
Allena bersiap-siap berangkat bersama Robert Daniel dan seorang asistennya. Sambil duduk menunggu jadwal keberangkatan internasional itu, Allena sepuas-puasnya menggendong putrinya, sesekali memeluk putranya. Sementara Ny. Mahlika yang ikut mengantar Allena ke bandara hanya tersenyum melihat tingkah Allena yang bermain dengan kedua anaknya.
Setelah melakukan check-in, Allena dan Robert Daniel kembali menemui keluarganya sambil menunggu jadwal keberangkatan. Allena yang menggendong Zifara menatap cemberut pada Zefran dan Robert Daniel yang berbincang dengan akrabnya bahkan hingga tertawa bersama.
Tapi syukurlah Kakak tak cemburu lagi pada Kak Robert, batin Allena.
"Ayolah ikut dengan kami ke Paris," ajak Robert Daniel sambil menepuk bahu Zefran.
"Aku ingin tapi tak bisa meninggalkan pekerjaanku," jawab Zefran sambil menoleh pada Allena.
Dia yang tak ingin aku ikut karena takut aku akan merusak acara kalian, batin Zefran.
Meski Zefran terlihat bersikap wajar dan ramah pada Robert Daniel namun di hatinya tetap saja tersembunyi rasa cemburu.
"Ayolah, sesekali tinggalkan pekerjaan, biarkan otakmu refreshing sejenak. Kamu bisa melihat hal baru di sana, dunia modeling yang gemerlap. Bisa jadi kamu tertarik berusaha di bidang itu," bujuk Robert Daniel.
"Mungkin lain kali, sekarang ini sudah terlambat, kalian sebentar lagi juga akan berangkat," jawab Zefran.
Robert Daniel terlihat kecewa.
"Baiklah lain kali, atau jika benar-benar ingin kamu bisa menyusul kami di hari yang lain. Ok! Aku tunggu ya," ucap Robert Daniel.
Zefran hanya mengangguk-angguk lalu melirik pada istrinya yang masih bermain bersama putrinya.
Oh ya ampun, aku pasti akan merindukanmu sayang, batin Zefran.
Laki-laki itu masih terus menatap istrinya yang duduk di bangku sambil bermain tepuk tangan dengan putrinya. Tak lama kemudian Allena menerima panggilan telepon dari asistennya yang telah menunggu di boarding room. Gadis muda itu memintanya untuk segera datang karena harus segera memasuki pesawat.
"Mama harus berangkat ya sayang," ucap Allena pada Zefano.
"Ya Ma, hati-hati ya Ma," ucap Zefano.
Allena mengangguk lalu memeluk erat putranya. Kemudian berpamitan dengan ibu mertuanya, Ny. Mahlika memeluk erat dan berpesan agar menantunya itu tidak perlu khawatir pada putra putrinya. Allena sangat berterima kasih pada ibu mertuanya yang sangat mendukung karirnya itu. Bersama-sama mereka melangkah menghampiri Zefran dan Robert Daniel.
"Sudah mau berangkat sayang?" tanya Zefran yang melihat Allena menghampirinya.
"Ya Kak, asisten ku sudah memanggil," ucap Allena.
Zefran diam menatap Allena yang masih menggendong putri mereka. Laki-laki itu hendak mengambil Zifara namun Ny. Mahlika mendahului.
"Biar Mommy yang gendong," ucap Mahlika sambil mengambil Zifara.
Zefran langsung memeluk istrinya dan membelai rambut wanita cantik itu.
"Aku pasti rindu padamu," bisik Zefran.
"Aku juga Kak," ucap Allena.
"Cuma seminggu 'kan?" tanya Zefran memastikan.
Allena mengangguk, Zefran melepaskan pelukannya. Wanita itu tersenyum dan hendak beranjak pergi namun Zefran kembali menarik tubuhnya dan kembali memeluknya. Allena hanya diam membiarkan suaminya. Tak lama kemudian Zefran merenggangkan pelukannya dan mengecup bibir istrinya.
"Ayo Allena kita berangkat!" ajak Robert Daniel.
Dengan sedikit kesal, Zefran akhirnya melepaskan Allena. Wanita itu pun melangkah bersama Robert Daniel. Sesekali wanita itu masih menoleh ke belakang hingga akhirnya tak bisa melihat keluarganya lagi. Melangkah menuju boarding room di mana asistennya telah menunggu.
