Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin

Berbagi Cinta - Suami Yang Dingin
BAB 82 ~ Salah Paham~


__ADS_3

Robert Daniel menceritakan kedekatannya dengan Allena, laki-laki itu juga menceritakan perjalanan hidup Allena yang sulit saat belajar sambil bekerja di Paris. Robert Daniel mempertanyakan kontribusi dan keberadaan Zefran. Dibanding dengan apa yang dilakukan Robert Daniel, Zefran merasa dirinya tidak ada apa-apanya.


Laki-laki itu diam terpaku menatap wajah model tampan di hadapannya. Pikirannya buntu, memikirkan jawaban tepat yang bisa dilontarkannya untuk menjawab pertanyaan Robert Daniel.


Aku tidak melakukan apa pun untuk Allena, aku tidak membantu apa pun saat hidupnya sulit. Apa yang telah kuberikan untuknya? Hanya kesedihan, kemarahan dan menyalahkan. Egois nya aku, merasa menjadi orang yang paling pantas dihargai olehnya, batin Zefran.


Zefran tertunduk tak mampu menjawab ucapan Robert Daniel bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Robert Daniel menatap laki-laki dengan wajah penuh penyesalan itu.


"Kamu pasti sedang menyesali dirimu, hanya bisa menyalahkannya namun tak melakukan apa-apa untuknya. Aku juga pernah menanyakan itu pada Allena. Apa yang telah diperbuat suaminya hingga dia begitu mencintai suaminya? Kamu tahu apa jawabnya? Suamiku memberiku segala-segalanya," jelas Robert Daniel.


Laki-laki itu tertawa kemudian meneguk minumannya. Zefran menatap Robert Daniel, laki-laki itu balas menatapnya. Zefran seperti ingin mengetahui apa maksud ucapan Allena. Robert Daniel mengetahui rasa penasaran laki-laki itu akan jawaban Allena.


"Dia menjawab suaminya memberinya cinta, lalu menyodorkan foto seorang anak laki-laki yang sedang melambaikan tangannya. Anak itu adalah putramu, baginya putramu adalah bukti cintamu padanya. Aku berkata pada Allena, kalau cinta suaminya sudah berakhir, terbukti suaminya tidak lagi peduli padanya. Aku berkata 'suamimu hanya mencintaimu sesaat saja'. Kamu tahu apa jawabannya? Dia berkata setidak-tidaknya suamiku pernah mencintaiku," ucap Robert Daniel lalu kembali tertawa.


"Hanya dicintai sesaat saja, baginya sudah segala-galanya. Wanita itu benar-benar buta, padahal dia bisa mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki lain, tapi dia tetap saja bertahan mencintaimu," jelas Robert Daniel.


Apa yang diceritakan Robert Daniel harusnya membuat hati Zefran bahagia. Baru kali ini ada orang yang menceritakan isi hati Allena padanya. Betapa istrinya sangat mencintainya, bahagia walau hanya mendapat sedikit cinta darinya. Allena tetap bertahan dengan cinta Zefran yang sesaat kemudian pergi mengejar mimpinya menjadi designer yang sukses.


Tapi semakin mendengar cerita itu semakin Zefran semakin merasa bersalah pada Allena. Cinta suci wanita itu diragukan olehnya. Bahkan Zefran memperlakukan Allena begitu buruk. Zefran berjanji tidak akan meragukan cinta Allena lagi. Namun dia harus tahu bagaimana perasaan model tampan itu terhadap istri yang sangat dicintainya itu.


"Apa kamu mencintai Allena?" tanya Zefran akhirnya dengan suara yang telah serak.


Setelah tak mampu berkata-kata, pertanyaan yang paling ingin diketahui jawabannya itu akhirnya berhasil dilontarkannya.


"Aku menyukainya, menyayanginya, semua akan aku berikan untuknya tapi aku tidak bisa mencintainya. Tidak ada artinya. Semua yang kuberikan padanya tidak akan ada arti baginya dibandingkan cinta sesaatmu itu. Kamu jangan khawatir dengan hubungan kami. Jika aku berniat merebutnya darimu maka sudah aku lakukan sejak dulu," jelas Robert Daniel.


Akhirnya kata-kata yang dapat melegakan hati Zefran terucap. Setelah membuat hatinya gundah, model tampan itu akhirnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak berniat merebut Allena dari sisinya. Zefran menarik nafas lega, semua yang perlu diketahuinya telah didapatkannya bahkan hal yang tak pernah diketahuinya pun telah diungkapkan oleh model tampan itu.


