
Allena menyerahkan ponselnya pada Zefran. Tak disangka Dr. Devan justru menyapanya dengan begitu akrab, membuat Zefran kaget dan langsung menatap ponsel yang digenggamnya. Zefran merasa tak percaya kalau yang sedang dipegangnya adalah ponsel milik Allena.
"Siapa ini?" tanya Zefran penasaran.
"Kembaranmu," ucap Devan.
Mendengar itu Zefran semakin jengkel, penelpon itu seolah-olah ingin mencoba bermain-main dengannya. Bukannya takut Dr. Devan justru semakin ingin mempermainkan Zefran.
"Jangan main-main, cepat katakan apa maumu?" tanya Zefran semakin tak sabar.
"Aku mau istrimu," ucap di seberang sana.
"APA?" tanya Zefran semakin kesal.
"ISTRIMU! Aku sudah bilang padanya kalau aku menyukainya," ucap Devan lalu tertawa.
Zefran menoleh pada istrinya dan raut wajah kesal. Allena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Allena hanya bisa menunduk menunggu apa yang akan Zefran lakukan.
"Kamu benar-benar lupa dengan kembaranmu?" tanya Devan lagi.
"Aku bilang jangan main-main lagi denganku!" ucap Zefran semakin tegas.
"Bukankah dulu kita suka mengerjai Pak Gunadi? Hingga beliau suka salah menyebut nama kita," ujar Devan.
"Pak … Gunadi? Devan?" tanya Zefran langsung.
Terdengar suara tawa dari seberang sana.
"Apa? Kamu benar-benar Devan? Aku pikir kamu di luar negeri? Kapan kamu kembali?" tanya Zefran penasaran.
"Sudahlah itu bukan berita penting, yang penting sekarang, aku sudah tahu kalau kamu telah bahagia memiliki anak dan istri yang cantik," ucap Devan masih terdengar suara tawanya.
Zefran tersenyum menoleh pada istrinya yang sekarang justru kebingungan.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia adalah istriku?" tanya Zefran.
"Aku cuma kenal satu nama Dimitrios yaitu nama keluargamu. Saat membaca nama putrimu aku langsung yakin kalau mereka adalah keluargamu," ucap Devan lagi.
Zefran tertawa, mereka pun berbincang panjang bahkan janji akan bertemu. Tinggal Allena yang termangu kebingungan melihat perubahan sikap Zefran yang tadinya marah dan kesal menjadi senang hingga tertawa terbahak-bahak.
Keesokan harinya Zefran bertemu dengan sahabat masa SMA nya itu. Mereka langsung berpelukan di sebuah Cafe. Dua laki-laki tampan itu langsung terlibat perbincangan seru setelah bertahun-tahun tak bertemu. Zefran tak menyangka bertemu lagi dengan sahabatnya justru melalui istri dan anaknya.
"Kamu belum berkeluarga?" tanya Zefran.
"Masih single seperti dulu, tak asik mencari pasangan sendiri. Aku lebih suka bersaing denganmu," ucap Devan.
"Sial, siapa yang menganggapmu saingan. Aku tidak peduli dengan gadis-gadis itu, kamu boleh memiliki semua yang kamu mau," ucap Zefran sambil tersenyum.
Dr. Devan tertawa.
"Kamu tidak berminat tapi mereka justru memilihmu. Itu yang selalu bikin aku kesal," ucap Devan.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu menjadi dokter spesialis anak? Bukannya dulu ingin menjadi dokter kandungan?" tanya Zefran yang akhirnya membuat dua sahabat itu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Itu memang pemikiran gila, hanya karena ingin melihat milik perempuan? Itu benar-benar gila, aku hampir saja terjerumus. Untung segera sadar, niat busuk itu tidak berlanjut menjadi pilihanku," jelas Devan.
"Ya gara-gara pelajaran biologi, alat reproduksi wanita. Kamu langsung bercita-cita jadi dokter kandungan? Ya ampun, tak menyangka ya? Rasanya baru saja berlalu, kamu juga ternyata masih ingat dengan julukan kita si kembar nakal," ucap Zefran.
"Padahal tak ada miripnya hanya karena pak Gunadi yang tak bisa membedakan Zefran dan Devan kita dibilang kembar," jawab Devan yang tak hilang tawa dari bibirnya.
Mereka tertawa mengenang masa lalu, semua terlintas lagi dalam pikiran mereka. Kenakalan masa remaja, cinta segitiga dan masa-masa bahagia bersama.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak tertarik pada gadis-gadis itu padahal mereka mengantri untuk jadi pacarmu?" tanya Devan.
"Hey, mereka mengantri untuk jadi pacarmu," sanggah Zefran.
"Ya, setelah ditolak olehmu baru mereka datang padaku," ucap Devan.
Dan mereka pun kembali tertawa bersama.
"Semua karena istriku," jawab Zefran akhirnya.
"Allena? Kenapa dengan Allena? Apa dia dulu pacarmu? Diam-diam kamu telah pacaran dengan gadis di luar SMA kita?" tanya Devan penasaran.
"Bukan, tapi karena aku telah dijodohkan dengan Allena sejak dari kecil. Hanya saja waktu itu aku masih belum mengenalnya. Yang pasti di dalam benakku telah ditanamkan kalau aku telah dijodohkan," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Enak sekali kamu, dijodohkan dengan wanita secantik itu. Tidak perlu dijodohkan aku pasti langsung mau dengannya," ucap Devan tertawa.
"Dasar!" jawab Zefran langsung.
"Serius lho, kalau kamu menyesal dijodohkan sama dia ya sudah kasih aku saja," ucap Devan kembali tertawa menampilkan lesung pipinya.