Terlihat para penumpang yang telah mulai antri memasuki gate yang telah ditentukan. Allena melangkah di garbarata dengan pikiran yang melayang. Sejak berkumpul lagi dengan Zefran, ini pertama kalinya dia berpisah lagi dengan laki-laki yang dicintainya itu. Begitu duduk di pesawat Allena masih termenung. Robert Daniel menepuk punggung tangan Allena.
"Cuma sebentar saja, sudah seperti ini sedihnya. Dulu kalian bahkan berpisah hingga bertahun-tahun," ucap Robert Daniel.
Allena hanya diam sambil tersenyum kecil.
Saat itu kami berpisah dengan emosi bahkan mungkin saling membenci, tapi sekarang aku berpisah saat kami bahagia. Siapa yang mau berpisah di saat-saat bahagia? tanya Allena dalam hati.
"Aku tidak menyuruhmu melupakan suamimu tapi bersedih karena berpisah sementara ini tak ada gunanya. Jangan sampai perpisahan yang menyakitkan ini menjadi sia-sia. Sekarang fokus dengan tujuanmu, raih hasil terbaikmu lalu pulang dengan bangga menemui suamimu," ucap Robert Daniel.
Kata-kata yang seperti meledek atau mengolok-olok Allena membuat wanita itu mengerutkan keningnya namun ucapan Robert Daniel itu memang benar. Jangan sampai perpisahan menyedihkan ini berakhir dengan sia-sia karena usaha yang tak maksimal.
Mendengar itu Allena bertekad melupakan Zefran sementara waktu dan fokus pada tujuannya. Perjalanan tujuh belas jam lebih itu dilewatinya dengan membuat rancangan-rancangan. Entah itu akan sungguh-sungguh atau sekedar coretan-coretan. Semua itu dilakukannya untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan suami dan anak-anak yang berdiri menatapnya mengiringi keberangkatannya.
__ADS_1
Begitu sampai di kota Paris dan melihat kesibukan persiapan acara, wanita itu akhirnya bisa melupakan kesedihannya berpisah dengan keluarganya. Rancangan yang akan di ikutsertakan masing-masing designer adalah seragam dua pasang pengantin. Dan salah satunya akan dikenakan oleh dirinya sendiri sebagai perancangnya.
Allena sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia tampil justru untuk membawakan gaun pengantin rancangannya sendiri. Allena bolak-balik menatap pantulan dirinya lewat cermin besar itu. Berkali-kali wanita itu merasa tak percaya diri namun berkali-kali pula Robert Daniel menasehatinya.
"Kamu cantik, bahkan sangaaat cantik untuk ukuran seorang perancang. Kamu juga sudah terbiasa berjalan di atas catwalk," ucap Robert Daniel menguatkan hati wanita itu.
"Tapi aku berjalan di catwalk hanya untuk menyapa para hadirin saja. Bukan untuk melenggak-lenggok seperti model-model itu," bantah Allena.
"Lupakan batasanmu, kalau hari ini menjadi designer maka jadilah designer. Maka kalau hari ini kami jadi model maka jadilah seorang model. Jangan sampai kalah oleh orang lain. Apalagi kalah oleh dirimu sendiri. Ingat ya! Saat membawakan rancanganmu lupakan dirimu yang designer, tanamkan dalam dirimu bahwa sekarang kamu adalah seorang model, mengerti!" ucap Robert Daniel kembali menguatkan hati Allena.
Allena merasa bersyukur, karena pasangan modelnya adalah Robert Daniel yang telah dekat dengannya. Tak sebatas urusan pekerjaan namun Robert Daniel adalah motivator nya dalam menghadapi masalah-masalah pribadinya.
Jika dengan orang lain mungkin aku sudah mundur sejak tadi. Aku harus kuat, aku harus percaya diri demi Kak Robert yang menyemangatiku dan demi keluargaku yang terpaksa aku tinggalkan. Aku harus kuat, batin Allena.
Wanita itu mengangguk-angguk hingga beberapa kali. Robert Daniel tertawa melihat tingkah wanita itu, melihat itu Allena pun ikut tertawa. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan bagi sebagian orang tapi bagi Allena menunggu adalah pekerjaan yang paling menakutkan.
Wanita itu berkali-kali menengadahkan wajahnya untuk membuatnya rileks. Menatap langit-langit gedung untuk mengalihkan rasa gugupnya. Robert Daniel menggenggam tangan wanita itu, Allena menoleh pada Robert Daniel yang tersenyum.
