
Zefano dan Keisya yang berpose bersama Robert Daniel, saat melihat Allena dan Zefran datang, Robert Daniel langsung menghentikan kegiatan berfotonya dan membiarkan fotografer itu memotret kedua anak itu.
Model tampan itu langsung menghampiri. Menyapa Zefran dengan memeluk laki-laki itu. Zefran merasa jengah namun hanya diam tak menolaknya.
Robert Daniel beralih pada Allena. Laki-laki lalu memeluk dan mencium pipi Allena. Zefran kembali menahan hatinya terhadap kelakuan Robert Daniel.
Aku harus tenang demi Allena, aku harus bisa berlaku adil. Jika Allena bisa menerima teman-temanku bahkan mantan istriku, aku juga harus bisa menerima satu temannya ini. Kenapa aku tak bisa menerima teman dari sisinya ini? Ya, mungkin karena aku tak mengenal mereka dan menganggap mereka akan merebut Allena dari sisiku, batin Zefran.
Laki-laki itu memalingkan wajahnya berusaha menenangkan hatinya namun saat mendengar suara Robert Daniel mengajak istrinya, pergi bersama laki-laki itu, mau tak mau Zefran kembali menoleh.
"Bagaimana? Kita jadi ke Paris? Mereka setuju aku memilihmu," ucap Robert Daniel dengan santai.
Mendengar itu, kepala Zefran langsung terasa panas. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Allena mengintip Zefran dari balik tubuh Robert Daniel. Terlihat suaminya menatap Robert Daniel yang sedang membelakanginya dengan tatapan mata yang tajam.
Melihat itu Allena harus segera mengakhiri pembicaraan dengan Robert Daniel dan mengajak Zefran pergi.
"Baiklah Kak, nanti aku pikirkan dulu ya. Pengajuannya masih lama 'kan? Aku pulang dulu ya Kak. Aku sudah dari tadi di sini," ucap Allena sambil meraih tangan suaminya.
Mata Zefran masih tertuju pada laki-laki itu namun pasrah saat Allena mengajaknya menemui Zefano. Allena melambaikan tangan pada Robert Daniel. Laki-laki itu hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.
"Kita pulang sekarang ya sayang, udah kelamaan di sini. Kasihan Adek di rumah," ajak Allena.
"Keisya ikut kita ya Ma?" tanya Zefano.
"Keisya pulang bersama Papa dan Mamanya dong sayang, bentar lagi mereka datang," ucap Allena.
Dan benar saja tak lama kemudian Rivaldo dan Frisca muncul, Keisya pun berlari ke arah mereka. Zefano, Allena dan Zefran melambaikan tangan pada mereka dan segera berlalu dari tempat itu.
Di dalam lift Allena menghembuskan nafas lega.
"Apa maksud laki-laki itu? Dia mengajakmu ke Paris di depan suamimu? Apa dia …,"
"Kak, nanti aku jelaskan di rumah," ucap Allena sambil mengangkat tangan Zefano yang digenggamnya.
Zefran menghembuskan nafas berat, laki-laki itu harus menahan rasa penasarannya. Harus sabar menunggu alasan yang akan diberikan Allena nanti. Sesampai di rumah Allena segera menghampiri Zifara. Wanita itu langsung menyusui bayinya.
Menghindar lagi, apa dia tidak tahu aku sangat ingin mendengar penjelasannya? Tadi ingin menjelaskan di rumah, sekarang sudah di rumah aku harus menunggunya menyusui dulu, batin Zefran yang akhirnya memilih masuk ke ruang kerjanya.
Laki-laki itu melepas jas dan duduk menghadap ke jendela, menatap cahaya masuk dari jendela itu sambil menekan pelipisnya. Mengusap wajahnya untuk menghilangkan bayangan Robert Daniel yang dengan berani mengajak istrinya ke Paris di depan matanya.
Sementara itu Allena menyusui bayinya sambil berpikir bagaimana cara memberi penjelasan pada suaminya. Sebuah penjelasan yang tidak akan membuat laki-laki itu emosi. Ada ketakutan dalam diri Allena setiap kali menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan Robert Daniel.
Semua karena apa yang telah dialaminya meninggalkan trauma sejak kejadian yang lalu. Setelah menerima kiriman foto dari Robert Daniel, Zefran emosi dan menamparnya. Kejadian itu telah membekas di hatinya dan membuatnya takut berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Robert Daniel.
__ADS_1
Sementara itu Zefran mencoba menunggu di ruang kerjanya. Mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya. Menyalakan laptop dan mencoba mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari pertanyaannya yang tak kunjung mendapat jawaban.
Tak tahan menunggu lama akhirnya Zefran melangkah ke kamarnya untuk menghampiri Allena. Saat di kamar terlihat Allena yang termangu menatap kosong ke lantai sambil menyusui bayinya.
