
Suster Nofi terlonjak saat seorang temannya, suster yang bekerja di rumah sakit daerah mengirimkan foto melalui pesan pribadi ke ponselnya. Suster itu langsung berlari menuju laboratorium di mana Dokter Shinta biasa mengerjakan penelitiannya.
"Dokter.., Dokter.., Dokter..," ucap Suster Nofi yang belum bisa bicara karena nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Ada apa dari tadi cuma dokter, dokter, dokter, tarik nafas yang dalam, lalu hembuskan. Tenangkan pikiranmu," ucap Dokter Shinta tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang menampilkan objek penelitiannya.
"Ini.., ini.., ini Zeno bukan?" tanya Nofi.
Perhatian Dokter Shinta langsung beralih pada suster yang berdiri di sampingnya itu. Suster Nofi langsung memberikan ponselnya yang menampilkan foto Zefano yang bersandar di dada Rivaldo. Dokter Shinta langsung memperbesar tampilan gambar itu dan terkejut.
"Benar ini Zeno, di mana ini? Siapa yang mengirimkan foto ini padamu?" tanya Shinta.
"Temanku yang bekerja di rumah sakit daerah Dokter," jawab Nofi.
"Kamu ikut aku," ucap Shinta cepat.
Dokter Shinta mengajak Suster Nofi ikut bersamanya menemui Zefran dan Allena yang masih rawat inap setelah melahirkan. Dokter Shinta tergesa-gesa menemui mereka, membuat keduanya kaget karena pagi-pagi telah di datangi oleh Dokter cantik itu.
"Kita menemukan Zeno," ucap Shinta sambil menunjukkan ponsel Suster Nofi.
Zefran langsung meraih ponsel itu, berdua bersama istrinya mereka mengamati foto yang diambil dari jarak yang tidak terlalu jauh itu.
"Iya benar, ini Zeno. Di mana ini? Bersama siapa dia? Apa yang dilakukannya dengan orang ini?" tanya Allena bertubi-tubi.
Wanita yang sejak kehilangan putranya mendadak pendiam itu kini memberondong Dokter Shinta dengan banyak pertanyaan. Dokter itu sendiri tidak tahu persisnya. Suster Nofi disuruh menjawab apa yang dia tahu.
"Kita ke sana sekarang," ucap Allena langsung turun dari ranjang rumah sakit.
"Kamu belum bisa keluar dari rumah sakit," ucap Shinta.
"Aku tidak keluar dari rumah sakit, aku hanya ingin menemukan anakku," ucap Allena menepis tangan Dokter Shinta.
"Zefran!" ucap Shinta meminta Zefran menghentikan Allena.
"Sayang, biar kami yang ke sana. Kami akan menjemput Zeno sekarang. Kamu tunggu di sini saja," larang Zefran.
"Nggak Kak, aku yang harus menemukannya. Aku ingin memeluknya Kak. Dia membenciku karena aku lalai menjaganya. Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya agar dia tahu aku menyayanginya, dia harus tahu aku tidak ingin dia hilang. Aku menyesal karena lalai menjaganya, aku..,"
Zefran langsung memeluk istrinya yang menangis. Sejak bermimpi Zefano membenci dan menyalahkannya, Allena selalu terlihat murung dan menyalahkan dirinya. Hal yang dikhawatirkan Dokter Shinta dan Zefran di masa setelah melahirkan adalah baby blues syndrome yang membuat wanita itu semakin depresi.
Dokter Shinta langsung memutuskan mengizinkan Allena ikut pergi.
"Baiklah, baiklah kamu boleh ikut tapi jangan memaksakan diri dan patuh perintahku. Aku akan meminta izin kamu keluar dari rumah sakit ini untuk sementara dan akan segera kembali lagi," ucap Shinta akhirnya.
"Nofi, bawakan kursi roda kemari! Nyonya Allena akan menggunakannya," sambung Shinta.
"Kenapa harus menggunakan kursi roda? Aku bisa berjalan sendiri," ucap Allena langsung melangkah.
"Kalau tidak patuh kamu tinggal saja!" bentak Shinta.
Membuat langkah Allena terhenti, wanita itu berdiri tertunduk. Allena tidak ingin orang-orang mengira dia tidak mampu menempuh perjalanan menuju rumah sakit di mana Zefano berada. Dia tidak ingin dinilai sebagai orang sakit yang lemah.