"Besok akan ada pemotretan seluruh rancangan hari ini, kamu juga akan diwawancarai sebagai designer-nya. Aku sudah membooking Adit untuk menjadi fotografer-nya," ucap Robert Daniel mencari bahan obrolan agar Allena tak gugup menunggu giliran.
"Benarkah?" tanya Allena tak percaya.
Pancingan Robert Daniel tepat sasaran, ucapannya membawa senyum di bibir Allena. Wanita itu berpendapat semakin banyak yang dikenalnya berada di sisinya semakin tenang hatinya.
"Ini peragaan busana paling menakutkan dalam hidupku," bisik Allena.
Robert Daniel tertawa, kemudian mendekati Allena.
"Ini peragaan busana paling unik bagiku, lihatlah!" ucap Robert Daniel sambil meruncingkan mulutnya ke arah peserta lain.
Allena mengikuti arahan Robert Daniel dan terlihat model pasangan pengantin lain di mana designer-nya terlihat lebih tua usianya, atau tak proporsional tubuhnya atau tak cantik wajahnya.
Allena kembali melihat penampilannya di cermin besar itu. Terlihat wanita muda yang cantik dengan gaun pengantin yang sangat indah. Allena tak kalah cantik dengan para model meski tubuhnya tak setinggi mereka.
Allena tersenyum, meski yang dinilai adalah rancangannya namun penampilannya sebagai model yang membawakan rancangannya tak mengecewakan. Tumbuh rasa percaya diri dalam diri Allena, hatinya tenang
Allena berdiri sejenak untuk melihat ekspresi para hadirin. Kebanyakan mereka mengangguk-angguk sambil berbincang dengan orang disampingnya. Allena kembali berjalan ke bagian tengah panggung catwalk dan berpapasan dengan Robert Daniel. Berjalan ke sisi lain panggung itu dan berhenti sejenak untuk melihat respon para hadirin di sana lalu kembali lagi ke bagian tengah.
Bersama Robert Daniel yang menggenggam tangannya, wanita itu memberi hormat pada para hadirin. Tepuk tangan riuh bergema di aula hotel bintang lima kota Paris itu. Allena dan Robert Daniel kembali ke belakang panggung.
Begitu sampai di belakang panggung, wanita itu langsung memeluk Robert Daniel dan berterima kasih.
"Aku gugup sekali, aku gugup sekali, aku gugup sekali," ucap Allena terus menerus.
"Kamu bohong, kamu sama sekali tak terlihat gugup," ucap Robert Daniel.
"Benarkah? Gugupku tidak terlihat, benarkah? Benarkah? Benarkah?" tanya Allena tak percaya sambil melompat-lompat.
Robert Daniel mengangguk sambil tertawa.
"Aku bersyukur sekali, terima kasih Kak," ucap Allena sekali lagi memeluk model tampan itu.
Setelah acara peragaan busana selesai, mereka hendak kembali beristirahat di kamar hotel. Saat berjalan meninggalkan aula hotel itu Allena disulitkan oleh para wartawan mode yang ingin mewawancarainya dan juga mengambil fotonya. Robert Daniel tampil untuk menjawab pertanyaan. Mereka pun diminta berfoto berdua.
Di kamar hotel, gadis asisten Allena tak henti-hentinya memuji kecantikan Allena.
"Bagaimana dengan gaunnya? Yang dinilai 'kan rancangan," ucap Allena.
"Gaun Kak Allena juga sangat cantik, lihat saja saya yakin Kak Allena pasti mendapat peringkat," ucap gadis asisten itu.
"Vi, untuk berharap dapat peringkat Kakak masih berpikiran jauh. Bisa terpilih untuk ikut serta di event ini saja rasanya sudah sangat luar biasa. Apa tadi kamu tidak lihat, mereka adalah designer-designer yang telah ternama. Jam terbangnya mereka sudah sangat jauh dibanding Kakak," ucap Allena.
"Vivi yakin Kak, Kak Allena bakal dapat peringkat, bakat itu tidak hanya dari berapa banyak jam terbangnya, tapi kemampuan berkreasi. Meski mereka telah memiliki nama besar setara dengan Mommy Marilyn tapi kemampuan Kakak tak kalah dari mereka. Mommy sendiri mengakui kehebatan Kakak. Mommy pernah bilang kalau Kak Allena harusnya sudah bisa memiliki perusahaan fashion sendiri tapi Mommy masih berat melepas Kak Allena. Mommy itu sayang banget sama Kak Allena," jelas Vivi.