Zefran melangkah dari gedung perusahaan fashion dengan berbagai pikirkan yang bergelayut di kepalanya. Di akhir perjumpaan, Robert Daniel meminta Zefran sering-sering datang berkunjung ke perusahaan fashion itu untuk mengetahui bagaimana Allena bekerja dan mengenal teman-teman Allena yang bekerja saling mendukung.


Zefran duduk di belakang kemudi mobil sambil terus mengingat ucapan terakhir Robert Daniel.


"Jangan sampai Allena letih mempertahankan cintamu. Karena jika itu terjadi, aku yang pertama kali berdiri di antara kalian."


Apa maksudnya? Dia bilang dia tidak bisa mencintai Allena. Tapi jika Allena tak lagi mempertahankan cintanya padaku maka laki-laki itu akan hadir di antara kami. Apa dia menunggu saat itu? Saat Allena tak lagi mencintaiku, dia akan merebut Allena dariku. Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Saat itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan mempertahankan Allena di sisiku, batin Zefran.


Dengan hati yang mantap laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya dan memilih untuk langsung pulang ke rumah. Segera Zefran mencari istrinya, dan benar perkiraannya, Allena sedang bermain dengan buah hati mereka.


Zefran tersenyum mengintip dari balik pintu, terlihat Allena yang sedang membungkuk di hadapan Zifara yang diletakkan di atas karpet tebal. Wanita itu tertawa sambil menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan Zifara. Sementara Zefano dan Keisya asyik bermain.


Zefran menghampiri dan langsung memeluk Allena dari belakang. Allena kaget dan langsung menoleh, Zefran mengecup bibir wanita itu. Allena tersenyum meski terlihat masih ragu-ragu.


"Kakak sudah pulang?" tanya Allena berbasa-basi.


Zefran mengangguk di atas bahu Allena. Dalam hati Allena bersyukur karena Zefran pulang dengan suasana hati yang tidak buruk. Namun begitu Allena masih ragu-ragu untuk memulai bicara, wanita itu lebih banyak diam kecuali Zefran bertanya.


Sementara Zefran sendiri merasa ragu untuk bertanya apa, tak tahu harus berkata apa, tingkah laku mereka terlihat canggung. Hanya diam menunggu masing-masing bicara. Allena tidak tahan dengan situasi itu, akhirnya memulai pembicaraan. Setelah memikirkan sekuat tenaga apa yang ingin dibicarakan, saat melihat Keisya akhirnya wanita itu mendapatkan topik untuk dibicarakan.


"Tadi Keluarga Adams datang ke sini Kak," ucap Allena memulai pembicaraan.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Zefran berusaha bersikap sewajar mungkin.


"Ya Kak, mereka mengundang kita untuk menyambut Kak Frisca pulang ke rumah," jelas Allena dengan suara pelan.

__ADS_1


Zefran menatap istrinya yang masih terlihat canggung. Zefran tak ingin situasi canggung itu bertahan lama. Laki-laki itu mencium pipi Allena sangat lama. Allena menoleh pada laki-laki yang masih memeluknya dari belakang itu dengan tatapan yang heran.


"Aku minta maaf Allena, aku tahu permintaan maaf ini tidak cukup untuk menghapus kesedihanmu. Maafkan aku dan terima kasih karena sabar menghadapi laki-laki bodoh sepertiku. Tapi aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu sayang," ucap Zefran akhirnya.


Mata Allena berkaca-kaca, wanita itu memalingkan wajahnya dan mengerjapkan matanya untuk menghilangkan genangan air di pelupuk matanya. Lalu segera wanita itu mengangguk cepat untuk menjawab ucapan Zefran.


Zefran tersenyum, lalu mengalihkan pandangan pada Zefano dan Keisya. Teringat ucapan Robert Daniel yang mengungkapkan Zefano sebagai bukti cintanya pada Allena. Zefran menghampiri putranya lalu mengecup puncak rambut anak itu.


Terima kasih sayang, karena kamu hadir di dunia ini. Apa yang Mamamu ucapkan adalah benar. Kamu adalah bukti cintaku padanya, batin Zefran.


Laki-laki itu kembali mengecup puncak rambut Zefano. Semua tak luput dari penglihatan Allena, juga Keisya yang tersenyum melihatnya melakukan itu. Zefran tersenyum untuk membalas dan menyapa gadis kecil yang cantik itu.


"Keisya, besok kita ke rumah Tante Frisca untuk menyambutnya yang baru keluar dari rumah sakit" ucap Zefran pada Keisya dan Zefano.


"Beneran Pa? Kita ke rumah Tante Frisca?" tanya Zefano dengan semangat.