Mendengar bentakan Dokter Shinta, Suster Nofi langsung bergegas mencari kursi roda. Allena akhirnya patuh pada perintah Dokter Shinta. Mereka pun bergegas berangkat ke rumah sakit yang dituju.
Setelah sampai di rumah sakit itu Suster Nofi langsung menghubungi temannya dan meminta mengantar mereka menemui Zefano.
"Bagaimana kamu ini, kamu tidak lihat jam berapa aku mengirim pesan padamu?" tanya suster itu.
"Apa maksudmu?" tanya Nofi.
"Aku bertanya padamu untuk memastikan anak yang hilang itu jam tiga dini hari. Kenapa baru sekarang kamu datang?" tanya Suster itu.
"Apa maksudnya ini? Kenapa? Ada apa? Kenapa kami tidak bisa menanyakannya sekarang?" tanya Allena membabi buta.
Allena tidak sabar mendengarkan pembicaraan kedua suster itu. Terlebih lagi suster itu tidak kunjung menunjukkan di mana Zefano berada.
"Begini nyonya, Nofi pernah cerita kalau anak hilang itu sangat kenal akrab dengannya. Saya pernah melihat tayangan dan foto selebarannya. Saat saya melihat pengunjung rumah sakit yang mirip dengan anak itu, saya langsung menanyakan pada Nofi. Tapi Nofi tidak kunjung menjawab jadi saya pikir anak itu bukan yang dicari," ucap suster itu.
"Sudahlah tidak perlu menceritakan itu. Kami kesini karena benar anak itu adalah Zeno lalu di mana dia sekarang? Kenapa lama sekali memberitahukan kami? Kenapa sulit bagimu memberitahukan di mana anakku?" teriak Allena.
"Allena tenanglah, jangan membentak orang," ucap Zefran.
"Kenapa dia tidak kunjung memberitahuku, aku ingin segera mengetahui di mana anakku," teriak Allena lagi.
"Sabar Allena!" bentak Zefran.
Allena menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Suster itu merasa iba pada Allena.
"Anak itu sepertinya ikut keluarga itu ke rumah sakit rujukan," ucap suster itu.
"Apa maksudmu? Siapa yang sakit?" tanya Shinta.
__ADS_1
"Nyonya Frisca, hasil pemeriksaan diduga nyonya Frisca menderita kanker serviks untuk itu dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap untuk pemeriksaan lebih lanjut," jelas suster itu.
"Maksudmu anakku telah pergi? Dia tidak ada di sini? Dia tidak ada lagi di sini? Dia meninggalkanku?" tanya Allena bertubi-tubi.
"Allena tenangkan dirimu, kita bisa mencari ke rumah sakit rujukan itu," ucap Zefran.
Allena kecewa, wanita itu memegang kepalanya yang terasa pusing. Zefran langsung menahan tubuh Allena.
"Aku sudah bilang harusnya dia tidak usah ikut," ucap Shinta.
"Ayo kita pergi sekarang," ucap Zefran.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, setelah meminta nama rumah sakit yang menjadi rujukan Frisca pada suster itu. Tak lupa Dokter Shinta berterima kasih pada suster itu karena telah memberi petunjuk pada mereka.
Sementara itu di sebuah bangsal Zefano, Keisya dan Rivaldo memandang Frisca yang menatap mereka bergantian sambil meneteskan air mata.
"Zeno, kenapa Zeno tidak mendengarkan ucapan Tante? Harusnya Zeno tidak memanggil Om Valdo," ucap Frisca pelan.
"Frisca, aku bersyukur Zeno memanggilku, kenapa kamu lakukan ini? Kenapa harus pergi? Kita bisa bahagia bersama meski hanya sebentar tapi aku yakin kita bisa melaluinya. Kita akan hadapi mantan suamimu agar bisa hidup bebas bersama Zeno," ucap Rivaldo sambil menggenggam tangan Frisca.
Frisca tersenyum melihat kesungguhan Rivaldo sementara Zefano menatap bingung pada mereka, secara bergantian menoleh memperhatikan ucapan mereka.
"Aku memang ingin hidup bersama Zeno tapi aku tidak punya hak. Aku pernah cerita padamu kalau aku bukanlah wanita yang baik," ucap Frisca.