Allena tersenyum, antara percaya dan tidak percaya pada cerita gadis itu. Namun hatinya telah lega karena satu sesi acaranya telah selesai.
"Aku senang karena Adit yang menjadi fotografer kami, mendengar itu hatiku jadi tenang karena aku takut tak bisa berpose. Bersyukur sekali rasanya Adit yang terpilih jadi fotografer ku," ucap Allena.
"Bukan dipilih Kak, tapi Kak Adit yang mengajukan diri. Saat mengetahui Kak Robert mendatarkan Kak Allena sebagai perancangnya. Kak Adit juga mengajukan diri menjadi fotografer-nya," jelas Vivi.
__ADS_1
"Benarkah? Adit mengajukan diri?" tanya Allena.
"Ya, karena Kak Adit ingin tampilan foto Kak Allena nanti perfect. Karena akan tampil di majalah mode internasional dan akan menjadi kenang-kenangan buat Kakak," ucap Vivi.
"Aku tidak menyangka perhatian Adit begitu besar buat Kakak padahal dia sudah jadi fotografer ternama," ucap Allena.
"Kak Adit sangat berterima kasih pada Kakak. Adit sang fotografer ternama tak akan ada jika bukan karena bantuan Kak Allena, begitu katanya," ucap Vivi sambil tersenyum.
Allena mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba memeluk Vivi dan berterima kasih pada gadis itu.
"Aku bahagia dikelilingi orang-orang yang baik hati," ucap Allena.
"Kakak yang baik hati, kami semua hanya ingin membalas kebaikan hati Kakak. Ikut melihat kesuksesan Kakak saja kami sangat senang apalagi jika membantu Kak Allena dalam meraih semua itu, kami lebih senang lagi," ucap Vivi sambil membalas pelukan Allena.
"Jika orang lain mungkin sudah meninggalkan kami tapi Kak Allena meski telah terkenal tetap tak melupakan kami. Memikirkan itu kami sudah sangat senang," ucap Vivi.
"Kamu juga pasti bisa Vi, Kakak dulu juga sepertimu. Tapi jika kita tekun, tak gampang putus asa sedikit demi sedikit kita akan bisa. Yang penting jangan lupa berlatih dan terus mencari ilmu serta pengalaman," ucap Allena sambil merenggangkan pelukannya.
"Betul Kak itu juga yang dikatakan Mommy Marilyn. Vivi beruntung ikut Kak Allena karena Kak Allena baik dan suka berbagi ilmu. Mommy juga bilang kemampuanku melesat jauh dibandingkan yang lain karena Kak Allena yang tak pelit mengajariku," ucap Vivi sambil mengedipkan matanya.
"Ngomong-ngomong dari tadi ngomongnya, kami, kami, maksudmu, kamu dan Adit?" tanya Allena.
Vivi mengangguk.
"Kalian rupanya akrab sekali, apa kalian jadian?" tanya Allena penasaran.
Vivi menunduk lalu mengangguk sambil tersenyum sipu.
"Hmm, jadian nggak ngomong-ngomong. Kalau begitu harus dirayakan ini," ucap Allena.
"Jangan Kak, malu. Kami ini apalah, cuma orang dari kalangan rendah yang tak perlu digubris. Untuk apa pakai dirayakan segala. Kenapa Kak Allena harus peduli pada kami?" tanya Vivi.
"Kamu tidak tahu orang seperti apa aku Vi. Aku juga bukan keturunan sosial kelas atas atau keturunan darah biru atau kalangan borjuis. Aku sama sepertimu, gadis dari kalangan bawah yang berjuang untuk mencapai sukses. Kalian masih beruntung, kalian menyayangi satu sama lain. Bisa saling dukung satu sama lain. Kakak yakin suatu saat kamu pasti akan sukses mengikuti kesuksesan Adit. Kalian akan menjadi pasangan yang komplit, satu perancang yang satu fotografer. Hebat, kamu pasti akan sukses bersama Adit," jelas Allena panjang lebar.
Vivi tersenyum mengangguk. Gadis itu selalu patuh pada ucapan Allena karena dia percaya pada ketulusan ucapan designer yang telah ternama itu. Setelah asyik berbincang mereka pun beristirahat.
