Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 137 ~ Curiga ~


__ADS_3

Tanpa diketahui Santi, Allena mendengar ucapan baby sitter itu saat menidurkan Zifara. Ucapan yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. Ungkapan penyesalan karena terlanjur tak bisa menjadi pendamping Zefran. Ungkapan penyesalan karena bukan dirinya yang melahirkan bayi Zefran. Hal itu langsung membuat Allena risau, kenapa seorang yang dikenalnya sebagai baby sitter selama ini memiliki pemikiran seperti itu.


Allena urung menemui putrinya. Hatinya masih ragu untuk berhadapan dengan Santi. Orang yang tiba-tiba diketahui memiliki niat di hatinya terhadap suaminya. Allena kembali ke kamarnya dengan hati risau. Hal itu terlihat oleh Zefran, istrinya itu seperti orang yang sedang berpikir.


"Ada apa sayang? Kok seperti sedang berpikir keras begitu?" tanya Zefran menggoda istrinya.


Allena mengganti gaunnya dengan baju tidur tapi pandangannya seperti orang yang sedang berpikir.


"Oh, nggak apa-apa Kak, hanya ingat cerita lama Zacko dan Cindy tadi," jawab Allena dengan cepat.


Allena memang masih terbayang cerita Zacko dan Cindy tadi tapi bayangan itu langsung lenyap setelah mendengar ungkapan hati Santi. Keceriaan hatinya sejak kembali dari restoran tadi langsung hilang.


"Tapi kok kayak sedang bimbang gitu, memangnya kenapa?" tanya Zefran masih penasaran.


Kalau aku cerita tentang Santi, Kak Zefran bisa jadi kepikiran padanya. Kakak bisa-bisa mulai memperhatikan gadis itu. Lebih baik Kak Zefran tak tahu isi hati gadis itu. Nanti hatinya malah tergugah karena ada seorang gadis yang memendam cinta padanya, batin Allena.


"Tidak apa-apa Kak, cuma teringat cerita lama mereka saja," jelas Allena yang langsung naik ke atas ranjang.


Zefran langsung memeluk istrinya itu dan memejamkan mata.


"Aku bahagia sayang, masalah kita tidak muncul tapi justru bisa menyelesaikan masalah rumah tangga orang lain. Ancaman kamu itu memang sangat berguna tapi aku jadi sangat ketakutan. Bisakah ancamanmu akan pergi itu direvisi lagi?" tanya Zefran berbisik masih dengan memejamkan matanya.


Allena menoleh pada suaminya. "Katanya berhasil dan sangat berguna tapi minta revisi, kenapa? Agar Kakak merasa longgar, agar bisa sesuka hati menuduhku, menyakitiku karena yakin aku tidak pergi?" tanya Allena.


"Tolong jangan katakan kamu ingin pergi lagi. Sebenarnya aku sangat trauma karena kepergianmu selama lima tahun ke Paris ditambah lagi saat pergi bersama anak-anak. Itu sangat menakutkanku, ancamannya … diganti saja sayang," ucap Zefran membujuk.


"Tidak mau! Justru ancaman itu yang berhasil untuk Kakak. Jika tidak seperti itu Kakak tidak berusaha mengendalikan emosi Kakak, tidak berusaha menahan hati untuk tidak mengucapkan kata-kata jahat padaku. Aku tidak mau revisi … itu ancaman terbaik," jelas Allena.


"Kamu benar-benar berniat meninggalkan aku ya?" tanya Zefran lagi.


"Mana mungkin Kak, Kakak adalah satu-satunya laki-laki yang aku cintai. Aku ingin selamanya bahagia bersama Kakak. Tapi jika sifat Kakak tidak berubah meski bersama Kakak, apa mungkin aku akan bahagia?" tanya Allena.


Mendengar penjelasan Allena, Zefran jadi berpikir. Laki-laki itu akhirnya mengangguk setuju dengan pemikiran Allena. Zefran bertekad dalam hatinya belajar untuk bersikap tenang dan tidak prosesif. Hanya itu saja tapi terasa sangat sulit dibayangkannya karena dia begitu takut kehilangan Allena.

__ADS_1


"Kak,"


"Ada apa sayang?" tanya Zefran sambil membuka matanya menatap wanita yang dicintainya itu.


"Selain denganku, apa Mommy pernah cerita kalau Kakak dijodohkan dengan wanita lain?" tanya Allena.


Zefran merasa heran dengan pertanyaan Allena, tapi ingin fokus berpikir jawabannya.


"Rasanya cuma sama kamu, tapi aku tidak pasti juga karena Mommy tidak pernah menyebut nama. Selalu berpesan kalau aku telah dijodohkan. Entah itu cuma satu orang, dua orang atau tiga orang? Aku tidak pernah tanyakan itu. Kenapa sayang, apa ada yang membuatmu ragu? Apa ada wanita lain yang dijodohkan denganku?" tanya Zefran penasaran bahkan hingga sampai duduk.


"Senang ya? Penasaran sekali? Memangnya masih berminat mencari yang lain?" tanya Allena, wanita itu bahkan langsung membalik badan.


Tidur membelakangi Zefran yang duduk dengan semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi Zefran justru tertawa, Allena kesal mendengarnya. Laki-laki itu mendekat dan memeluknya dari belakang. Menaruh dagunya di lengan wanita itu.


"Ya penasaran, aku ingin tahu siapa orangnya dan seperti apa dia tapi aku yakin … tak ada yang lebih baik lagi melebihi kamu," ucap Zefran.