Rivaldo mengangguk.
"Aku bukan hanya tidak baik tapi sangat jahat. Aku tidak menghargai ketulusan cinta suamiku dan berselingkuh di belakangnya," cerita Frisca yang mulai terisak.
Mendengar Frisca yang ingin mencurahkan isi hati, Rivaldo meminta kedua anak itu duduk di kursi pengunjung. Laki-laki itu pun duduk mendekat ke ranjang Frisca.
"Apa yang ingin kamu ceritakan? Aku pernah bilang kalau aku tidak peduli dengan masa lalumu," ucap Rivaldo lalu mengecup telapak tangan Frisca dan menempelkan di pipinya
"Tapi aku ingin terbuka padamu tentang masa laluku yang buruk karena ini berpengaruh pada kehidupanku saat ini. Begitu buruknya masa laluku hingga apa yang aku dapatkan hari ini adalah hukuman atas perbuatanku di masa lalu," ucap Frisca sambil menghapus air matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Rivaldo.
"Aku tidak menyangka bahwa suatu saat aku akan menginginkan seorang anak," ucap Frisca sambil menoleh pada Zefano yang sedang duduk di bangku pengunjung.
Rivaldo mengikuti pandangan mata Frisca dan menatap heran pada Zefano.
"Sebenarnya aku telah tahu penyakitku karena aku pernah memeriksakannya. Tapi setelah mengetahui sakitku, aku masih saja berbuat jahat. Masih menyalahkan orang lain bahkan menuduh semua penderitaan yang aku alami ini adalah akibat dari perbuatan orang itu. Aku tidak kunjung sadar meski penyakitku bertambah parah," ucap Frisca kembali menatap Zefano hingga membuat air matanya mengalir di samping matanya.
Apa yang diucapkan Frisca membuat Rivaldo tercengang. Frisca tersenyum, wanita itu mengetahui reaksi Rivaldo pasti akan seperti itu. Tapi Frisca tidak peduli dia ingin membuka semua tentang dirinya pada Rivaldo.
"Aku pikir untuk hidup bahagia aku tidak memerlukan seorang anak. Aku merasa kehadiran seorang anak hanya akan merepotkanku. Membuatku kehilangan kebebasan dan kesempatan untuk hidup bersenang-senang," lanjut Frisca.
Frisca menghapus air mata dengan kedua tangannya. Namun air matanya terus saja mengalir setiap kali wanita itu menatap Zefano.
"Tapi saat bersama Zeno aku merasa menyesal berpikiran seperti itu. Aku ingin memiliki anak, aku ingin merasa bahagia bersama seorang anak. Tapi semua sudah terlambat aku tidak akan memiliki kesempatan itu karena sebentar lagi hidupku akan berakhir," ucap Frisca terisak-isak.
"Jangan berkata seperti itu Frisca, kamu masih bisa sembuh," ucap Rivaldo cepat.
"Bagaimana aku akan sembuh, aku tidak punya biaya untuk pengobatan. Jika bisa bertahan hidup pun aku tidak akan bisa memiliki anak lagi," ucap Frisca.
"Kenapa?" tanya Rivaldo kaget.
"Karena aku menderita kanker serviks, dokter berkata kalau pengobatan yang harus aku jalani adalah kemoterapi dan radioterapi bahkan pengangkat rahim secara menyeluruh agar kanker tidak lagi berkembang. Aku tidak bisa Valdo, aku tidak punya uang untuk membiayai semua itu. Setelah tubuhku cukup kuat aku berencana pergi dari rumah sakit ini. Aku ingin minta maaf karena aku telah merepotkanmu. Maafkan aku Valdo, maafkan aku," ucap Frisca menangis sambil meraih tangan Rivaldo.
"Tidak, aku tidak terima maafmu. Sebelum kamu berusaha untuk sembuh. Aku hanya akan menerima maafmu jika kamu bersedia memulai pengobatan. Aku akan mencarikan biaya untuk itu. Tenang saja aku pasti bisa mendapatkannya," ucap Rivaldo.
"Tidak, apa yang akan kamu lakukan? Biaya pengobatan itu sangat mahal. Kamu tidak punya uang sebanyak itu, aku tidak ingin kamu melakukan kejahatan demi mendapatkan biaya pengobatanku. Tidak! Ingat kamu memiliki Keisya, dia tidak boleh memiliki ayah seorang penjahat," teriak Frisca yang langsung duduk.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rivaldo.