Tiba-tiba Zefran merasa iba pada istrinya, laki-laki itu merasa kalau Allena termenung memikirkan cara menjawab pertanyaannya. Bahkan Allena mungkin takut membahasnya. Laki-laki itu menghampiri Allena yang masih termenung. Memindahkan Zifara ke ranjang bayinya. Saat itu Allena baru sadar kalau bayi mereka telah tertidur.
Allena diam menunggu Zefran, menunggu laki-laki itu mengulang pertanyaannya. Namun yang dilakukan laki-laki itu justru menggendong istrinya dan merebahkannya di ranjang. Zefran rebah di samping istrinya dan memeluknya.
"Istirahatlah sayang? Jangan sampai kamu kelelahan," ucap Zefran sambil memeluk dan mencium puncak rambut istrinya.
Allena merasa kebaikan Zefran hanya untuk memberi energi padanya agar bisa menyiapkan diri atas apa yang akan terjadi. Allena mengangkat wajahnya menatap suaminya. Zefran menunduk menatap istrinya.
"Kamu belum siap menjelaskannya? Ya sudah! Katakan padaku jika kamu telah siap," ucap Zefran sambil memeluk istrinya dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Hari itu, saat Kakak membuka ponselku, Kak Robert ingin meminta pendapatku. Kak Robert mendapat tawaran mengisi sebuah majalah internasional dengan sebuah rancangan seragam pengantin. Aku juga mendapatkan tawaran itu," ucap Allena akhirnya memberanikan diri berbicara.
Zefran diam mendengarkan.
"Aku diminta membawakan hasil rancanganku dengan seorang model. Itu adalah sebuah penghargaan, hanya designer-designer yang terpilih yang bisa ikut dengan tema, Model, designer dan rancangannya. Aku belum sempat menentukan siapa model yang akan mendampingiku bahkan rancangan yang akan aku ikut sertakan saja masih belum aku tentukan. Kak Robert telah mengirim pengajuan untuk menjadikan aku sebagai designernya. Dia memilih membawakan rancanganku. Aku sebenarnya terkejut karena sama sekali belum memikirkannya. Maafkan aku ya Kak, jika Kakak tidak setuju? Aku tidak akan mengikuti pemilihan itu," ucap Allena.
"Pemilihan?" tanya Zefran yang akhirnya tertarik dengan cerita Allena.
"Ya Kak, pemilihan rancangan pengantin terbaik dari majalah itu. Diikuti oleh-oleh designer-designer yang telah dipilih dari seluruh dunia," ucap Allena.
Zefran menatap Allena dengan lebih serius.
"Benarkah? Kalau aku tidak mengizinkan kamu maka kamu tidak akan ikut pemilihan itu?" tanya Zefran lagi.
Allena mengangguk, baginya pemilihan apa pun, perlombaan apa pun atau pertunjukan apa pun tak akan ada arti baginya dibanding harus kehilangan senyum dari suaminya. Allena memeluk Zefran dengan erat dan memejamkan matanya yang nyaris berkaca-kaca.
"Kamu rela mengorbankan passion-mu demi aku? Aku tahu, Allena! Kamu pasti sangat ingin tampil di acara pemilihan itu. Iya 'kan?" tanya Zefran.
Allena tidak menjawab, wanita itu hanya semakin mempererat pelukannya lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Zefran.
"Apa?" tanya Allena kaget.
Saking kagetnya wanita itu merenggangkan pelukannya untuk menatap suaminya. Wanita itu bahkan lupa kalau dia sedang menyembunyikan genangan air di pelupuk matanya.
"Aku tidak ingin jauh darimu, jika kamu pergi ke Paris sekian lama. Apa yang akan aku lakukan di sini?" tanya Zefran.
Allena tersenyum namun air matanya meleleh.
__ADS_1
"Aku boleh mendaftar, jika Kakak ikut?" tanya Allena.
"Kamu tetap boleh ikut pemilihan itu meskipun kamu tidak izinkan aku ikut denganmu," jelas Zefran.
"Benarkah? Kakak izinkan aku pergi walaupun tanpa Kakak?" tanya Allena ragu.
"Hmm … tapi tolong jangan membuatku berpikiran macan-macam ya. Kamu akan selalu setia padaku 'kan?" tanya Zefran dengan nada memohon.
"Kak, aku selalu mencintaimu. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu" jawab Allena.
Zefran tersenyum dan membenamkan bibirnya ke bibir manis istrinya. Laki-laki itu bertekad akan mempercayai istrinya. Seperti yang pernah diungkapkan istrinya, Allena lima tahun tetap mencintainya meski tak menatap wajahnya sekali pun.
"Kapan kamu akan mendaftarkan diri?" tanya Zefran.