"Iiih gombal, kalau benar-benar ada dan lebih baik bagaimana?" tanya Allena.


"Ya terserah padamu saja, cuma kamu satu-satunya atau mau aku tambah lagi terserah," jawab Zefran sambil tertawa.


Allena kesal suaminya itu seperti ingin menggodanya tapi lebih menyesal karena terpancing bercerita tentang hal yang mengganggu pikirannya. Melihat kekesalan Allena, Zefran bukannya menjauh tapi justru menarik kedua tangan wanita itu dan menenggelamkannya dalam pelukannya.


"Mendapatkan kamu saja begitu susah, masa harus aku sia-siakan dengan wanita lain yang belum aku kenal. Seperti apa pun orangnya aku tidak akan peduli, hanya kamu yang aku cintai," ucap Zefran.


"Kata-kata itu pasti pernah Kakak ucapkan pada Kak Frisca," ucap Allena.


"Benar, tapi dia menyuruhku menerimamu. Kali ini jika aku dipaksa menikah lagi aku tidak akan mau, lebih baik mati saja daripada akhirnya berpisah denganmu," jelas Zefran.


Kata-kata itu harusnya menyenangkan dan bisa membuat hati Allena berbunga-bunga tapi wanita itu justru mengernyitkan dahinya.


"Siapa yang mau paksa Kakak menikah lagi? Iih jangan ge er ya! Pe de sekali," ungkap Allena sambil mendorong tubuh suaminya.


"Jadi nggak ada ya? Ya sudah jangan dipikirkan," ucap Zefran sambil tertawa.

__ADS_1


Laki-laki itu kembali menarik Allena ke dalam pelukannya. Allena juga ikut tertawa mendengar ucapan suaminya itu. Namun dalam hati, Allena bertekad akan menyelesaikan sendiri masalah Santi.


Kak Zefran tak boleh tahu tentang Santi, batin Allena.


Wanita itu ingin menyelesaikan masalah sama seperti dia menyelesaikan masalah Zulia dulu. Sendiri saja tanpa memberi tahu Zefran. Meski saat itu, demi menuntaskan masalahnya, Allena berakhir si rumah sakit karena menolong gadis itu.


Allena membalas memeluk suaminya. Mereka memutuskan untuk tidur. Tak ada satu pun yang boleh bicara lagi, hanya senyuman yang tersungging di bibir mereka.


Sejak malam itu, Allena mulai memperhatikan tindak tanduk Santi. Sebagian besar tingkah gadis itu tak mencurigakan sama sekali.


Kalau malam itu aku tidak mendengar ucapannya, aku tidak akan tahu isi hatinya. Tidak akan curiga padanya. Dia benar-benar pintar berakting. Aku tidak percaya dia benar-benar seorang baby sitter. Apa benar-benar baby sitter yang tiba-tiba jatuh cinta sama Kak Zefran? Karena mendengar cerita Mommy, aku terfokus kalau dia adalah gadis yang dicalonkan dengan Kak Zefran. Ya ampun, kenapa jadi seperti ini, bisa jadi kan, pengasuh anak jatuh cinta pada majikannya. Hal seperti itu sudah banyak terjadi. Aah aku jadi salah menilai, aah tahu seperti itu, dulu aku harusnya tak terima dia, harusnya cari yang lebih tua, biasa saja, jangan yang seperti ini? Dandan sedikit saja bisa lumayan cantik dia, batin Allena.


Tanpa sadar, mata Allena lurus memperhatikan baby sitter yang sedang menyuapi Zifara itu. Santi bukannya tak resah dipandangi seperti itu tapi dia berusaha untuk terlihat tak acuh, seakan-akan sibuk menyuapi bayi dihadapannya itu.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia mulai curiga padaku, wah gawat, kalau aku belum mendapatkan apa-apa dan langsung ketahuan lalu diusir. Pengorbananku menjadi baby sitter selama ini jadi sia-sia. Aduh, aku harus hati-hati mulai sekarang, batin Santi.


Allena tiba-tiba sadar kalau dari tadi dia telah menatap Santi. Dengan tersenyum wanita itu menyapa baby sitter itu.


"Masih lama ya, biar aku yang lanjutkan. Kamu makan dulu saja Santi," ucap Allena.


Berlaku seolah-olah dari tadi fokus karena menunggu Zifara selesai makan.


"Tidak apa-apa Nyonya, biar saya selesaikan. Nanti baru saya makan," jawab Santi.


Huh, rupanya menunggu anaknya selesai makan, aku pikir sedang mengamati aku, batin Santi.


"Nanti kamu tambah kurus lho, wajahmu jadi tambah tirus kalau sering telat makan," ucap Allena lagi seolah-olah mengkhawatirkan Santi.


Dan benar saja, Santi menjadi lega. Gadis itu yang tadinya curiga kini merasa kalau sikap Allena karena mengkhawatirkannya dan memang selama ini Allena selalu bersikap perhatian padanya.


Memang meski Santi hanyalah baby sitter tapi selama ini perlakuan Allena terhadap Santi selalu baik. Menganggapnya seperti keluarga, selalu mengajak Santi ikut makan bersama jika mereka bepergian untuk bermain bersama anak-anaknya.


Memberi yang sama dengan apa yang dimakan olehnya dan juga anaknya. Allena tak membedakan dirinya dengan Santi. Sama seperti perlakuannya terhadap Rahma.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2