"Wah unik juga ceritamu, kamu sempat pacaran dengan wanita lain? Lalu akhirnya kembali pada Allena?" tanya Devan.
"Begitulah kira-kira," jawab Zefran sambil tersenyum menunduk.
"Kamu bahagia?" tanya Devan terdengar lebih serius.
"Sangat bahagia, Allena segala-galanya bagiku. Dia memberiku dua orang anak, Zefano dan Zifara," ucap Zefran.
"Zifara yang cantik, tapi aku belum bertemu dengan putramu," ucap Devan.
"Datanglah ke rumah tapi … apa maksudmu mengatakan kalau kamu telah mengucapkan kamu menyukai Allena?" tanya Zefran tiba-tiba.
Membuat Devan garuk-garuk kepala.
"Allena itu mudah disukai, orangnya manis dan baik. Aku bilang padanya kalau sikap dia mudah membuat orang suka. Dia bilang lebih baik disukai daripada dibenci jadi aku bilang saja kalau aku menyukainya," jelas Devan.
Zefran mengangguk-angguk, sebuah penjelasan yang tak dimengerti oleh Zefran tapi dia hanya diam mendengarkan.
"Kamu ingat Bella? Gadis yang mati-matian mengejar cintamu itu?" tanya Devan.
"Ya, yang mengancam akan bunuh diri itu 'kan?" tanya Zefran.
"Ya benar, aku bertemu dengannya belum lama ini. Dia ternyata telah bercerai dengan suaminya," jelas Devan.
"Oh ya? Kalau begitu itu kesempatanmu bukannya dulu kamu memang suka padanya?" tanya Zefran.
__ADS_1
"Tapi dia menyukaimu akhirnya aku mengalah," ucap Devan.
"Mengalah?" tanya Zefran sambil tertawa.
"Ya, aku sudah mengalah padamu tapi kamu justru mengabaikannya. Tapi … Bagaimana kalau ternyata dia masih mengharapkanmu? Dia bilang dia ingin menunggu dudamu," jelas Devan.
"Apa? Apa kamu tidak melarangnya bersikap seperti itu?" tanya Zefran.
"Aku tidak tahu kalau kehidupan pernikahanmu bahagia. Mana berhak aku melarangnya bersikap seperti itu?" tanya Devan.
"Sudahlah, semua sudah menjadi masa lalu sekarang. Yang terpenting sekarang aku telah bahagia bersama keluarga kecilku. Kamu harus segera menemukan tambatan hatimu, jangan membuat aku risau," ucap Zefran sambil tersenyum.
"Aku yang belum menemukan tambatan hati kenapa kamu yang risau?" tanya Devan.
"Karena aku takut kamu mengincar istriku," ucap Zefran sambil tertawa.
Sebuah ungkapan bercanda namun terselip kesungguhan di situ. Setelah Devan dengan gamblang mengatakan menyukai Allena dan terlihat kekaguman laki-laki itu terhadap Allena, Zefran merasa harus hati-hati dengan sahabatnya itu.
Jangan tunggu janda Allena, karena dia selamanya akan menjadi milikku. Sebaiknya cari yang lain saja, Devan, batin Zefran yang tersenyum dengan hati galau.
Mereka berpisah dan berjanji akan bertemu saat Zefran mengundang sahabat SMA nya itu ke rumah. Saat kembali ke rumahnya, Zefran menatap istrinya yang bermain bersama kedua anak mereka. Duduk di karpet tebal itu sambil memperhatikan kedua buah hati mereka. Segera laki-laki itu memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipi istrinya sambil menatapnya dengan tatapan yang lembut.
Allena menatap suaminya dengan senyum yang bertanya-tanya.
"Papa jangan tangkap Mama, Papa angkat tangan!" teriak Zefano sambil menodongkan senjata mainan.
"Oh ok ampun tuan tentara, angkat tangannya sebelah tangan aja ya?" tanya Zefran yang tak ingin melepaskan pelukannya dari istrinya. Allena tertawa.
"Dua-duanya!" teriak Zefano.
"Nggak mau nanti Mamanya lepas lalu dibawa orang. Papa nggak mau, Papa mau pegang Mama terus," ucap Zefran sambil mengangkat sebelah tangannya dan sebelah lagi tetap melingkar di dada Allena.
Wanita cantik hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua ayah dan anak itu karena Zefran yang tak mau melepaskannya sementara Zefano bersikeras kalau angkat tangan harus kedua tangan di kepala.
Allena akhirnya meminta suaminya untuk patuh pada Zefano. Zefran diminta mengangkat kedua tangannya di kepala. Zefran tidak setuju tapi Allena justru memeluknya.
"Jika tangan Kakak tidak bisa memelukku maka aku yang akan memeluk Kakak," ucap Allena.
"Oh manisnya istriku," ucap Zefran yang otomatis menurunkan tangannya dan memeluk istrinya serta mendaratkan kecupan di bibir manis beraroma vanilla itu.
"Angkat tangannya!" teriak Zefano masih menodongkan senjatanya pada Zefran.
"Tapi Papa capek, pengen peluk Mama," ucap Zefran dengan nada memohon.
"Oh Papa capek ya? Ya udah boleh peluk Mama," ucap anak itu langsung kembali berlari mendekati Zifara yang ingin mengacak mainannya.
Zefran dan Allena tertawa, mendengar ucapan Zefano.
"Alasannya nggak matching, kalau capek boleh peluk Mama," ucap Zefran.
Allena tertawa sambil bersandar di dada suaminya. Zefran pun memeluk istri tercintanya sambil mengecup puncak rambut wanita cantik yang sangat dicintainya itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1