"Masih lama Kak, aku juga harus menentukan konsepnya dulu. Lalu membuat rancangannya dan mengajukan siapa modelnya. Karena Kak Robert sudah menunjukku sebagai perancangnya dan mereka sudah menyetujuinya maka mau tak mau aku memilih Kak Robert yang akan membawakan rancanganku," jelas Allena.
Zefran mengangguk mengerti dan mempererat pelukannya. Allena tersenyum sambil memejamkan matanya. Apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Allena bersyukur, masalah yang timbul hari ini dapat mereka atasi tanpa memunculkan emosi dan air mata.
Dan hari yang di nanti-nanti pasangan Frisca dan Rivaldo pun tiba. Sebuah pesta pernikahan yang dihelat dengan begitu mewah. Sebagian besar tamu mengagumi gaun pengantin yang dikenakan Frisca. Wanita itu tak segan-segannya mempromosikan Allena sebagai perancang gaun pengantin yang sedang dikenakannya.
Ada yang terkejut, ada yang penasaran, ada yang langsung meminta nomor kontak Allena. Zefran hanya bisa memandang istrinya yang sebentar-sebentar dipanggil untuk bicarakan masalah fashion. Sebagian besar tamu undangan adalah kalangan atas yang telah terbiasa berlangganan dengan butik-butik milik perancang ternama.
Nama Allena telah mereka kenal namun belum pernah bertemu secara langsung dan tidak memiliki akses untuk bisa mengenal Allena. Hingga acara selesai barulah Allena bisa bergabung dengan sahabat-sahabat suaminya. Bahkan Frisca pun telah ikut bergabung dengan sahabat-sahabatnya.
"Sebenarnya bintang pesta ini siapa? Para tamu itu hanya bersalaman denganku sekejap saja tapi menghabiskan waktu lebih banyak denganmu," ucap Frisca pura-pura kesal.
Allena tersenyum, sebenarnya dia sendiri ingin menikmati pesta itu dengan santai bersama para sahabat. Namun, tak bisa mengabaikan orang-orang yang ingin bertanya padanya.
"Tapi tidak apa-apa, aku memaafkanmu karena hari ini aku bahagia. Aku telah resmi menjadi istri Valdo sekaligus ibu dari Keisya. Jika hari itu Zeno tidak meminta bantuan pada Valdo, mungkin kita tidak akan saling mengenal, jika aku tidak menculiknya aku mungkin hanya mati sendiri di sana. Aku tidak menyangka masih memiliki kesempatan setelah segala perbuatan jahatku," ucap Frisca sambil menatap Zefano yang berlarian bersama Keisya di lokasi pesta yang telah sepi.
"Maut dan jodoh bukan kuasa kita Frisca, mungkin memang jodohmu bertemu Valdo. Dan maut? Setelah berusaha maka kita baru tahu kalau memang belum saatnya," ucap Zefran.
"Yang terpenting sekarang adalah mengisi waktu yang kita dengan menyayangi dan menghargai apa yang kita miliki. Karena saat sesuatu yang berharga itu pergi, barulah kita menyadari kesalahan yang kita lakukan adalah karena kita tidak menghargainya selama ini," sahut Valendino.
"Itu benar! Dulu aku tidak menghargai bayi yang tumbuh dalam rahimku. Dan dengan mudah aku melenyapkannya. Tapi kini saat aku menginginkannya, aku tidak bisa mendapatkannya lagi. Tapi tidak … tidak! Aku telah mendapatkan seorang anak, meski tak lahir dari rahimku tapi aku menyayanginya. Aku sangat menyayanginya!" ucap Frisca sambil menatap Keisya dengan mata berkaca-kaca.
"Benar Frisca, dalam diri kita tersedia banyak cinta dan meskipun dibagi-bagikan, cinta itu tidak pernah berkurang. Namun bisa terus bertambah dan dapat kita berikan pada siapa pun yang kita inginkan. Sebelumnya, kamu tidak menginginkan seorang anak pun tapi dalam sekejap kamu telah membagi cintamu pada banyak orang. Pada Zeno, Valdo dan Keisya. Tanpa sadar kamu telah membagi cinta pada mereka dan pada akhirnya kamu mendapatkan lebih banyak cinta sekaligus," tutur Shinta.
Semua mengangguk.
"Jadi tidak ada salahnya berbagi cinta?" tanya Ronald.
"Maksudmu berbagi cinta dengan banyak istri? Bukan cinta seperti itu yang boleh dibagi-bagi. Meski aku gonta-ganti pacar tapi untuk istri, cukup satu saja" ucap Altop sambil meninju pelan lengan sahabatnya.
__ADS_1
Mereka semua tertawa lepas, kecuali Allena dan Zefran yang saling memandang. Dokter Shinta menatap ke arah mereka dan langsung menyadari. Tanpa sengaja Altop dan Ronald menyinggung perasaan mereka. Terlihat Allena yang tertunduk dan Zefran yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
...~ Bersambung ~...