Keisya juga tersenyum mendengar pembicaraan Zefran dan Zefano, begitu juga dengan Allena.


"Iya, Mama yang bilang. Katanya kita diundang ke sana untuk menyambutnya. Wah, nantinya Keisya akan tinggal di sana. Bersama Tante Frisca dan Papa Valdo," ucap Zefran sambil mengusap rambut gadis kecil itu.


Tapi ekspresi Keisya langsung sedih, Allena datang menghampiri.


"Kenapa Keisya?" tanya Allena.


"Nanti Keisya akan tinggal sama Mama dan Papa? Apa Keisya masih boleh main ke sini lagi?" tanya Keisya.


"Boleh dong sayang, nanti bisa minta antar sama Mama Frisca," jawab Zefran yang akhirnya mengganti panggilan Frisca untuk Keisya.


"Yey kalau Tante Frisca udah keluar dari rumah sakit, berarti kita bisa sering ketemu Tante Frisca ya Pa?" tanya Zefano.


"Sayang dong! Papa sayang juga nggak sama Tante Frisca?" tanya Zefano balik bertanya.


"Sayang dong!" ucap Zefran cepat.


Deg, jantung Allena seperti dihantam palu besar. Dengan yakin dan cepat Zefran mengucapkan dirinya masih sayang pada mantan istrinya itu. Setelah masalah yang timbul di antara mereka dan hati yang masih belum pulih dari luka sekarang Allena harus mendengar ucapan yang membuat dadanya terasa perih.


Allena memalingkan wajahnya dan mundur kembali duduk di hadapan Zifara. Menatap nanar pada bayinya itu, tersenyum pahit dengan mata yang berkaca-kaca. Allena menoleh pada Zefran dan Zefano, dua orang yang disayanginya itu kini menyayangi Frisca. Allena merasakan sakit di dadanya yang terasa berdenyut.


Terdengar bunyi ponsel Zefran yang bergetar, laki-laki itu langsung memeriksa pesan yang masuk. Setelah mengotak-atik ponselnya sekilas, laki-laki itu meletakkan ponselnya di atas meja di samping kirinya lalu kembali bercanda dengan Zefano dan Keisya.


Allena tidak bisa lagi menahan sakit di dadanya. Akhirnya wanita itu menggendong Zifara untuk dibawa ke kamarnya dan menyusuinya. Sambil menyusui bayi itu Allena menangis sejadi-jadinya. Allena merasakan cemburu yang amat sangat, Allena merasa cinta Zefran berkurang padanya dalam sekejap karena peristiwa kemarin.


Allena menganggap Zefran sengaja menunjukkan kalau dirinya masih sayang pada mantan istrinya. Dan itu sangat menyakitkan hatinya. Allena menangis sesenggukan sambil membelai rambut bayinya. Wanita itu merasa apa pun yang diucapkannya, yang dilakukannya selalu berakhir dengan kesedihan.


Ibu, aku kangen Ibu, aku ingin ketemu Ibu, aku tak tahan lagi Bu, aku ingin pulang. Kak Zefran membenciku Bu, Kak Zefran tak lagi mencintaiku, batin Allena menangis.


Allena masih menangis saat Zefran tiba-tiba masuk ke kamar. Allena buru-buru menghapus air matanya dan namun Zefran telah terlanjur melihat Allena menangis.


"Allena ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Zefran langsung menghampiri Allena.


"Tidak apa-apa Kak, aku cuma kangen sama Ibu," jawab Allena dengan suara serak.


Kembali wanita itu terisak-isak dan berusaha menghapus air matanya. Zefran akhirnya mengangguk, melihat Allena yang terlihat begitu sedih, laki-laki itu tidak tega melarangnya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu boleh ke rumah Ibu. Kalau kamu ingin menginap di sana juga tidak apa-apa. Nanti kamu bisa ke sana setelah menghadiri acara menyambut kepulangan Frisca ya," ucap Zefran sambil membelai rambut Allena.


Frisca lagi, Frisca lagi, aku benci mendengarmu menyebut nama itu, batin Allena.


Wanita itu masih menunduk sambil menghapus air matanya. Zefran lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Allena memandang laki-laki itu yang terlihat tak acuh padanya.


Zefran selesai mandi dan segera masuk ke walk in closet untuk berpakaian. Saat keluar dari walk in closet, Zefran langsung menoleh ke nakas samping ranjang mereka.


"Allena mana ponselku? Apa kamu melihatnya?" tanya Zefran yang tak melihat ponsel itu di tempat biasanya.


Allena sedang meletakkan bayinya yang telah tertidur. Hanya menoleh sekilas pada laki-laki itu lalu menjawab ucapan Zefran.


