Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 116 ~ Mundur ~


__ADS_3

Sore harinya Zefran menerima telepon dari nomor yang tak dikenal. Dengan penasaran laki-laki itu menerima panggilan telepon itu. Zefran terkejut karena ternyata yang menghubunginya adalah Bella. Wanita yang Zefran sama sekali tak ingin berhubungan dengannya lagi.


Kenapa lagi dia ini? Aku sudah tegaskan padanya, masih saja aku harus berhubungan dengannya, batin Zefran kesal.


"Aku sudah bertemu dengannya," ucap Bella tanpa ditanya.


"Apa? Siapa? Apa maksudmu? Apa kamu menemui istriku? Apa yang kamu lakukan?" tanya Zefran bertubi-tubi dan terlihat Zefran begitu panik mendengar ucapan Bella.


"Tenang … tenang, kenapa begitu panik? Memangnya apa yang bisa aku lakukan?" tanya Bella lagi.


"Aku sudah melarangmu menemuinya, dia tidak ada hubungannya dengan kita. Awas saja jika kamu menyakiti hatinya dengan cinta-cinta monyetmu itu aku tidak akan tinggal diam," ancam Zefran.


"Kejam sekali ucapanmu, aku tidak menganggap itu sebagai cinta monyet. Itu cinta sejatiku, kamu jangan menganggap remeh cinta anak SMA. Itu bisa berpengaruh pada kehidupan masa depannya," ucap Bella.


"Aku tidak peduli, sekarang katakan padaku, apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya Zefran tak sabar.


"Aku tidak melakukan apa-apa, hanya berbincang sebentar dengannya. Tapi dengan pertemuan kami yang singkat itu, aku bisa tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya. Karena tadi telah terjadi sesuatu …"


"Sesuatu? Telah terjadi sesuatu? Apa itu? Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Zefran panik hingga berdiri dari kursi kerjanya.


"Aku tidak melakukan apa-apa, dari tadi kamu selalu menunduhku melakukan sesuatu padanya," ucap Bella.


"Baiklah, maafkan aku. Tolong katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Zefran lebih lunak.


"Tadi aku ke sekolah putramu, aku berkenalan dengannya. Dia wanita yang ramah, tapi terjadi sesuatu padanya. Dia dituduh menculik anak …"


"APA? Dituduh menculik anak? Itu tuduhan yang serius!" ucap Zefran langsung berjalan cepat meninggalkan kantornya.


"Ya tapi dia mampu mengatasinya. Kamu jangan khawatir …"


Zefran tak lagi mempedulikan ucapan Bella karena laki-laki itu telah mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju rumah. Zefran ingin tahu hal yang terjadi sebenarnya langsung dari mulut istrinya. Zefran sangat khawatir terjadi sesuatu pada istri dan putranya itu.


Namun seperti biasa saat melihat istri dan anak-anaknya di ruang bermain itu hati Zefran menjadi lega.


"Mama, adek Zara nakal mau hancurkan blok Zeno lagi," ucap Zefano mengadu.


Baru saja, Allena ingin menghampiri anak-anaknya, Zefran telah memeluknya dari belakang.


"Kakak, sudah pulang?" tanya Allena heran karena setahunya masih belum begitu sore.


"Apa yang terjadi sayang. Di sekolah Zeno apa yang terjadi?" tanya Zefran langsung bertanya.


Segera ingin menghilangkan rasa penasarannya.


"Terjadi apa?" tanya Allena.

__ADS_1


"Jangan bohong! Kenapa kamu harus menutupi kejadian yang menimpamu!" bentak Zefran kesal.


Perasaannya yang tak tenang dibalas sikap biasa oleh Allena, dan itu membuatnya merasa kesal.


"Kakak, sungguh tidak terjadi apa-apa. Tadi itu hanya salah paham dan sudah diselesaikan. Lihatlah Zeno juga tidak masalah, kami tidak apa-apa Kak, tidak ada yang perlu dibahas," ucap Allena langsung menangkup wajah suaminya yang terlihat risau.


"Ada yang cerita kalau kamu dituduh menculik anak, apa yang terjadi? Itu tuduhan yang serius Allena, salah-salah kamu bisa digelandang ke kantor polisi," ucap Zefran.


"Kakak tahu dari mana? Siapa yang melaporkan kejadian ini sama Kakak. Apa Kakak sewa detektif untuk mengawasi kami? Atau agen rahasia?" tanya Allena sambil tersenyum.


"Allena!" seru Zefran tak senang dengan sikap Allena yang terlihat bermain-main sedangkan dia justru merasa risau.


"Aku akan cerita tapi nanti Kakak juga harus kasih tahu aku dari mana Kakak dengar kejadian di sekolah tadi," ucap Allena sambil menunggu jawaban Zefran.


Laki-laki itu akhirnya mengangguk. Allena pun menceritakan kejadian yang menimpanya dan Zefano. Dengan wajah kesal bercampur khawatir Zefran mendengarkan tapi di akhir cerita terlihat Zefran yang lega karena ternyata masalah itu telah benar-benar terselesaikan.


"Sekarang Kakak kasih tahu aku, dari mana Kakak mengetahui kejadian tadi," ucap Allena.