"Sebaiknya aku pergi dari sini," ucap Frisca sambil berusaha untuk duduk.
"Tidak aku mohon, jangan pergi dari sini. Aku janji, aku tidak akan melakukan kejahatan. Tetaplah di sini, jalani pengobatanmu karena aku tidak mau kehilanganmu,"
"Apa? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Frisca.
"Aku akan menjual rumahku, kebetulan ada seorang kaya yang sangat ingin membeli rumahku karena akan dijadikan pusat perbelanjaan. Kamu ingat toko saat pertama kali kita bertemu?" tanya Rivaldo.
Frisca tercenung mengingat kembali saat dia kesakitan di sebuah toko yang telah tutup dan terbengkalai. Frisca mengangguk mengingat saat itu.
"Toko itu kosong karena dibeli oleh orang kaya itu. Dia mengincar semua toko di sepanjang jalan itu. Aku akan menemuinya sekarang, minimal mendapatkan uang muka untuk biaya pengobatanmu. Aku pergi dulu Frisca kamu harus segera menjalani pengobatan," jelas Rivaldo.
"Tidak! Tidak! Aku tidak setuju. Toko dan rumahmu itu adalah hidupmu, bagaimana kamu dan anakmu menjalani hidup? Di mana kalian akan tinggal?" tanya Frisca sambil menggenggam erat tangan Rivaldo.
Frisca tidak rela laki-laki itu menjual satu-satunya harta milik Rivaldo.
"Harta masih bisa dicari. Untuk sementara kita bisa menyewa rumah kecil dari sisa pembelian toko. Frisca aku tidak mau menyesal lagi. Aku mempertahankan rumah itu untuk mengenang istriku. Jika saat itu aku bisa menjualnya akan kulakukan untuk menyelamatkannya. Tapi sekarang aku memiliki kesempatan itu, kehilangan rumah itu lebih baik daripada kehilanganmu. Aku harus pergi sekarang!" ucap Rivaldo langsung melepaskan tangannya.
__ADS_1
Menemui kedua anak yang sedang duduk di bangku panjang itu dan meminta izin untuk pergi. Frisca menggelengkan kepalanya tidak setuju tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Terlihat Rivaldo yang mengecup puncak rambut putrinya kemudian beralih mengecup puncak rambut Zefano. Mengucek rambut anak tampan itu sambil tersenyum.
Baru saja hendak pergi laki-laki itu kembali menghentikan langkahnya. Lalu menoleh pada Frisca, kembali wanita itu menggelengkan kepala sambil menangis. Rivaldo kembali mendekati Frisca.
"Aku harus melakukan ini," bisiknya lalu mencium kening Frisca.
Wanita itu memejamkan mata hingga membuat air matanya mengalir deras. Rivaldo melepaskan ciumannya dan langsung pergi. Berjalan tergesa demi menemui pemilik pusat perbelanjaan yang ingin membeli rumahnya.
Setengah berlari laki-laki itu ingin segera keluar dari rumah sakit besar itu. Di sebuah tikungan Rivaldo menabrak seorang laki-laki yang juga berjalan tergesa-gesa.
"Maaf, saya tergesa-gesa maafkan saya, apa anda baik-baik saja?" tanya Rivaldo.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap laki-laki yang terhuyung ke belakang itu.
Rivaldo mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
"Zefran, ayo!" ucap Shinta yang melihat Zefran termangu menatap laki-laki yang baru saja menabraknya.
"Ayo Kak cepat, aku takut Zeno hilang lagi!" teriak Allena yang duduk di kursi roda.
Zefran mengangguk, segera mereka berjalan cepat ke bangsal yang disebutkan suster di bagian informasi. Sementara itu Rivaldo tercenung saat mendengar nama Zefano disebut.
Zefran, Allena, Dokter Shinta dan Suster Nofi memasuki sebuah bangsal yang dihuni beberapa orang pasien itu. Baru saja masuk ke ruangan itu mereka telah dikejutkan oleh suara anak kecil yang sangat mereka rindukan.
"Mama!" teriak Zefano yang langsung berdiri menuju wanita di kursi roda itu.
