca dan Valdo," jawab Zefran.
"Alasan, sebenarnya Kakak yang ingin pergi ke sana. Kakak yang masih sayang bahkan mungkin masih cinta sama Kak Frisca," ucap Allena.
"Allena, kamu ini kenapa? Kenapa bisa timbul pemikiran seperti itu?" tanya Zefran.
"Aku dengar sendiri Kakak berkata itu pada Zeno kalau Kakak sayang sama Kak Frisca," jawab Allena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya ampun Allena, tentu saja aku harus berkata seperti itu pada Zeno. Nggak mungkin aku menjawab tidak sayang padanya. Anak itu akan bertanya-tanya apa alasannya. Kenapa aku tidak menyayangi orang yang disayanginya. Jika seperti itu pertanyaannya jadi panjang," jelas Zefran.
"Bohong! Kakak memang masih sayang padanya. Saat bertemu dengan Kak Frisca, wajah Kakak terlihat begitu bahagia. Kakak pasti ingin bersama dengannya lagi, mungkin sekarang Kakak menyesal bercerai dengannya," ucap Allena dengan air mata yang sekarang telah mengalir.
"Allena, itu tidak mungkin, sayang," ucap Zefran.
"Kenapa tidak mungkin? Dia adalah cinta pertama Kakak. Kakak bahkan menentang perjanjian Mommy dengan ibu demi menikah dengannya. Dia memberikan kepuasan pada Kakak selama belasan tahun. Dan sampai sekarang dia masih tetap cantik, tubuhnya tetap indah. Tidak gemuk seperti aku," ucap Allena sambil terisak.
Zefran memeluk Allena dari belakang.
"Siapa yang bilang kamu gemuk?" tanya Zefran.
"Jangan pura-pura lupa, Kakak menyuruhku makan brokoli yang banyak agar bisa langsing seperti Kak Frisca. Kakak tega membandingkan aku dengannya. Dia juga sederajat dengan Kakak, kalian sama-sama berasal dari keluarga kaya, berbeda denganku. Pergilah! Jika Kakak ingin mengejarnya lagi sebelum dia menikah dengan Kak Valdo. Pergilah! Jika terlambat Kakak akan menyesal seumur hidup," tutur Allena menangis lalu melepas tangan Zefran yang melingkar di pinggangnya.
Wanita itu meninggalkan Zefran dan masuk ke kamar mandi. Zefran tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya lalu menatap ke kamar mandi. Terlalu banyak pemikiran sendiri yang dipendam oleh Allena dan Zefran dengan sabar harus bisa memberi pengertian padanya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1