"Aku melihatnya di atas meja di ruangan bermain anak-anak," jawab Allena.


"Oh, kenapa bisa di situ?" tanya Zefran yang langsung teringat kalau tadi dia membuka pesan di ruangan itu.


Laki-laki itu langsung ke luar kamar dan mengambil ponselnya. Tak lama kemudian laki-laki itu sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerjanya.


Sementara Allena terdiam di kamarnya sambil menatap bayinya. Lalu duduk termenung di balkon seorang diri.


Apa yang terjadi padaku, kenapa aku begitu sensitif akhir-akhir ini? Setelah Kak Zefran menamparku perasaanku selalu sedih. Suasana hatiku selalu buruk. Aku ingin dia lebih memperhatikanku tapi dia justru mengabaikanku. Tak sedikit pun ada keinginannya untuk melarangku pergi, dia tidak peduli lagi padaku. Apa dia tidak menginginkanku lagi? Sejak kejadian kemarin dia tidak peduli lagi padaku. Ibu, bagaimana ini? Apa rumah tanggaku akan berakhir? Batin Allena.


Wanita itu memejamkan matanya dan air matanya pun mengalir. Allena ingin menenangkan diri di balkon itu hingga akhirnya dia tertidur. Menjelang malam Zefran masuk ke kamar namun tak mendapati istrinya di ruangan itu. Zefran melihat pintu kaca balkon terbuka, laki-laki itu pun melangkah ke balkon dan benar saja, istrinya tertidur di situ.


Sisa air mata Allena masih menempel di pipinya. Zefran menghapus air mata itu dengan jari-jarinya.


Kenapa masih menangis Allena? Apa kamu masih marah padaku? Aku membiarkanmu menginap di rumah ibumu meski aku tidak suka berpisah denganmu sedetik pun, tapi kenapa? Kenapa kamu masih marah padaku? Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku? Jangan pulang Allena, tetaplah di sini, aku tidak akan bisa tidur tanpa kamu di sisiku, batin Zefran memohon.


Laki-laki itu mencium telapak tangan istrinya sambil menatap wajah wanita yang dicintainya itu. Zefran memutuskan menggendong Allena dan memindahkannya ke ranjang. Di sana Zefran juga ikut merebahkan diri lalu memeluk Allena. Zefran ingin tidur dan berharap saat bangun, Allena memutuskan batal menginap di rumah ibunya.


Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk berangkat ke rumah keluarga Adams. Allena tidak suka melihat Zefran yang terlihat begitu semangat pergi ke rumah mantan mertuanya itu. Dengan wajah yang murung gadis itu akhirnya duduk di bangku penumpang dalam mobil Zefran. Sementara Zefano dan Keisya duduk di kursi belakang.


Zefran bukannya tak menyadari wajah murung Allena tapi laki-laki itu menahan diri untuk tidak mempermasalahkan sikap murung Allena. Zefran masih mengira kalau Allena begitu merindukan ibunya.


Laki-laki itu ingin menghubungi teman-temannya untuk bertanya, apakah mereka telah sampai di kediaman keluarga Adams. Namun dia tak menemukan ponselnya.


"Ponselku di mana Allena? Apa kamu melihatnya?" tanya Zefran.


Tak biasanya dia lupa membawa ponselnya.


"Di atas lemari kaca penyimpanan arloji Kakak," jawab Allena.


"Oh, kenapa bisa ketinggalan di situ?" tanya Zefran.


Laki-laki itu turun dari mobilnya dan berjalan kembali ke dalam rumah. Ny. Mahlika telah berangkat lebih dulu karena ibu Zefran itu telah berjanji untuk membantu kesiapan Ny. Widya menyambut para tamu yang hadir di rumahnya.


Zefran berjalan tergesa-gesa ke lantai atas, selama berjalan ke lantai atas laki-laki itu berpikir.


Tak biasanya aku kehilangan ponsel, sudah dua kali aku menanyakan ponselku pada Allena. Biasanya aku selalu mengambilnya di atas nakas di samping ranjang. Kenapa sekarang selalu tergeletak di tempat yang tidak semestinya? Batin Zefran.


Laki-laki itu menoleh ke arah nakas tempat biasa dia meraih ponselnya.


Aku baru sadar sekarang, selama ini Allena menemukan ponselku dan meletakkannya di atas nakas. Tapi sekarang Allena tidak mau melakukannya lagi. Dia tak mau menyentuh ponselku sama sekali, batin Zefran.

__ADS_1


Zefran meraih ponselnya lalu kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah mantan mertuanya.


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2