"Dari Bella," jawab Zefran.


"Bella? Siapa itu Bella? Oooh, aku baru ingat tadi aku berkenalan dengan seorang wali murid yang bernama Bella. Dia kenal dengan Kakak?" tanya Allena heran.


Zefran mengangguk tapi tak ingin menceritakan lebih dari itu. Zefran tidak ingin menambah pikiran wanita yang dicintainya itu. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Zefran langsung menatap nama kontak yang tertera di ponselnya.


Zefran langsung melangkah menjauh dari Allena. Wanita itu menatap dengan wajah cemberut. Tidak begitu suka saat melihat Zefran menerima telepon yang harus menjauh darinya.


"Kamu sudah bertemu istrimu? Sudah bertanya padanya?" tanya Bella.


"Ya, dia sudah cerita semuanya padaku, istriku berkata kalau semua sudah diselesaikan dengan baik-baik," jelas Zefran.


"Aku menelponmu sekarang ini untuk mengatakan padamu kalau kamu benar," ucap Bella.


"Apa? Apa maksudmu?" tanya Zefran penasaran hingga melepas jas nya karena ingin serius mendengarkan ucapan Bella.


Laki-laki itu tak lupa melepas dasinya agar lebih terasa lega.


"Istrimu, dia memang pantas untuk diperjuangkan. Dia memang pantas untuk dipertahankan. Aku sudah menyaksikan sendiri kebaikan hatinya, dia adalah orang yang memandang segala sesuatu dari sisi baiknya. Tidak suka menyalahkan, dan mudah memaafkan. Dia memang istri yang sempurna untukmu. Aku memutuskan untuk mengikhlaskan dia menjadi pendampingmu. Aku ikut mendoakan semoga kalian selalu bahagia. Selamat ya Zefran kamu mendapatkan wanita terbaik," ucap Bella panjang lebar.


"Terima kasih Bella atas doamu, semoga kamu juga mendapatkan pendamping yang bisa membuat kalian hidup bahagia," ucap Zefran sambil tersenyum menunduk.


Sesekali menoleh pada istri cantiknya namun Allena justru membalas tatapan Zefran dengan wajah cemberut. Zefran hanya tertawa melihat mulut mungil istrinya mengerucut.


Zefran selesai menerima panggilan teleponnya dan segera menemui istrinya. Laki-laki itu langsung menangkup wajah istrinya yang cemberut.


"Kakak selingkuh ya?" tanya Allena.

__ADS_1


"Selingkuh apa? Masa selingkuh di depan istri?" tanya Zefran sambil tersenyum menatap wajah yang cantik meski sedang cemburu itu.


"Di depan istri apa? Itu tadi menerima telepon pakai menghindar segala," ucap Allena.


"Oh yang tadi itu, Bella dia udah kapok sekarang," ucap Zefran sambil tersenyum penuh makna.


"Kapok? Apa maksudnya? Kapok apa?" tanya Allena penasaran.


"Dia Kapok untuk merebut aku darimu, dia menyatakan kekagumannya padamu dan mengakui kalau kamu memang pantas mendapatkan suamimu yang tampan ini," ucap Zefran sambil tersenyum.


"Apa? Ya ampun pede sekali?  Memang tadinya dia ingin merebut Kakak dariku?" tanya Allena.


"Dia itu masih penasaran dengan cintanya padaku karena dia baru saja bercerai dari suaminya …"


"APA? JANDA?" tanya Allena dengan wajah yang langsung panik.


"Kenapa? Kenapa takut dengan janda?" tanya Zefran.


"Dia ingin menggoda Kakak, aku takut melawan janda," ucap Allena menunduk.


"Tidak perlu takut sayang, dia sudah mundur. Dia tak sanggup bersaing dengan wanita sehebat kamu, wanitaku yang cantik, yang baik, yang bijaksana, yang berhati lembut, dan terlebih lagi bagiku, kamu adalah segala-galanya. Dia tak berharap lagi padaku bahkan mendoakan semoga kita selalu bahagia," jelas Zefran panjang lebar.


"Benarkah? Dia tidak bohong?" tanya Allena.


"Tidak sayang, dia sengaja meneleponku untuk menyatakan itu. Untuk melepas aku dan mendoakan kebahagiaan kita," ucap Zefran lalu mengecup bibir istrinya.


Allena tersenyum bahagia, kemudian memeluk suami yang sangat dicintainya itu. Berdua mereka menatap buah hati mereka yang asyik bermain. Tiba-tiba Allena merasa mual.


"Kamu kenapa sayang? Apa hamil lagi?" tanya Zefran sambil tersenyum.


"Nggak, nggak tadi makan siang kebanyakan jadi kekenyangan," ucap Allena.


"Hamil aja,"


"Nggak"


"Hamil"


"Nggak"


"Hamil … hamil … hamil,"


"Nggak … nggak … nggak," 


Zefran dan Allena tertawa, berpelukan dan saling membenamkan bibir mereka. Hamil atau tidak Zefran tak peduli yang penting baginya menjalani hidup yang tenang bersama istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


...~   Bersambung   ~...


__ADS_2