Allena langsung berdiri dan berlari memeluk putranya. Dokter Shinta menggelengkan kepala. Allena berlari memeluk putranya dan menciumi wajah anak yang selalu tersenyum itu.
"Papa!" ucapnya juga langsung memeluk ayahnya.
Bersama-sama mereka bertiga berpelukan erat begitu lama. Allena menangis tak bisa menahan harunya. Sementara itu Dokter Shinta melangkah mendekati Frisca.
"Apa yang terjadi? Kamu kenapa?" tanya Shinta.
Allena berdiri dan langsung menatap tajam ke arah Frisca.
"Tega sekali kamu melakukan ini pada anakku yang baru saja keluar dari rumah sakit. Aku tidak akan melepaskanmu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" teriak Allena.
"Mempertanggungjawabkan apa?" tanya Rivaldo tiba-tiba muncul.
Mendengar nama Zefano disebut langkah kaki laki-laki itu terhenti. Dengan ragu-ragu akhirnya kembali ke ruang bangsal Frisca. Rivaldo merasa penasaran sekaligus khawatir dengan apa yang terjadi.
"Oh ternyata tidak sendiri, ada komplotannya. Aku akan memasukkan kalian semua ke penjara!" teriak Allena sambil menunjuk kedua orang dihadapannya.
Rivaldo menggenggam tangan Frisca dan menatap heran pada Allena. Keisya langsung memeluk paha ayahnya dengan wajah yang ketakutan.
"Mama jangan! Mereka orang-orang yang baik, kenapa dimasukkan ke penjara?" tanya Zefano.
"Mereka jahat karena telah menculik Zeno. Lihat saja jika terjadi hal yang buruk pada kesehatan anakku. Aku menuntut kalian!" ucap Allena.
Frisca menggelengkan kepalanya sambil menangis. Wanita itu tidak ingin Allena menuduh Rivaldo.
"Tidak! Jangan salahkan dia, ini tidak ada hubungan dengannya. Salahkan aku, aku yang menculik anakmu. Dia tidak tahu apa-apa," jawab Frisca sambil menangis.
Rivaldo langsung menoleh ke arah Frisca.
"Menculik? Jadi kamu benar-benar menculik Zeno? Kamu bukan ibunya?" tanya Rivaldo.
Frisca menatap Rivaldo dengan air mata yang berlinang.
"Maafkan aku, aku sudah katakan padamu jangan pedulikan aku. Aku wanita jahat, pembohong yang tak pantas untukmu, pergilah! Tinggalkan aku sendiri di sini!" bentak Frisca lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Rivaldo mengangguk lalu menatap satu per satu ke arah orang-orang yang tak dikenalnya itu. Dengan mata yang berkaca-kaca Rivaldo menggendong putrinya dan melangkah keluar dari bangsal itu. Keisya menatap ke arah Frisca yang menatap mengikuti langkah mereka.
"Tante," ucap Keisya pelan.
Frisca menangis terisak matanya tak lepas memandang Kesya yang semakin menjauh. Tiba-tiba wanita itu merasakan sakit yang luar biasa.
"Frisca! Kamu kenapa?" teriak Shinta.
Allena dan yang lainya tercengang melihat ekspresi Frisca yang terlihat begitu kesakitan. Zefano langsung menangis memanggil nama Frisca begitu juga dengan Keisya yang ingin kembali dan menjerit memanggil nama wanita itu.
Allena dan yang lainnya tercengang mendengar jerit tangis kedua anak kecil yang begitu sedih menyayat hati. Frisca mengerang dan akhirnya jatuh pingsan. Dokter Shinta langsung memanggil para medis.
Mereka pun diminta untuk menepi, Frisca dibawa ke ruangan intensif. Allena, Zefran dan yang lainnya terpaku menatap brankar Frisca yang didorong dengan tergesa-gesa. Zefano mengejar, Allena langsung menahan tubuh anaknya.
"Lepasin Zeno, Zeno mau lihat Tante Frisca. Mama jahat, Mama bikin Tante Frisca sedih dan sekarang jadi sakit," ucap Zefano yang berusaha melepaskan diri.
Mendengar ucapan Zefano Allena syok, langsung melepaskan tubuh Zefano. Wanita itu jatuh terduduk lalu menangis terisak. Allena merasa mimpinya sekarang telah menjadi nyata.
...~ Bersambung ~ ...
__ADS_1