Esoknya mereka masih bisa bersantai sambil bersiap-siap untuk sesi pengambilan foto keesokan harinya. Setelah sarapan bersama mereka berjalan-jalan di sepanjang Rue de Marseille di mana sepanjang jalan itu menjadi tujuan bagi para fashionista karena terdapat banyak toko dan butik untuk pria dan wanita.
Setelah itu mereka melepas lelah sambil duduk di tepian Canal Saint-Martin yang tak jauh dari Rue de Marseille. Sore harinya mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Vivi menyarankan Allena untuk berendam di jacuzzi whirlpool bath, agar tubuh dan wajah wanita cantik itu segar saat menjalani sesi photo gaun pengantin untuk majalah itu.
Detik-detik pengumuman pemenang pemilihan seragam pengantin, pria dan wanita itu akhirnya tiba. Seluruh yang hadir menikmati tayangan yang berisi ulasan tentang busana yang diperagakan. Para peserta yang telah menjalani sesi pemotretan telah berdiri berjajar menanti keputusan juri.
Allena terkejut tak percaya saat namanya dipanggil sebagai runner-up. Robert Daniel langsung menggandeng tangan Allena dan berdiri di bagian depan panggung. Allena menerima karangan bunga berikut plakat penghargaan.
Semua itu disaksikan Zefran dalam sebuah tayangan tv berlangganan yang menyiarkan tayangan TV Prancis. Zefran tersenyum bangga menatap istrinya dari balik layar kaca. Namun saat penayangan foto-foto dengan gaun pengantin bersama Robert Daniel wajah Zefran merengut.
Harusnya aku yang berfoto mesra seperti itu denganmu. Bukan laki-laki itu, oh ya ampun mesra sekali, celoteh Zefran dalam hati.
Saat melihat tayangan foto-foto dengan seragam pengantin itu. Terlihat Robert Daniel yang seperti ingin mencium Allena.
"Aku tak tahan melihatnya, terlihat seperti ingin mencium istriku. Harusnya aku saja yang jadi modelnya, semesra apapun tak akan ada masalah. Oh ya ampun, itu leher Allena kena apa nggak sih, Aaah, ya ampun tayangan ini menyebalkan," ucap Zefran kesal.
Baru saja hendak mengganti channel, Zefran justru mendapat tayangan wawancara Allena dan Robert Daniel. Di sana ditanyakan tentang hubungan Allena yang terlihat akrab dengan modelnya. Disinyalir Allena memiliki hubungan khusus dengan modelnya itu karena kedekatan mereka dan banyak penggemar yang mengharapkan mereka benar-benar menjadi pasangan.
Zefran hampir saja membanting remote control tv itu jika Allena tidak buru-buru menunjukkan cincin pernikahannya dan mengakui dirinya telah menikah dan memiliki dua orang anak. Banyak wartawan yang menyangka itu adalah cincin yang dipromosikan oleh sebuah perusahaan perhiasan. Dan Allena menyangkalnya, mengakui bahwa cincin itu adalah cincin pernikahannya. Saat melihat tayangan itu Zefran kembali tersenyum.
Allena benar-benar memanfaatkan cincin pernikahan kami, bisik Zefran dalam hati.
Selanjutnya adalah berita lain Zefran berhenti menatap televisi. Laki-laki itu kembali tidur, tayangan malam di Paris terpaksa dinikmatinya dini hari karena selisih waktu antara Indonesia dan Prancis enam jam lebih cepat di Indonesia. Zefran tertidur setelah semalaman tak bisa tidur karena tak ada Allena di sampingnya.
Keesokannya sepulang kerja Zefran kembali menyalakan televisi di ruang kerjanya namun tak ada tayangan apa pun tentang peragaan busana.
Mungkin liputan tentang acara peragaan busana itu telah habis, batin Zefran yang menguap di kursi malas di ruangan kerjanya itu.
Mata Zefran telah redup namun sekilas melihat tayangan infotainment yang menayangkan foto-foto seorang designer wanita yang digendong seorang model pria tampan yang diikuti oleh paparazzi. Fotografer yang mengekspos ruang-ruang pribadi para selebriti hingga menjadi konsumsi publik itu bahkan mendapatkan foto-foto Allena yang digendong seorang model tampan hingga masuk ke kamar hotel.
Rasa kantuk Zefran langsung hilang, laki-laki itu semakin penasaran bahkan berdiri di depan televisi untuk meyakinkan matanya sekaligus beritanya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1